
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
🌹✨💞✨🌹
Wulan menghembus nafas kasar, bagaimana tidak kedatangan bu nina dan mantan suami nya itu ternyata karena satu tujuan yang mana membuat nya sangat kesal.
"Kenapa harus aku sih yang di pilih, padahal di sini banyak apa semua ini ada campur tangan mas rizal? tapi apa tujuan nya, semua ini benar-benar membuat ku binggung. Pokok nya sekarang aku harus sabar cuman enam bulan tidak lama, lalu dia akan kembali," ucap Wulan menyemangati diri nya.
Setelah mendengar penjelasan dari Bu nina mengatakan jika dia di utus pihak kampus, beberapa menit kemudian wulan minta izin ke toilet.
Setelah merasa cukup menyakinkan diri sendiri, wulan keluar dan kembali masuk ke dalam kelas.
Di sana sudah ada rizal, namun bu nina tidak ada.
Wulan masuk mendekati rizal dan mengatakan terima kasih lalu kembali ke tempat nya.
Namun baru beberapa langkah berjalan, rizal memanggil wulan.
"Tunggu kemari lah," panggil Rizal meminta wulan mendekati nya.
"Baik," sahut Wulan mengikuti.
"Ada apa?" tanya Wulan ketika tiba di hadap Rizal.
"Kumpulkan semua tugas yang di berikan Pak Aldi minggu kemarin dan letakkan di ruang saya," kata Rizal memerintah wulan.
"Tugas? apa harus sekarang?" tanya Wulan cemas, pasalnya dia lupa mengerjakan beberapa minggu kemarin banyak masalah pada otak nya hingga melupakan itu.
"Kenapa apa kamu keberatan? apa kamu belum mengerjakan?" tanya Rizal balik binggung melihat ekspresi wulan.
"Pak jangan kencang-kencang bicara nya, kan bisa bicara pelan, lagian saya bukan belum mengerjakan hanya saja saya sibuk akhir ini hingga melupakan tugas nya," ucap Wulan pelan takut di dengar yang lain nanti mau di kata apa oleh teman-teman nya.
"Tidak perlu mengajari saya berbicara kencang atau tidak, sekarang yang saya pertanyakan tugas. Jika kamu belum mengerjakan tugas setelah les berakhir menghadap ke ruangan saya. Cepat kumpulkan tugas," perintah Rizal tegas.
__ADS_1
Wulan mendengar itu menghembus nafas kasar sedikit kesal, pria di depan nya itu selalu saja bersikap sesuka nya.
Tanpa bisa membantah, wulan berbalik dan melakukan seperti apa yang di perintahkan Rizal.
Wanita itu mengumpulkan semua tugas teman-teman nya dan ternyata hanya dia seorang yang tidak mengerjakan.
"Oh tidak, kenapa hanya aku seorang bagaimana ini," batin Wulan cemas.
Setelah di kumpulkan wulan berjalan mendekati rizal.
"Ruangan bapak di dekat mana?" tanya Wulan benar tidak tau.
"Letakkan saja di sini nanti setelah les baru antar, sekalian langsung menghadap tidak perlu bolak-balik lagi," jawab Rizal lalu meminta wulan kembali ke kursi nya.
Tanpa berkata apapun wulan pergi begitu saja, dia sangat kesal pada rizal bersikap seolah tak mengenal nya.
Entah kenapa dia tak terima dengan sikap rizal ini, diri nya seperti tidak sedang berhadapan dengan rizal tapi dengan orang lain yang berwajah mirip saja.
"Pria tua itu menyebalkan, aku sangat membenci nya, baiklah jika kau bisa bersikap seperti itu aku pun bisa. Mulai hari ini kita adalah orang asing yang tak saling mengenal," batin Wulan penuh kesal.
