
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
🌹✨💞✨🌹
Wulan berbalik saat ingin berjalan rizal menghentikan langkah kaki nya.
"Tidak perlu," ucap Rizal.
Pria itu tidak ingin wulan membuat kopi lagi, dia ragu hasilnya akan baik, sekarang saja sudah berantakan pasti setelah ini akan lebih berantakan lagi.
Jika di ingat ulang perkataan wulan tadi ini kali pertama ia yakin kini sedang dijadikan kelinci percobaan dalam uji coba minuman yang di buat wulan. Rizal benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi lagi.
"Kenapa Mas? aku hanya ingin membuat yang baru untuk mu, aku benar-benar merasa bersalah," tunduk Wulan dengan wajah sedih membuat rizal menghela nafas kasar.
"Tidak perlu merasa bersalah, aku dapat mengerti ini kali pertama mu jadi lupakan saja," bijak Rizal bangkit berjalan mendekati wulan dan mengajak kembali duduk.
Sedang kan bocah kecil itu diam menyaksikan seperti menonton drama secara live, tentu ia yakin aunty nya ini sedang mengerjai uncle nya.
"Ada ada saja aunty," ucap Kanaya pelan menggeleng kepala dan melanjutkan menyelesaikan tugasnya.
"Tapi Mas aku yang jadi tidak enak kalau mas seperti ini gapapa ku buatkan saja yang baru, apa mas takut kopinya akan lebih buruk dari sebelumnya? aku sadar, aku perempuan dan istri yang tak berguna melakukan hal sepele saja tidak bisa," ucap Wulan dramatis dengan wajah sesedih mungkin.
Rizal melihat wajah wulan penuh penyesalan menjadi tidak tega.
"Sudah jangan bersedih, aku akan mengajari mu nanti, sekarang kita fokus pada naya saja," bujuk Rizal menarik wulan masuk ke dalam dekapan nya.
Wulan yang bersandar dan bersembunyi di dada bidang rizal terus tertawa dalam hati.
"Astaga, aku dosa gak sih kerjain suami sendiri? meski dia gak pernah akui aku sebagai istri nya bagaimana juga aku dan dia suami istri yang sah di mata agama dan hukum," batin Wulan bertanya pada diri sendiri.
"Ya Allah ampunilah hamba yang khilaf ini, kalau sengaja tetap saja khilaf namanya juga terus berjalan meski sadar yang di perbuat salah." batin Wulan.
__ADS_1
"Dia sengaja apa sungguhan sih? masa buatin kopi sampai berantakan begini?" batin Rizal yang ragu tak henti melupakan kejadian tadi.
________
"Dek, ambil makan buat suami gih jangan dilihat doang," tegur Dinda melihat sang adik yang acuh dengan tugas nya sebagai seorang istri.
Wulan yang malas dengan terpaksa dan berat hati bangkit menyendok kan makan untuk rizal.
"Dek, apa sebelumnya kamu gak pernah melayani suami mu seperti ini?" tanya Dinda sedikit penasaran melihat wulan tak melakukan apapun sebelum ditegur.
"Hmmm, iya kak. Aku dan mas rizal mengambil nya masing-masing," jawab Wulan.
"Oh, kenapa tidak bilang sebelum nya, tapi lebih baik dan bagusnya seorang istri menyiapkan makan untuk suami, apalagi suami yang lebih tua dari istri pahala nya dobel loh itu, selain kita menghormati suami, kita juga menghormati orang yang lebih yaitu suami sendiri," jelas Dinda panjang lebar.
"Bukan tua, tapi sangat tua menjijikkan pokoknya komplit," tambah Wulan dalam batin mengatai rizal.
"Iya kak, aku akan melakukan apa yang kakak katakan memang benar sudah seharusnya istri yang muda melayani suami yang tua dengan baik, kita gak tau usia seseorang bagaimana jika mas rizal menutup usia lebih dulu," celetuk Wulan.
Uhukkk....
Uhukkk....
"Nih orang sengaja atau apa sih? kenapa bicara nya ngelantur seperti ini, apa dia sangat ingin aku tiada? benar-benar istri durhaka," batin Rizal kesal.
