Menikah Karena Balas Dendam

Menikah Karena Balas Dendam
Bab 64: Kembali Mual


__ADS_3

🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


β€’


β€’


πŸŒΉβœ¨πŸ’žβœ¨πŸŒΉ


Lestari duduk santai di sofa, rasanya hidup nya benar-benar makmur.


Tidak ada penghalang untuk nya menjadi ratu satu-satunya di mansion ini.


"Kenapa tidak dari dulu seperti ini? kenapa baru kepikiran sekarang? sudah lah tak apa yang penting sekarang aku menang dan gembel itu kalah," ucap Lestari tertawa keras penuh kemenangan.


"Aku tidak sabar untuk segera menikah dengan rizal."


Rizal pusing mencari wulan kemana-mana tidak juga di temukan, mual nya semakin menjadi entah kenapa dia ingin sekali melihat wulan.


Rizal menepikan mobil di tepi jalan dan memukul setir mobil merasa frustasi.


"Kamu di mana wulan? kenapa begitu sulit menemukan mu? aku sudah mencari mu di mansion dinda tapi kamu tak ada sebenarnya kamu di mana sekarang?" Rizal terus memukul setir tanpa peduli rasa sakit pada tangannya.


Ponsel rizal mendadak berdering.


πŸ“ž:"Hallo ada apa? katakan langsung pada intinya," ucap Rizal malas berbelit-belit.


πŸ“ž:....


πŸ“ž:"Apa laporan mu ini dapat di percaya?"


πŸ“ž:"Bagus, jika kamu berhasil melakukan tugas ini dengan baik saya akan memberi mu bonus."


πŸ“ž:.....


πŸ“ž:"Lakukan dengan rapi jangan sampai ada yang curiga, saya ingin semua berjalan lancar."


πŸ“ž:....


πŸ“ž:"Lanjutkan kerjaan mu, saya matikan telpon nya."


Setelah panggilan terputus, senyuman di wajah Rizal seketika terbit.


"Lihat saja jika semua benar terbukti, akan aku buat kau menyesal telah main-main dengan ku, bahkan akan ku buat kau menyesal telah melakukan kesalahan ini," ucap Rizal mengepal kuat tangan nya.


Pria itu kembali mengendarai mobil, meski masih sedikit mual tapi sebisa nya dia mencoba tahan.


Tak lama kemudian mobil nya tiba di area mansion.

__ADS_1


Rizal melempar kunci mobil pada penjaga dan berlalu masuk begitu saja ke dalam.


Pertama masuk mata nya langsung menangkap sosok wanita yang duduk santai di sofa ruang keluarga dengan sepiring apel di meja menikmati tontonan di layar televisi.


Rizal berjalan menghampiri lestari.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Rizal seraya menjatuhkan bokong di samping sofa duduk lestari.


"Sayang kamu sudah, aku merindukan mu tau, tumben pulang jam segini? emangnya gak lagi ada kerjaan?" tanya Lestari.


"Kerjaan menumpuk tapi aku sedang tidak mood, sejak tadi aku terus mual entah kenapa rasanya kepala ku sangat pusing," jawab Rizal.


"Apa kamu sakit sayang? sebaik nya kita ke rumah sakit saja cek keadaan mu," khawatir Lestari.


"Aku rasa tidak perlu kamu bisa mengurus ku bukan?" tanya Rizal menatap lestari.


"Tentu bisa sayang, apa sih yang tidak bisa aku lakukan demi kamu, yang tidak bisa akan aku bisa kan asal itu membuat mu senang dan puas," jawab Lestari dengan senyuman diwajahnya.


"Ya kamu wanita licik, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan, aku akan mengikuti permainan mu mulai hari ini," monolog Rizal menatap lestari.


Huekk ... huek ... huek....


Rizal kembali mual, dan berlari masuk ke kamar mandi.


Rizal benar-benar lemas saat ini, rasanya dia tak memiliki tenaga lagi untuk berdiri, mual nya sejak tadi tidak juga hilang.


"Aku tidak apa-apa bantu aku ke kamar tubuh ku benar-benar lemas," pinta Rizal tidak mampu berjalan sendiri ke kamar.


"Baiklah."


Lestari membantu Rizal dengan memapah menuju kamar.


"Berbaringlah, kamu harus banyak istirahat," ucap Lestari.


