Menikah Karena Balas Dendam

Menikah Karena Balas Dendam
Bab 98: memasak


__ADS_3

🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


πŸŒΉβœ¨πŸ’žβœ¨πŸŒΉ


Hari ini Wulan bangun pagi dari sebelum nya, dia ingin membantu suster untuk memasak. Baby askar masih tidur hingga dia memiliki waktu sebentar.


Wulan tak ke kampus hari ini karena rizal sudah meminta cuti untuk nya beberapa hari ke depan.


Sebenarnya tindakan rizal itu membuat wulan tak suka, tapi bagaimana juga harus di setujui.


"Sus, hari ini masak apa?" tanya Wulan penasaran yang kini berada dibelakang suster.


"Seperti biasa Bu, hanya saja hari ini lebih banyak dan menu nya akan di tambah," jawab Suster.


"Ya sudah ayo masak saya akan membantu, tapi bantuan nya gak banyak, saya takut berantakan," jujur Wulan sambil tersenyum malu.


"Ibu serius ingin membantu? apa tidak sebaik nya duduk saja biar saya lakukan sendiri," ucap Suster.


"Kenapa? apa Suster ragu dengan saya?"


"Bukan seperti itu, maksud saya Ibu duduk saja kalau tidak bersih-bersih saja, bukan nya pak rizal dan keluarga akan datang ke sini?"


Wulan terdiam memikirkan perkataan Suster ada benar nya, tapi dia masih tetap ingin membantu.


Wulan menatap Suster dengan penuh tanda tanya.


"Apa Suster khawatir?" tanya Wulan selidiki.


"Tidak, tidak seperti itu Bu, hany-"


"Iya Suster tidak perlu jelaskan lagi, saya sudah sangat paham," ucap Wulan cepat memotong perkataan suster


Setelah mengatakan itu Wulan segera balik dan berniat masuk ke kamar, tapi bel apartment keburu berbunyi lebih dulu.


"Sudah Suster lanjutkan saja, biar saya tidak mungkin kali ini Suster ragu sama saya?" Wulan menatap Suster sambil menaikan alis.


"Hehehehe."


"Ya sudah kalau gitu saya buka dulu," kata Wulan lalu berbalik meninggalkan Suster sendirian.


Ceklek.


"Assalamualaikum sayang," salam sapa Rizal.


Orang yang membunyikan bel tersebut adalah rizal, pria itu pagi-pagi sudah kemari.


"Walaikumsalam, Mas kok sudah kesini bukan nya kemarin janji jam 8 pagi? ini baru jam setengah 7 sekarang," balas Wulan, lalu bertanya.


"Kenapa? apa kamu keberatan aku kesini sayang?" Rizal malah berbalik tanya, lalu berjalan mendekati Wulan dan mencium kening perempuan yang sebentar lagi akan menjadi istri nya kembali.


"Ayo masuk, bentar lagi keluarga mu akan datang bukan," sambung Rizal mengajak Wulan.

__ADS_1


"Mas, ak-"


"Sayang, di mana baby askar? aku ingin melihat nya," ucap Rizal cepat memotong perkataan Wulan.


"Baby askar ada di dalam ayo aku tunjukkan," kata Wulan.


Dan kedua pun langsung pergi menuju kamar nya.


Tiba di dalam mata rizal menatap kagum isi kamar, bagaimana tidak? tempat berdiri nya saat ini banyak dengan foto baby askar.


"Sayang, ini kamar mu atau baby askar?"


"Kenapa emang nya, Mas?"


"Jawab saja ya atau bukan?" ucap Rizal ulang.


"Ya, ini kamar ku."


Cup.


"Kamu memang Ibu yang baik Oh iya sayang sana bersih-bersih gih, kita akan pergi jam setengah 9."


"Ya aku bersih-bersih kamu temani baby askar nya," ucap Wulan lalu pergi.


Rizal berjalan mendekat lalu membawa baby askar berpindah ke dalam gendongan nya.


Sejak tadi baby askar sudah bangun, tapi bayi itu tak mengeluarkan suara, dia diam anteng.


Tanpa terasa sudah 30 menit rizal berada di dalam kamar bermain bersama putra kecil nya di atas kasur.


Dan Wulan hingga sekarang belum keluar.


