
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
🌹✨💞✨🌹
"Kamu dari tadi Mas?" tanya Wulan menatap rizal.
"Barusan, niatnya mau masuk tapi udah keburu di sapa jadi batal," bohong Rizal.
"Hmmm, Mas kesini mau ngapain?" tanya Wulan lagi penasaran.
"Kenapa? emangnya tidak boleh kalau suami cari istri nya?" Rizal malah balik bertanya.
Dinda dan alvaro melihat pasangan suami istri tersebut langsung buka suara untuk pergi meninggalkan mereka.
"Silakan lanjut, kakak dan Mas al ke kamar dulu."
"Sayang, mommy dan daddy tinggal dulu ya, senang-senang sama aunty dan uncle, oke," lanjut Dinda dengan senyum manisnya.
Dan rizal melihat senyuman dinda masih sama seperti dulu lagi dan lagi terpesona, perasaan cinta nya pada dinda sampai saat ini belum pudar.
Pria itu tidak tau kenapa begitu sulit melupakan dinda dalam benak nya, alvaro menyadari tatapan rizal begitu dalam kepada istri nya menjadi geram.
"Apa dia masih mencintai istri ku? kenapa tatapannya begitu dalam, lalu selama ini dia menganggap wulan apa jika cinta nya masih untuk istri ku, semua ini tidak bisa di biarkan, jika dugaan ku terbukti jangan harap kau bisa selamat dariku," batin Alvaro merasa sesuatu yang tidak beres dalam pernikahan adik angkat istri nya.
"Sayang, kita pergi dari sini aku tidak ingin kamu di terkam buaya darat." sindir Alvaro menggandeng tangan dinda meninggalkan mereka.
Rizal tau sindiran itu pasti untuk nya."Dasar posesif, perlahan apa yang kau miliki akan ku rebut tanpa tersisa," batin Rizal berjanji menatap kepergian alvaro dan dinda.
Benci nya pun kian membesar, setelah lama tidak berjumpa ternyata sifat alvaro tidak juga berubah, pria itu masih sama posesif dan bermulut pedas.
Setiap ucapan yang di lontar kan tak pernah di pikir kembali, tapi apa beda nya dengan ia perbuat pada wulan bukannya itu sama.
Wulan melihat ekspresi wajah kesal rizal memandang kepergian alvaro dan dinda. Ia sadar pria itu masih mencintai kak dinda dan juga sangat membenci kak alvaro.
"Kau benar-benar pria tua gila yang egois, apa mau mu sebenarnya? makin kesini melihat dengan mata kepala ku, aku menjadi muak tidak betah berada di dekat pria menjijikkan seperti mu. Rasanya ingin ku bunuh kau hari ini juga seperti keluarga ku yang di bunuh para Iblis berwujud manusia itu," batin Wulan berapi-api membenci pria di hadapan nya ini.
"Aunty, uncle ayo masuk," ajak Kanaya melihat kedua orang dewasa terdiam dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
"Oh iya, ayo masuk," kata Wulan masuk bersama kanaya dan rizal mengikuti dari belakang.
Wulan duduk di sebelah rizal, keduanya duduk memantau kanaya yang sedang mengerjakan tugas sekolah.
Masing-masing dari keduanya tidak ada membuka suara untuk memulai obrolan.
Rizal merasa suasana hening seperti tak berpenghuni berinisiatif memulai duluan.
"Aku akan mencoba mengorek informasi dari naya tapi sebelum itu aku harus mengusir wulan," batin Rizal melirik wulan dengan skor mata nya.
"Wulan," panggil rizal.
"Iya Mas," sahut wulan menoleh.
"Bisakah kamu membuatku kopi?"
"Kopi?" tanya Wulan mengucap ulang perkataan rizal.
"Iya kopi," jawab rizal mengangguk kecil.
"Baiklah akan aku buatkan," ucap Wulan meninggalkan ruangan tersebut.
Setiba di dapur wulan langsung membuat kopi sesuai permintaan rizal.
"Ahai, mengapa tidak ku pikir kan ini sejak tadi, tapi tak apalah selagi semua belum terlambat tak masalah," bahagia Wulan dengan ide konyol di benak nya.
