Menikah Karena Balas Dendam

Menikah Karena Balas Dendam
Bab 110: Menyalahkan


__ADS_3

H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


🌹✨💞✨🌹


Taksi yang di tumpangi Rizal putar balik, 15 menit perjalanan, Rizal memberhentikan sopir taksi dengan satu teriakan.


"Stop Pak!"


Dengan ahli pak sopir, mobil pun berhenti tepat di depan kerumunan, Rizal keluar dari mobil dan menghampiri tempat kerumunan tersebut.


"Pak ada apa? kenapa rame begini?" tanya Rizal menghampiri salah satu orang orang yang berkerumunan.


"Ada kecelakaan Pak, seperti nya kedua mobil ini saling kejar-kejaran sehingga tak melihat mobil dari arah kanan, namun mobil di depan berhasil menghindar, tetapi tidak dengan mobil di belakang," jawab orang tersebut menjelaskan.


"Dan sekarang di mana korban kecelakaan itu? apa mereka baik-baik saja?" tanya Rizal yang belum mengetahui siapa para korban tersebut.


"Kurang tau Pak, ini juga kami lagi hubungi pihak rumah sakit dan sekarang lagi perjalanan ke sini."


"Ya sudah kalau seperti itu," ucap Rizal, dia berniat akan pergi, tapi tak jadi.


"Pak, tunggu," Rizal berbalik dan menahan orang tersebut yang tadi di tanya ingin pergi.


"Iya Pak, ada apa?" tanya orang itu tak jadi beranjak pergi dari tempat nya. Memandang Rizal.


"Korban kecelakaan pria apa wanita?"


Entah kenapa Rizal penasaran, ingin tau korban kecelakaan itu berjenis kelamin apa.


"Dua-dua nya Pak. Mobil di sana menghindari mobil dari arah kanan hingga menabrakkan diri di jembatan dan pengemudi nya wanita. Sedang kan mobil di belakang pengemudi nya pria dan dia membawa penumpang seorang pria," jelas orang tersebut, sambil menunjuk mobil Wulan.


Deg!


Jantung Rizal berdetak kencang, kekhawatiran seketika menghantui dirinya.


Wajah Wulan terbayang di benak nya.


"Tidak, tidak mungkin itu Wulan. Wulan pasti baik-baik saja, aku yakin itu," batin Rizal menyakinkan diri jika Wulan aman.

__ADS_1


Meski begitu, perasaan Rizal masih saja belum bisa tenang. Untuk lebih memastikan dan perasaan nya bisa bernafas lega.


Rizal berjalan mendekati mobil dari korban kecelakaan tersebut.


Deg!


Deg!


Rizal kaget melihat mobil yang sangat ia kenali. Mobil yang bertabrakan dengan mobil yang berlawanan arah itu adalah mobil Papa Yusuf. Plat EB pun sudah jelas di sana.


Seketika Rizal teringat cerita orang yang melihat kejadian kecelakaan ini. kekhawatiran nya pun semakin besar, dia yakin jika wanita yang di cerita orang tadi adalah Wulan.


Mata beralih pada arah pembatas jembatan, air mata sudah tak bisa di tahan lagi. Warna mobil dan plat EB itu lagi. Tak ada kata yang bisa dia ucapkan, hati nya benar-benar terasa sakit dan sesak hingga sulit untuk bernafas.


Rizal berlari, dia tak mempedulikan pandangan orang disekitar yang melihat nya berlari dengan air mata terus berjatuhan.


"Wulan! bangun sayang apa yang terjadi padamu?" cemas Rizal. Menghentikan para Tim medis yang akan mengangkat Wulan pindah ke mobil ambulance.


"Mohon tenang Pak jangan menghalangi kami, korban butuh penangan sesegera mungkin, jadi mohon biarkan kami melakukan tugas kami," ucap salah satu perawat, karena Rizal datang langsung serobot saja.


Hal itu menganggu tim medis yang bekerja.


30 menit kemudian.


Rumah Sakit.


