Menikah Karena Balas Dendam

Menikah Karena Balas Dendam
Bab 104: Mulai terapi kecil


__ADS_3

H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


🌹✨💞✨🌹


Wulan meninggalkan Rizal dan masuk ke kamar mandi. Memaafkan Rizal yang jelas anak dari pembunuh keluarganya, sebenarnya itu adalah hal yang sangat sulit untuk di lakukan, tapi Wulan tak memiliki pilihan lain lagi.


Rizal adalah Ayah dari putranya. Dia tak tega harus memisahkan mereka lagi.


"Kenapa semua harus seperti ini?kenapa?" marah Wulan dengan menatap wajahnya di pantulan cermin wastafel.


"Pembunuh keluargaku yang sudah susah payah aku cari ternyata berada di dekatku dan dengan sangat bodohnya aku tidak menyadari itu," lanjut Wulan. Dia merasa menjadi wanita bodoh sekarang.


Wulan terdiam matanya masih saja menatap cermin, dia bingung langkah ke depan apa yang harus diambil menyadari orang yang akan dihadapi ini bukanlah orang sembarangan orang itu adalah orang jahat dan mungkin bisa dikatakan iblis.


Wulan ragu dapat melawan, entah kenapa mengingat kejadian itu dia menjadi takut. Tembakan pistol yang dilakukan Paman Shin pada keluarganya masih terngiang di benak nya. Lumuran darah di tubuh keluarga nya saat itu pun hingga sekarang masih melekat jelas.


"Hiks... hiks... Ayah, Bunda, Wulan ingin ikut. Wulan rasanya tidak bisa hadapi semua sendiri. Perkataan tadi hanya sebuah kebohongan, Wulan tak ingin terlihat takut dan lemah dihadapan Mas Rizal, " aduh Wulan. Air matanya pun kini jatuh tak bisa dibendung lagi.


Berusaha kuat dan tidak takut di hadapan Rizal sebuah sandiwara. Namun apa daya nya saat itu, dia tidak ingin membuat Rizal tahu apa yang dirasakan sekarang.


Sedangkan di sisi lain Rizal nampak cemas dan khawatir karena hingga saat ini Wulan belum juga keluar dari dalam kamar mandi.


Tanpa Wulan Katakan apa yang dirasakan. Rizal sudah dapat menebak jika Wulan takut dan kembali ingat pada masa lalunya, dimana saat kejadian tragis yang dilakukan Papanya menghabiskan keluarga nya hanya demi harta.


"Maafkan aku Wulan disaat seperti ini saja kau masih bersikap biasa. Aku tahu semua yang kau tunjukan itu palsu. Kenapa tidak kamu berbagi saja denganku? apa begitu sulit mempercayai ku setelah mengetahui kebenaran ini?" ucap Rizal. Terdiam sejenak lalu tertawa merasa lucu dengan dirinya.


"Bodoh! Kenapa hal seperti ini harus dipertanyakan lagi! sudah jelas Wulan tidak percaya padaku, bagaimana Wulan dapat percaya jika sebelum mengetahui kebenaran ini aku sudah banyak memberi luka pada nya. Dan sekarang Papaku juga melakukan dan memberi luka itu semakin besar," lanjut Rizal dan bangkit dari duduknya keluar kamar.

__ADS_1


Dan bertepatan keluar Rizal dari kamar, Wulan keluar dari kamar mandi, setelah merasa cukup tenang dan puas mengadu mengeluarkan unek-unek nya.


Wulan melihat sekeliling kamar tapi tak menemukan Rizal disitu, dia pun keluar dan mencari keberadaan Rizal.


"Mas Rizal di mana sih kok nggak ada? apa di kamar baby Askar? tapi kenapa nggak ajak aku, biar sekalian bareng ke sananya," ucap Wulan.


Tiba di kamar baby Askar, Wulan tak menemukan Rizal, di dalam hanya ada baby Askar yang tertidur pulas di boxnya. Dan suster entah berada di mana dia pun tak tahu.


"Di sini juga nggak ada. Sebenarnya Mas Rizal ke mana sih? ngilang kayak hantu deh nggak ada jejak, bikin pusing orang yang nyari aja," omel Wulan dengan wajah kesal. Sebelum masuk mencari di kamar baby Askar, Wulan terlebih dahulu mencari di luar tapi tak juga menemukan keberadaan Rizal.


