
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
🌹✨💞✨🌹
Hari ini sidang pertama perceraian Wulan.
Pagi-pagi wulan sudah rapi, wajahnya tampak biasa tak ada sedih dan tak ada juga bahagia, santi melihat ekspresi wulan mengerutkan kening bingung merasa aneh.
"Nih orang kenapa?" batin Santi menatap wulan.
"San, kamu udah siap?" tanya Wulan sambil menoleh.
"Sudah, apa kita langsung berangkat?"
"Mau nya sih gitu, tapi aku udah janji mau nunggu kak Al dan kak dinda."
"Mereka juga ikut?"
"Ya begitu."
"Asyik tuh," ucap Santi sambil menaikan alis dengan senyum miring di tampilkan di wajahnya.
"Apa nya yang asyik? ingat jangan aneh-aneh aku gak mau semua jadi panjang," pesan Wulan mewanti-wanti.
"Siapa yang mau aneh-aneh? gak usah su'udzon deh gak baik buat bumil," bantah Santi sambil tersenyum kecil hanya dia yang tau apa yang akan terjadi nanti.
Santi sudah merencanakan sesuatu yang unik, dan tentu itu sangat menarik untuk hiburan semua yang berada di dalam pengadilan.
Dan santi menjamin rencana nya tidak akan menganggu persidangan wulan.
Bahkan perempuan itu sudah tidak sabar menanti waktu itu tiba, dia sudah menyiapkan ponsel untuk merekam hiburan unik yang di ciptakan nya sendiri.
"Aku sudah tidak sabar, kamu lihat saja pelakor apa yang akan ku perbuat padamu nanti, jika kamu masih berani mengusik sahabat ku, kamu berhadapan dengan ku," monolog Santi sangat membenci yang namanya pelakor.
__ADS_1
"Hmmm."
Tak lama kemudian kak Al dan kak dinda datang.
"Assalamualaikum," salam Dinda dan Alvaro bersamaan.
"Walaikumsalam," jawab Wulan dan Santi kompak.
"Udah rapi semua ya padahal, maaf Kakak dan Mas Al telat di jalan macet seperti biasa yang kamu tau," jelas Dinda.
"Gapapa kak, sekarang kakak udah datang," balas Wulan tak masalah dia dapat memaklumi.
"Kamu yang terbaik, makin kesini makin dewasa kakak salut sama kamu, tetap lah seperti ini jadi wulan yang dewasa dan tentu harus pemberani, berani melawan mereka yang menindas kamu," ucap Dinda menatap serius wulan.
"Iya Kak," balas Wulan.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil melakukan perjalanan menuju pengadilan.
Selama perjalanan tak ada pembicaraan mereka sama-sama diam, wulan tak mood untuk berbicara, otak nya di penuhi banyak pertanyaan, entah kenapa dia terus kepikiran.
Sedangkan di sisi lain rizal dan lestari sudah tiba beberapa menit, jujur rizal rasanya berat untuk bercerai dengan wulan, hati nya benar-benar tidak sakit tidak terima.
"Sayang, kamu kenapa? kok murung gitu sih ingat ini hari kebahagiaan kamu, aku akan minta sama kuasa hukum untuk sidang ini cukup satu kali yang kedua tidak perlu ada, karena aku mau yang kedua langsung mendapat surat cerai bukan yang lain," ujar Lestari sudah memikirkan semua dari jauh hari.
"Terserah," ucap Rizal lalu beranjak pergi meninggalkan lestari.
"Rizal kenapa sih kok jadi aneh begini," kesal Lestari lalu pergi mengejar Rizal.
Tak lama kemudian rombongan wulan pun tiba di area parkiran gedung di mana akan di adakan sidang.
Mereka jalan begitu santai, wulan tidak terlalu melihat sekeliling nya, mata nya hanya tertuju ke depan.
Lestari melihat kedatangan wulan dan embel-embel dari sebrang kiri sengaja mempercepat kan langkah kaki nya.
