
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
🌹✨💞✨🌹
Wulan menatap serius kepada kedua orang tua nya, mata tak berpindah ke arah lain, kedua bola mata nya menatap lekat dua orang di depan yang sedang berbicara.
Wulan tak mencela, dia membiarkan Papa naldo berbicara hingga selesei, meski dia ingin memotong mencapai pendapatnya, tak jadi.
Wulan tidak ingin mengecewakan orang tua nya, semua yang di katakan Papa naldo memang ada benar nya, bisa saja kapan pun itu cepat atau lambat Mama alma dan risma mengatakan keberadaan nya pada rizal.
"Bagaimana kamu gak keberatan kan, Wulan? Papa harap gak ada penolakan semua yang kita putus kan ini untuk masa depan mu," ujar Papa Naldo sambil menatap lekat wulan.
Wulan terdiam belum mengatakan apapun untuk menjawab.
Melihat hal tersebut Mama Sofia membuka suara.
"Sayang apalagi yang kamu pikir kan? semua yang Papa katakan adalah hasil keputusan bersama karena apa? karena kita sayang sama kamu, Nak. Kita mau yang terbaik untuk mu, kita tidak ingin suami mu itu kembali menyakiti mu," kata Mama Sofia yang juga sama dengan suaminya menatap Wulan yang belum memberi tanggapan.
"Apa kamu masih memikirkan pria itu Dek?" tanya Alvaro.
"Pa, Ma, Kak, apa ini jalan terbaik?" tanya Wulan menatap bergantian kepada ke empat orang di depan nya itu.
"Iya Nak, kenapa bertanya seperti itu? kamu ragu Papa, Mama dan kakak-kakak mu ini memberi yang terburuk untuk mu?" tanya Papa Naldo balik bertanya.
"Bukan seperti Pa. Baiklah aku setuju dengan keputusan Papa kemana pun membawa ku pergi tak apa asal bisa jauh dari nya," jawab Wulan putus tidak ada alasan lagi untuk nya tidak menyetujui.
"Bagus jika kamu sudah setuju," Papa Naldo bernafas lega wulan tak menolak.
"Oiya Bagaimana dengan perceraian ku?" tanya Wulan mendadak jadi teringat dengan masalah nya.
"Tidak usah kamu pikirkan, semua akan di urus setelah kamu melahirkan nanti. Dan Mama sudah memutuskan kamu akan melanjutkan kuliah di Seoul gak usah di sini," jawab Mama Sofia.
"Tunggu ... maksud Mama apa tadi? mengurus setelah aku melahirkan? kenapa harus seperti itu? kenapa tidak sekarang saja?" tanya Wulan dengan wajah binggung tidak mengerti.
"Sayang sekarang kamu sedang hamil, pikirkan juga bayi dalam kandungan mu, Mama tau semua itu pasti sangat berat."
"Tapi Ma-"
__ADS_1
"Percaya lah sama kita Nak, semua akan baik-baik saja," ucap Mama Sofia cepat memotong menyakinkan wulan.
Huh...
"Iya, aku ikut."
"Alhamdulilah," ucap mereka kompak kecuali wulan yang mendengar itu hanya bisa menghela napas kasar.
"Alhamdulilah kenapa nih?" tanya Santi.
Saat tiba di ruang keluarga dia mendengar semua orang di sana kecuali wulan mengucap kata syukur.
Mulut nya tak tanggung lagi karena rasa penasaran yang besar memberanikan nya untuk bersuara.
"Sini ayo duduk dulu nanti kita kasih tau," ajak Dinda menepuk sofa samping nya yang kosong.
"Iya kak," sahut Santi cepat langsung berjalan tidak sabar ingin mengetahui apa yang mereka obrolkan.
Setelah Santi duduk, dinda membuka suara untuk menceritakan.
"Ini rahasia antara kita jangan ada yang tau meski siapa pun itu mendesak kamu," ucap Dinda memastikan sebelum mengatakan.
"Iya kak janji gak cerita. Semua aman mulut di kunci dengan rapat," balas Santi kini menjadi lebih penasaran.
Setelah melihat betapa berani nya santi melawan dan sangat membenci lestari sang pelakor perusak hubungan wulan. Dinda yakin santi wanita yang baik dan sangat menyayangi wulan.
