Menikah Karena Balas Dendam

Menikah Karena Balas Dendam
Bab 52: Rumah Sakit


__ADS_3

🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻




🌹✨💞✨🌹


Mendengar pertanyaan Santi mendadak Wulan keselak, rujak yang belum selesai ia kunyah mendadak tersangkut.


"Uhukkk ... uhukkk ... uhukkk .... "


"Ini minum dulu," cemas panji menyodorkan botol mineral pada Wulan.


"Terimakasih." Wulan menerima dan minum hingga tersisa setengah botol.


Melihat Wulan sedikit baik kan, Panji membuka suara.


"Lo apaan sih San, kenapa punya pikiran sekotor itu tentang kita? saya akui saya mencintai Wulan tapi bukan berarti saya berani melakukan hal sekotor itu, mencintai bukan berarti merusaknya, tapi menjaga nya," tegas Panji tidak suka dengan tuduhan santi.


"Maaf bukan maksud nya menuduh habis nya sikap Wulan seperti ibu hamil hormon nya naik turun mendadak marah, mendadak sedih, mendadak senang, kan aneh tidak mungkin semua terjadi tanpa ada sesuatu," ungkap Santi mengatakan apa yang di pikirkan.


Wulan terdiam perkataan santi yang mengatai nya hamil seketika membuat nya teringat terakhir kali menstruasi.


Dan Wulan sudah telat datang bulan tiga minggu apa benar saat ini dia sedang mengandung?


"Tidak, bagaimana jika benar aku hamil? kenapa semua harus terulang lagi? kenapa! Ini tidak adil untuk ku Tuhan. Kenapa di saat aku ingin membuka lembaran baru selalu ada kendala, apa aku wanita yang tidak pantas bahagia? apa salah ku sebenarnya hingga di beri cobaan seberat ini?" batin Wulan menangis tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya jika perkataan Santi benar


Melihat diam nya Wulan seperti akan menangis membuat santi khawatir.


"Lan maaf bukan maksud ku menyinggung mu, tapi semua perubahan mu hari ini sama persis dengan tanda-tanda ibu hamil.


Awalnya aku pikir ini hanya sebuah kebetulan tapi beberapa menit kemudian aku menjadi sadar jika ini bukan kebetulan tapi ada sesuatu yang aneh tidak beres, melihat mood mu naik turun dan juga ingin makan rujak sepagi ini seperti orang ngidam," jelas Santi.


"Kamu bicara apa sih San, tidak mungkin Wulan hamil itu perasaan kamu saja, Wulan perempuan baik-baik tidak mungkin melakukan hal gila itu, benar kan Lan?" tanya Panji tidak percaya penjelasan santi panjang lebar.

__ADS_1


Meski penjelasan Santi masuk akal tetap ia tidak ingin percaya.


Panji meraih tangan Wulan dengan erat.


"Katakan Lan jangan diam seperti ini, semua perkataan santi tidak benar kan? kamu tidak hamil kan?" tanya Panji bertubi-tubi deg-degan akan jawaban Wulan berikan nanti.


"Maaf." Satu kata maaf lolos begitu saja dari bibir Wulan yang menundukkan kepala tidak berani menatap wajah Panji yang sangat kecewa dengan nya saat ini.


"Maksud kamu Lan? apa benar kamu melakukan itu dan sekarang sedang hamil? siapa pria itu? apa ini alasan kamu tidak terima cinta ku?" tanya Panji sedikit kecewa tapi ia masih ingin mendengar penjelasan dari Wulan yang ia yakin wanita itu tidak sepenuhnya salah pasti ada sesuatu yang terjadi karena ia mengenal Wulan bukanlah wanita murahan.


"Aku sudah menikah satu tahun yang lalu, dan sekarang kami sudah bercerai," jawab Wulan yang mana membuat kedua orang tersebut kaget.


Kedua nya seperti mendengar petasan.


Dorr....


Ungkapan Wulan membungkam mulut kedua nya, bagaimana tidak? selama ini Wulan tak pernah mengatakan apapun tentang kehidupan nya.


