
H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
🌹✨💞✨🌹
Keesokan hari nya Wulan dan Rizal sudah bersiap meninggal negara Korea.
Mereka kini berada di airport.
"Sayang, apa yang akan kamu lakukan setelah mengetahui pembunuh keluarga mu?" Rizal menatap Wulan penuh rasa penasaran.
"Pertama aku akan menampar Paman, kedua aku akan bertanya apa alasan nya membunuh keluarga ku, terakhir baru ku putuskan hukuman apa yang pantas di terima Paman," jawab Wulan.
"Lalu apakah kamu juga akan membenci keluarga Paman mu itu?" tanya Rizal lagi.
"Entahlah aku sendiri tidak tau, aku bingung apa itu harus atau tidak. Tapi jujur aku sangat membenci Paman, dia tega menghabisi keluarga nya sendiri," jawab Wulan.
"Bagaimana ini, apa aku sanggup menceritakan semua ini? Jika Wulan marah dan tidak terima apa yang harus ku lakukan?" batin Rizal bertanya khawatir.
Wulan diam. Setelah mendapat pertanyaan dadakan dari Rizal seperti ini, seketika membuat otak nya pusing.
Memikirkan, hal itu lah yang sejak kemarin menjadi pertanyaan tersendiri memutari otak nya.
Baby askar di gendong Suster. Wulan dan Rizal duduk berdua agak berjauhan dengan suster, karena dia ingin berbicara berdua tanpa ada di dengar siapa pun.
"Mas kenapa? apa ada yang salah dengar perkataan ku?" Wulan menatap bingung melihat perubahan di wajah Rizal yang menurut nya sangat aneh.
"Tidak, semua benar tidak ada yang salah," jawab Rizal.
"Terus kenapa dengan raut wajah Mas ini? tidak mungkin karena hal lain bukan?"
"Istri cantik ku ini kenapa mendadak perhatian begini? apa kamu sangat mengkhawatirkan ku?" ucap Rizal menggoda Wulan. Mengalihkan topik utama karena dia bingung harus menjawab apa.
"Aku serius, jangan menggoda ku," sahut Wulan.
"Aku juga serius sayang, kamu kira aku becanda apa?"
"Terserah! aku malas, ayo bentar lagi berangkat," ajak Wulan. Malas melanjutkan obrolan mereka, akhir nya memutuskan mengakhiri saja.
Rizal lega, menarik nafas panjang, penuh syukur.
...----------------...
Sore hari nya.
__ADS_1
Wulan, Rizal, baby Askar dan suster telah tiba di Indo.
Rizal sudah menyuruh orang kepercayaan nya menjemput nya.
Wulan menggendong baby askar. Mata nya menatap penuh cinta pada anak semata wayang nya.
"Ututu, anak bunda yang tampan. Kita sudah tiba di Indo, sebenar nya bunda lebih suka di Negara asal bunda, tapi karena Ayah mu kita tidak punya pilihan lain lagi, elain mengikuti. Tapi tak masalah nanti, setelah semua telah beres, Bunda akan membujuk Ayah mu untuk pindah," ucap Wulan pelan sambil menatap Baby askar.
Rizal baru menyelesaikan panggilan telpon dengan orang kepercayaan nya. Dia pun segera menghampiri Wulan.
"Sayang, ayo kita ke parkiran," ajak Rizal. Tiba di dekat istri nya, dia langsung menarik koper bawaan Wulan.
"Iya."
Suster mengikuti majikan nya dari belakang. Hingga tiba di area parkiran.
Tiba di sana ternyata sudah ada sopir yang menunggu kedatangan mereka.
Pak sopir tersebut turun dan mengambil koper bawaan Rizal dan suster, di taruh dalam bagasi.
Lalu melajukan mobil ke tempat tinggal mereka.
Kedatangan mereka ke Indo belum di ketahui keluarga, mau itu keluarga Rizal atau Wulan.
Rizal juga sudah memperingati suster tidak memberitahu keluarga Wulan.
