
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
🌹✨💞✨🌹
Alvaro mengendarai mobil langsung ke mansion Papa naldo, wulan melihat arah pulang menuju apartment tidak sesuai jalan sebelum nya menjadi binggung dan bertanya.
"Kak, kita mau kemana? ini bukan jalan pulang ke apartment atau ke mansion kakak?" tanya Wulan penasaran.
"Kita ke mansion Papa naldo, ada yang ingin kakak dan mas al katakan," jawab Dinda.
"Oh, aku sudah lama tidak menemui Papa dan Mama," kata Wulan terlihat bahagia.
"Iya, kakak tau itu makanya kakak ajak kamu biar gak terlalu kepikiran sama masalah tadi, dan di sana kita akan membahas hal penting tentang masa depan mu," ucap Dinda.
"Masa depan apa nya kak? coba jelaskan aku tidak mengerti maksud perkataan kakak."
"Ya sudah kalau gak mengerti sekarang gapapa, nanti juga bakal tau kalau udah tiba di mansion Papa naldo."
"Terserah kakak saja," balas Wulan tidak ingin terlalu memikirkan.
Otak nya sudah terlalu lelah memikirkan masalah tadi di persidangan yang tertunda, belum juga memikirkan pernyataan cinta rizal yang hanya omong kosong.
Wulan sangat membenci rizal selain kejam pria itu juga pembohong besar, pria itu sudah mempermainkan perasaan nya.
Wulan terdiam memandang kaca luar jendela mobil, satu persatu perhatian rizal pada lestari menari-nari di benak dan hal itu membuat nya marah dengan perasaan sendiri.
Santi melihat sahabat nya terus terdiam tidak mengatakan apapun setelah di ajak bicara dinda, santi yakin wulan pasti memikirkan pak rizal yang begitu perhatian pada lestari.
__ADS_1
Dia pun sama hal dengan wulan sangat kesal dan marah, tapi tak bisa berbuat banyak selain berdoa minta di beri kekuatan dan kesabaran yang ekstra dalam menjalan ujian hidup nya.
"Aku tau apa yang kamu rasa kan sekarang, kamu perempuan yang kuat Lan, aku yakin kamu bisa lewati semua ini dan melupakan pak rizal. Panji begitu besar mencintai mu, kenapa tidak bisa kamu melihat cinta nya itu untuk mu Lan? jangan menyiakan seseorang yang begitu besar mencintai mu hanya untuk pria yang belum pasti bisa kembali, kadang kita harus memilih satu dari dua yang terbaik dan aku yakin yang terbaik itu adalah panji bukan pak rizal, aku harap suatu saat nanti kamu bisa sadar dan lihat itu semua," monolog Santi menoleh pada wulan yang setia melihat pemandangan luar.
30 menit kemudian...
Mereka kini sudah tiba di mansion Papa naldo, dinda mengambil alih kenan dari gendongan mama Sofia.
Wulan izin ke kamar nya, dia sangat merindukan kamar yang di tempati dulu dan santi mengikuti wulan pergi.
"Lan, kenapa kamu gak pernah bilang kalau mansion mu lebih besar dari ku?" mata santi di buat tabjuk melihat perabotan mansion orang tua wulan begitu mewah.
"Untuk apa? ini bukan punya ku, tapi orang tua ku, jadi aku rasa tidak perlu mengatakan apapun," jawab Wulan terus berjalan masuk ke kamar nya.
Cekrek...
Lagi dan lagi mata santi berbinar melihat indah nya desain kamar wulan.
"Waw ... Lan kamar mu sumpah benar-benar indah aku jadi iri, kenapa kamar ku tidak secantik ini?" tanya Santi iri.
Wulan berjalan memutari kamar nya, entah kenapa berada di sini hati nya lebih sedikit tenang, di kamar ini tempat dia menjadi perempuan berani, tidak ada kesedihan yang di rasa kan hari-hari di lalui penuh keceriaan dan bahagia yang selalu menghiasi wajah nya.
