
๐ปH 4 P P Y R 3 4 D I N G๐ป
โข
โข
๐นโจ๐โจ๐น
Wulan menggendong Baby Askar, dia begitu merindukan putra kecil nya. Dan Rizal setia menyuapi bubur ke dalam mulut Wulan yang di sediakan rumah sakit. Wulan belum bisa makan makanan dari luar, dokter belum mengizinkan hingga keadaan Wulan benar sudah fit.
"Buka mulut mu sayang, kamu harus banyak makan agar cepat pulih," ucap Rizal menyendok bubur dan memasukkan ke dalam mulut Wulan.
"Iya. Bagaimana dengan Papa mu selama aku berada di sini? apa dia berulah? Dan mana ponsel ku? itu adalah satu-satu bukti yang ku punya untuk mengungkap semua kejahatan nya pada keluarga," ucap Wulan mengalihkan topik mengingat keadaan nya seperti ini, karena ingin melindungi bukti di ponsel nya.
Ceklek!
"Jangan cemaskan itu dek, pikirkan kesehatan mu dulu sekarang," ucap Rian, tiba di ruangan Wulan dan berjalan mendekati Wulan.
"Maksud Kakak apa?" tanya Wulan bingung tidak mengerti apa yang di katakan Rian.
"Papa sudah menyerahkan diri pada pihak berwajib, Papa juga memintaku menyampaikan permohonan maaf untuk mu, sudah membuat mu menderita," Rian menatap Wulan sambil menyodorkan sebuah map.
"Apa ini kak?" Wulan engan menerima dan masih melihat itu.
"Hak mu yang sudah Papa ambil dari keluarga mu."
"Hak?"
"Iya, Papa sudah mengubah semua menjadi namamu. Papa juga berkata meski semua sudah Papa lakukan tetap masih kurang, semua tidak sebanding dengan apa yang di perbuat di masa lalu, karena itu sudah begitu kejam," terang Rian. Wajah nya tampak sedih mengingat perkataan terakhir Papa Yusuf di kantor polisi.
Rizal yang tidak mengetahui ini pun kaget, dia tidak menyangka Papa Yusuf akan melakukan ini, dan keluarga nya kenapa tidak ada yang memberitahu tentang masalah ini.
"Kenapa aku baru tau ini? kapan Papa menyerahkan diri? kenapa aku tidak tau tentang ini?" tanya Rizal dengan tatapan penuh kekecewaan menatap Rian.
"Maaf, tapi ini keinginan Papa. Papa tau saat ini kamu masih marah dan kecewa maka dari itu Papa melarang kami memberitahu mu, Papa hanya berkata jika kamu bertanya baru kami jawab jika tidak, ya akan tetap diam," jawab Rian.
Jawaban Rian tidak membuat nya puas, dia masih tidak terima, bagaimana pun dia masih anak dari Papa Yusuf, apapun itu keputusan itu dia harus tau.
Wulan terdiam, dia melihat semua aset yang sudah berbalik nama menjadi nama nya.
Entah kenapa dia tidak menyukai semua ini, dia tidak menginginkan harta, yang di inginkan adalah keadilan tidak lebih. Dan sekarang sudah dia dapatkan.
"Ayah, Bunda, apa aku salah menginginkan keadilan untuk kalian?" batin Wulan bertanya sedih dalam hati.
Obrolan kedua pria itu tak di pedulikan Wulan, dia terdiam bertanya-tanya pada batin nya.
*****
Hingga sekarang Wulan masih diam, belum berkata sepatah kata pun semenjak Rian pergi meninggalkan mereka.
Begitu pun dengan Rizal. Dia sedih akan keputusan Papa Yusuf dan keluarga nya yang tidak memberitahu masalah serius ini seperti menganggapnya tidak ada.
Wulan menyadari itu yakin Rizal sedih dengan apa yang terjadi pada Papa Yusuf. Tanpa mendengar apapun yang keluar dari mulut Rizal, Wulan sudah dapat menebak dari raut wajah Rizal.
"Sayang kamu mau kemana?" Rizal tersadar saat melihat Wulan turun dari ranjang.
"Aku ingin ke toilet," jawab Wulan.
"Sini biar aku bantu," Rizal mendekati Wulan dan membantu.
"Maaf," satu kata terucap keluar dari bibir Wulan.
__ADS_1
Dia merasa menjadi istri yang jahat untuk Rizal, dengan tega dan tak berperasaan membiarkan Papa Yusuf menerkam di penjara.
"Maaf untuk apa? kamu tidak melakukan kesalahan sayang?" Rizal mengerutkan kening bingung.
"Papa mu di penjara."
