
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
🌹✨💞✨🌹
Dinda belum mengatakan jika saat ini wulan sedang hamil.
"Jadi kalian belum mengatakan ini sama wulan?" tanya Papa naldo.
"Iya Pa kita rencana mau bicarakan ini setelah bertemu Papa, aku ragu wulan akan mengikuti keputusan kita, bagaimana juga negara Korea selatan adalah negara kelahiran wulan meski di kota yang akan di tempati wulan berbeda dari kota kelahiran nya," ungkap Dinda mengatakan keraguan nya kenapa belum mengatakan pada wulan.
"Papa bisa mengerti keraguan mu itu, baiklah untuk masalah ini biar papa yang katakan pada wulan," ucap Papa naldo.
"Makasih Pa, oiya ada satu hal yang ingin aku katakan lagi."
"Apa masih masalah wulan?"
Dinda mengangguk. "Iya Pa."
"Ya sudah katakan saja, Papa dan Mama akan mendengar kan."
"Sekarang wulan sedang hamil."
"Apa?" kaget Papa dan Mama serentak.
"Iya Wulan sedang hamil sekarang," ucap Dinda ulang.
"Lalu bagaimana dengan perceraian?" tanya Mama agak cemas.
"Semua akan tetap berlangsung, dan aku yang akan mengurus perceraian mereka," jawab Alvaro cepat.
"Tapi itu tidak baik Al, wulan sedang hamil bagaimana jika kita tunda dulu sampai wulan melahirkan baru kamu urus lagi, yang penting sekarang kita bawa wulan pergi jauh dulu agar rizal tak dapat menemukan," saran Mama Sofia tidak ingin memikirkan pendek.
Semua keputusan yang ambil tidak boleh gegabah, karena itu akan membawa sesal untuk kita sendiri terutama wulan.
Semarah dan sebenci apapun dengan perilaku rizal terhadap wulan, kita harus bisa menangani semua dengan tenang.
"Bagaimana dengan wulan, ini kemauan nya untuk segera berpisah Ma?" tanya Dinda khawatir wulan keberatan.
"Jangan khawatir untuk masalah wulan biar Mama yang bicara nanti," sahut Mama Sofia.
"Oke, aku ikut saja asal wulan tidak sakiti lagi sama rizal," tambah Dinda.
__ADS_1
"Aku juga Ma, jika itu menurut Mama dan Papa yang terbaik kita berdua akan ikut," sambung Alvaro.
"Ok, karena semua sudah dill, sekarang dinda tolong panggilkan wulan," perintah Mama Sofia.
"Iya Ma," Dinda bangkit, namun sebelum itu dia menyerah kan kenan di pangkuan alvaro.
"Anak mommy sama Daddy dulu ya, mommy mau ke atas panggil aunty," ucap Dinda lembut mengusap pipi gembul putra nya.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Masuk saja gak di kunci kok," teriak Wulan dari dalam.
Cekrek....
"Dek," panggil Dinda berjalan masuk.
"Iya Kak," sahut Wulan sambil menoleh.
"Kamu sedang apa? masih rindu sama kamar?" tanya Dinda menatap wulan yang mengangguk mengiyakan pertanyaan nya itu.
"Aku sangat rindu kak, jika waktu bisa di putar aku ingin memutar ulang untuk tidak menikah dengan pria itu," kata Wulan dengan wajah sedih menunduk kan kepala.
"Sudah Dek, jangan di ingat lagi yang sudah berlalu sekarang kamu tidak akan di sakiti lagi kakak janji itu karena kakak akan menjadi orang pertama yang melindungi kamu dari rizal," ucap Dinda.
"Ngomong apa sih kamu, sudah jelas kakak sayang dan peduli karena kamu itu adik kakak."
Wulan merasa terharu dengan perkataan dinda langsung memeluk nya.
Dinda membalas pelukan wulan.
"Jangan pernah kamu merasa sendiri dek, karena kakak akan selalu ada untuk mu kapan pun itu."
"Makasih kak."
"Iya, mau berapa kali kamu ucap terimakasih seperti ini? kita keluarga jadi sudah seharusnya saling membantu."
