Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Tawanan


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu terdengar jelas. Padahal baru saja Nabila sampai ke dalam kamar, ia harus turun lagi. Dengan agak kesal Nabila keluar dan menuruni tangga dengan cepat. sedikit berlari ia hampir ke pintu dan membukanya.


Nabila mengerutkan keningnya ketika melihat empat orang laki-laki yang tak di kenal ada dibalik pintunya. Umurnya berkisar sekitar tiga puluh lima sampai empat puluhan ke atas. Dan pakaian yang mareka kenakan serba hitam. Mareka juga memakai topi untuk menutupi sedikit wajahnya.


"Maaf ya Pak? Cari siapa?" Tanya Nabila berusaha ramah, kali aja ini orang salah alamat.


Tak ada yang menjawab.


Entah memgapa tiba-tiba pikiran Nabila menjadi tak enak. Seolah sesuatu yang buruk akan terjadi padanya, begitulah firasatnya.


"Ikut kami!" Kata salah satunya penuh penekanan.


Nabila terkejut, sampai upil matanya membesar.


Tanpa aba-aba salah satu dari mareka menarik Nabila, seketika saja Nabila melawan, namun tangannya ditarik ke belakang. Sedang yang lainnya sibuk memegang Nabila agar tak melawan.


Dan salah satu di antara mareka mengambil sebuah sapu tangan lalu membekap mulut dan hidung Nabila dengan sapu tangan itu.Dan satu, dua, tiga. empat, lima, dan ya! Nabila tak ingqt apa pun lagi yqng terjadi padanya.


...****************...


Perlahan mata Nabila terbuka. Badannya terasa sangat sakit dan nyeri. Ia ingin meregangkan sedikit ototnya tapi, Tunggu! Mengapa ia tak bisa bergerak? Apa yang terjadi padanya?


Nabila mencoba mengingat lagi apa yang terjadi padanya terakhir kali, ia didatangi orang tak dikenal, lalu orang itu...? Apakah ia sedang di culik?


Jawabannya iya! Ia merasa tangannya tak bisa digerakkan. Setelah benar-benar sadar, baru Nabila mengetahui ia diikat disebuah bangku. Dan saat matanya terbuka jelas, ia bisa melihat tempat keberadaannya sekarang.


Nabila tak tahu pastinya ia berada di mana sekarang, tapi yang dapat disimpulkan dari tempat ini adalah sebuah gudang kosong atau pun bangunan tua yang tak tertempati lagi.


"Sudah bangun?" Suara bariton yang serak itu mengejutkan Nabila.


Apakah itu suara salah satu laki-lakinyang tadi? Apakah pria itu adalah orang yang menculiknya juga? Pria tersebut datang dari arah belakang Nabila hingga Nabila tak bisa menoleh untuk melihat penampakan wajah pria tersebut.

__ADS_1


Barulah Nabila bisa melihat pria itu ketika ia sudah duduk dihadapannya. Di sebuah bangku yang berjarak dua meter darinya. Anehnya Nabila tak mengenal pria tersebut.


Pria yang saat ini berada di hadapannya adalah pria yang berperawakan jangkung, memiliki kulit yang tak putih, tapi juga tidak hitam. Jika boleh ditaksir, umurnya terlihat sekitar tiga puluh tahunan. Ia mengenakan setelan baju kantor lengkao dengan dasi dan jas juga sepatu mahal yang melekat di kakinya. Itu artinya laki-laki ini adalah orang kantoran.


Laki-laki tersebut memberikan sebuah seringai jahat pada Nabila. Mungkin ia berharap Nabila akan takut terhadapnya, jelas Nabila ketakutan.


Yang ada dalam otak Nabila sekarang adalah, ia di culik, lalu organ dalamnya akan diambil lalu dijual. Ah tidak-tidak, Nabila menggeleng kuat menepis bayangan buruknya. Itu tak boleh terjadi padanya. Ia tak boleh mati secepat ini, ia masih punya banyak impian yang belum dicapai.


"Bagaimana Nabila? Apa kamu tidur nyenyak?" Tanya pria itu.


"Hah? Dia tau nama ku?" Batin Nabila.