"No, semua itu bukan salah mu. Semua itu memang sudah harus terjadi, Papa harus bertanggung jawab dari apa yang di perbuat. Aku hanya kecewa kenapa tidak ada seorang pun mengatakan keputusan Papa pada ku," ujar Rizal.
"Apa benar hanya itu?
"Benar sayang, emang apalagi yang kamu harapkan?"
"Tidak. Bagaimana kalau besok kita kunjungi Papa mu?" ajak Wulan, langkah nya berhenti di depan pintu toilet dan meminta Rizal menunggu di depan.
Dengan berat hati Rizal menuruti itu, dia berdiri sudah seperti penjaga satpam berjaga di depan pintu.
Beberapa menit kemudian, Wulan keluar, Rizal langsung mendekati Wulan dan mengambil alih botol infus yang di pegang nya itu.
"Sudah?" tanya Rizal dengan menatap Wulan.
"Iya. Jadi bagaimana Mas, apa kamu mau mengunjungi Papa mu besok?" Wulan berbalik menatap Rizal. Perkataan mereka tadi harus terputus karena dia harus segera masuk mengeluarkan hajat yang tidak bisa di tahan lagi.
"Tapi kamu belum sehat, aku tidak bisa meninggalkan mu sendiri sayang, aku sudah janji pada keluarga mu untuk selalu menjaga mu tidak akan meninggalkan mu, hingga kamu benar pulih," ucap Rizal.
"Kamu tidak akan meninggalkan ku sendiri Mas, karena aku akan ikut bersama mu. Kita sama-sama mengunjungi Papa mu di sana," terang Wulan, tersenyum menatap Rizal.
"Tidak sayang, kamu belum pulih, belum di izinkan dokter untuk pulang, karena kamu harus melewati beberapa pemeriksaan lagi," tolak Rizal tidak menyetujui ide Wulan.
"Mas," panggil Wulan, membujuk Rizal.
"No sayang, ayo naik dan istirahat lah. Ingat kata dokter harus banyak istirahat agar cepat pulih jangan memikirkan apapun lagi," Pesan Rizal, dengan membantu Wulan naik ke atas ranjang.
Wulan tak bisa menutup mata sejak tadi, padahal sekarang jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, tapi mata Wulan masih terbuka lebar.
"Aku akan kembali Korsel dan meminta Paman membangun ulang perusahaan Ayah, di sana dan aku akan memulai hidup baru bersama putra ku dan suami ku."
Wulan kembali mencoba memejamkan mata berharap kali ini bisa tidur, karena dia berencana bagun pagi menemui Dokter, sebelum Rizal bagun.
Pagi jam 5 Wulan sudah bagun, dia segera bangkit, berjalan meninggalkan Rizal yang masih tertidur di sofa.
30 menit Wulan berada di ruangan Dokter, dia terus membujuk Dokter agar mengiyakan, hingga akhirnya jawaban Ya terucap dari mulut Dokter itu.
"Terima kasih Dok, kalau begitu saya permisi dulu," pamit Wulan meninggalkan ruangan dokter dengan wajah bahagia, dia tidak sabar kembali lagi ke Korsel karena semua masalah nya di Indo sudah selesai, dan sekarang dia akan selalu dekat dengan keluarga nya.
Wulan sudah mulai bersiap-siap, mengemas semua barang bawaan yang di bawa Rizal untuk keperluan nya selama di rawat.
"Beres, sekarang waktu nya aku siap," ucap Wulan dengan wajah tak henti menampilkan senyuman.
Rizal baru bangun dari tidur, melihat tidak ada Wulan di ranjang menjadi kaget, bahkan ruangan ini pun sudah tampak rapi.
"Wulan," panggil Rizal, dia bangkit dan mulai mencari.
"Wulan apa kamu di dalam?" tanya Rizal sembari mengetuk pintu.
"Iya Mas, bentar lagi aku keluar," sahut Wulan, dia sedang memakai pakaian ganti nya.
Ceklek!
"Sayang kenapa pagi-pagi kamu sudah mandi, dan kenapa kamu memakai pakaian seperti ini?" Rizal memandang heran melihat penampilan Wulan sudah rapih yang sudah seperti siap pergi.
"Kita akan segera pulang. Sekarang bersiap lah kita akan pergi menemui Paman," ucap Wulan.
__ADS_1
"Pulang? siapa yang mengizinkan mu pulang?"
"Dokter. Jadi sekarang kamu bersiaplah, setelah urusan ku dengan Paman selesai kita akan kembali ke Korsel. Aku harap kamu tidak keberatan jika kita menetap di sana, di Negara kelahiran ku," ucap wulan.
2 jam kemudian.