"Apa kamu tidak suka di apartment? aku akan segera meminta orang ku mencari rumah," Rizal mengambil ponsel menghubungi seseorang. Namun belum juga menelpon Wulan menahan.
"Tidak seperti itu, aku bertanya bukan berarti tidak suka Mas. Aku hanya bingung kamu punya rumah kenapa tidak tinggal di sana saja," sahut Wulan.
"Dulu. Sekarang tidak," ucap Rizal.
"Maksud nya apa? rumah nya sudah Mas jual gitu?" tebak Wulan sambil menatap tanya Rizal.
Rizal mengangguk mengiyakan.
"Ya, setelah aku mengetahui kebenaran nya dan kamu pergi dari Indo. Untuk apa mempertahan rumah itu, lagian rumah Itu banyak kenangan buruk. Aku tidak ingin kamu mengingat itu lagi jika kembali, makanya aku menjual. Rencana nya akan ku ganti yang lebih besar dari lama untuk keluarga kecil kita," terang Rizal.
Cup.
Mendengar itu Wulan terharu dan menghadiahkan satu kecupan cinta di pipi kanan Rizal.
"Terima kasih Mas. Aku tidak menyangka kamu melakukan semua untuk ku," ucap Wulan bahagia.
__ADS_1
"Apapun itu untuk mu aku akan melakukan, asal kami bahagia," sahut Rizal.
"Tidak perlu. Aku hanya butuh kamu di sisi ku, saling terbuka dan tidak ada yang di tutupi apapun dari ku," ucap Wulan. Dia tak meminta sesuatu yang memberatkan Rizal.
Satu dan selama nya yang minta Wulan yaitu setia.
"Itu pasti sayang, aku akan selalu terbuka. Tiba di apartment, aku akan menceritakan semua tentang ku yang belum kamu ketahui," sahut Rizal.
"Belum ku ketahui?" Wulan kaget.
"Iya, tapi sebelum itu aku ingin kamu berjanji terlebih dahulu."
"Janji? kenapa harus berjanji? apa sesuatu yang akan Mas katakan nanti serius?"
"Iya, jadi sekarang kamu harus berjanji apapun nanti yang kamu dengar jangan pernah meninggalkan ku."
"Apa maksud Mas? kenapa begitu yakin setelah mendengar cerita Mas, aku akan pergi? kata kan jangan membuat ku penasaran seperti ini?" desak Wulan.
Melihat Rizal begitu tampak serius, tidak ada raut wajah becanda. Wulan menjadi yakin jika apa yang akan di kata kan Rizal nanti sesuatu yang penting, hingga belum apa-apa Rizal sudah memperingati nya.
Mata Wulan tak lepas menatap Rizal dengan penuh tanda tanya di raut wajah nya. Otak nya tak henti memikirkan hal yang tidak tidak mengenai Rizal.
"Mas, kenapa diam? katakan," desak Wulan. Menggoyangkan lengan Rizal.
"Aku akan cerita semua tanpa ada di tutupi, tapi tidak di sini. Kamu juga harus berjanji sebelum itu, jika tidak aku belum bisa cerita semua nya," Rizal menatap serius Wulan.
"Kenapa? apa ini ada kaitan nya de-"
Cup.
Rizal membungkam bibir Wulan. Mendapat serangan dadakan itu tentu membuat Wulan terkejut.
Tapi rasa penasaran itu masih terus memutar di benak nya. Meski bibir di bungkam Rizal.
Pak sopir yang melihat Itu dari kaca atas, menelan kasar saliva nya.
Jiwa jomblo nya meronta melihat majikan berciuman.
"Mata suci ku benar-benar telah dinodai, apa mereka tidak memikirkan orang yang berada di sini? melihat mereka aku pun jadi ingin merasakan Itu Pak. Nasib ku sangat miris," batin Pak Sopir sedih.
Rizal melepaskan ciuman nya. Mengusap sisa saliva di ujung bibir Wulan.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Yang perlu kamu katakan janji. Aku akan berada di sisi mu, mendukung apapun yang akan kamu lakukan, aku janji tidak akan menghalangi Itu," ujar Rizal menyakinkan Wulan.
__ADS_1
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...