Menikah Karena Balas Dendam

Menikah Karena Balas Dendam
Bab 40: Kebenaran yang terungkap


__ADS_3

🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻




🌹✨💞✨🌹


Wulan sedikit merasa puas dengan apa yang terjadi hari ini dan semua sudah terekam jelas di kamera CCTV yang di pasang.


Setelah rizal tiba di negara X ia berencana akan menunjukkan rekaman tersebut agar pria itu tak lagi menuduh yang tidak pernah ia lakukan di luar sana.


"Nona terlihat bahagia sekali apa nona tidak takut mereka balas dendam lebih dari apa yang nona perbuat?" tanya pimpinan pengawal nya itu mencemaskan nona nya.


Kejadian tadi bukanlah masalah kecil, dan sekarang nyawa menjadi taruhan, melihat tatapan penuh kebencian di mata ke empat wanita itu ia yakin nona nya dalam masalah besar.


"Tidak perlu khawatir, tikus-tikus got itu tidak akan bisa berbuat apapun pada saya, mereka hanya lah serpihan kecil pecahan kaca tidak sulit untuk saya hadapi," jawab Wulan tidak khawatir dengan apapun yang akan terjadi kedepan nya.


Semua yang di lakukan ini sudah di pikirkan matang-matang. Berani mengibarkan bendera perang berarti berani menerima konsekuensi terburuk apapun itu.


"Tapi Nona seperti nya mereka bukan wanita sembarangan, saya pernah melihat mereka di salah satu media."


"Dan saya tidak peduli itu sekali pun mereka anak penjabat penting akan saya lawan," kata Wulan tak takut siapapun mereka.


"Sebelum balik kita singgah ke restoran dulu," sambung Wulan.


"Untuk apa Nona?"


"Restoran guna nya apa?" tanya balik Wulan kesal pada pengawal nya ini banyak tanya.


"Makan."


"Itu tau."


"Ta-" ucapan pria tersebut langsung terputus karena Wulan.


"Satu kata keluar dari mulut mu siap-siap jadi pengganguran," ancam Wulan.


Dan pria tersebut pun tak lagi bicara.


"Astaga makan apa sih Nona Wulan kenapa bicara nya marah mulu seperti habis makan cabe aja, syukur adik saya gak kayak gitu kalau ada mungkin saat ini tidak gak akan bisa bertahan hidup," batin nya melirik Wulan dari kaca mobil.


"Fokus lah menyetir jika kita kecelakaan tamat lah riwayat mu dari Tuan mu," kata Wulan yang menyadari dirinya sedang di pandang.


"Baik Nona."


"Astaga apalagi ini apa Nona Wulan memiliki indera ke enam?"


Tak lama kemudian mobil mereka pun tiba di parkiran restoran.

__ADS_1


"Ini, saya akan menunggu di sini." Menyodorkan secarik kertas.


Di kertas tersebut Wulan sudah menulis banyak makanan ia sengaja memesan banyak untuk merayakan keberhasilan nya bersama para pria yang sudah membantu nya hari ini.


Mengingat hari ini kedatangan rizal dan tentu kebahagiaan nya akan berlipat ganda dapat membungkam mulut sombong pria yang selalu menghina nya.


"Apa Nona yakin memesan sebanyak ini?" tanya pria tersebut yang ingin keluar dari mobil tak jadi setelah membaca daftar makanan yang di berikan Wulan.


"Tentu tidak, kau pikir perut saya gentong dapat menampung banyak makanan itu."


"Lalu kenapa Nona memesan banyak makanan jika tidak mampu."


"Saya ingin mentraktir kalian apa itu tidak boleh?"


"Tidak Nona."


"Ya sudah sana pergi untuk apa masih di sini," usir Wulan.


"Nona."


"Apalagi?" Menautkan alis bingung kenapa rizal mempekerjakan pria seperti nya.


"Apa saya boleh menambah pesanan?"


"Lakukan saja," jawab Wulan tak masalah lagian yang akan bayar rizal.


Jika mereka ingin membeli satu mobil pun ia tak keberatan silakan, hitung-hitung sebagai amal untuk mengurangi dosa rizal.


