Menikah Karena Balas Dendam

Menikah Karena Balas Dendam
Bab 109: Kantor polisi


__ADS_3

H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


🌹✨💞✨🌹


Rizal menemani Wulan menemui Papa Yusuf di sebuah cafe. Dari pesan yang di dapat kan tadi. Papa Yusuf meminta Wulan untuk datang ke sana.


Dari pesan itu Papa Yusuf sudah mengingatkan Wulan untuk tidak mengajak siapapun, tapi Rizal memaksa ikut.


Khawatir, tentu Rizal sangat khawatir. Papa Yusuf bukan lah tandingan Wulan. Rizal mengenal betul seperti apa Papa Yusuf jika bertindak.


"Jangan takut, aku berada di sisi mu, aku tidak akan membiarkan Papa ku menyakiti mu sekecil apapun, percayalah padaku," janji Rizal, menggenggam tangan Wulan, menyakinkan istri cantik nya, meski wajah Wulan nampak tenang, dia yakin Wulan sangat deg-degan di dalam hati nya.


"Iya Mas. Terima kasih sudah selalu mendukung ku," ucap Wulan tersenyum.


"Tidak perlu terima kasih, itu sudah menjadi kewajiban ku. Kamu adalah istri ku dan aku suami mu," sahut Rizal, mencium punggung tangan Wulan dengan lembut.


Kehangatan dan kelembutan yang Rizal berikan pada nya, membuat Wulan tersentuh dan bahagia.


Wulan memandang Rizal mengemudi, ketampanan Rizal benar-benar membuat nya terpesona. Senyuman di ujung bibir Wulan pun terukir.


"Aku takut, apa setelah ini semua akan tetap baik-baik saja? entah kenapa perasaan ku mengatakan akan terjadi sesuatu. Semoga saja ini hanya sebuah firasat tidak benar terjadi apapun itu," doa Wulan penuh harap.


30 menit.


Wulan dan Rizal telah tiba di sebuah kafe.


Dan di sana tidak terlihat keberadaan Papa Yusuf.


"Mas, Papa tidak ada," ucap Wulan, menoleh Rizal di samping nya.


"Iya sayang, di mana Papa sebenarnya. Dia meminta mu kesini, tapi dia sendiri sekarang yang tidak ada," sahut Rizal sedikit bingung dan juga khawatir.


"Apa Papa tau aku datang bersama mu, makanya Papa tidak menunjukkan diri," kata Wulan, menatap Rizal yang sama berpikir seperti itu.


"Bisa jadi seperti itu, Papa pasti menyuruh anak buah nya mengawasi kita. Kamu tetap di dekat ku, jangan menjauh dari ku sedetik pun," pesan Rizal memperingati Wulan untuk tetap berada di dekat nya.


Ting.


Pesan masuk. Dan Wulan segera membuka isi pesan tersebut.


Kau sudah melanggar apa yang ku katakan tadi. Jadi bersiaplah menerima hukuman.


"Kenapa sayang? pesan apa itu?" Rizal melihat Wulan yang nampak kesal setelah membaca pesan.

__ADS_1


"In-" ucapan Wulan terhenti karena ponsel nya kembali berdering.


Letakkan bukti rekaman yang kau rekam itu di meja, lalu pergi tinggalkan tempat itu, jika masih sayang pada putra mu Askar.


"Dasar iblis! akan ku bunuh kau Paman! kau pria gila!" marah Wulan, mengajak rambut frustasi.


"Sayang apa yang terjadi, apa itu pesan dari Papa? apa yang di katakan?" tanya Rizal penasaran melihat wajah Wulan sangat marah.


"Kamu baca sendiri ini," Wulan menyerahkan ponsel pada Rizal dan membiarkan Rizal sendiri yang membaca.


Rizal terkejut membaca pesan yang di kirim Papa Yusuf pada Wulan. Dia marah, mengepal kedua tangan sembari menatap tajam isi pesan pada layar ponsel Wulan.


"Papa keterlaluan! ini tidak bisa di toleransi kan lagi. Jika di biarkan Papa akan menjadi."


"Lalu bagaimana sekarang Mas? aku khawatir Papa mu mencelakai Baby Askar," Wulan cemas, memengang tangan Rizal dengan erat.


"Tenang, jangan khawatir. Aku berada di sini," Rizal menenangkan Wulan, dia tidak tega melihat wajah cemas Wulan.