"Wah ... wah ... wah ... seperti nya sudah ada yang siap jadi janda muda nih, kasihan ya umur masih muda tapi sudah harus memikul beban yang begitu besar, kalau aku jadi orang itu pasti langsung bunuh diri, ngapain hidup kalau tanggung malu," sindir Lestari dengan suara keras.
"Cukup Lestari jaga sikap mu, tidak usah cari masalah!" tegas Rizal menatap tajam lestari.
__ADS_1
Entah kenapa mendengar kata-kata lestari mengatai wulan ada perasaan tidak terima di hati rizal.
Dia ingin sekali merobek mulut lestari.
"Dasar pelakor lihat saja balasan ku," batin Santi kesal melihat tingkah lestari semakin menjadi.
Santi berjalan mendekati lestari, baru beberapa langkah melangkah kaki nya kesandung dan terjatuh menindas lestari.
Satu kaki Santi menginjak kaki lestari, lestari meringis kesakitan injakan kaki santi begitu kuat.
Tanpa mereka sadari santi menetes tetesan air yang kenyal dan lengket di balik baju lestari dan juga di luar di area tertentu yang tidak dapat di ketahui orang.
"Auwh, angkat kaki mu dari kaki ku perempuan gila!" teriak Lestari meringis kesakitan.
"Ups, maaf saya ke sengaja nama nya juga kesandung, lagian saya tidak mau jatuh menimpa pelakor, yang ada saya bisa dapat sial tujuh turunan," ucap Santi dengan wajah tanpa dosa tidak merasa bersalah.
"Kau ya wanita gila, saya tau kau sengaja melakukan ini, jangan pikir saya bodoh tidak bisa melihat wajah munafik mu itu?"
"Hay pelakor bukan sudah saya katakan tadi, saya kesandung, saya juga tidak sudih dan jika saya di kasih pilihan mau jatuh menimpa kamu atau batu? saya lebih memilih jatuh menimpa di bawa batu dari pada menimpa kamu, kamu itu ibarat penyakit yang dapat membawa bakteri pada orang yang menyentuh mu dan mungkin lebih tepat nya lagi kamu itu virus yang menular sedetik bersentuhan langsung membuat orang-orang mati saking menjijikan," hina Santi dengan senyum manis mengejek pelakor tersebut.
"Kau!" geram Lestari marah ingin menampar santi perempuan gila tersebut.
"Ya saya, kenapa? kau ingin menampar saya seperti kemarin? lalu kembali memainkan drama mu dan wulan yang akan di salah kan lagi, begitu?" tanya Santi yang mana semakin membuat Lestari kesal.
Batas kesabaran lestari makin kesini semakin menipis, santi terus memancing dan mengatai nya.
Wulan tidak ingin masalah ini makin panjang dan akan berakibat pada sidang nya jika masih terus berlangsung.
Dan rizal tidak berkata apapun untuk membela lestari, karena lestari pantas mendapat hinaan seperti itu.
Pandangan rizal terus tertuju pada wulan tanpa berpindah, kedua bola mata wulan yang di rindukan, hidung mancung, dan juga bibir tipis mungil wulan yang selalu menjadi pelabuhan awal dalam olahraga ranjang membuat rizal rindu semua itu.
"Aku merindu kan Lan, aku janji setelah semua terungkap, aku akan memperbaiki hubungan kita, aku akan menikahi mu di depan umum di saksikan banyak orang, aku janji itu," batin Rizal menatap lekat wajah wulan yang sangat di rindukan sejak kemarin.
"Lan, ikut aku ada sesuatu yang ingin aku bicarakan pada mu," anak Rizal.
"Tidak, jika kau ingin bicara, silakan bicara di sini tidak perlu kemana-mana karena saya tidak akan mengizinkan mu berdua saja bersama wulan, yang ada nanti kamu sakitin wulan lagi seperti biasa yang kamu lakukan," sindir Alvaro.
__ADS_1
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...