Nabila sedikit terkejut mendengar namanya di sebut oleh pria itu. Artinya pria itu mengenalnya, dan ia tak salah menculik orang. Tadinya Nabila sempat berpikir bahwa pria ini salah menculik orang, tapi.. siapa sebenarnya pria ini? mengapa ia bisa mengenalnya?


"Ke...,ke na pa kamu bi..,bisa tahu nama ku?" Tanya Nabila terbata dipenuhui rasa takut.


"Menurut mu?" Pria tersebut bangun dan mendekat ke arah Nabila. "Mengapa aku bisa mengenal seorang Nabila? Mantan istri dari seorang Dokter Nadeo Arga Winata?"


"Dia juga tahu tentang aku. Siapa Pria ini?"


Pria itu mengambil segelas air yang ada di sebuah meja di dekat situ. lalu ia kembali mendekati Nabila.


"Kamu haus?" Bisiknya di telingan Nabila.


Nabila mengangguk. Jujur ia haus, tenggorokannya sangat kering. Namun ia juga tak tahu yang ada di tangan pria itu air atau kah racun, ia hanya berharap bisa meleoas dahaganya secepatnya.


"Baik. kalau kamu haus aku beri kamu minum."


Ia mendekatkan gelas ke bibir Nabila, dan Nabila bersiap meminumnya. Tapi...


Prang!!!


Gelas kaca itu lebih dulu jatuh tanpa sempat setetes pun masuk ke kerongkongan Nabila. Lebih tepatnya pria keji itu sengaja menjatuhkannya.

__ADS_1


"Upss!! Maaf gelasnya jatuh." Ujar sang pria penuh dramatis.


Air mata Nabila jatuh. Ia tak pernah mengalami hal-hal buruk seperti ini. Sungguh ini sangat mengerikan.


Apa sebenarnya motif orang inu menculiknya? Jika ia mengincar harta, sungguh ia tak punya apa-apa.Tapi apakah orang ini mengarap tebusan dari keluarganya? Tidak! itu tidak boleh terjadi, Pakde dan Bude tak punya uang. Nabila menggeleng kuat menepisnya. Bahkan jangan sampai Bude dan Pakde tahu bahwa ia ada dalam keadaan seperti ini sekarang.


Tapi..., Nabila mulai ingat. Bukankah hari ini Soegi akan mengunjunginya? Bagaimana jika Soegi melihat ia tak ada, lalu mengadu pada Pakde dan Bude.


"Soegi? Soegi hari ini datang. Apa dia sudah sampai?"


Pikiran Nabila sudah tak lagi karuan.


"Siapa sebenarnya kamu? Apa yang kamu inginkan dari aku?" Tanya Nabila dengan air mata yang sudah meleleh. "Kalau kamu ngincar harta aku, maaf kamu salah orang. Aku gak punya apa-apa. Kalau kamu mengharap aku akan ditebus, itu tidak akan terjadi. Mareka gak punya uang untuk nebus aku."


"Apa aku terlihat semiskin itu?"


Lalu pria itu tertawa keras, seolah yang dikatakan Nabila tadi adalah sebuah lelucon. Ia terus mengitari Nabila, hingga...


"Akh!!" Ringis Nabila.


Tangan pria tersebut mencekik dagu Nabila agak keras hingga Nabila ketakutan, dan pria itu menatap Nabila tajam.


"Jangan main-main dengan aku, aku bisa saja menghabisi nyawa kamu sekarang kalau aku mau. Jadi patuhlah!"


Nabika jadi bergidik ngeri mendengar ancaman tersebut, bukan tak mungkin ia akan dibunuh sekarang, melihat betapa kejamnya pria itu.


"Apa yang kamu mau dari aku?" Nabila memberanikan diri melontarkan pertanyaan tersebut.


"Kamu ingin sekali tahu?" Tanya pria tersebut tepat di wajah Nabila, hampir saja hidung mancung mareka bersentuhan jika Nabila tak menarik wajahnya ke belakang.


"Aku mohon lepasin aku. Aku sama sekali gak kenal kamu, aku gak punya masalah dengan kamu."


"Punya!" Jawabnya cepat.

__ADS_1


"????"


__ADS_2