Wulan kembali keluar meninggalkan kamar baby Askar. Putra kecil nya masih tertidur, dia tak ingin menganggu.


"Astagfirullah, Mas! kamu kagetin aja deh, kenapa mendadak ada di sini? aku cariin sejak tadi lho," ucap Wulan. Dia terkejut melihat Rizal di depan pintu kamar Putra mereka.


"Kenapa? apa ada sesuatu?" tanya Rizal. Dia berjalan mendekat Wulan lalu membalikkan tubuh Wulan dan memeluk dari belakang.


"Tidak, aku tidak nangis. Katakan apa yang ingin kamu bicarakan? apa ini hal penting?"


"Kita bicarakan ini di kamar saja Mas, ayo," ajak Wulan.


Tiba di kamar, kedua langsung menuju sofa untuk duduk.


"Katakan apa yang ingin kamu bicarakan?" ucap Rizal. Menatap Wulan, dia yakin hal yang ingin di bicarakan ini adalah hal yang serius.


"Aku ingin tinggal di rumah orang tua mu," jawab Wulan.


"Apa!" Rizal kaget mendengar hal tersebut.

__ADS_1


"Kamu kenapa Mas? apa ada yang salah dari perkataan ku ini? perasaan tidak, aku hanya mengatakan ingin tinggal bersama keluarga mu, menurutku itu hal yang wajar bukan? jika seorang menantu ingin lebih dekat dengan keluarga suami, atau kamu nya keberatan Mas?" tuduh Wulan. Melihat reaksi Rizal berubah setelah mendengar permintaan nya, tak menutup kemungkinan Rizal tak setuju.


"Bukan. Jangan salah paham dulu, aku hanya kaget mendengar permintaan kamu yang mendadak ini, karena sebelum nya kamu tidak menyinggung hal ini, makanya setelah mendengar tadi aku sangat terkejut," ujar Rizal menjelaskan.


"Lalu bagaimana? apa kamu setuju?" tanya Wulan. Dia tidak membutuhkan jawaban lain dari Rizal sekarang, yang di butuhkan adalah ya atau tidak nya.


Melihat betapa keras nya Wulan ingin di iyakan, Rizal menjadi pusing dengan jawaban apa yang harus di berikan.


Rizal tidak ingin mengiyakan, karena dia khawatir keselamatan Wulan akan terancam jika berada di dekat Papa Yusuf.


Namun di sisi lain, Rizal tak berani menolak keinginan Wulan, karena itu akan memperkeruh keadaan hubungan mereka.


"Oke, aku akan menjawab, tapi sebelum nya kamu jawab dulu, apa alasan kamu mendadak ingin tinggal di rumah keluarga ku, padahal kamu sudah tau semuanya, apa kamu punya rencana di balik ini yang tidak ku ketahui?" Rizal menatap lekat Wulan yang juga menatap lekat nya.


"Ish, kebiasaan deh kamu Mas, setiap aku ajukan pertanyaan selalu di lempar balik. Dasar curang, tapi baiklah aku akan katakan, iya, aku punya rencana di balik semua keinginan ku untuk tinggal di rumah keluarga mu," jawab Wulan. Dia tersenyum penuh arti dan Rizal melihat itu merasa tidak beres dengan senyuman Wulan tersebut.


"Aku ingin memantau pergerakan Papa mu yang jahat itu, dan aku akan sedikit membalas nya, meski balasan ku tak sebesar apa yang pernah Papa mu lakukan pada keluarga ku, setidak nya aku bisa memberi nya terapi kecil," lanjut Wulan.


"Terapi? maksud nya terapi apa yang ingin kamu berikan?" Rizal menatap Wulan. Dia penasaran akan penjelasan istri nya itu.


"Rahasia, kamu akan tau nanti. Jadi gimana, setuju atau tidak?"


"Sayang, ka-"


"Ya atau tidak Mas, jangan berbelit-belit karena aku tak menginginkan itu. Kalau Ya, besok kita segera pindah. Dan secepat nya kamu juga akan tau apa terapi kecil yang akan ku berikan pada Papa jahat mu itu."


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......

__ADS_1


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2