
Pertemuan dengan Putri tadi benar-benar membuat moid Nabila hancur. Seolah ia kehilangan semua energi positifnya. Gimana enggak? Dengan gamblangnya Putri menyuruhnya meninggalkan Egy. Siapa dia? Apa dia pikir selama ini Nabilalah yang mengejar Egy? Tidak tahu saja Putri, bahwa selama ini Egylah yang tergila-gila pada Nabila.
Memangnya jika Nabila meninggalkan Egy, Egy sudah tentu mau dengannya? Rasanya belum tentu. Dan apakah hidup Egy akan baik-baik saja setelah Nabila meninggalkannya? Ah, Putri bahkan tidak tahu betapa depresinya Egy kemarin.
Sampai di rumah ketika ingin masuk ke dalam, dan hendak membuka pintu, ada sepucuk surat dan setangkai mawar merah seperti biasanya. Tapi entah mengapa setelah melihat mawar itu seketika mood Nabila membaik, seolah mawar itu bisa mengembalikan energi positifnya.
Nabila mengambil mawar tersebut, lalu membuang napas pelan. Nabila tersenyum.
"Siapa sih kamu?" Tanya Nabila sendiri dengan atensi pada mawar merah yangbada di tanggannya.
"Siapa pun kamu, tapi terimakasih sudah mengembalikan senyum ku."
Setelah itu Nabila langsuk masuk ke dalam rumah sambil bergumam.
"Aku lupa kalau hari ini kamis."
Iya. Setiap kamis Nabila memang selalu mendapatkan kiriman mawar merah dan sepucuk surat dengan isi yang sama.
Hingga saat ini, Nabila belum tahu siapa orang yang mengiriminya bunga. Ketika ia mengecek cctv kemarin juga, yang ia dapat adalah ojek online dengan orang yang berbeda.
...****************...
Putri sudah memiliki rencana untuk menyingkirkan Nabila. Dan kali ini Putri akan meluncurkan aksi selanjutnya.
Tak ingin perjuangannya selama ini sia-sia, maka apa pun akan dilakukan Putri untuk mendapatkan Egy. Salah atau benarkah caranya, rasanya itu menjadi urusan belakanhan. Jadi tak ada yang salah jika ada yang mengatakan bahwa cinta itu buta, dan Putri memang sedang buta akan segalanya.
"Tante!!!" Seru Putri seraya berhamburan ke arah Bu Yura yang ada di sofa.
"Putri?" Sambil melepaskan pelukan.
"Aku bawa oleh-oleh Tan!"
"Iya?"
Putri mengangguk dan memberikan oleh-olehnya yang berupa cake yang dibelinya saat ke rumaha Bu Yura tadi.
Putri dan Bu Yura akhirnya memilih duduk-duduk berbincang di halaman belakang. Kebetulan halaman belakang ada tempat duduk, untuk bersantai. Dan viewnya juga lumayan dengan bunga-bunga kecil koleksi Bu Yura.
"Tante! Sebenarnya ada hal yang ingin Putri sampaikan pada tante." Ucap Putri dengan mode serius, setelah tadi banyak basa-basi dan berbagi cerita.
"Apa?" Tanya Bu Yura dengan alis yang bertaut, "Kok kayaknya seirus banget."
"Bukan kayaknya Tan, tapi emang serius."
"???"
__ADS_1
"Sebenarnya aku rada gak enak nyampein hal ini ke tante. Tapi kayaknya aku tetap harus kasih tau" Ucap Putri sok polos dan suci.
"Kok tante jadi penasaran?" Bu Yura juga beralih kepada mode serius.
"Tapi Tan, kok kayaknya aku gak enak sih? Kesannya aku sepeeti menjelek-jelekkan orang lain." Putri mulai playing victim.
"Kayak lagi sama siapa aja kamu ini, pake acara gak enak segala. Cepat cerita, Tante jadi penasaran!"
Yes! Tante Yura masuk ke dalam perangkap Putri. Ternyata mudah sekali.
"Tante kenal gak sama calonnya Mas Egy?" Tanya Putri to the loint.
Bu yura menggeleng. "Belum. Memangya kenapa?"
"Dia sekerataris Mas Egy."
"Oh ya? Kayaknya tante agak ingat sih. Memangnya kenapa?"
"Tante tau gak, kalau dia berasal dari keluarga biasa?"
"Gak tahu sih. Tapi itu gak terlalu penting bagi Tante. tante gak papa, dan itu gak jadi masalah, yang penting orangnya baik." Ucap Bu Yura jujur.
