
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
🌹✨💞✨🌹
Wulan menemani rizal di dapur memasak, dia begitu takjub melihat pria itu makin kesini makin keren.
"Apa ini yang membuat ku jatuh cinta sama mas rizal? semoga saja kali ini semua berjalan lancar, aku ingin memiliki sosok pria yang dapat memberi ku kenyamanan dan melindungi ku dari ancaman orang jahat," batin Wulan penuh harap keinginan nya dapat menjadi nyata.
"Kenapa di lihat terus, gak ada niat bantu apa?" Rizal melirik wulan yang menatap nya tanpa ingin membantu.
"Tidak," Wulan menggeleng kepala.
"Aku tidak ingin masakan Mas yang cantik jadi berantakan, mending aku di sini melihat saja," sambung Wulan terang.
"Kata siapa seperti itu, ayo kemari aku akan mematahkan pemikiran mu dengan membuktikan jika campur tangan mu makanan ini menjadi jauh lebih cantik," ucap Rizal lalu berjalan menarik Wulan.
"Mas itu tidak perlu aku sudah membuktikan sendiri," tolak Wulan dan ingin pergi dari tempat tersebut.
Namun rizal langsung memeluk nya dari belakangan hingga membuat nya tak bisa bergerak pergi.
"Sayang percaya lah, kamu bisa ada aku di sisi mu yang akan mendampingi mu," Rizal menyakinkan wulan lalu menghirup dan mencium tengkuk wanita nya.
"Mas geli."
"Sayang, aku ingin kita rujuk. Aku akan mengatakan ini pada orang tua ku dan juga orang tua mu besok, apapun resiko nya aku terima," ucap Rizal serius.
"Tidak Mas, aku ragu Papa dan kak al menyetujui ini terutama kak al dia sangat marah setelah mengetahui semua ini," Wulan ragu kembali mendapat restu dari keluarga angkat nya.
"Aku tidak peduli dengan Alvaro, yang aku butuh kan pendapat mu iya atau tidak, bukan orang lain."
"Karena aku tidak ingin kehilangan mu untuk kedua kali nya, sebelum semua benar terungkap aku akan berada di sisi mu memberi kekuatan. Kita sama-sama hadapi ini, aku tidak akan membiarkan mu hadapi semua sendiri," sambung Rizal dalam batin.
"Tapi Mas a-"
"Percaya kan semua pada ku Wulan, biarkan orang tua mu menjadi urusan ku, sekarang terpenting kamu iya atau tidak," ucap Rizal cepat memotong perkataan Wulan.
Namun wulan masih terdiam belum memberi jawaban apapun.
Diam nya itu kembali membuat Rizal bertingkah mencium tengkuk leher wulan berulang-ulang, bahkan pelukan rizal semakin erat.
Wulan merasa sentuhan rizal semakin gila dan nakal, mencoba tenang tidak tergoda.
__ADS_1
Rizal menyadari itu berniat menjahili wulan, bibir nya menjilati tengkuk wulan dan mengh**ap memberi tanda kepemilikan.
Tubuh wulan seketika menegang, kedua gunung kembar nya pun merasa sengatan listrik.
"Mas, iya aku mau rujuk. Henti kan sekarang, aku tidak ingin kelepasan di sini, bagaimana juga kita belum menikah," putus Wulan tidak ingin rizal semakin menjadi, mengingat pria itu sangat nekat.
"Kamu serius sayang? aku tidak salah dengar kan ini? aku janji kali ini tidak akan membiarkan terluka lagi," ucap Rizal bahagia dan ceria mendengar keputusan wulan.
"Iya, sekarang lepaskan," ucap Wulan lagi.
"Baiklah, terima kasih sayang."
"Cup."
Kedua nya pun kembali memasak, rizal mengajari wulan dengan perlahan dan wanita itu sangat senang rizal begitu sabar mengajar nya.
Mereka menikmati waktu berdua di dapur dengan penuh semangat dan senyum tak pernah lepas dari ujung bibir masing-masing.
"Mas, apa kamu sering melakukan ini?" tanya Wulan.
"Ya, semenjak kamu pergi, aku selalu melakukan ini sendiri. Tapi sekarang tidak lagi kamu ada di sisi ku, kita akan melakukan semua bersama," jawab Rizal.