"Terimakasih Nona."


Setelah kepergian pengawal nya itu, Wulan menarik nafas lega.


"Akhirnya dia pergi juga, bawel nya itu mengalahkan santi dan dito," ucap Wulan.


Wulan mencari ponsel nya dan ia segera menghina Rizal.


Namun telpon nya tak juga di jawab.


"Di mana sih dia? kenapa panggilan ku tak di jawab, jika di dalam pesawat tidak mungkin nomor nya tersambung seperti ini, apa dia masih di Indo? itu lebih tidak mungkin, lalu di mana dia sekarang?" Kesal Wulan tidak mendapatkan jawaban dari Rizal.


Padahal ia ingin memberi bukti yang sudah ia kumpul kan.


Rizal masih menunggu orang suruhannya yang di minta mencari informasi mengenai Wulan selama bekerja di klub.


Tak lama kemudian orang suruhannya itu datang menghampiri nya.


"Maaf Tuan menunggu lama."


"Hmmm, langsung katakan saja saya tidak punya banyak waktu sekarang."

__ADS_1


"Ini data yang Tuan minta semua ada di dalam situ." Menyerahkan sebuah map dan rizal menerima.


"Apa kau yakin semua yang saya minta sudah ada di sini?"


"Iya, Tuan dapat mengecek nya jika ada yang kurang katakan saja pada saya."


Baiklah saya akan mengecek nya."


Rizal membuka dan membaca secara detail, di dalam sini memang benar tertulis lengkap data Wulan.


"Jadi dia benar hanya seorang pelayan tidak lebih seperti apa yang aku pikirkan dan kenapa di sini mengatakan dia bekerja untuk membiayai hidup setelah keluarga nya di bunuh. Perusahaan keluarga pun hancur dengan mati nya semua anggota keluarga nya."


"Apa semua data yang berada di sini benar dapat di percaya?" tanya Rizal memastikan sebab satu tahun yang lalu ia sempat mencari tau identitas Wulan tapi tak menemukan apapun.


"Iya Tuan, itu data aman dan terpercaya. Nona Wulan adalah asli negara X, tapi karena suatu kejadian dia menghilangkan semua marga belakang nya dan menganti dengan nama Indo agar tak ada seorang pun yang mengetahui jika dia adalah warga negara X," jelas nya panjang lebar.


"Apa alasannya melakukan itu? tidak mungkin semua tanpa sebab bukan?"


"Untuk itu saya tidak tau Tuan," jawab nya lagi.


"Hmmm, baiklah bantu saya selidiki siapa yang membunuh keluarga nya."


"Baik Tuan akan saya kerjakan."


Dan Rizal bangkit meninggal kan klub dan segera balik.


Sejak berada di dalam Rizal tak memperhatikan ponsel nya hinga panggilan dari Wulan tak ia sadari.


Dalam perjalanan ke penthouse.


Otaknya nya tak henti memikirkan informasi yang di dapat kan.


"Berarti selama ini aku sudah salah menuduh nya, apa yang harus ku perbuat sekarang tidak mungkin aku minta maaf dan mengakui semua nya yang ada bisa besar kepala dia," gumam Rizal menggeleng kepala.


"Tapi bagaimana juga dia salah kenapa harus ikut campur dan mengadu sembarangan pada posesif itu, jika saja mulut nya bisa di jaga semua tak akan seperti ini," sambung Rizal.


Tak lama kemudian Rizal tiba di penthouse, pria itu segera masuk ke dalam.


Wulan dan yang lain sedang bersenang-senang menikmati makan dan juga minuman.


Kedatangan Rizal saat itu tidak ketahui mereka sama sekali.


"Nona ternyata cantik jika tersenyum, kenapa tidak Nona tunjukkan setiap hari," kata salah satu pengawal nya itu.


Mereka saat ini sedang duduk di ruang tamu, dan ruangan nya pun kini sudah seperti kapal pecah.


Dan Wulan sengaja melakukan itu karena orang yang akan membersihkan kekacauan ini adalah Rizal sih pemilik penthouse.


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......

__ADS_1


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2