
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
🌹✨💞✨🌹
Rizal menatap wulan dengan perasaan dag-dug cemas permintaan apa yang di minta wulan, ia berharap tidak menyulitkan nya.
Namun itu bukan wulan jika tidak menyulitkan nya, balas dendam pasti akan menyulitkan, kalau tidak apa itu pantas di sebut balas dendam?
"Aku katakan, tapi bukan sekarang," jawab Wulan dengan senyum manis.
Rizal melihat senyum wulan merasa jijik, tapi ia tak memiliki cara lain selain melakukan ini.
Cara kasar sudah di lakukan berulang kali, tapi wulan tidak takut malah semakin berani.
"Baiklah, terserah kamu.," pasrah Rizal lalu kembali memperat pelukan nya.
"Mas, lepaskan aku tidak nyaman seperti ini," jujur Wulan tidak nyaman.
"Kenapa? kamu sudah sering melakukan ini, kenapa dengan ku tidak ingin?" tanya Rizal tidak menyadari perkataan nya membuat wulan curiga dan semakin yakin pria tersebut sedang merencanakan sesuatu.
"Sudah ku duga, kau tidak benar-benar menyesal, tapi tidak masalah aku akan mengikuti permainan mu," batin Wulan kini kecurigaan nya sedikit terbukti, tapi untuk alasan rizal melakukan ini ia masih belum tau dan secepatnya akan ia selidiki.
Dia akan memanfaatkan keadaan ini dengan baik pertama untuk balas dendam dan kedua untuk mematikan tuduhan rizal dan keluarga nya.
Rizal melihat diam nya wulan kini baru menyadari.
"Maaf, aku tidak bermaksud berkata seperti itu."
"Tidak masalah. Apa aku bisa minta satu hal sama kamu?" tanya Wulan menatap rizal.
"Kenapa bertanya seperti itu, kamu bisa meminta banyak hal aku akan kabulkan itu."
"Aku ingin kamu mengurus surat cuti ku selama seminggu di kampus."
"Cuti? untuk apa?" tanya Rizal penasaran.
"Aku ingin ke Negara X, membalaskan dendam ku pada mereka yang sudah tega membuat hidup ku hampir melayang."
"Maksud kamu mereka siapa? emangnya apa yang mereka lakukan hingga kamu hampir tiada?" rasa penasaran Rizal kini semakin bertambah.
"Cerita nya panjang, aku akan jelaskan nanti apa kamu mau temani aku?"
__ADS_1
"Pasti aku akan temani kamu kemana pun itu," jawab Rizal.
Pria itu semakin penasaran dengan kisah hidup masa lalu wulan entah kenapa ia merasa ini adalah kisah yang menarik dan jelas suatu kebenaran yang di sembunyikan wulan selama ini.
"Dia begitu banyak menyimpan rahasia, aku jadi tidak sabar menunggu besok," batin Rizal.
"Apa besok kita bisa langsung ke Negara X?" tanya Wulan tidak sabar membuktikan jika dia bukanlah wanita seperti yang di tuduhkan rizal dan juga Papa mertua gila nya itu.
Bukan hanya sekedar membuktikan, ia juga ingin memberi pelajaran pada teman-teman munafik nya itu.
Dengan tega nya mereka melalukan hal jahat padanya, hingga ia di perk*sa dan hamil.
Semua itu tidak bisa wulan lupa kan begitu saja mereka harus menanggung dan merasakan apa yang di rasa kan terpuruk seorang diri tanpa keluarga.
"Besok? apa tidak terlalu cepat kenapa tidak lusa saja?" tawar rizal harus ada beberapa hal yang perlu di urus sebelum berangkat.
"Ya sudah kalau begitu bagaimana jika besok aku berangkat duluan kamu nyusul saja," Wulan memberi solusi dengan wajah santai tetap ingin pergi besok.
"Kamu serius?" tanya Rizal tidak percaya wulan tetap ingin pergi besok tanpa dirinya.
"Iya aku serius, jika kamu setuju aku akan sedikit percaya kamu telah berubah, tapi jika tidak.... "
"Oke, besok kamu berangkat," putus Rizal cepat tidak ada pilihan lain selain menyetujui nya.
Tok... tok... tok...
