Menikah Karena Balas Dendam

Menikah Karena Balas Dendam
Bab 76: Bandara


__ADS_3

🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻




🌹✨💞✨🌹


Hari ini adalah hari keberangkatan wulan ke Korea selatan.


Papa Naldo, Mama Sofia, Alvaro, Dinda, Kanaya, Kenan dan kedua sahabat wulan Santi dan Dito ikut mengantar wulan ke bandara.


Tapi di sini tak ada Panji dan hal tersebut membuat wulan bertanya-tanya ke mana Panji kenapa tidak ada.


Wulan mencari sana sini berharap panji datang, tapi harapan nya tidak ada guna, karena tidak ada tanda-tanda kedatangan panji.


"Di mana panji? kenapa dia tidak ikut mengantar ku padahal ini hari terakhir kita bertemu, sudah lah mungkin dia ada urusan penting yang tidak bisa di tinggal kan," monolog Wulan sedikit sedih tapi tak ingin berpikir buruk tentang ke tidak datangan panji.


"Nak, kamu kenapa? apa ada yang kamu pikirkan?" tanya Mama Sofia melihat wulan terus diam.


"Tidak ada Ma," jawab Wulan sambil menggeleng kepala.


"Ya sudah, ayo kita masuk nanti kamu bisa ketinggalan pesawat," ajak Mama Sofia.


"Oiya Dek, nanti kalau kamu sudah tiba di bandara akan ada orang kakak yang menjemput, dia akan langsung mengantar kamu di apartment," ucap Alvaro lalu menunjukkan foto seorang pria di ponsel nya pada wulan agar tidak salah orang.


"Baik Kak, apa apartment yang akan aku tempati ini dekat dengan kampus?" tanya Wulan penasaran.


"Lumayan sih Dek, tidak jauh dan tidak dekat ya berada di tengah-tengah," sahut Alvaro.


"Lalu bagaimana nanti kalau aku kuliah, apa harus menggunakan taksi online terus?"


"Kenapa? apa ada masalah?"


"Tidak," jawab Wulan cepat.


"Ya sudah karena tidak ada pertanyaan lagi kita masuk sekarang."


Penerbangan wulan hanya tinggal beberapa menit lagi.


Masing-masing dari mereka memeluk wulan dengan penuh kesedihan. Santi masih tidak rela harus berpisah dengan wulan, tapi mau bagaimana lagi semua di lakukan agar wulan tidak di sakiti lagi oleh pak rizal suaminya.


"Aku akan sangat merindukan mu Lan, jangan pernah melupakan aku," sedih Santi memeluk erat wulan.


"Iya gak bakal, kalau kamu rindu kan tinggal nyusul," ucap Wulan balas memeluk Santi.

__ADS_1


"Apa boleh? aku kan gak pandai bahasa inggris, boro-boro bahasa Korea yang ada mulut ini bawaan nya keseleo mulu, apa gak akan kesasar di negara orang," terang Santi apa adanya tidak menutupi kekurangan yang di miliki.


"Gak usah khawatir, kan aku ada," kata Wulan.


"Iya sih, nanti aku pikir-pikir lagi gimana baik nya. Sekarang kamu harus jaga diri di sana jangan lupa sering-sering telpon."


"Aman."


15 menit kemudian...


Wulan kini sudah berada di dalam pesawat.


Wulan duduk di pojok dekat kaca jendela, mata nya terus tertuju di luar, tanpa dia sadari sosok pria yang duduk di sebelah nya terus menatap kagum penuh kebahagiaan.


Dan wulan masih belum menyadari itu.


Pria tersebut terus menatap wulan hingga akhir nya wulan merasa ada yang memandang nya dan balik menoleh ke samping.


"Maaf anda siapa? kenapa terus memandang saya? apa kita saling kenal? saya rasa tidak, ini kali pertama kita ketemu," ucap Wulan merasa gerah terus di tatap tajam pria tersebut.


Bukan menjawab pria tersebut malah mendekatkan wajah nya pada wulan dan sontak saja wulan langsung menonjok wajah pria tersebut.


Plak....


"Eh, jangan Lan. Ini aku panji," ucap Panji cepat seraya membuka masker yang di kenakan menutup wajah dan juga topi hitam di atas kepala nya.