"Nah! Itu tan yang jadi punca masalahnya."
"Maksudnya?" Bu yura sedikit bingung dengan maksud Putri.
"Ah masa sih?" Bu Yura agak kurang yakin dengam ucapan Putri.
"Iya Tante!" Putri meyakinkan.
"Kok kamu bisa bilang gitu?"
"Ya ampun tante, dia emang ngincer uangnya Egy doang!"
"Kamu punya bukti?" Bu Yura mencoba memastikan dugaan Putri benar atau salah.
"Buktinya kuat dan akurat banget Tan!"
"???"
Putri mengangguk, maksudnya membenarkan ucapannya tadi.
"Demi ngincer Mas Egy, lebih tepatnya uang Mas Egy, dia rela bercerai sama suaminya."
"Hah?" Bu Yura terkejut. Ia shock sampai memegang dadanya. Rasanya tak percaya anaknya bisa jatuh cinta pada perempuan seperti itu. Ingin rasanya untuk tak memercayai ucapan Putri, tapi tak mungkin juga gadis itu berbohong, Bu Yura sudah lama mengenal Putri.
__ADS_1
"Dan tante tahu siapa suaminya?" Putri memberikan kejutan selanjutnya.
Bu Yura menggeleng. Mana tahu dia.
"Nadeo. Tante pasti ingat Mas Nadeo kan? Temannya Mas Egy dulu."
Nama itu tidak asing di telinga Bu Yura, ia berusaha mengingat lagi, dan iya! Bu Yura ingat, Nadeo anaknya almarhum Haji Sigma.
"Iya tante ingat!"
"Nabila itu kemarin baru saja bercerai sama suaminya Tan!" Putri mulai menghasut, "Tante tahu sendiri alasannya, Mas Egy jauh lebih kaya dari Maa Nadeo!"
Bu Yura menggeleng, rasanya ia tak habis pikir bisa-bisanya anaknya jatuh cinta pada perempuan seperti itu.
"Padahal saat itu suaminya sedang terpuruknya. Waktu itu Mamanya Mas Nadeo meninggal, harusnya sebagai istri Nabila bisa mensupport suaminya, bukan malah meninggalkannya." Lanjut Putri.
"Tega banget dia Tan, di saat itu padahal suaminya sangat membutuhkannya, tapi dia malah menggugat cerai suaminya. dan belum selesai sidang, dia sudah menggait Egy. Menurut tante bagaimana?"
Bu Yura menggeleng. "Kamu serius?"
"Ya ampun Tan! Apa aku lagi keliatan bohong atau bercanda?"
"Bukan gitu, tapi-"
"Kalau tante gak percaya, tante bisa suruh orang suruhan tante untuk cari tahu. Aku gak bohong sma sekali, untuk apa aku bohong?"
Ah, benar saja. Tak mungkin juga Putri berbohong, pikir Bu Yura.
"jujur tante, aku sayang sama Mas Egy. Saat aku dengar Mas Egy berencana mau menikah, aku sedikit kecewa, tapi rasa bahagiaku lebih besar tan! Aku pikir kalau Mas Egy bahagia sama pilihannya, aku ikhkas. Tapi aku rasa aku salah tan! Aku gak bisa, perempuan itu bukan perempuan baik-baik." Ungkap Putri dengan raut sedih.
"Dia seorang janda. Tante mau punya menantu seorang janda?"
Bu Yura sedikit berpikir, dan mercerna ucapan Putri.
"Kamu benar! Tante gak bisa terima." Akhirnya Bu Yura masuk sepenuhnya dalam perangkap Putri. "Kita harus pisahin mareka Put, sebelum Egy benar-benar gila dengan perempuan itu!"
Putri tersenyum, rencananya berhasil.
"Sebanrnya aku gak pengin nyampein ini, tapi aku gak tega tan! Aku gak mau Mas Egy dipermainkan." Lontar Putri dengan sok menyesal.
"Kamu udah ambil langkah yang benar Put! Dari dulu tante memang mengharapkan kamu yang jadi menantu tante. Dan tante rasa, harapan itu harus terwujud!"
Wah apa ini artinya? Lampu hijau untuk Putri menikung Egy dari Nabila? Haruskah sekarang Putri salto karna terlalu senang?
"Nabila, Nabila? Aku kok kamu lawan?"
__ADS_1
Seringai jahat tercipta di bibir Putri, ia tinggal memikirkan langkah selanjutnya.
(Hy hy, mohon dukungannya. Maaf banyak typo. Ayok komen dong, kalian tim mana? Nadeo-Nabila atau Egy-Nabila?)