
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
🌹✨💞✨🌹
Wulan menemani kanaya mengerjakan tugas sekolah nya.
Terpancar dari wajah wulan begitu bahagia bisa melakukan aktivitas yang sama sebelum menikah dengan rizal.
"Aunty apa benar kata uncle?" tanya Kanaya otaknya masih terbayang dengan perkataan rizal mengenakan buat adik.
"Perkataan uncle yang mana?" wulan bertanya balik sebab tidak mengerti arah pembicaraan kanaya.
"Ish, aunty kesal deh, naya tanya apa benar kata uncle buat adik sama aunty," jelas Kanaya.
"Uhukk... uhukk..."
"Aunty kenapa?" khawatir Kanaya beranjak dari meja belajar mengambil minum di meja kamarnya yang selalu di sediakan.
Kemudian ia menyodorkan pada wulan.
"Ini aunty minum."
Wulan mengambil dan segera minum.
"Aunty gapapa kan? apa aunty sakit?" tanya Kanaya melihat wulan sedikit mendingan.
"Aunty gapapa sayang, ini terimakasih," jawab wulan mengembalikan gelas dan air nya sudah di minum habis oleh nya.
"Lalu kenapa aunty batuk?" tanya lagi Kanaya.
"Hmmm... aunty juga gak tau," jawab Wulan dengan santai.
"Kok bisa sih?" ragu kanaya menatap wulan.
"Kenapa tatap aunty seperti itu? aunty cantik sudah dari lahir jadi gak perlu memuji," pede Wulan seperti biasa mampu membuat kanaya kesal.
"Aunty narsis."
Wulan dan kanaya terus berdebat, keduanya sama-sama tidak ada yang mau kalah.
Sedangkan di ruang berbeda rizal di buat bingung dengan dirinya yang mendadak merubah aneh
Mengingat betapa manja nya ia bersama wulan tidak ingin melepaskan pelukan menjadi pertanyaan di benak nya.
Rizal bahkan tidak pernah seperti ini pada lestari, lalu kenapa bersama wulan berbeda.
__ADS_1
"Ada apa dengan ku, kenapa memeluk nya begitu nyaman? dan aset ku juga langsung bereaksi?" tanya Rizal pada diri sendiri.
Niatnya ingin menyelidiki hal yang di sembunyikan wulan, tapi sekarang malah ia di buat terperangkap dalam jebakan sendiri dalam hitungan menit.
"Semua ini tidak boleh terjadi, aku harus secepatnya menemukan apa yang di sembunyikan dia, sebelum semua menjadi tidak terkendali kan," ucap Rizal khawatir apa yang akan terjadi kedepannya jika semua terus seperti ini.
Dia tidak bisa bersandiwara lebih lama dari ini, semua sangat menyiksa nya tidak bisa membalas dan hanya bisa menuruti seperti murid yang patuh terhadap guru.
Itu bukanlah kebiasaan rizal.
"Wanita itu sangat pandai memanfaatkan situasi, tapi aku harus sabar mengikuti kemauan nya. Aku hanya perlu waktu dua minggu untuk menyelidiki nya setelah itu semua akan kembali semula."
Rizal bangkit dari ranjang tempat tidur menuju kamar mandi, dia akan menyusul wulan setelah mandi untuk membuat wanita itu lebih yakin jika dia benar-benar sudah berubah.
30 menit melakukan ritual, sekarang ia sudah terlihat segar dan tentu menjadi lebih tampan.
"Bi, apa melihat wulan?" tanya Rizal pada art.
"Nona wulan ada di kamar non naya, Tuan," jawab art sopan.
"Di mana kamar naya?" tanya rizal.
"Ada di sana Tuan di deretan ke tiga dari ujung," jelas art.
"Hmmm, baiklah bibi bisa kembali." ucap Rizal telah mengerti dan segera pergi mencari wulan.
Rizal berjalan sesuai arahan art tadi, dan kini ia telah berada di depan pintu dan juga pintu tersebut tidak tertutup rapat hingga ia dapat melihat apa yang di lakukan kedua perempuan di dalam sana.
"Naya, aunty harap setelah mendengar penjelasan aunty tadi, naya mengerti dan tidak menceritakan apapun pada uncle tentang aunty," kata Wulan.