Semakin kini wulan sadar cara mengajar rizal 18 bulan yang lalu dan sekarang banyak berbeda, pria itu begitu tegas dan tak berbelit-belit dalam penjelasan hingga semua mudah mengerti yang di ajarkan itu.
Bel berbunyi menandakan kelas telah berakhir.
"Wulan, kemari bawa ini ke ruangan saya. Dan untuk semua jangan lupa kerjakan tugas nya lusa sudah harus di kumpulkan," ucap Rizal tegas.
"Baik Pak," jawab semua serentak.
Dan lalu semua menghambur keluar meninggalkan kelas meninggalkan ruangan menyisakan wulan dan rizal.
Saat wulan ingin mengambil tumpukan buku tugas teman-teman nya, rizal menghalangi.
"Kamu pegang buku dan ponsel biarkan ini aku aku yang pegang," cegah Rizal tidak tega wanita nya memikul yang berat.
"Baiklah jika itu mau Bapak," ucap Wulan tak menolak malah senang.
Dalam perjalanan menuju ruangan rizal kedua orang tersebut saling diam tak berbicara sepatah kata pun.
__ADS_1
Setiba di ruangan pun wulan masih diam berdiri tegak memandang rizal yang sibuk melihat-lihat kerja tugas mahasiswa.
Jujur saat ini wulan sudah menahan kesal karena tiba nya di sini pria itu belum mengatakan apapun hukuman yang harus di terima dari kecerobohan nya tidak mengerjakan tugas.
"Pak, mau sampai kapan seperti ini? saya lelah terus berdiri," omel Wulan kaki nya sudah terasa pegal.
"Duduk lah tidak ada yang meminta mu berdiri," jawab Rizal santai.
"Pak sa-"
"Stop memanggil ku Pak, sekarang kita sedang berdua. Oiya aku meminta mu kesini karena ingin bertemu anak kita, aku harap kamu tidak melarang ku bagaimana juga baby askar juga anak ku," ucap Rizal cepat memotong perkataan wulan.
"Baiklah, kapan Mas ingin bertemu baby askar?" tanya Wulan menatap serius rizal.
"Hari ini, aku harap kamu tidak keberatan karena aku ingin selalu bersama anak ku juga setiap hari."
"Maksud Mas setiap hari gimana? aku tidak mengerti."
"Aku akan mengunjungi baby askar setiap hari, kamu cukup beri alamat apartment mu saja."
"Seperti nya itu tidak bisa."
"Kenapa? bukan nya kamu tidak keberatan lalu kenapa mendadak tidak bisa?"
"Bukan itu maksud ku Mas, tapi aku tidak bisa membiarkan mu datang ke apartment karena itu akan di ketahui kak Al, dan aku tidak ingin ada masalah, jika kamu ingin bertemu baby askar katakan saja padaku biar nanti akan aku atur, tapi tidak di apartment ku," jelas Wulan khawatir kak al dan rizal berantem seperti dulu.
"Tidak, aku ingin ke apartment mu, biarkan masalah Al menjadi urusan ku. Katakan alamat mu di mana?"
"Mas please jangan keras kepala sekali ini saja mengerti lah," ucap Wulan memohon, dia binggung harus berkata seperti apa lagi agar pria itu paham.
"Wulan kamu yang harus mengerti bukan aku. Percaya lah semua akan baik-baik saja, aku akan membuktikan padamu jika aku benar sudah berubah, perkataan ku kemarin aku benar-benar minta maaf aku mengaku salah semua itu karena aku terlalu mencintai mu jadi takut kamu di miliki orang lain," jelas Rizal panjang lebar lalu meraih tangan wulan.
"Apa yang di katakan itu semua benar? tapi bu nina itu siapa? oh astaga aku baru ingat sekarang, wanita kemarin yang menghubungi mas rizal, apa bu nina? tidak, tidak mungkin saja nina yang lain, kan nama nina banyak," batin Wulan menyakinkan diri agar tidak khawatir tetap tenang.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...
__ADS_1