"Mas," panggil Wulan lalu berbalik menatap Rizal di belakang nya.
Wulan mengangguk mengiyakan itu benar. Ada hal yang ingin di tanyakan, tepat nya.
"Apa Papa yusuf akan menerima semua ini? aku ragu Mas, kamu tau bukan sikap Papa yusuf kepada ku terakhir kali bagaimana?" kata Wulan mengungkapkan apa yang ada di takutkan.
"Jangan pikirkan itu, meski nanti Papa tidak setuju aku akan tetap melakukan apa yang sudah menjadi keputusan ku," ucap Rizal menyakinkan wulan.
"Meski dia Papa ku sendiri, tidak akan ku biarkan dia melarang ku dalam meraih apa yang ku ingin kan," sambung Rizal dalam batin.
Waktu bergulir begitu cepat, sekarang kedua sudah menyelesaikan masakan mereka.
Ting-tong.
Ting-tong.
Suara bel apartment berbunyi.
"Seperti nya mereka sudah tiba," ucap Wulan sambil menatap rizal.
__ADS_1
"Ya sudah kamu atur ini, biar aku yang buka pintu," kata Rizal, lalu berjalan meninggalkan wulan.
Ceklek.
"Pa, Ma," sapa Rizal setelah pintu terbuka pertama yang di lihat kedua orang tua nya.
"Rizal, kamu di sini juga Nak?" tanya Mama Alma kaget melihat putra nya berada di apartment wulan.
"Iya, Rizal di sini, Mama silakan masuk saja wulan ada di dalam. Rizal pinjam papa nya sebentar ada hal yang ingin Rizal bicarakan," ucap Rizal, seolah Papa nya ini adalah barang hingga menggunakan kata pinjam.
"Baiklah, Mama masuk. Ingat apapun yang ingin kalian bicarakan jangan sampai ribut," pesan Mama Alma mengingatkan suami dan anak nya yang akhir ini setelah kepergian wulan selalu ribut tak pernah damai.
"Iya, Mama masuk lah," kata Rizal.
Setelah kepergian Mama Alma ke dalam, Rizal membawa Papa yusuf keluar dia tak ingin pembicaraan mereka ini di dengar wulan.
Wajah serius rizal menjadi tanda tanya buat Papa yusuf yang melihat itu.
"Apa yang ingin kamu bicarakan? apa sangat serius hingga harus di sini?" tanya Papa Yusuf setelah tiba di tempat yang menurut rizal aman.
"Sangat serius bahkan, jika wulan tau Papa akan habis," jawab Rizal.
"Maksud kamu apa? kenapa harus habis? Papa benar-benar tidak mengerti."
"Stop Pa! jangan berlagak tidak mengerti seperti ini. Rizal muak!"
"Papa benar-benar tidak mengerti, katakan semua dengan jelas jangan berbelit-belit."
"Oke, oke, Rizal akan jelaskan semua, Papa tidak mengerti bukan, sekarang dengarkan ini baik-baik. Rizal yakin setelah ini Papa akan mengingat semua bahkan sangat jelas hingga tidak akan melupakan lagi," ujar Rizal serius menatap tajam Papa Yusuf.
"Ya, katakan sekarang Papa ingin dengar," kata Papa Yusuf santai.
"Papa yang sudah membunuh keluar wulan, keluarga kita sendiri. Kenapa Papa tega melakukan itu? padahal wulan keluarga kita, wulan keponakan Papa, lalu kenapa Papa membantai semua keluarga nya? apa semua ini karena harta?" marah Rizal berapi-api muak melihat Papa Yusuf yang mendengar itu masih bisa bersikap santai.
Papa Yusuf bahkan tidak memperlihatkan wajah bersalah dengan semua yang sudah di lakukan di masa lalu.
Bahkan pria itu tersenyum ternyata rizal sudah mengetahui kejahatan di masa lalu nya.
"Ternyata kamu sudah mengetahui semua ini, apa wanita sial itu juga sudah mengetahui ini? oh tidak, seperti nya belum. Kalau iya tidak mungkin kalian masih bersama bukan?" kata Papa Yusuf santai.
"Hati Papa terbuat dari apa sebenarnya, kenapa Rizal merasa sedang berhadapan dengan iblis bukan dengan manusia."
__ADS_1
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...