"Iya aunty, naya paham naya janji tidak akan menceritakan apapun pada siapa pun itu yang bertanya tentang aunty," janji Kanaya.
"Anak pintar," senyum wulan mengusap rambut kanaya.
"Aunty."
"Iya, kenapa?" tanya Wulan menaikan alis.
"Aunty dan uncle sedang tidak berantam kan?"
"Kenapa naya bertanya seperti itu?"
"Naya bingung saja, kenapa aunty meminta naya menutupi ini."
"Tidak perlu bingung, naya cukup lupakan saja anggap semua tidak pernah terjadi," kata wulan santai.
"Mana bisa seperti itu aunty, naya akan terus kepikiran jika tidak mendapat jawaban," protes Kanaya.
"Mommy dan daddy juga pernah minta hal yang sama pada naya untuk tidak menceritakan apapun jika ada yang bertanya tentang aunty, emang nya kenapa? apa ada yang ingin mencelakai aunty?" lanjut Kanaya kembali mengingat beberapa bulan yang lalu kedua orang tuanya mengingatkan hal yang sama seperti di katakan wulan.
__ADS_1
Wulan terdiam sejenak mencari akal, tidak mungkin ia berkata jujur pada kanaya.
Dan di balik pintu rizal mendengar semua yang di bicarakan kedua perempuan tersebut.
Rasa penasaran dan kecurigaan nya semakin besar jika wulan perempuan yang menyimpan banyak rahasia.
"Apa yang di minta wulan pada naya kenapa harus menutupi hingga dinda dan alvaro juga harus mengingatkan naya. Apa ini sesuatu yang memalukan?" batin Rizal penasaran masih bersembunyi ingin mendengar pembicaraan apalagi dari kedua perempuan tersebut.
"Naya masih kecil untuk sekarang aunty tidak bisa menceritakan apapun, tapi kalau naya sudah besar naya akan tau sendiri apa alasan aunty, mommy dinda dan daddy al meminta naya untuk tidak mengatakan apapun. Sekarang naya tidak perlu pikirkan ini lagi," kata Wulan.
Kanaya tidak menjawab, bocah kecil itu memasang wajah cemberut nya kesal pada wulan tidak ingin menjawab pertanyaan nya malah mengatai nya.
Wulan menyadari itu hanya bisa menghela nafas kasar pusing kenapa bocah kecil seusia kanaya ingin banyak tau masalah orang dewasa.
"Naya, aunty tidak bisa cerita sekarang tapi aunty janji akan menceritakan semua tapi bukan sekarang, tapi juga bukan saat naya besar. Aunty akan menceritakan semua pada naya secepatnya, aunty janji itu sekarang aunty hanya perlu waktu yang tepat." bujuk Wulan berharap bocah kecil itu tidak menolak.
"Aunty janji?" tanya Kanaya menatap lekat wulan.
"Janji," jawab wulan.
Keduanya nya pun melekat kedua jari kelingking masing-masing.
"Ya sudah sekarang naya selesaikan tugas nya baru kita main, oke," kata Wulan.
"Oke."
Rizal yang masih berada di balik pintu berdecak kesal tidak mendapat apapun dari pembicaraan mereka.
"Sial, kenapa tidak mereka bicarakan saja sih? sebenarnya hal apa yang di tutupi mereka?" gumam kecil rizal.
"Uhukkkh ... uhukk.... "
Mendengar suara batuk seseorang, pria itu segera menoleh penasaran.
"Kamu ngapain di situ Zal? kenapa tidak masuk saja?" tanya Dinda pada rizal yang berdiri di depan pintu kanaya.
Dinda dan alvaro saat itu ingin ke kamar dan kebetulan kamar mereka harus melewati kamar kanaya putri mereka.
Tapi langkah mereka terhenti karena rizal.
"Ini juga mau masuk."
Mendengar suara berisik di luar wulan dan kanaya keluar.
"Ada apa ini?" tanya Wulan bingung melihat rizal, dinda dan alvaro berada di depan pintu.
"Ini dek, suami kamu sejak tadi berdiri di situ tapi gak masuk-masuk," jawab Dinda.
"Apa dia mendengar pembicaraan ku dengan kanaya?" batin wulan menatap rizal dan orang yang di pandang berusaha bersikap tenang, ia yakin saat ini wulan mencurigai nya.
__ADS_1
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...