
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
🌹✨💞✨🌹
Rizal telah tiba di negara X, setelah mematikan mode pesawat di ponsel nya. Ada banyak pesan singkat masuk bertubi-tubi secara bersamaan.
Melihat dan membaca satu persatu pesan tersebut, mata rizal membesar kaget tak percaya dengan apa yang di baca.
Orang suruhannya juga mengirim kan video di WhatsApp nya.
Di dalam video tersebut terlihat jelas wulan duduk melingkar bersama pria. Seketika tangan rizal mengepal kuat marah.
"Dasar wanita murahan berani nya kau bersenang-senang dibelakang ku, kau pembohong besar yang mengatakan akan membuktikan tuduhan ku salah tapi sekarang apa kau membuktikan jika tuduhan ku benar adanya." Terlihat jelas raut wajah api membara pada rizal.
"Tambahkan kecepatan nya," perintah Rizal menatap sopirnya.
"Baik Tuan."
Sedangkan di tempat lain wulan sibuk menyaksikan adegan panas ranjang teman-teman nya yang terlihat menyenangkan.
Wulan sedikit merasa jijik dengan apa yang di tonton tapi ia memaksa diri untuk menonton, ia ingin melihat langsung di saat para penghianat itu mengemis untuk menghentikan olahraga ranjang tapi tak di kabulkan, dan olahraga tersebut semakin gila hingga rasanya ingin mati tak sanggup menahan rasa sakit begitu kuat permainan yang di lakukan tanpa ada kelembutan.
"Kalian lah yang ja*ang di keadaan seperti ini masih saja menikmati sentuhan mereka. Aku tak kaget lagi kenapa kalian bisa setega ini padaku, karena aslinya kalian seperti ini merasa sentuhan para pria adalah kenikmatan abadi," ucap Wulan merasa geli dengan kesenangan teman lama nya yang terlihat bahagia di dalam video tersebut.
"Kasihan orang tua mereka yang memiliki anak-anak seperti mereka yang kelakuan nya begitu murahan mau di sentuh sana sini."
Para pengawal yang melihat nona nya dari jauh penasaran dengan apa yang di tonton, melihat keseriusan nona seperti tidak terganggu membuat tingkat penasaran kepo mereka bertambah.
"Apa yang di tonton Nona? kenapa begitu serius?"
"Kalau Bapak tanya kita, kita tanya siapa?"
__ADS_1
"Dasar bodoh kalau tidak tau tidak perlu menjawab."
"Maaf Pak kami tidak tau."
"Kalian tunggu sini saya ke sana dulu."
"Tapi Pak, bukannya nona sudah melarang jangan mendekati nya sebelum nona beri aba-aba."
"Biarkan itu menjadi urusan saya, apa kalian mau di amuk tuan rizal, hah?"
"Tidak Pak, kita lebih baik di amuk nona wulan dari pada tuan rizal bisa kelar hidup kita saat itu juga jika tuan marah."
"Nah kalau tau kenapa banyak tanya, awasi saja di sini jangan kemana-mana tanpa perintah saya kalian paham itu."
"Baik Pak."
"Nona, " panggil pimpinan pengawal orang-orang nya.
"Ada apa?" sahut Wulan tanpa menoleh.
"Apa urusan nona sudah selesai? jika sudah sebaiknya kita segera pulang saya takut tuan akan marah."
"Tapi, No-" ucapan pria itu sudah di potong cepat Wulan.
"Kembali lah kau menganggu tontonan ku, jangan pernah kemari sebelum mendapat aba-aba dari saya, paham itu." Usir Wulan.
Pria tersebut menghembus nafas kasar kenapa nona nya selalu marah-marah, sejak kedatangan ia tak pernah melihat senyum atau ucapan ramah dari nona nya itu.
"kenapa masih di situ sana pergi!" ulang Wulan mengusir nya.
"Baik Nona."