"Astaga bagaimana aku bisa ceroboh seperti ini, lalu apa yang harus ku lakukan sekarang?" monolog Wulan bertanya bingung.


"Sudah, ini jalan terbaik. Tidak mungkin aku berdiri seperti ini," sambung Wulan lagi.


"Mas Rizal ... Mas Rizal ...," panggil Wulan dari dalam kamar mandi.


Iya sayang kenapa?" sahut Rizal, lalu berjalan mendekati pintu kamar mandi.


"Mas aku lupa membawa handuk dan pakai ganti ku, bisakah kamu mengambil nya untuk ku?" pinta Wulan meminta bantuan pada Rizal.


"Ya sudah kamu tunggu, aku ambilkan sekarang," kata Rizal segera pergi mengambil nya.


"Terima kasih Mas."


Tak lama kemudian, rizal kembali menyodorkan handuk dan pakaian ganti yang di minta Wulan.


Wulan menerima itu, dan segera memakai.


Tak sampai 10 menit Wulan sudah keluar dari dalam.

__ADS_1


"Wah, anak bunda ternyata begitu merindukan ayah nya. Sejak tadi bunda gak dengar suara," ucap Wulan tiba di samping Rizal.


"Sayang aku ingin di panggil Daddy bukan ayah," protes Rizal tak suka di panggil ayah.


"Kenapa? nama Ayah bagus lho itu."


"Bagus sih iya, tapi aku tidak suka. Aku ingin di panggil Daddy tidak yang lain," putus Rizal tidak ingin mendengar suara protes wulan.


"Askar lihat ayah mu dia benar-benar pria tua menyebalkan, kebanyakan baca novel hingga lebih menyukai panggilan daddy dan mommy, padahal ya menurut bunda itu nama yang buruk, masih bagus dan unggul ayah dan bunda," aduh Wulan pada putra kecil nya.


"Apa tadi? kamu mengatakan aku pria apa?" tanya Rizal dengan tatapan tajam menatap Wulan dan langsung menarik pinggang wanita tersebut.


Wulan kaget dengan tindakan Rizal.


"Pria tua, itu memang benar kan?"


"Benar dan aku akan tunjukkan seperti apa pria tua menyebalkan itu," kata Rizal dengan senyum tipis hingga.


"Mas, jangan aneh-aneh," ucap Wulan khawatir dan takut.


"Aneh-aneh? seperti nya itu ide tidak buruk bisa di coba nanti."


"Maks-" ucapan Wulan langsung terhenti.


Bibir Rizal sudah lebih dulu membungkam bibir Wulan, hingga ucapan nya hanya empat huruf tidak lebih.


Satu tangan rizal melingkar di pinggang wulan dan satu tangan nya lagi menekan tengkuk untuk memperdalam ciuman.


Rizal begitu semangat dan menikmati, bahkan tangan yang melingkar itu sudah berhasil masuk di balik baju wulan.


Sentuhan lembut yang di berikan rizal itu membuat wulan menjadi geli.


Kedua bola mata mereka saling aduh, tatapan kedua nya pun penuh dengan cinta.


Rizal perlahan menidurkan Wulan di atas kasur dan dia menindih. Tapi bibir masih bersentuhan.


Namun Wulan tak sanggup menahan lebih lama, nafas nya sudah habis.


Melihat itu Rizal menyudahi dan memberi Wulan jeda menghirup oksigen.


"Apa kamu ingin membunuh ku? kenapa begitu rakus? cepat bangun," ucap Wulan sedikit kesal mengusir rizal bangun dari posisi nya sekarang.


"Itu hukuman untuk mu, jika nanti masih berbicara hal itu sehari full kamu akan ku kurung," ancam Rizal membenci di kata tua yang di lontarkan Wulan.


"Kenapa kamu malu di kata tua, itu memang Kenyataan," Balas Wulan tidak tau jika rizal tak suka.


...Bᴇʀsα΄€α΄Κ™α΄œΙ΄Ι’......


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


Maaf ya semua, author baru sempat update lagi sekarang, kemarin ada kerjaan yang benar-benar tak bisa di tinggal kan.

__ADS_1


Mohon di mengerti, tapi jangan khawatir hari ini author akan update lebih ya. πŸ˜πŸ™‚


__ADS_2