Menikah Karena Balas Dendam

Menikah Karena Balas Dendam
Bab 21: Bangkit untuk melawan


__ADS_3

🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻




🌹✨💞✨🌹


Di kamar wulan duduk termenung menatap wajahnya dari pantulan cermin meja rias.


Matanya menatap lekat kedua bola di dalam cermin itu, lalu berpindah pada dagu ada bekas cengkraman tangan rizal begitu jelas.


Melihat wajah lesuh tak berdaya di pantulan cermin, dia merasa sedih pada diri nya sendiri.


Tak ada kata yang bisa dia ucapkan lagi selain menatap wajah perempuan lemah yang selalu tertindas.


Jemarinya mengelus wajahnya.


"Sungguh malang, sampai kapan hidup akan terus mempermainkan mu? apa harus mati?" ucap Wulan menatap wajah datar nya.


"Hahaha ... kau sungguh lucu, mati? pria itu tidak akan membiarkan mu mati dengan muda sebelum mendapat apa yang di inginkan," tawa Wulan menjawab pertanyaan nya sendiri.


"Pria iblis seperti nya hanya ingin melihat mu menderita dan mati perlahan, untuk apa mengharapkan kebahagiaan yang tak akan pernah ada dalam hidup mu," lanjut Wulan menertawai dirinya merasa bodoh telah berharap sesuatu yang tidak akan pernah terjadi.


"Sadarlah, buka mata lebar-lebar lihat di depan, bukannya semua sudah jelas sekarang waktu nya bangkit kenapa terasa sulit untuk di lakukan. Jika terus seperti ini apa semua akan berakhir jika terus menangis, mengeluh. Awal semua memang berat tapi percayalah berat di awal akan berakhir bahagia di akhir."


Wulan menatap lebih dalam pantulan wajah nya di cermin, wanita itu sudah bertekad mulai hari ini akan melawan siapapun yang menindas dan menyakiti nya.


"Wulan yang lemah telah tiada, sekarang hanya ada wulan yang tegar siap menghadapi siapapun yang menyakiti nya," ucap Wulan serius kembali teringat semua perlakukan rizal padanya selama setahun begitu buruk seperti memperlakukan hewan.


Dia bangkit meraih ponsel di atas kasur.


Setelah mengirim pesan kepada ketiga sahabatnya melalui pesan group WA ia tak lagi memperhatikan ponsel nya, dan sekarang ternyata sudah banyak pesan dari ketiga orang tersebut dengan ocehan ini dan itu membuat nya membaca menghela nafas begitu cerewet nya santi dan dito.


Wulan membaca satu persatu, ia tak pernah kaget melihat kelakuan bar-bar dito dan santi secara nyata atau online seperti sekarang ini.

__ADS_1


Dengan adanya kedua orang tersebut ruangan awal yang sunyi akan menjadi rame dengan suara ocehan mereka yang jelas tidak akan habis.


"Mereka berdua sepertinya cocok, anak mereka akan seperti apa jika memiliki orang tua bar-bar?" ucap Wulan bertanya masih dengan mata membaca satu persatu pesan chat.


"Semoga saja anak mereka tidak bar-bar, astaga aku pikir apa sih bagaimana jika mereka tau aku memikirkan ini pasti akan kompak protes menyemprotkan ku dengan ocehan maut andalan mereka," wulan menggeleng kepala sudah memikirkan ke arah sana yang akan dilakukan santi dan dito.


"Amit ... amit ... kuping ku bisa budak lama-lama."


Wulan kembali scroll hingga menemukan pesan dari panji.


Panji: Jaga dirimu baik-baik jangan telat makan. Aku akan selalu ada di sisi mu selama nya.


Dito: Ingat woi ini bukan chat pribadi, ini group dan anggota nya bukan kalian berdua saja tapi masih ada kita, jadi silakan kirim pesan pribadi tidak perlu pamer.


Santi: Benar, kali ini gue setuju sama dito*.


Seperti itu lah isi pesan dari panji dan yang mana mendapat balasan dari kedua sahabatnya kesal dan mungkin iri.


