Menikah Karena Balas Dendam

Menikah Karena Balas Dendam
Bab 32: Ketagihan hanya sekali permainan


__ADS_3

🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻




🌹✨💞✨🌹


Keesokan harinya....


Wulan sudah bangun lebih awal dari rizal.


Semalam adalah malam penyatuan ia dan rizal setelah satu tahun menikah.


Wulan berpikir tidak ada salahnya mengiyakan permintaan rizal, bagaimana juga rizal adalah suaminya, rizal telah melakukan kewajiban nya dalam menafkahi, meski di sertai dengan penderitaan yang di berikan.


Sedangkan ia belum pernah melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.


Tanpa di sadari ritual semalam yang dilakukan keduanya telah membuat rizal menikmati dan menyukai.


Selama berhubungan dengan wanita hanya dengan wulan yang membuat nya puas dan nikmat.


Bahkan sentuhan dan semua yang berada di tubuh wulan membuat nya menginginkan lagi dan lagi.


Rizal terbangun dari tidurnya tidak melihat keberadaan wulan di samping nya mengeledah pandangan ke setiap sudut.


"Di mana dia? kenapa sepagi ini tidak ada?" batin Rizal mencari.


Seketika olahraga ranjang semalam terlintas di benak nya.


"Aku tidak pernah merasakan hal senikmat ini sebelum nya, dan milik nya kenapa begitu sempit? tidak mungkin jika dia tidak melakukan dengan pria diluar sana?" ucap Rizal kembali dengan pemikiran buruk nya mengenai wulan.


"Tapi, kenapa aku merasa tidak asing dengan semalam yang ku lakukan? kegilaan dan semangat ku semalam mengingatkan ku pada kejadian di masa lalu? apa benar wulan adalah wanita yang ku ambil kesucian nya? jika benar apa iya anak yang di kandung saat itu anak ku?" tanya Rizal pada diri nya.


"Aku pikir apa sih, bagaimana bisa ucapan wulan aku percaya, dia bahkan saat itu bekerja di sana dan memuaskan banyak pria kaya yang menginginkan tubuh nya," jawab Rizal dengan pertanyaan nya sendiri.

__ADS_1


Dia terus berperang dengan dirinya sendiri. Dan akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan, lalu bangkit dari ranjang tanpa sehelai benang di tubuh nya.


Rizal berendam di bathtub, entah kenapa dan apa yang terjadi dengan otak nya hingga tidak bisa melupakan malam ritual keduanya.


"Ada apa dengan ku sekarang? kenapa hanya dengan memikirkan nya adik kecil ku langsung bereaksi seperti ini?" bingung Rizal melihat adik kecilnya menegang.


Berbeda dengan wulan, wanita itu kini sedang duduk bersama dinda dan kakak iparnya.


Ketiga berbicara santai, dan alvaro tidak banyak bicara, ia terus memperhatikan wulan.


Perbincangan nya kemarin bersama rizal membuat nya yakin ada niat terselubung pria tersebut menikahi wulan.


Dan alvaro tidak akan tinggal diam jika rizal menyakiti wulan, karena penderitaan wulan akan di rasakan dinda istri nya dan ia tidak ingin istri nya sedih.


Sebelum dinda mengetahui ini, ia akan menyelesaikan semua.


"Dek, apa kamu bahagia menikah dengan rizal?" tanya Alvaro mendadak membuat wulan kaget dan juga bingung ada apa dengan alvaro.


"Apa kakak tau rumah tangga ku sedang tidak baik-baik saja," batin Wulan bertanya.


"Mas kenapa bertanya seperti itu? bukannya mas dapat melihat betapa romantis nya wulan dan rizal, apa itu tidak membuktikan?" tanya balik Dinda cepat ikut bingung sama dengan wulan dengan pertanyaan alvaro.


"Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu sih mas, tidak mungkin wulan seperti itu, bukan begitu dek?" tanya Dinda menoleh pada wulan.


Wulan yang di tanya dinda benar atau tidak menjadi bingung harus menjawab apa.