"Aunty, uncle ... " teriak Kanaya dari luar pintu kamar wulan.
"Mas lepasin, naya datang," ucap Wulan sejak tadi pria tua itu tidak juga melepaskan pelukan nya.
Entah kenapa rizal pun merasa aneh kenapa dia tidak ingin melepaskan.
"Biarkan seperti ini," jawab Rizal acuh semakin mengeratkan pelukan nya.
"Ada apa dengan nya kenapa jadi aneh seperti ini? kemarin aja ogah sekarang udah kayak lem dasar aneh," batin Wulan bingung dengan sikap rizal yang tidak ingin melepaskan nya.
Di luar pintu kanaya menjadi kesal tidak mendapat jawaban apapun memutuskan langsung masuk.
Ceklek....
"Aunty, uncle kenapa naya panggil gak jawab sih? ini juga kenapa uncle peluk aunty terus?" tanya Kanaya melihat lengan rizal memeluk posesif pinggang wulan.
"Mas, buruan lepasin gak enak di lihat naya," ucap wulan pelan gerah dan tidak sudi lama-lama seperti ini.
"Enak saja, siapa kau berani memerintah ku," batin Rizal.
__ADS_1
"Tidak," ucap Rizal acuh.
Rizal tidak peduli meski sekarang ada kanaya di sini melihat semua nya, pria itu tetap tidak ingin melepaskan pelukan nya.
"Naya, uncle dan aunty mau buat adik untuk naya, bisakah naya keluar nanti kalau sudah jadi naya bisa kembali lagi oke," ucap Rizal secara halus mengusir bocah kecil itu tanpa dosa dengan ucapan nya begitu aneh di dengar anak kecil seusia kanaya.
"Buat? emangnya adik adonan ya, harus di buat segala," ucap Kanaya dengan wajah polos tidak mengerti.
"Iya, naya bisa tanyakan pada mommy dinda bagaimana cara membuat adik kenan. Dan sekarang uncle mau lakuin itu sama aunty."
Wulan mendengar perkataan rizal langsung mencubit perut pria itu.
"Auwh, apa yang kamu lakukan kenapa mencubit ku?" rizal meringis kesakitan.
"Perkataan mu Mas, naya masih kecil gak pantas mendengar perkataan orang dewasa seperti itu," jawab Wulan kesal bukan main dengan pria tua itu.
Bisa bisa nya rizal mengatakan hal yang tidak seharusnya anak kecil seusia kanaya mendengarnya.
"Naya sayang, ponakan aunty yang cantik dan imut ada apa kesini, hmmm?" tanya Wulan lembut.
Rizal yang mendengar suara wulan mendadak lembut, melongo tidak percaya.
"Dasar wanita aneh tadi bicara dengan ku begitu ketus sekarang begitu lembut, dia pantas nya jadi aktris sangat cocok dengan karakter nya," batin Rizal.
"Naya mau main sama aunty, naya kangen boleh kan aunty?" pinta kanaya dengan wajahnya di pasang seimut mungkin.
"Tidak, naya main sama mommy dan daddy naya, uncle dan aunty lagi sibuk," jawab rizal cepat.
"Aunty...." rengek Kanaya dengan wajah memelas.
"Mas jangan bicara seperti itu, jika mas bersikap seperti ini terus aku jadi ragu mas sudah berubah dan menyesali semua kesalahan mas padaku," kata Wulan yang seketika membuat rizal mematung dan melepaskan pelukan nya.
"Maaf, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama mu sebelum kamu pergi."
"Tapi tidak begini juga Mas, di sini ada naya jadi aku mohon jaga sikap mu di depan anak kecil," ucap Wulan, dalam hati nya sudah merasa senang bisa memarahi rizal sepuasnya.
Dulu ia hanya bisa diam dan menerima semua kelakuan rizal pada nya, sekarang semua telah terbalik.
Karma akan selalu ada karena roda selalu berputar.
"Hahahaaaa ... menyenangkan juga membuat nya bertekuk lutut seperti ini. Tapi ini belum seberapa masih ada yang harus kau lalui. Aku harap setelah ini kau akan berpikir dua kali sebelum menyiksa orang karena rasanya itu sangat tidak enak bukan?" batin Wulan tertawa puas.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...
__ADS_1