"Panji, bagaimana kamu bisa berada di sini?" kaget Wulan tidak percaya pria yang tonjok itu adalah panji.


"Aku akan pindah ke Korea selatan, bukan nya sudah ku katakan kemarin jika aku akan selalu berada di sisi mu, melindungi mu dari orang-orang yang berniat jahat padamu," jawab Panji lalu menyentuh dahi nya yang di tonjok wulan lumayan keras.


"Oh, maaf ya Nji aku tidak tau kalau itu kamu jika saja aku tau pasti gak bakal aku tabok lagian kenapa kamu harus seperti ini."


"Aku sengaja ingin beri kejutan padamu, tapi malah aku yang di beri kejutan."


"Maaf, apa masih sakit?" tanya Wulan hati-hati melihat dahi panji yang memar karena hasil tonjok kan nya.


"Lumayan."


"Mana coba aku lihat," Wulan mendekatkan wajah nya melihat dahi panji yang memar.


Kedekatan wajah wulan pada wajah nya seketika membuat jantung panji berdebar-debar, entah kenapa debaran kali ini lebih cepat dari yang pernah di rasakan.


Wajah wulan dapat panji lihat dengan jelas, bahkan harum rambut dan tubuh wulan dapat di rasa kan.


Wajah wulan di lihat secara dekat semakin cantik, dan panji tidak bisa berbohong perasaan cinta nya pada wulan kini semakin besar.

__ADS_1


"Kamu sangat cantik wulan, aku janji tidak akan membuat mu sedih, aku akan membahagiakan mu," batin Panji berjanji.


Wulan mengelus dahi panji. "Maaf ya Nji aku gak sengaja."


"Iya gapapa aku tau kamu gak sengaja, tidak mungkin kan kamu tega melakukan ini padaku," ujar Panji menatap lekat wajah wulan yang masih dekat dengan wajah nya.


Saat wulan menyadari wajah nya begitu dekat dan panji terus menatap nya, wulan segera menjauh dan melepaskan elusan nya, tapi panji langsung menahan tangan wulan.


"Kenapa?" tanya Wulan gugup, tangan nya di pegang panji dan wajah mereka masih berdekatan hingga sekarang.


"Di Mana kamu akan tinggal nanti?" tanya balik Panji.


"Di apartment."


"Oke aku akan tinggal di sana juga," ucap Panji yang mana membuat wulan terkejut.


"Apa? kenapa harus bersama?"


"Apa tidak boleh aku memilih gedung yang sama dengan kamu?" tanya Panji yang binggung dengan ekspresi wulan seperti tidak suka.


Mendengar ungkapan panji tersebut wulan lega, hampir saja dia binggung bagaimana cara menolak, eh ternyata dia salah tanggap panji hanya ingin satu gedung bersama nya.


"Kamu kenapa Lan? sakit?" khawatir Panji satu tangan nya langsung menyentuh jidat wulan dan satu tangan lagi masih setiap menahan tangan wulan.


"Tidak kamu tidak panas, lalu kenapa? apa ada yang sakit?" kata Panji setelah mengecek keadaan wulan baik-baik saja.


"Panji bisa lepas gak sih tangan mu dari tangan ku, ini punggung ku benar-benar udah sakit sejak tadi harus kayak gini," aduh Wulan tubuh menyamping menghadap panji bokong nya sedikit di naik kan karena panji lebih tinggi dari nya hingga sedikit sulit untuk nya melihat jidat memar panji.


"Maaf," Panji langsung melepaskan tangan nya.


"Iya gapapa," sahut Wulan.


"Oiya tiba nanti kamu ke apartment sama siapa?" tanya Panji kembali bersuara.


"Orang suruhan Kak Al, katanya sekarang sudah stay di bandara," jawab Wulan menoleh.


"Bagus lah jika seperti itu aku sedikit lega."


"Emang nya kenapa? apa tiba nanti kamu harus bepergian lagi?"


"Iya, aku harus ke suatu tempat dulu, baru ke apartment. Kamu kirimkan saja no apartment mu biar aku bisa ke sana, setelah tiba nanti," sahut Panji tidak mengatakan kemana pergi nya karena dia ingin membeli mobil.


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...

__ADS_1


__ADS_2