Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Menyesal


__ADS_3

Dengan segala kebimbangan Nabila akan pulang ke rumah Pakde dan Bude di kampung. Ia akan meninggalkan Nadeo di sini. Nabila berencana memberitahukan semua yang disembunyikannya selama ini.


Cukup sudah ia membuat drama rumah tangganya yang seolah harmonis dan baik-baik saja. Kali ini ia bertekad untuk jujur pada pengganti orang tuanya.


Nabila juga ingin menenangkan hati dan pikirannya dulu di sana. Sebenarnya jika boleh jujur, hatinya masih setengah-setengah untuk perceraian ini. Ia masih ragu dengan langkahnya yang masih buru-buru.


Di satu sisi ia kasihan pada Nadeo yang sedang dalam keadaan terpuruk, dan di satu sisi yang lain ia juga yakin untuk bercerai mengingat perlakuan Nadeo dulu kepadanya. Nadeo yang tak pernah melihatnya, atau peduli kepadanya, dan Nadeo yang tega merenggut mahkotanya. Jadi rasanya tak salah jika ia memutuskan bercerai dengan Nadeo.


Apalagi sekarang ia punya Egy yang tidak ingin ia kecewakan lagi. Egy benar-benar sudah menunjukkan kegigihannya dalam mengejar cibtanya. Bahkan Egy bisa menerima keadaan Nabila apa adanya. Hanya di embel-embel dengan cinta saja.


Nabila keluar dari kamarnya dengan satu koper. Ia sudah mengambil cuti yang panjang. Sebenarnya tak ada cuti selama itu, tapi karna ia adalah calon nyonya ASHER GROUP, maka dengan leluasa Egy membantunya mendapatkan cuti.


Nabila ingin menenangkan diri. Dan sekaligus menceritakan semua oada Pakde dan Bude. tak ada yang boleh disembunyikannya lagi, mareka berhak tahu. Karna marrka juga ikut andil dalam kehidupan Nabila.


Nadeo sudah berdiri di ambang pintu. Ia termangu. Netranya menunjukkan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.


Nabila terus berjalan dengan pelan. Saat Nabila sudah sampai di depan Nadeo, Nadeo terduduk, ia berlutut dan mendongakkan wajahnya menatap Nabila, seolah minta dikasihani.


"Jangan...," Lirih Nadeo, "Jangan tinggalin aku."


Apa Nadeo sedang memohon? Mengapa tak ia lakukan empat tahun yang lalu?


"Mas? Tolong minggir, aku bisa telat!"


Nabila tak peduli dengan kata-kata Nadeo. Tapi berbanding terbalik dengan hatinya. Kalian tahu kan, kalau Nabila ini orangnya gak tegaan?


"Apa aku gak punya kesempatan?"


"Maaf..., dulu Mas juga gak memberikan aku kesempatan."


Apakah Nabila sedang membalaskan dendamnya? Apakah yang dirasakan Nadeo sekarang sama dengan yang dirasakannya dulu?


Mengapa rasanya sakit sekali? Entah mengapa rasanya ditinggal Raya dan Nabila itu rasanya berbeda. Kemarin Raya meninggalkannya, tapi rasanya tidak seaakit ditinggal Nabila.


"Aku permisi Mas, perceraian kita juga tinggal menunggu sidang."

__ADS_1


Nabila melangkah melewati Nadeo. Ia tetap bertekad untuk tak lagi peduli pada laki-laki itu. Dulu ia menyakitinya, bukan salahnya jika sekarang ia membalasnya. Tidak! Nabila tidak membalas, ini adalah keinginan Nadeo sedari dulu kan? Dan sekarang Nabila sedang mengabulkannya.


...****************...


Apa laki-laki boleh menangis? Adakah sebuah larangan yang mengatakan laki-laki tidak boleh menangis? Jika pun ada larangan itu, Nadeo sekarang sedang melanggarnya. Mungkin jika laki-laki di luar sana melihat, mareka akan menyumpahi Nadeo. Berani-beraninya ia menangis karna seorang perempuan, membuat kasta laki-laki turun satu tingkah sebab ulahnya.


Cengeng! Nadeo berubah menjadi laki-laki yang cengeng. Di depan Ines pun Nadeo tak bisa menahan cucuran air matanya. Tapi kakak perempuannya itu malah merespon dengan malas.