Rizal dan Wulan sudah tiba di kantor polisi. Wulan meminta Rizal untuk langsung menemui Papa Yusuf, dan dia menemui para petugas yang berjaga untuk menarik semua pengakuan Papa Yusuf pada keluarga nya.
"Terima kasih, karena Bapak sudah mengerti," ucap Wulan, tersenyum senang karena Pak polisi menyetujui permintaan nya untuk membebaskan Papa Yusuf dan memilih jalur damai antar kekeluargaan karena dari pihak korban tidak ingin memperpanjang kasus ini.
Wulan berjalan menghampiri Rizal yang berbicara dengan Papa Yusuf.
"Assalamualaikum Paman," salam Wulan dengan senyum manis, dia tak lagi menaruh dendam pada paman nya.
Saat koma, Wulan di datangi kedua orang tua nya, mereka meminta Wulan untuk melupakan dendam dan hidup melihat ke depan, jangan ke belakang karena hidup masih panjang, jika terus melihat ke belakang diri sendiri yang akan rugi bukan orang lain.
"Walaikumsalam," jawab Papa Yusuf.
"Bagaimana keadaan Paman?" tanya Wulan, lalu duduk di kursi samping Rizal.
"Paman Baik, bagaimana dengan mu? maafkan Paman sudah membuat mu celaka dan hidup menderita bertahun-tahun," Papa Yusuf benar-benar menyesal dengan apa yang di perbuat di masa lalu.
"Aku baik. Aku ke sini ingin mengembalikan ini dan aku ingin meminta satu hal pada Paman, apa bisa Paman penuhi?" Wulan menyodorkan sebuah map yang dia rasa tidak butuh semua itu.
"Keinginan apa yang ingin kamu minta dari Paman? Paman janji akan penuhi itu untuk menebus kesalahan Paman pada mu."
"Terima kasih."
"Sama-sama. Katakan apa yang kamu ingin kan dari paman Nak?"
"Aku ingin kembali ke Korsel, aku harap Paman bisa membangun kembali perusahaan Ayah di sana, apa bisa? tapi Paman jangan khawatir, aku sudah mengembalikan semua yang Paman berikan pada ku melalui kak Rian, dan aku sudah mencabut pengakuan Paman, jadi Paman sekarang sudah bebas," jelas Wulan, melihat perubahan wajah Paman shin setelah mendengar permintaan nya, Wulan dapat menebak oleh karena itu Wulan langsung menjelaskan.
*****
Kini semua sudah berkumpul, mereka bahagia karena Papa Yusuf sudah kembali pulang, bahkan Wulan sudah memaafkan dan tidak mengambil sedikit harta yang sudah menjadi hak nya itu. Dia hanya meminta mengembalikan perusahaan ayah nya saja.
"Terima kasih Wulan, Mama tidak tau harus berkata apa lagi. Kamu memang anak yang baik, Mama senang karena Rizal mendapat istri seperti mu. Meski kita akan jarang bertemu, Mama akan sering menelpon mu karena, Mama akan sangat merindukan mu sayang," ucap Mama Alma.
"Sama-sama. Kita akan sering berkunjung ke sini, karena di sini masih ada keluar angkat ku Ma, jadi tidak mungkin aku tidak kembali lagi," sahut Wulan dengan senyum menyakinkan Mama Alma.
"Senang Mama dengar nya, lalu kapan kalian akan berangkat ke Korsel?"
"Hari ini Ma, maaf kalau terdengar buru-buru."
"Iya, tidak apa-apa sayang, jaga diri kalian baik-baik di sana."
Rizal dan Wulan sudah berada di dalam jet pribadi, Wulan bersandar di dada bidang Rizal. Dan Baby sitter Askar sudah kembali karena mereka akan kembali ke Korsel.
"Sayang, apa kau bahagia sekarang bisa kembali ke Korsel?" tanya Rizal, membelai pipi Wulan.
"Iya, Mas. Aku bahagia, Terima kasih sudah mengikuti ku."
"Itu sudah menjadi kewajiban ku sayang, aku suami mu jadi tidak masalah."
Wulan bahagia mendengar itu, dia tidak menyangka semua berakhir indah. Pernikahan dadakan yang di awali dengan dendam berakhir penuh warna.
...TAMAT...
Terima kasih sudah mendukung author sejauh ini.
Oiya, untuk GIVEAWAY. Author akan kasih dobel ya, sesuai janji author, setiap karya TAMAT akan ada hadiah untuk pembaca setia. Tapi pemenang akan author pilih 3 besar ya.
__ADS_1
Dan pengumuman nya di tanggal 20, karena author akan memilih dari komen chat teraktif dan menarik dari awal eps hingga akhir. Semoga kalian salah satu yang beruntung itu.