
Hari ini Nadeo pulang ke rumah setelah Cinthya datang. Nadeo menitipkan Nabila pada Cinthya sebentar, berharap gadis itu tidak langsung pulang sebelum kedatangannya.
Nadeo membuka pintu rumah. Ia langsung disuguhkan dengan pemandangan yang membuatnya bertanya-tanya. Raya keluar dari kamar dengan menyeret satu koper. Dan koper itu milik Raya. Tapi untuk apa? Mau kemana dia?
Dengan cepat Nadeo menghampiri istri ke duanya.
"Mau kemana kamu?" Tanya Nadeo.
"Pergi." Jawab Raya datar.
Raya tak menghiraukan kedatangan Nadeo. Ia terus melangkahkan kakinya, tapi Nadeo lebih dulu mencekal lengannya.
"Kemana?" Tanya Nadeo dengan mata melotot.
Pandangan mareka bertemu. Tapi tak ada lagi tatapan cinta di antara keduanya. Semua terasa hambar.
"Paris."
Seketika amarah dalam dada Nadeo memuncak. Bukankah ia tak mengizinkannya?
"Siapa yang izinin?" Berang Nadeo. "Siapa yang izinin kamu?" Nadanya semakin tinggi.
"Aku udah beberapa kali bilang sama kamu Mas, jadi jangan merasa seolah-olah aku gak mengatakan apa pun sama kamu!"
"Tapi aku gak pernah izinin." Pandangan Nadeo mulai memelaa. "Kamu tahu kan? Aku gak pernah izinin kamu buat pergi."
"Biarin aku pergi Mas!"
"Kamu beneran mau ninggalin aku?" Tanya Nadeo. "Ninggalin aku cuma buat cita-cita kamu?"
"Itu bukan cuma Mas, aku sangat memimpikan itu!"
"Ray, kamu bener-bener mau ninggalin aku?"
"...."
"Dan dengan cita-cita konyol kamu, kamu mau mengubur semua impian kita?"
"Gak ada lagi kata kita Mas. Kamu dan aku bukan lagi kita."
"Sejak kapan itu terjadi? Jangan ngaco kamu."
"Sejak aku gak ada lagi di hati kamu Mas!"
"Siapa bilang? Kamu adalah istri aku, bagaimana mungkin aku gak cinta sama kamu?"
"Berhenti bicara omong kosong Mas!"
Raya menarik lengannya dan ingin pergi. Tapi dengan cepat Nadeo kembali mencekal lengan Raya. Ia belum puas dengan segala jawaban Raya. Dan yang pasti Nadeo tak ingin Raya pergi.
"Ray kamu jangan begini, jangan pergi!" Mohon Nadeo.
__ADS_1
"Aku capek Mas, biarin aku pergi."
"Ray, kalau aku ada salah, aku minta maaf. Tapi pleas jangan pergi. Aku gak bisa tanpa kamu."
"Coba sekarang Mas pilih. Aku atau Nabila?"
"Ray?"
"Mas gak bisa kan?"
"Bukan gak bisa. Tapi kamu tahu sendiri kan? Alasan aku menikahi Nabila."
"Udah lah Mas, gak usah di bahas lagi. Nabila baik. Gak salah Mas pilih dia."
"Tolong jangan berbicara ngawur Ray."
Raya menghela napas.
"Mas pikir selama ini aku bahagia dengan pernikahan ini? Kalau Mas berpikir begitu, itu salah besar! Aku gak pernah bahagia!"
"Kenapa? Bukannya selama ini kita baik-baik saja?"
"Itu bagi kamu Mas, bagi aku enggak!"
"Di mana letak tidak bahagianya kamu Ray? Selama inu aku cinta sama kamu, dan kamu cinta sama aku. Lalu di mana salahnya?"
"Aku gak Mau pernikahan yang ditutup-tutupi. Aku gak diakui, sedangkan aku butuh pengakuan Mas!"
"Kurang! Kurang Mas!" Raya berteriak. Netranya berkaca-kaca. "Bukan itu! Bukan itu yang aku mau!"
"Bilang Ray, Mas akan lakuin apa pun, asal kamu gak pergi dari sisi Mas."
"Mas, aku ingin dianggap menantu, dianggap ipar. Dikirimin rantang, segala makanan. Di cemasin kalau aku sakit. Aku ketika aku sakit, aku pengen Mas begitu." Ucap Raya dengan air mata yang luruh begitu saja. Pertahanannya runtuh sudah.