Ya. Di sinilah Nadeo sedang berada. Di rumah peninggalan orang tuanya. Kebetulan Ines dan Hanis sekarang tinggal di sini setelah meninggalnya Bu Ningrat. Mareka tak tega jika harus meninggalkan adik bungsu mareka tinggal sendiri di sini.


"Itu karma buat kamu!" Dengan teganya Ines berkata demikian. Bukan tak ada alasan, setelah mendengar cerita jujur versi Nadeo, Ines menjadi kesal dengan kebodohan adiknya.


"Sayang..." Hanis seolah menegur istrinya.


"Mbak kok gitu sih?" Protes Nadeo manja.


"Mbak malah suka Nabila mau ninggalin Kamu, Biar kamu tahu rasa. Mbak pikir selama ini kamu poligami adil. Rupanya kamu hanya condong pada ****** itu saja."


"Nes..." Hanis kembali memeperingati mukut istrinya yang tidak bisa di rem.


"Iya, tapi kata-kata kamu itu di saring dulu dong!" Balas Hanis lembut.


"Kamu pikir, boleh ya seenaknya menyakiti hati perempuan? Mbak pikir saat Nabila hamil kemarin, itu murni keinginan kalian bersama. Rupanya kamu merkosa dia! Brengsek!"


Benar-benar mulut Ines tidak saringannya. Dengan gamblangnya ia mengatakan itu semua, dan Hanis hanya mampu tepuk jidat.


"Aku tahu aku salah Mbak!"


"Emang salah!" Sahut Ines cepat.


"Aku sadar Mbak, ternyata aku cinta sama Nabila."


"Baru sadar?" Ketus Ines. "Telat!!"


Walau Ines tak membalas dengan baik. Tapi Nadeo tahu sebenarnya Ines sangat menyayanginya. Hanis yang melihat sikao judes Ines hanya mampu menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Mbak, bantu aku!" Rengek Nadeo.


"Mbak pleas!!! Kali ini aku janji gak akan kecewain Nabila."


"Deo, kalau kamu memang cinta sama Nabila, kejar dia!" Kali ini Hanis yanh bersuara. "Tunjukin kalau kamu benar-benar sudah berubah dan benar-benar mencintai dia. Minta maaf yang sungguh-sungguh."


"Aku? Susul dia?"


Hanis mengangguk.


"Ta.. ,tapi Mas, aku takut ketemu sama Pakde dan Bude. Aku takut mareka marah. Paati Nabila udah ceritain semuanya, mareka oasti benci aku."


"Pastilah!" Sanggah Ines. Bukan menyemangati, Ines malah membuat mental Nadeo menciut.


"Banget malah!" Tambah Ines lagi. "Emang ada yang gak marah, tahu anaknya diperlakukan seperti itu? Kalau aku jadi Pakde dan Bude Nabila, sudah aku bunuh kamu Deo!"


"Mbak..." Rengek Nadeo. Ia herharap Mbak Inesnya tak menambah menakutinya.


"Ya..., kamu harus minta maaf sama mareka. Kamu harus mengakui kesalahan kamu Deo. Ini bukan percintaan anak SMA Deo. Ayok! Tunjukkan sisi kejantanan kamu." Hanis bagaikan motivator yang ada di acar seminar, yang sedang memberikan motivasi kepada para peserta.


Ines yang mendengar saran suaminya memutar bola mata malas. Sejak kapan suaminya ini berubah jadi motivator cinta?


"Pengecut! Mana berani dia, dia kan pengecut!" Alih-alih menyemangati sang adik, Ines malah mencibirnya.


"Nes..., bahus loh Nadeo mau berubah, harusnya kamu dukung." Hanis melayangkan protes pada sikap Ines.


"Iya Mas!" Sahut Ines malas. "Lagian udah tahu, harusnya tuh minta maaf. Tapi masih di sini, kejar tuh! Nanti malah diselip Egy, tapi Mbak tim Egy sih!" Ines malah nyengir.


"Mbak..." Nadeo masih dengan rengekan manjanya, ia tak terima Mbaknya berada di iubu rivalnya.


"Iya-iya, udah sana! Urus cuti kamu, biar bisa nyusul Nabila."


"Iya Mbak!" Sahut Nadeo cepat. "Doain aku ya Mbak?"


"Heummm." Jawab Ines sekenanya.

__ADS_1


"Makasih ya Mas, Mbak!" Ucao Nadeo berbinar. "Aku pergi ya?"


__ADS_2