Wulan dan Papa Yusuf sudah di tangani dokter, Rizal di luar begitu khawatir menunggu. Dokter belum juga keluar.


Dan Rizal terus mondar-mandir seperti orang gila, perasaan nya tak juga tenang sejak tadi.


15 menit kemudian, dokter pun keluar dan menghampiri Rizal.


"Dok, bagaimana keadaan istri dan Papa saya? mereka baik-baik saja kan? tidak ada masalah serius sama mereka kan? katakan Dok! jangan diam!" tanya Rizal bertubi-tubi dengan perasaan penuh kekhawatiran.


"Bagaimana cara saya menjawab jika Bapak terus cerocos seperti ini?" sahut Dokter tersebut.


"Ya, sekarang silakan jawab kenapa jadi sewot," ucap Rizal tak kalah kesal, dia tak terima dengan nada bicara dokter yang menyalahkan nya.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang Bapak tenanglah. Saya akan mengatakan bagaimana keadaan keluarga Bapak sekarang," sahut Dokter, mencoba tenang dan bicara santai tanpa ada emosi.


"Silakan katakan tunggu apa lagi," Rizal tak sabar terus mendesak dokter.


"Ibu Wulan keadaan nya cukup parah, dan sekarang dia koma, dan untuk Bapak Yusuf keadaan nya tidak parah, tapi sekarang belum menyadarkan diri. Untuk detail nya lagi, Bapak bisa ke ruangan, di sana saya akan menjelaskan semua," terang Dokter, menatap Rizal yang terdiam, dia begitu syok mendengar keadaan Wulan.


"Bapak baik-baik saja?" khawatir Dokter melihat Rizal tak berbicara apapun, hanya diam tertunduk menatap lantai.


Rizal pergi meninggalkan dokter yang masih memandang bingung pada nya, namun Rizal tak mempedulikan itu, dia melewati begitu saja dan masuk ke ruangan Wulan.


"Sayang, bangunlah ku mohon jangan membuat ku khawatir dengan keadaan mu seperti ini. Jangan tinggal kan aku, please buka mata mu," tangis Rizal, menggenggam erat tangan Wulan.


Ceklek.


"Rizal, apa yang terjadi pada Wulan? kenapa bisa kecelakaan seperti ini?" tanya Dinda Khawatir.


Saat mendapat telpon dari Rizal mengatakan Wulan kecelakaan, Dinda langsung mengabari suami nya, tapi dia belum mengabari Papa Naldo dan Mama Sofia.


Dinda khawatir jika mendengar kabar Wulan ini, orang tua nya menjadi cemas. Dinda akan memastikan dulu keadaan Wulan baru memberitahu mereka, agar tidak terlalu cemas, karena itu tidak baik untuk kesehatan mereka.


"Cepat katakan baj**gan, apa Wulan seperti karena lo?" tuduh Alvaro yang sudah sangat marah, dia yakin semua yang menimpah Wulan pasti karena Rizal, karena Rizal adalah pria yang selalu memberi luka pada Wulan.


Alvaro menarik kerah baju Rizal dan tangan nya sudah di kepal dan siap meninju wajah Rizal.


"Mas, lepaskan Rizal. Kendalikan dirimu, ini rumah sakit. Ingat tujuan kita ke mari untuk Wulan bukan mencari keributan," tegur Dinda mengingatkan Alvaro, agar mampu mengontrol diri.


Rizal tak melakukan pembelaan diri apapun, dia pasrah dengan apa yang di perbuat Alvaro.


"Kau beruntung karena sekarang kita berada di rumah sakit, jika tidak kau sudah habis saya buat," Alvaro melepaskan genggaman nya di kerah baju Rizal dan pergi menjauh tidak sudih berada di dekat Rizal.


"Sudah Mas, tenang," ucap Dinda menatap penuh harap, memberi kode dengan ekor mata melirik Wulan yang berbaring lemas tak berdaya di ranjang rumah sakit.


Alvaro menghela nafas, dan mencoba menenangkan diri demi Dinda dan juga kesembuhan Wulan.


"Iya."


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......

__ADS_1


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2