"Ray, kita usaha sayang ya dengan cara kamu hamil." Bujuk Nadeo
Nadeo menarik Raya agar berada dalam pelukannya, tapi wanita itu menolak.
"Aku gak bisa hamil Mas, aku Mandul. Puas kamu?"
Duar!! bak disambar petir mendengar pernyataan Raya. Nadeo ternganga. Jika Raya tak bisa hamil, apa yang harus ia lakukan.Ia tak ingin kehilangan perempuan yang di depannya ini. Raya adalah cinta pertamanya.
Lama Nadeo terdiam, berpikir.
"Kamu selalu bilang solusinya hamil, sedangkan aku gak bisa hamil! Apa gak ada solusi lain Mas?"
"Ray, tunggu Mama sehat ya? Aku janji akan bawa kamu kesana, dan mengatakan semuanya. Pleas jangan pergi ya?"
"Bulshit!!"
Raya kembali menarik lengannya, ia melangkah pergi. Hingha sampai di ambang pintu Nadeo berteriak.
__ADS_1
"Ray, kalau kamu keluar dari rumah ini, kamu bukan lagi istri aku. Aku talak kamu!"
Raya berhenti. Laku membalikkan badan.
"Silahkan Mas. Lagian aku tidak butuh itu lagi. Tidak ada satu pun yang membuat kita kuat menjadi suami istri. Kita hanya menikah siri, jadi aku tidak perlu repot-repot mengurus surat apa pun setelah bercerai dari kamu." Setelah mengatakan itu Raya melenggang pergi begitu saja.
"Arrghhhh!!!" Teriak Nadeo frustasi.
...****************...
Beberapa hari setelah kepergian Raya, atau lebih tepatnya perceraian Raya dan Nadeo, Nabila dinyatakan sudah sehat dan boleh pulang.
Perihal masalah perpisahan Nadeo dan Raya, Nadeo belum memberitahukan pada Nabila. Ia tak ingin permasalahan itu menjadi pemicu lambatnya kesembuhan pada Nabila. Bukan tak mungkin nantinya Nabila akan kepikiran atau bertanya-tanya, apa alasan dibalik perpisahan mareka. Apa lagi yang Nabila ketahui Nadeo sangat mencintai Raya, hingga dulu nekat berpoligami agar bisa bersama dengan perempuan itu.
Hubungan Nabila dan juga Raya tergolong baik, bahkan bisa dibilang sangat baik untuk hubungan mareka sebagai madu.
Akhirnya sekitar pukul dua belas siang Nabila sampai ke rumah. Pertama kali melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, semua tampak berbeda. Rumah tampak sepi. Biasanya akan ada Raya yang setia menyambutnya. Kemana madunya itu? Ini kan hari libur. Apa ia punya pekerjaan di luar? Pertanyaan itu seakan singgah di benak Nabila. Bukan apa, Raya adalah tipe perempuan yang keibuan, dia jarang berada di luar rumah jika bukan mengenai urusan kantor.
Lantai yang Nabila pijak juga tampak berdebu, dan rumah tampak sedikit lebih berantakan dari biasanya. Biasanya Raya adalah tipe yang tidak suka berantakan. Ia adalah perempuan yang suka bersih. Bahkan ia betah berlama-lama hanya untuk menyapu.
"Yok aku antar ke kamar?" Ucapan Nadeo membuyarkan lamunan Nabila.
"Iya Mas."
Nadeo menggandeng tangan Nabila.
"Mas?"
"Heum."
"Mbak Raya mana? Kok gak keliatan? Apa ada kerjaan di luar?"
Nadeo tak langsung menjawab. Haruskah ia menjawab pertanyaan itu? Haruskah ia mengatkan bahwa mareka sudah berpisah?
"Mas? Kok diam?"
"A..., euhmm..., dia..., dia ninggalin aku."
Refleks saja Nabila menoleh menatap Nadeo, Mencari keseriusan dalam ucalan pria di sampingnya itu.
"Mas berantem sama Mbak Raya?"
Lama Nadei baru menjawab.
"Dia ke Paris, ngejar cita-citanya. Aku udah larang, tapi dia bersikukuh mau pergi." Ada kegetiran dalam kalimat Nadeo, dan Nabila dapat merasakan itu.
"Kami berpisah." Ujar Nadeo kemudian.
"Sudah ayok kamu harus istirahat, besok kita harus jenguk Mama kan?"
Nabila mengangguk.Tapi ada banyak sekali pertanyaan yan tidak diutarakan pada Nadeo. Sepertinya sekarang waktunya belum tepat.
__ADS_1