Wulan berjalan menyentuh meja belajar yang selalu di gunakan dulu untuk belajar, dia mengingat jelas satu tahun yang lalu, di mana dia merasa beruntung di pertemukan orang baik yang mau menganggap nya keluarga dan memberi semua fasilitas dan kasih sayang yang tak pernah dia dapat kan lagi setelah kematian keluarga nya.
"Kenapa jalan hidup ku seperti ini? kenapa rasa nya begitu sulit untuk bahagia? apa aku tidak pantas bahagia? bunda ayah, wulan rindu, doakan wulan dari atas sana agar mampu melewati semua ini," doa Wulan penuh harap dalam hati.
"Lan kamu kenapa? kok muka nya kayak sedih begitu? apa ada yang kamu pikirkan?" perhatian Santi sambil berjalan mendekati Wulan.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya teringat masa lalu ku saat masih berada di sini, tempat ini banyak kenangan, dulu aku bukan perempuan cengeng seperti sekarang, aku perempuan ceria dan pemberani tidak takut sama apapun itu hingga aku percaya suatu saat nanti tidak akan terpuruk menangis karena pria, tapi aku salah semua yang ku wanti-wanti itu malah terjadi semua nyata," curah Wulan menceritakan sebagian kecil kehidupan nya.
"Kamu wanita yang baik Lan, aku yakin suatu saat nanti kamu akan mendapatkan kebahagiaan hingga luka yang pernah kamu rasa kan tidak pernah kamu rasa kan lagi," monolog Santi berdoa untuk kebahagiaan sahabat nya.
__ADS_1
Di sisi lain, di lantai satu alvaro, dinda, papa naldo dan mama sofia duduk berkumpul di ruang keluarga.
Alvaro mengungkap apa yang menjadi tujuan utama mereka datang, dan dinda membantu menjelaskan tujuan mereka.
Papa naldo dan mama sofia mendengar semua dengan seksama.
Dinda menceritakan semua tanpa di tutupi lagi, papa dan mama berhak tau apa yang terjadi pada wulan.
Awal nya mama dan papa masih terlihat biasa, beberapa menit kemudian wajah kedua nya berubah menjadi merah.
Papa naldo sangat marah, dia tidak menyangka kehidupan rumah tangga putri angkat begitu menderita, selama ini dia mengira wulan hidup bahagia bersama suami nya tapi dugaan nya itu salah.
"Kurang ajar, jika Papa tau dia tidak mencintai wulan tidak akan Papa beri izin, kenapa kalian baru kasih tau Papa sekarang? kenapa tidak sejak dulu?" tanya Papa naldo sangat marah.
"Benar dinda, kenapa baru sekarang kamu katakan pada Papa dan mama? kalian menganggap kita ini apa?" tambah Mama Sofia juga marah dan kecewa.
"Pa, Ma, kita juga baru tau ini kemarin, wulan gak pernah cerita. Kita tau semua ini saat rizal datang mencari wulan di mansion dan dari situ kita baru tau," jelas Dinda yang benar-benar baru tau.
"Lalu apa rencana kalian ke depan nya?" tanya Papa naldo.
"Aku dan mas al sudah berdiskusi, dan kita berdua memutus untuk membawa wulan pergi dari Indonesia, bagaimana apa papa dan mama setuju?" tanya Dinda hati-hati.
"Papa dan mama setuju-setuju saja, tapi kemana kalian akan membawa wulan pergi?"
"Kita akan bawa wulan ke Korea selatan di Seoul, kota Seoul begitu besar jadi jika seandainya rizal berhasil mengetahui wulan di Korea selatan belum tentu rizal bisa menemui wulan. Dan mas al sudah mempersiapkan itu semua di sana," jelas Dinda.
"Papa setuju, bagaimana dengan Mama?"
"Iya Mama juga."
"Karena semua sudah setuju kita hanya tinggal bicara ini sama Wulan," ucap Dinda finish.
__ADS_1
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...