Wanita tersebut mengambil garam yang seharusnya gula, dan ia juga mengantikan kopi bubuk dengan arang halus yang biasa di gunakan art untuk menyikat gigi dengan tujuan memutihkan gigi.
Setelah semua telah di isi sesuai takaran membuat kopi pada umumnya, wulan menuangkan air panas dan mengaduk rata agar lebih sempurna tentu agar rizal tidak curiga.
Wulan tidak henti tersenyum membayangkan bagaimana reaksi pria tua menyebalkan itu meminum kopi arang asin, pasti nikmat rasanya.
"Selamat menikmati kopi mu bapak rizal, kopi ini ku buat dengan penuh cinta ku harap kau tidak akan pernah lupa dengan hari ini," gumam Wulan terkekeh lalu berjalan menuju kamar kanaya.
Rizal tidak menyerah mengorek informasi dari kanaya meski ujungnya jawaban bocah kecil itu selalu sama.
"Nih bocah kenapa beda banget sama mommy nya? Wataknya lebih mirip wulan dari pada dinda," batin Rizal pusing harus mencoba cara apa lagi agar bocah didepan nya ini memberi informasi yang di inginkan.
"Naya dan aunty dekat bukan?" tanya Rizal pelan dan hati-hati tidak ingin kanaya curiga.
"Iya dekat. "
__ADS_1
"Uncle boleh gak minta naya ceritakan semua tentang aunty yang naya tau."
Naya berpikir sejenak lalu menggeleng kepala. "No uncle, kenapa tidak minta sama aunty saja?" Kanaya menatap rizal seperti sedang berpikir sesuatu.
"Nih bocah bukan nya ngeiyain aja malah balik nanya tambah kerjaan aja deh," batin Rizal kesal.
"Uncle, uncle kenapa?" panggil kanaya melihat rizal diam tak membalas perkataan nya.
"Tidak, uncle hanya sedang berpikir yang di katakan naya memang benar kenapa tidak uncle tanyakan langsung pada aunty nya," kata Rizal.
"Kalian bicara apa sih kayaknya asyik," ucap wulan baru tiba.
Meletakkan secangkir kopi di meja." Ini Mas kopinya semoga suka ya, ini kali pertama aku buat kopi," jujur Wulan, dalam hati sudah tak sabar menanti rizal meminum kopi spesial buatan nya penuh cinta.
"Kamu serius ini kali pertama buat kopi?" Rizal sedikit kaget dengan penuturan wulan yang sulit untuk dia percaya.
Wulan wanita yang memiliki banyak rahasia yang di sembunyikan hal itu membuat nya sulit mempercayai wulan dengan muda.
"Iya ini kali pertama, mungkin kamu sedikit terkejut dengan perkataan ku ini, tapi inilah kenyataan nya," kata Wulan melihat rizal masih belum mempercayai nya.
"Jadi aku orang pertama yang kamu bikinin kopi?"
"Hmmm, bisa di bilang seperti itu. Mas bisa mencoba nya aku buat dengan kerja keras loh itu," ucap Wulan.
"Kerja keras mencari kesempatan untuk mengerjai mu, ku kira ini tidak sebanding dengan apa yang kamu lakukan padaku selama setahun ini," batin wulan tertawa.
"Oke, aku akan mencoba nya," Rizal meraih secangkir kopi penasaran seperti apa rasa kopi buatan wulan.
Ini kali pertama rizal meminta wulan membuatkan kopi, dan entah enak atau tidak sekarang ia akan mencoba.
"Minum lah jika bisa habiskan semua," batin Wulan menatap rizal perlahan mengangkat cangkir dan.
Uhuekkk...
Rizal memuntahkan kopi yang di minum.
"Kopi apa ini kenapa rasanya asin, dan ini juga kenapa tidak ada aroma kopi sama sekali," marah Rizal meletakkan kembali cangkir tersebut
"Maaf mas, aku benar-benar gak tau ini kali pertama ku, aku akan membuatnya ulang, aku minta maaf," bohong Wulan merasa bersalah.
Pertama kali sih iya, tapi masih mengerti juga kali cara membuat kopi, aku sengaja ngerjain kamu, karena kamu pantas dapatin semua ini," batin Wulan merasa sedikit puas.
__ADS_1
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...