
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
🌹✨💞✨🌹
Ponsel wulan sejak tadi terus berdering, dinda di sebrang sana tidak henti menghubungi adik angkat nya itu.
Sedangkan wulan tak menyadari itu, dia meninggal ponsel di bawah kasur hingga dia tak mengetahui ada panggilan masuk dari kak dinda.
Wulan tak banyak bicara, dia hanya mendengarkan permintaan mama alma pada nya.
"Mama harap Wulan mau ikut Mama," ucap Mama penuh harap.
"Tapi Ma, bagaimana kuliah wulan?" tanya Wulan mengkhawatirkan kuliah nya.
"Jangan khawatir Kak, aku akan mengurus cuti kakak selama satu tahun, aku jamin Kak rizal gak bakal tau," jawab Risma yakin.
"Apa kamu yakin? Mas rizal dosen di kampus ku apa tidak sulit untuk dia mencari semua ini?" ragu Wulan.
"Percayakan saja sama aku Kak, meski Kak rizal dosen bukan berarti dia dapat tau semua yang di mau bukan?"
"Iya kamu ada benar nya juga, lalu bagaimana dengan Papa?" tanya Wulan lagi mengingat Papa mertuanya itu sangat tidak menyukai nya.
Mengingat terkahir kali Papa yusuf mengancam nya segera meninggalkan rizal jika tidak ingin terkena masalah hingga sekarang masih terus menganggu pikiran wulan.
Wulan tidak ingin berurusan dengan orang jahat, dari penglihatan sejauh ini Papa yusuf tidak main-main dengan ancamannya saat itu.
Wulan tidak ingin bertemu dua pria yang jahat.
"Maafkan suami Mama, Nak. Suami Mama bersikap begitu hanya karena mengira kamu tidak bisa hamil, tapi jika setelah mengetahui ini Mama yakin Papa tidak akan bersikap kasar padamu," ucap Mama Alma menyakinkan Wulan.
"Tidak Ma, aku rasa tidak seperti itu. Tatapan Papa padaku saat itu berbeda, tatapan nya menjelaskan semua yang tidak di katakan, aku tidak ingin anakku nanti di celakai papa," monolog Wulan tidak mampu mengungkapkan selain berbicara dalam hati.
__ADS_1
"Nak, jangan khawatir. Papa sebenarnya orang yang baik, hanya saja saat itu terbawa suasana oleh anaknya hingga menuduh mu yang tidak-tidak," kata Mama alma masih berusaha menyakinkan wulan.
"Maaf, Ma bukan aku tidak percaya atau gimana sama perkataan Mama, aku hanya tidak ingin kehamilan ku di ketahui orang lain lagi selain Mama dan Risma, aku harap Mama dan Risma dapat mengerti keputusan ku ini," ucap Wulan tetap tidak bisa percaya sepenuhnya.
Entah kenapa perasaan nya mengatakan tidak seperti itu, papa yusuf tidak menyukai nya bukan hanya karena masalah dirinya tidak bisa hamil, tapi pasti ada hal lain tapi itu apa dia sendiri tidak tau.
Wulan tidak ingin mencari tau lebih apa alasan papa yusuf tidak menyukai nya, menurut nya hal itu tidak penting, terserah jika semua orang tidak menyukai nya karena itu hak mereka ingin menyukai atau tidak.
"Baiklah Mama terima jika itu sudah menjadi keputusan mu. Lalu bagaimana dengan sidang besok apa kamu akan tetap datang?" tanya Mama Alma.
"Iya Ma, aku akan tetap menghadiri aku tidak ingin menunda nya lagi," jawab Wulan tidak ingin mengulur waktu itu hanya akan membuat nya tersiksa.
"Mama tidak akan memaksa mu lagi, Mama terima apapun keputusan yang ingin kamu lakukan."
"Terimakasih Ma."
"Luka yang di gores kan rizal terlalu dalam padamu Nak, hingga kamu tidak tahan menunggu lagi meski itu sembilan bulan saja sampai anak di kandungan mu lahir. Maafkan anak Mama Nak karena rizal kamu tersiksa begitu dalam hingga rasanya sulit mempercayai orang-orang yang sudah menyakiti mu yang ingin berubah menjadi baik," monolog Mama Alma sedih.