Dinda melonggarkan pelukan nya dan menatap wulan.
"Apapun yang terjadi kedepan nya kamu harus cerita tidak boleh menyembunyikan apapun lagi, niat kamu memang baik tidak ingin kita kepikiran, tapi bukan seperti ini cara nya, jika kamu bisa melawan kita akan merasa semua masih baik-baik saja, tapi jika kamu diam saat di tindas kita akan kepikiran dan cemas," sambung Dinda menatap serius wulan.
"Iya Kak maaf, aku janji tidak lagi," janji Wulan.
"Oiya santi mana? kok kakak tidak melihat keberadaan nya sejak tadi?" tanya Dinda baru sadar sejak tadi tidak ada santi di sini.
"Santi lagi bersih-bersih kak, kata nya gerah," jawab Wulan.
__ADS_1
"Oh, ya sudah sekarang kita bawah duluan saja, nanti bilang santi nyusul."
"Emang nya ada apa kak? apa ada sesuatu yang penting yang ingin di bicarakan?"
"Kamu lupa apa kata kakak di mobil tadi? setelah tiba di mansion akan menjelaskan semua pada kamu dek."
"Astaga aku lupa kak," ucap Wulan selama menepuk jidat nya.
Semenjak hamil Wulan lebih sering lupa, entah kenapa dia sendiri binggung.
"Iya gapapa, kakak bisa ngerti, kakak dulu juga pernah kayak kamu bahkan lebih para sampai-sampai mas al kesal karena sering lupa," ucap Dinda dapat mengerti yang di rasa kan wulan.
Sekarang semua sudah berkumpul di ruang keluarga termaksud wulan.
Semua yang berada di sini masih belum ada membuka suara termaksud Papa dan Mama, mereka semua terus memandang wulan seolah wanita di depan ini adalah penjahat.
"Pa, Ma ada apa?" tanya Wulan memberanikan diri meski sedikit ragu melihat tatapan tidak bersahabat dari orang tua nya.
"Dasar anak nakal," marah Mama Sofia sambil menjewer telinga wulan saking kesal putri angkat nya ini menyembunyikan semua penderitaan nya sendiri.
"Auwh, sakit Ma. Kenapa aku di jewer apa salah ku?" rengek Wulan meringis kesakitan.
"Biarin sekalian putus Mama gak peduli anak nakal seperti mu memang pantas dapat beginian bila perlu Mama jewer dua-duanya," kata Mama Sofia tidak peduli rengekan wulan, malah menarik kuping sebelah nya lagi.
"Auwh, Mama kok tega benaran jewer dua telinga aku."
"Bodoh siapa suruh gak pernah cerita sama Mama dan Papa, kamu tau gak sih betapa kaget dan sedih nya kita tau ini dari kakak mu? kenapa kamu gak pernah cerita ini sama kita? apa kamu sudah merasa dewasa bisa atasi semua sendiri? atau kamu gak mau anggap Mama dan Papa lagi orang tua lagi? atau kam-"
"Sudah Ma, maaf ... maaf ... maaf ... aku ngaku salah gak pernah cerita ini sama Mama dan Papa, sekarang lepasin dulu kuping ku bisa benar-benar putus kalau Mama terus tarik kayak gini," ucap Wulan cepat memotong perkataan Mama Sofia yang belum kelar mengomel.
"Janji gak bakal ulangi lagi?" tanya Mama Sofia sambil menatap serius wulan.
"Iya Ma, aku janji gak bakal ulangi lagi sekarang lepasin sakit ini," mohon Wulan.
"Awas kalau bohong bukan hanya kuping yang Mama jewer, tapi rambut kamu bakal Mama botakin," ancam Mama serius dan wulan mendengar ancaman Mama seperti tidak sedang becanda menelan ludah kasar tapi rasa nya susah seperti tersangkut.
"Pa," panggil Wulan berharap bisa mendapat bantuan dari Papa nya.
"No, Papa setuju dengan Mama, kamu memang pantas dapat semua ini," ucap Papa Naldo malah mendukung tindakan sang istri.
"Papa... " panggil Wulan merengek karena hanya Papa Naldo yang bisa menolong nya.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...
__ADS_1