"Kamu pria baik panji, aku beruntung bisa mendapatkan cinta mu, tapi maaf aku belum bisa menerima perasaan mu, hidup ku terlalu berat sekarang. Aku janji setelah semua selesai aku akan memikirkan ini," janji Wulan bahagia di kondisinya sekarang masih ada pria yang baik padanya.


Setelah mendapat perlakukan buruk dari pria yang tidak lain adalah suaminya sendiri, wulan sedikit trauma akan perilaku semua cowok sama dengan rizal yang selalu bersikap kasar pada wanita.


Rizal yang baru tiba di rumah langsung menanyai keberadaan wulan.


Pria tersebut tadi tidak langsung pulang setelah dari kampus, ia harus kembali balik ke kantor ada klien dari LN yang mendadak ingin rapat dengan nya tanpa di wakili.


Dan rizal tidak bisa melakukan apapun selain mengiyakan, dan setelah semua beres ia ingin langsung pulang tapi gagal dengan kedatangan lestari.


Lestari merindukan rizal, merindukan sentuhan hangat membuat nya terbuai akan tubuh rizal setiap saat.


Bahkan pria itu tidak menolak keinginan lestari menghangatkan ranjang nya, dia juga menginginkan sekalian ingin membuktikan apakah adik kecilnya akan bereaksi pada tubuh lestari atau tidak?


Dan ternyata adik kecil nya tak sekali tergoda melihat tubuh lestari.


Lestari sudah mencoba banyak cara agar adik kecil rizal masuk pada milik nya, tapi semua itu tidak pernah terjadi.

__ADS_1


Pria itu hanya bermain pada tubuh nya tidak lebih, tapi lestari tidak menyerah begitu saja untuk mendapatkan rizal seutuhnya.


Cara apapun akan di lakukan untuk mendapatkan apa yang di ingin kan meski itu harus melenyapkan orang.


"Bi, wulan pulang jam berapa tadi?"


"Nyonya pulang dari jam 11 tuan."


"Sekarang dia dimana?"


"Di kamar tuan, tiba tadi nyonya belum keluar juga dari kamar," lapor art sedikit mengkhawatirkan keadaan wulan.


"Baguslah."


"Bagus? apanya yang bagus, tuan memang tidak punya hati bukannya khawatir malah santai, " umpat art tersebut tidak berani mengatakan secara langsung pada rizal.


Art tersebut tidak sanggup dan tidak sekuat wulan dengan perlakukan rizal yang sudah memperlakukan manusia sama dengan binatang peliharaan.


"kenapa diam di situ, sana kembali kerja," usir Rizal menatap malas art nya lalu pergi.


"Sabar ... ini cobaan memiliki majikan seperti tuan rizal harus perbanyak istighfar agar tak terjerumus ke dalam dosa," ucap kecil art tersebut mengelus dada memandang kepergian tuan nya menaikkan tangga dan tentu menuju kamar nya.


Kamar wulan di bawah, jika ingin ke kamar wulan tidak mungkin naik tangga.


Rizal membuka jas yang di kenakan dan membuang sembarang arah lalu masuk ke kamar mandi.


Di dalam pria itu diam sambil memikirkan apa yang di lakukan bersama lestari tadi dan juga sebelum-sebelumnya.


Dia bahkan tak pernah tergoda untuk melakukan lebih pada perempuan mana pun, meski sangat menginginkan tapi adik kecil nya tetap tidak bergerak.


"Aneh, sebenarnya apa yang terjadi padaku? kenapa aset ku hanya bereaksi pada jalan*g itu, kenapa pada wanita lain tidak?" tanya Rizal bingung dengan dirinya sendiri.


"Apa aku harus konsultasi masalah ini sama dokter? tidak, bagaimana jika mereka menertawai ku, lagian ini bukan penyakit yang harus aku konsultasi. Astaga rizal kenapa kau seperti orang bodoh begini, kau benar-benar payah hanya karena memikirkan ini," maki Rizal pada dirinya sendiri.


Rizal mengacak kasar rambut kesal dan marah, karena wulan dia merasa seperti orang bodoh sekarang.

__ADS_1


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2