"Kenapa kamu tidak pernah menceritakan ini padaku? apa aku tidak berarti dan tidak pantas tau tentang mu?"


Panji paham dan tidak lagi memaksa Wulan untuk menjelaskan apapun, dari wajah wanita itu terlihat jelas memikul banyak beban kesedihan.


"Pernikahan nya pasti begitu menyedihkan? semua terlihat dari wajahnya," batin Panji kasihan.


Begitu pun dengan Santi dapat melihat tatapan sedih Wulan sedang tidak baik-baik saja.


"Apa kamu benar hamil Lan?" tanya Santi.


Wulan menggeleng kepala tidak tau.


"Aku tidak tau, tapi sudah tiga minggu aku belum datang," jujur Wulan, ia baru mengingat nya setelah mendengar perkataan Santi yang mengatakan ia hamil.


"Benar kan, itu sudah pasti kamu sedang hamil Lan? untuk lebih memastikan kita ke dokter kandungan mengecek benar atau tidur?" saran Santi.


"Benar yang di katakan Santi sekarang kita ke dokter kandungan, aku akan mendampingi mu apapun yang terjadi nanti, percayalah," janji Panji menyakinkan Wulan.

__ADS_1


"Aku takut, bagaimana jika benar aku hamil? apa yang harus aku lakukan?" Cemas Wulan tidak ingin kekhawatiran nya itu benar terjadi.


"Jangan takut aku akan selalu mendampingi mu, jika ada orang yang menyakiti mu, aku akan menjadi orang pertama yang melawan mereka, " ucap Panji.


"Tidak, kamu sudah terlalu baik padaku, jangan melakukan apapun untuk ku lagi, aku takut tidak bisa membalas semua kebaikan mu," ungkap Wulan tidak mau berhutang budi pada Panji.


Pria itu terlalu baik, ia tidak ingin memanfaatkan perasaan Panji untuk kepentingan nya, biarkan ia melakukan semua sendiri.


Untuk apa Panji harus menanggung sesuatu yang tidak ia lakukan, apa itu namanya jika bukan memaafkan kesempatan?


Wulan lebih memilih menderita dari pada memaafkan kebaikan orang agar terlepas dari penderitaan itu.


"Lan, terima saja bantuan Panji, tidak mungkin kan kamu ke rumah sakit tanpa suami? mau di kata apa kamu nanti sama mereka. Ini jalan satu-satu yang kamu miliki, saran ku terima jangan menolak semua demi kepastian apa kamu hamil atau tidak," ucap Santi bingung kenapa niat baik Panji di tolak.


Wulan terdiam merenung memikirkan apa yang dikatakan Santi ada benar nya. Iya butuh pendamping agar tidak di kata dokter yang buruk tentang kehamilan nya.


"Apa kamu tidak keberatan melakukan ini Pan?" tanya Wulan memastikan tidak ingin merepotkan.


"Tidak sama sekali, aku malah merasa senang bisa membantu mu," jawab Panji.


"Nah kamu dengar sendiri kan, Lan? Panji tidak keberatan malah dia senang membantu mu, sekarang kita pergi, ayo," ajak Santi meraih tas selempang dan keluar.


Begitu pun dengan Wulan dan Panji.


Ketiga orang tersebut pergi ke rumah sakit menggunakan mobil Panji.


Satu jam kemudian mereka tiba di rumah sakit, Panji selalu menemani Wulan di mana pergi nya.


Setelah mengambil nomor antrian dan menunggu kini giliran nomor Wulan yang di panggil.


Panji masuk menemani Wulan, dan Santi melihat perhatian nya panji menjadi baper. Wulan benar-benar wanita beruntung di keadaan seperti ini panji masih bisa menerima keadaan nya.


Cari di mana pria seperti panji meski mengetahui wanita yang di cintai sudah menikah dan sekarang sedang mengandung ia tidak mempersalahkan masa lalu Wulan, cinta nya akan selalu sama seperti dulu sebelum mengetahui kebenaran nya.


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......

__ADS_1


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2