"Tenang? bagaimana aku bisa tenang Mas? Papa mu membawa Baby Askar dalam kejahatan nya," sahut Wulan.


"Mas, aku minta kamu urus Papa mu. Aku akan ke kantor polisi, aku rasa sudah saat nya memberi rekaman ini. Semakin lama aku menahan, keselamatan orang terdekat ku yang akan celaka," sambung Wulan.


"Maksud kamu apa sayang? apa kamu akan ke kantor polisi sekarang?" tanya Rizal.


"Apa kamu yakin?"


"100% yakin Mas. Jika tidak, tidak mungkin aku berbicara seperti ini."


"Baiklah, kamu bawa mobil ku saja ke kantor polisi, biar aku ke rumah menggunakan taksi," tawar Rizal, menyerahkan kunci mobil pada Wulan.


"Terima kasih Mas. Aku pergi sekarang," pamit Wulan seraya mencium punggung tangan Rizal.


Papa Yusuf yang melihat semua dari tempat persembunyian, menjadi kesal.


"Kejar mobil itu, jangan biarkan mobil itu lolos!" perintah Papa Yusuf pada sopir nya.


"Baik Tuan."


Mobil Papa Yusuf mengikuti mobil Wulan. Bahkan kecepatan mobil mereka sudah hampir bersejajar dengan mobil yang di kendarai Wulan.


"Mobil siapa itu? kenapa terus mengikuti ku? tunggu-tunggu, mobil itu seperti aku kenal," Wulan mencoba mengingat mobil siapa yang terus mengikuti nya dari awal perjalanan meninggalkan kafe tadi.


"Papa, ya benar itu mobil Papa Yusuf."

__ADS_1


Dengan wajah khawatir, Wulan menambah kecepatan mobil agar melaju lebih cepat. Dia tidak mau Papa Yusuf menghalangi nya.


Papa Yusuf menyadari Wulan sadar jika dia di ikuti dan laju kecepatan mobil Wulan pun sudah lebih cepat dari awal. Meminta sopir nya untuk lebih cepat.


"Tambah kecepatan nya, dan bisa langsung potong jalan nya jika sudah dekat," perintah Papa Yusuf.


"Baik Tuan," sopir itu, mengikuti perintah Papa Yusuf dan menambah kecepatan.


Wulan semakin takut, mobil Papa Yusuf semakin dekat dengan nya.


"Tidak, aku harus lakukan sesuatu jika seperti ini aku benar ke tangkap dan Paman lagi dan lagi terbebas," ucap Wulan, menggeleng kepala tidak terima jika harus gagal.


Tanpa pikir panjang, Wulan menambah kecepatan mobil. Dia tak lagi memikirkan keselamatan nya. Yang di pikirkan sekarang tidak ke tangkap dan segera tiba di kantor polisi dan menyerahkan bukti pada pihak berwajib.


Semua mobil yang berada di depan, semua di nyalip Wulan, bahkan para pengemudi itu mengumpat dan mencaci Wulan.


Mereka berpikir jika pengendara mobil itu adalah Pria, tapi sebenarnya itu tidak benar, yang mengendarai itu adalah wanita.


Wulan mengendarai mobil begitu cepat hingga tak melihat mobil dari arah kanan.


Dan...


Bruk!


Wulan membanting setir mengemudi, hingga mobil yang di kendarai menabrak pembatas jembatan. Dan mobil di belakang Wulan lah yang bertabrakan dengan mobil dari arah kanan tersebut.


Deg!


Jantung Rizal seketika berdetak kencang, entah kenapa dia menjadi khawatir, teringat pada Wulan dan Papa nya.


"Kenapa dengan ku? kenapa menjadi khawatir seperti ini?" gumam Rizal cemas. Dia mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Wulan.


Namun panggilan nya berkali-kali tidak di jawab. Hal itu semakin membuat Rizal cemas. Dia beralih menghubungi Papa Yusuf dan hasil nya pun sama seperti Wulan tidak di jawab.


"Kenapa mereka tidak menjawab? apa terjadi sesuatu pada mereka?" tanya Rizal, dia benar-benar tidak bisa tenang.


"Pa, putar balik, kita ke kantor polisi sekarang," perintah Rizal pada sopir taksi.


"Baik Pak."


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...

__ADS_1


__ADS_2