"Maafkan kak aku harus berbohong, semua yang ku lakukan ini karena aku tidak mau urusan ku menjadi beban kakak, " batin Wulan sedih.


"Dek, kamu kenapa? perkataan mas al gak benar kan? kamu tidak mungkin seperti itu bukan?" tanya ulang Dinda melihat wulan tak menjawab pertanyaan nya.


"Kakak jangan khawatir, semua baik-baik saja," bohong Wulan dengan senyuman palsu.


Meski sekarang rizal tak lagi sama seperti dulu, entah kenapa hati kecilnya mengatakan jika rizal belum sepenuhnya berubah.


"Kamu dengar itu kan, mas. Wulan gak mungkin menyembunyikan sesuatu dari ku, henti lah berpikir yang aneh-aneh," kata Dinda.

__ADS_1


"Iya, sayang tolong buatkan aku secangkir kopi jahe?" pinta Alvaro pada dinda.


"Oke, dek mau kakak buatin apa?" tawar Dinda sebelum menuju dapur.


"Jus naga kak, aku udah lama gak minum jus naga," jujur Wulan.


"Baiklah kakak buatkan, kalian lanjutkan ngobrol nya," pamit Dinda bangkit dari duduk nya.


Melihat dinda sudah menghilang dari pandangannya.


"Dek, kamu mungkin bisa membohongi kakak mu dinda, tapi tidak dengan kakak. Semua yang terjadi di pernikahan mu dengan rizal kakak mengetahui nya. Berhentilah bersikap semua baik-baik saja. Kakak seorang pria kakak dapat mengetahui tatapan cinta seorang suami untuk istri dan itu tidak kakak lihat dari rizal untuk mu dek," ujar Alvaro panjang lebar.


Wulan terdiam mendengar perkataan alvaro panjang lebar.


Wanita itu bingung harus menjawab apa, dan harus memulai dari mana, entah kenapa otak nya terasa butut.


"Dek, jika kamu tidak ingin berkata jujur sekarang tidak masalah, kakak akan sabar menunggu hingga kamu berterus terang pada kakak, kamu tidak sendiri di sini," kata Alvaro.


"Terimakasih kak, maaf sekarang aku belum bisa menceritakan nya, aku janji secepatnya akan menceritakan pada kakak," jawab Wulan.


"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan mu. Kakak tidak akan memaksa, tapi satu hal yang harus kamu ingat jika rizal bermain tangan padamu katakan pada kakak, biar pria itu kakak beri pelajaran agar tak melakukan hal semena-mena pada mu," pesan Alvaro dan wulan terharu hingga tak bisa menahan butiran bening yang kini berhasil lolos membasahi wajahnya.


"Kamu kenapa dek, apa rizal benar menyakiti mu? kata kan sudah berapa lama dia menyakiti mu? akan kakak balas dia sekarang," khawatir Alvaro melihat wulan menangis.


Alvaro bangkit mendekati wulan menggenggam erat tangan nya.


"Sudah lama kak, maaf aku belum bisa menceritakan semua aku tidak ingin ada masalah. Aku janji setelah membereskan satu masalah di kota X aku akan memikirkan ini," batin Wulan sedih harus menutupi ini sekarang.


Dinda yang baru tiba di ruang keluarga melihat sang suami dan sang adik mengerut kening bingung sebenarnya apa yang terjadi, kenapa ia merasa bau-bau kesedihan.


"Ada apa ini?" tanya Dinda meletakkan nampan berisi secangkir kopi dan segelas jus naga di meja.


"Dek kamu menangis? apa yang terjadi? apa mas al berkata kasar mengenai suami mu?" tebak Dinda sebab terakhir kali sebelum meninggalkan keduanya sang suami terus berpikir buruk mengenai rizal.


Dan dinda berpikir jika kepergian nya tadi alvaro mengambil kesempatan untuk bertanya dan pertanyaan nya itu pasti menyinggung dan menyakiti perasaan wulan hingga wanita tersebut menangis seperti sekarang ini.

__ADS_1


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2