"Oiya kak, ini apartemen milik siapa? ini pasti bukan milik kakak atau teman kakak di samping kan?" tanya Risma.
Sejak tadi dia hanya diam membiarkan Mama nya berbicara dengan kakak ipar, dan mata nya melihat-lihat setiap sudut tempat apartemen.
"Risma kenapa bertanya seperti itu Nak?" tegur Mama Alma.
"Anda benar nona, ini bukan apartemen saya ataupun wulan emangnya kenapa apa ada masalah? lagian pemilik apartemen ini dengan senang hati memberi apartemen nya untuk kamu tepati. Dan pertanyaan Nona barusan secara tidak langsung mengatakan jika saya dan wulan tidak bisa membeli apartemen saja, saya katakan pada nona saya bisa membeli apartemen yang lebih besar dari ini," jawab Santi merasa tersinggung dengan pertanyaan risma.
Risma yang merasa sahabat kakak iparnya salah tanggap dengan maksud pertanyaan sejenak diam dan lalu kembali bersuara.
"Maaf namanya siapa tadi?" tanya Risma benar tidak ingat nama santi.
"Santi, kenapa?"
"Oiya santi, kamu salah paham maksud pertanyaan saya. Saya tidak bermaksud apalagi berniat menghina kamu dan juga kak wulan, karena saya percaya kamu dan kak wulan dapat membeli apartemen yang lebih besar dari ini. Kak wulan memiliki keluarga yang memiliki segalanya pasti dengan muda bagi nya untuk miliki yang di suka, dan untuk kamu saya tidak tau, tapi saya percaya kamu juga pasti bisa," terang Risma.
"Tentu pasti bisa, kenapa tidak."
__ADS_1
"Hmmm."
"Kak Apartemen ini pemilik nya cowok ya?" tanya Risma lagi masih penasaran.
Pasalnya pertanyaan nya tadi belum di jawab, karena santi sudah salah tanggap duluan.
Dan Risma harus menjelaskan agar tidak terjadi salah paham karena dia tidak ingin ada masalah dengan sahabat kakak iparnya, meski sahabat wulan ini adik jauh dari nya.
"Iya benar pemilik apartemen ini cowok, dia sahabat aku namanya panji," jawab Wulan.
"Oh, lalu dia mana? apa teman cowok kakak itu tinggal di sini juga?" tanya Risma kepo.
"Kalau iya kenapa? ini apartemen nya jadi dia bebas untuk tinggal di sini apa ada masalah?" jawab Santi cepat.
Mendengar pertanyaan Risma sudah seperti ingin menginterogasi wulan sahabat nya membuat nya yang diam menjadi kesal dengar nya.
Pertanyaan yang seharusnya di jawab wulan dengan cepat dia potong dan jawab.
"Apa itu benar kak?" tanya Risma kaget tidak percaya begitu saja.
Saat santi ingin menjawab lagi wulan menatap santi sambil menggeleng kepala.
"Tidak, aku tinggal berdua saja sama santi, dan panji akan datang pagi dan setelah kampus untuk mengantarkan makanan untuk kami berdua," jelas Wulan yang paham adik dari suami nya berpikir ke arah sana.
"Syukur lah lega aku dengar nya."
"Nak, Mama dan Risma tidak bisa lama di sini, takut nya papa curiga. Kita langsung balik kamu jaga kesehatan, jaga cucu Mama jangan biarkan dia kekurangan apapun, hubungi Mama atau Risma jika kamu membutuhkan sesuatu oke, jangan terlalu merepotkan sahabat mu ini kasihan dia," kata Mama Alma perhatian.
"Iya Kak jangan terlalu merepotkan orang lain, masih ada aku aunty nya yang siap membantu ponakan ku," timpal Risma melirik santi sekilas lalu kembali menatap wulan.
"Iya, terimakasih Mama dan Risma sudah perhatian sama anak di dalam kandungan aku."
"Itu sudah seharusnya Nak, anak dalam kandungan mu itu cucu Mama."
"Dan itu juga ponakan ku."
__ADS_1
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...