"Dasar pria kepo apa-apa selalu bertanya sebenarnya dia bekerja sebagai apa sih reporter atau pengawal? kenapa aku merasa dia bukan pengawal tapi lebih ke reporter terus cerocos," ucap Wulan lalu kembali fokus pada tontonan nya.
"Ahhhhhk, sakit Om henti kan saya lelah," pinta sih A minta di lepas kan.
__ADS_1
"Om sakit henti kan," ucap sih B yang juga merasakan kesakitan.
Begitu pun dengan sih C dan D.
Namun pria yang di panggil om itu tidak peduli terus melakukan pertempuran seperti apa yang di katakan Wulan.
"Ah sakit om henti kan ... saya mohon ... sakit... " mohon sih A merasa sakit amat kuat.
Permainan pria itu semakin kasar, awalnya lembut hingga ia menikmati dan menyukai dan meminta lagi dan lagi, namun berselang beberapa jam permainan tersebut berubah menjadi tak terkendali kan lagi.
"Nikmati saja cantik, bukannya ini kemauan mu minta di puaskan dan sekarang akan Om kabulkan memberi kepuasan yang tak terlupakan," kata pria tua si A memasuki burungnya secara kasar pada sangkar.
"Ahhhhhk, sakit ... apa yang kau lakukan Om tua! siapa yang minta di puaskan? bukannya kau sendiri yang minta di puaskan dan akan memberi kami berlian?"
"Akting mu sungguh bagus tapi sayang kita tak percaya, teman mu sudah mengatakan semua pada kami kalian perempuan bermulut manis di mulut menolak tapi di hati ingin lagi dan lagi."
"Teman? apa maksud Om? teman siapa? jangan sembarang berbicara teman mana yang mengatakan itu? apa yang di katakan?" tanya sih A bertubi-tubi penasaran dan juga menahan rasa perih pada benda sensitif nya.
"Tidak salah lagi kau benar-benar aktris yang hebat kemampuan akting mu menakjubkan hampir saja Om percaya itu."
"Saya tidak berbohong, saya berkata apa adanya dan semua itu benar."
"Sial seperti nya aku di jebak siapa yang berani bermain-bermain dengan ku? lihat saja akan ku balas kau siapa pun itu," batin si A dengan amarah menggebu-ngebu di dirinya.
"Aku bersumpah atas nama orang tua ku akan memberi balasan yang lebih dari apa yang lakukan nya, di mana pun kau bersembunyi meski itu di lubang semut sekalipun akan aku cari hingga ketemu," batin B
"Hahahaha ... hahahaha ... lihatlah wajah mereka begitu marah padaku, tapi apa kalian bisa menemukan ku? aku sangat bahagia hari ini, silakan selidiki semua kejadian hari ini karena sebelum itu terjadi aku akan kibarkan bendera perang ku terlebih dahulu," ucap Wulan bahagia melihat penderitaan para teman lama nya yang menurutnya penderitaan yang di rasakan mereka saat ini belum sebanding dengan apa yang di rasakan di masa lalu.
"Seperti tontonan live ku ini akan berakhir, oke tak masalah aku masih memiliki enam hari lagi selama di sini mari kita bersenang-senang," ucap Wulan yang melihat tawaran negosiasi yang besar di berikan teman lama pada pria tersebut.
Wulan sedikit kesal karena rencana nya tidak berjalan begitu lancar karena teman lamanya itu begitu licik dan pandai mengembalikan keadaan.
"Dasar pria mata keranjang dengar bunyi uang saja cepat, ini tidak bisa di biarkan jika tua bangkai itu mengatakan semua nya, rencana pengibaran bendera ku bisa gagal dan semua yang ku susun akan menjadi membosankan bukan mengasyikkan, aku harus melakukan sesuatu," ucap Wulan memikirkan sesuatu.
"Ahai aku ada ide." Bahagia Wulan di keadaan seperti ini otak nya begitu cepat mencari jalan keluar.
__ADS_1
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...