"Hmmm, tolong pijit kan kaki ku, rasanya sedikit pegal," ucap Rizal.


"Iya."


Lestari memijat kaki dan juga betis Rizal.


"Kenapa aku merasa sekarang seperti menjadi babu? tak apa lestari kamu harus sabar semua ini untuk menyakinkan rizal kalau kamu mampu menjadi istri yang baik untuk nya," monolog Lestari berusaha menutupi wajah kesal nya.


"Ada apa dengan ku kenapa terus mual? kenapa aku tidak bisa menghilangkan wajah wulan dari benak ku? sebenarnya apa yang terjadi?" batin Rizal bertanya-tanya.


Sedangkan di sisi lain.


Dinda begitu kaget rasanya tidak percaya rumah tangga yang selama ini wulan jalan kan ternyata tidak ada kebahagiaan.

__ADS_1


Satu tahun bukanlah waktu yang singkat, satu tahun adalah waktu yang panjang di mana wulan mencoba bertahan dengan semua sikap dan perilaku Rizal pada nya begitu buruk.


Berusaha yakin semua akan berubah menjadi baik tapi malah semakin menjadi buruk hingga tidak terkendali kan.


Dinda tidak bisa bayangkan bagaimana jika dia berada di posisi wulan tiap hari harus menerima luka fisik maupun batin yang di berikan suami nya.


Tanpa bisa di tahan tetesan bening jatuh, dinda tidak bisa menyembunyikan kesedihan nya lagi, dia benar-benar ikut sedih dan hancur dengan apa yang di alami wulan.


Kedua tangan Alvaro sudah mengepal kuat, dia sangat marah rasanya dia ingin menghabiskan Rizal saat ini juga.


Tindakan pria itu sudah benar-benar keterlaluan, dan tidak bisa di maafkan.


"Kenapa kamu tidak mengatakan ini pada kakak dek? kenapa kamu menanggung semua ini sendiri?" tanya Dinda dengan tangisan merasa sesak di dada begitu bertubi-tubi.


Sama hal dengan wulan, setiap menceritakan semua penderitaan yang di rasakan air mata nya terus menetes.


Dan mungkin hanya air mata yang saat itu bisa di keluar kan saat Rizal menyiksa nya.


Wulan tak menjawab dada nya benar-benar sesak mengingat kenangan pahit yang sudah ingin dia kubur dalam-dalam harus di buka lagi.


"Hiks ... hiks ... hiks .... "


"Dinda, kamu harus tenang jangan seperti ini karena tindakan mu hanya akan membuat wulan bertambah sedih," ucap Alvaro menenangkan dinda.


"Dek, kamu jangan khawatir kakak akan beri pria itu pelajaran hingga dia lupa bagaimana cara menyakiti perempuan," janji Alvaro.


"Jangan Kak, aku mohon jangan," cegah Wulan.


"Kenapa dek? pria itu pantas mendapatkan semua ini dia sudah menyakiti fisik dan batin mu secara bersamaan, dan hal itu tidak bisa di biarkan begitu saja, dan dia harus di balas," jelas Alvaro menolaknya keras permintaan wulan.


"Benar yang di katakan Mas Al, Dek. Rizal harus menerima balasan," timpal Dinda setuju dengan Alvaro suaminya.


"Aku mohon jangan Kak, aku tidak ingin ada masalah lagi, aku hanya ingin segera bercerai dengan nya, tidak lebih. Besok sidang pertama perceraian ku, aku mohon kakak dapat mengerti keputusan ini, semua ku lakukan bukan untuk saja, tapi juga untuk anak dalam kandungan ku," ucap Wulan dengan tetesan bening semakin deras.


"Apa?" ucap Dinda dan Alvaro bersamaan kaget.


"Iya kak Aku sekarang sedang hamil dan aku tidak ingin Mas rizal tau tentang kehamilan ku."


Dinda tak dapat berkata apapun lagi, dia hanya bisa memandang wulan dengan tatapan kosong bingung harus berbicara apa.


Sama hal dengan Alvaro bingung harus melakukan apa? keadaan wulan yang sedang mengandung sekarang benar-benar membuat nya pusing.


"Please kak," pinta Wulan lagi menatap Dinda dan Alvaro yang masih diam.


...Bᴇʀsα΄€α΄Κ™α΄œΙ΄Ι’......


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...

__ADS_1


__ADS_2