Jadi tidak alasan untuk dia takuti lagi untuk menceritakan pada santi.
Santi mendengar semua dengan serius dan seketika wajah nya berubah terkejut.
"Apa? kakak serius? wulan akan pindah dan melanjutkan kuliah di Seoul tempat suami ku kuliah?" tanya Santi.
"Suami? kamu sudah menikah ternyata?" tanya balik Dinda yang sama hal kaget nya dengan santi tadi mendengar cerita nya.
"Eh, belum Kak, maksud ku suami online oppa Korea, hehehe," jawab Santi tersenyum menampilkan sederet gigi putih nya.
"Kamu ini bisa saja, kakak sudah memikirkan jika kamu benar sudah menikah, eh ini ternyata suami halu," ucap Dinda lalu menggeleng kepala tidak habis pikir dengan perempuan zaman sekarang.
Semua drakor yang mereka tonton jika ada pria tampan, pasti langsung di klaim sebagai suami, bahkan sampai ada yang rela mati-matian belajar bahasa korea.
Tujuan nya hanya satu berandai-andai bisa berjodoh dengan oppa Korea.
__ADS_1
"Hehehe, maaf kak, tapi apa benar perkataan kakak tadi?" tanya ulang Santi kini kembali memasang wajah serius.
"Apa kakak terlihat sedang becanda?" tanya balik Dinda menatap Santi.
"Tidak," jawab Santi sambil menggeleng kepala.
"Nah berarti semua yang kamu dengar itu serius bukan becanda."
"Kapan Wulan akan berangkat?" tanya Santi lagi.
"Besok," jawab Alvaro cepat.
Wulan yang tidak tau menahu keberangkatan nya langsung di jadwalkan besok begitu terkejut.
Sama hal dengan santi yang terkejut.
"Kenapa besok kak? aku belum mempersiapkan semua, kenapa tidak di tunda saja minggu depan atau lusa gitu," kata Wulan bernegosiasi belum siap besok harus pergi meninggalkan Indonesia dan tidak tau kapan akan bisa kembali lagi.
"Untuk apa di tunda jalan besok, lusa, dan minggu depan itu sama saja. Kakak sudah mempersiapkan semua keperluan kamu untuk berangkat, jadi besok tinggal berangkat tidak perlu repot, kamu cukup membawa barang yang penting menurut mu saja karena semua sudah kakak siapkan," jawab Alvaro.
"Terserah kakak saja, aku pulang sekarang mau kemas barang-barang," Wulan beranjak bangkit begitu pun dengan santi.
"Tunggu," tajam Papa Naldo.
Wulan menoleh menatap Papa. " Ada apa?"
"Sopir Papa akan mengantar kalian," jawab nya.
"Iya, Pa. Aku pamit dulu. Assalamualaikum," Wulan menyalim bergantian tangan orang tua nya dan juga kedua kakak nya.
Di dalam mobil wulan terdiam tidak ada pembicaraan, santi yang mulai merasa bosan memecahkan keheningan tersebut.
"Lan, apa yang akan kamu katakan pada Panji tentang ini? Aku harap kamu berkata jujur jangan menutupi apapun padanya, dia begitu tulus mencintai mu," kata Santi menoleh menatap wulan.
"Aku tau itu San, aku akan mengatakan padanya kalau aku akan pindah dan entah akan kembali kapan aku tidak tau, mungkin saja tidak akan kembali lagi menetap di negara kelahiran," balas Wulan yang sejak tadi diam memikirkan masalah ini.
"Kenapa kamu berkata seperti itu Lan? apa kamu tidak akan rindu pada ku? atau kamu memang sudah berniat untuk melupakan ku?"
"Itu tidak mungkin San, kamu sahabat terbaik yang pernah ku miliki."
"Dulu aku pernah tidak percaya akan sahabat terbaik yang selalu ada dalam keadaan susah maupun senang, tapi setelah bertemu kamu san aku percaya kalau sahabat terbaik itu ada. Aku beruntung bisa mengenal mu, terimakasih sudah membuat ku kembali percaya," batin Wulan menatap wajah Santi.
__ADS_1
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...