"Ini mas minum," wulan menyodorkan gelas pada rizal, dan pria tersebut menerima dan langsung meminum hingga habis.
"Kamu sih dek ngomong nya nutup usia rizal jadi kaget dong," ucap Dinda tidak habis pikir dengan wulan.
"Sayang, wulan tak salah yang di katakan memang benar gak ada yang tau tentang usia seseorang, dan mungkin saja besok dia tiada kan, namanya juga rencana dan takdir sang kuasa," kata Alvaro.
"Mas apaan sih gak boleh bicara seperti itu, omongan adalah doa gimana kalau benar terjadi wulan bisa jadi janda," tegur Dinda, tanpa sadar mengatai wulan.
"Kamu juga sayang apa gak sadar perkataan akhir mu terselip doa untuk wulan," balas a
Alvaro balik menegur dinda.
__ADS_1
"Jadi janda sih gak masalah kak, asal aku terbebas dari siksaan pria gila ini, aku benar-benar gak kuat berada di satu lingkaran dengannya," batin Wulan bahagia jika benar jadi janda.
"Mereka benar-benar gila, aku ada di sini masih saja berkata hal yang kejam seperti ini, dan kamu dinda kenapa setega ini sama aku. Aku sangat mencintai mu hingga sekarang, meski sudah menikah adikmu, aku tetap tidak bisa melupakan mu, wulan begitu berbeda dari mu," batin Rizal dengan perasaan bercampur aduk menjadi satu.
Makan malam pun telah selesai 15 menit yang lalu, kini alvaro sedang menunggu rizal di ruang keluarga, dan para istri sudah berada di kamar masing-masing.
"Ada apa memanggil ku kesini?" tanya Rizal to the poin ketika tiba di belakang punggung alvaro.
"Akhirnya orang yang di tunggu datang juga," ucap Alvaro berbalik menatap rizal dengan aura penuh ketidaksukaan.
"Ya, tidak perlu basa-basi langsung pada intinya saja ada apa memanggil ku?" ulang Rizal malas berlama-lama dengan alvaro.
Berdekatan dengan alvaro bawaan rizal ingin menghabisi pria tersebut saat itu juga, memori lama seketika kembali teringat di benak nya, rumah sakit tempat ia di rawat adalah saksi bukti ia menyusun strategis menjebak wulan hingga bisa menikah sekarang.
"Ternyata sifat mu ini tidak juga berubah masih sama seperti dulu, pantas masih ada aura pembinor padahal sudah memiliki istri tapi tetap saja mencintai istri orang," ucap Alvaro menatap rendah rizal.
"Ish... ish... ish... sangat menjijikkan kau hanya memalukan kami para pria saja," lanjut Alvaro menghina rizal.
Pria tersebut mengepalkan kedua tangan menahan amarah mendengar hinaan alvaro padanya.
Rizal ingin sekali melayang kan pukulan di wajah alvaro, namun semua itu tidak bisa ia lakukan sekarang, semua akan jadi masalah jika benar terjadi
"Kenapa apa kau marah? tidak suka? tapi kenapa? yang saya katakan semua benar ini adalah kenyataan bukan sebuah kebohongan," tatap Alvaro menyadari kini rizal sedang menahan amarah padanya.
Alvaro sengaja memancing rizal marah dan itu telah berhasil, hanya menunggu satu langkah lagi agar lebih sempurna.
"Marah untuk apa? yang kau katakan memang benar saya menyukai dinda istri mu, apa itu salah? saya rasa tidak namanya juga cinta tidak ada yang minta bukan pada siapa kita suka," balas Rizal balik membuat alvaro marah.
"Kau!" geram alvaro melotot kan mata pada rizal tak percaya pria di depannya ini berani berkata seperti itu depannya suami dinda wanita yang di cintai.
"Kenapa? kau marah mendengar pengakuan saya?" tanya Rizal santai tanpa rasa takut atau bersalah.
"Jika dia mencintai dinda, lalu untuk apa dia menikahi wulan dan di ruang VIP rumah sakit bersama wulan apa itu hanya... " batin Alvaro entah kenapa firasatnya mengatakan kejadian masa lalu rizal bisa menikahi wulan adalah suatu jebakan.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
__ADS_1
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...