Menikah Karena Balas Dendam

Menikah Karena Balas Dendam
Bab 63: Telpon


__ADS_3

🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


β€’


β€’


πŸŒΉβœ¨πŸ’žβœ¨πŸŒΉ


Setelah kepergian Mama alma dan Risma, wulan beranjak kembali masuk ke kamar.


Santi pun mengikuti wulan masuk ke kamar.


"Lan, tuh adik nya pak rizal ngeselin banget tau, tadi rasanya aku pengen jambak saja rambut nya," omel Santi kesal mengingat kejadian tadi.


"Enggak tuh kamu nya aja yang ngerasa gitu aku biasa saja," balas Wulan dengan wajah santai.


"Apa loh bilang biasa aja? coba deh buka lebar-lebar tuh mata kalau perlu aku temani kamu ke dokter cek mata mungkin saja ada gangguan," kata Santi makin kesal dengan balasan dari wulan.


"Gak usah lebay kayak gitu, udah mending kamu diam aku mau lanjut nonton malas ladenin kamu yang gak ada obatnya ngedumel mulu," ucap Wulan seraya duduk kembali di bawah kasur melanjutkan drama tontonan.


Namun baru beberapa detik memutar kembali tontonan di layar laptop, ponsel nya berdering.


Melihat nama tertera di layar ponsel, wulan segera mengangkat.


πŸ“ž:"Ha-"


πŸ“ž:"Astaga dek, kenapa baru di angkat sekarang, kamu hampir membuat kakak gila tau, sejak tadi kakak sudah menghubungi kamu tapi tidak juga di angkat ngapain saja kamu? sekarang katakan di mana kamu, kakak dan mas al akan menjemput kamu," ucap Dinda cepat memotong perkataan wulan.


πŸ“ž:"Kak ada apa sebenarnya kenapa kakak jadi cerewet seperti ini? aku baik-baik saja tidak perlu menjemput ku, maaf aku baru mengangkat tadi ada urusan jadi gak tau kalau kakak sejak tadi menghubungi ku," jelas Wulan kenapa baru mengangkat panggilan telepon kakak nya.


πŸ“ž:" Stop membohongi kakak Dek, kakak sudah mengetahui semua nya, suami mu tadi ke rumah kakak, apa lagi yang ingin kamu tutupi? apa kamu sudah tidak menganggap kakak ini keluarga mu lagi? apa kamu sudah merasa sangat dewasa hingga tidak perlu kakak, mama dan papa? oke jika itu keputusan kamu kakak terima mulai sekarang jangan pernah menganggap kakak, kakak mu lagi," marah Dinda sedikit kecewa adiknya masih bisa bersikap baik-baik saja padahal rumah tangga nya sudah di ambang kehancuran.


πŸ“ž:"Kak jangan seperti itu, baiklah aku akan ke sana kakak tidak perlu menjemput ku," ucap Wulan tidak ingin mendengar kata-kata itu.


Wulan tak memiliki siapa pun di hidup nya selain keluarga angkat nya, dan sahabatnya.


πŸ“ž:"Baiklah kakak tunggu sekarang."


Wulan menatap ponsel, kakak nya mematikan panggilan sepihak entah kenapa pasti karena marah padanya.


Huftt...

__ADS_1


Wulan menghembuskan nafas kasar, meletakkan ponsel di samping ranjang dan beranjak turun dari kasur.


"Kenapa Lan? kak dinda minta kamu balik?" tanya Santi yang tadi mendengar obrolan kedua di telpon.


"Hmmm."


"Kok bisa?"


"Tentu bisa karena Mas rizal tadi ke rumah dan kakak udah tau semua."


"What!" kaget Santi dengan okta suara dua kali dari biasa.


"Gak usah teriak juga San, sakit tau telinga ku," tegur Wulan sambil mengusap telinga nya.


"Nama nya juga kaget Lan? emangnya ngapain pak rizal cariin kamu?" tanya Santi lagi kepo.


"Mau tau?" tanya Wulan menatap serius Santi.


"Iya jelas dong, kalau kagak ngapain aku tanya Wulan ku sayang," jawab Santi gemas pada wulan hal begini harus di tanyakan lagi.


"Gak tau," balas Wulan dengan wajah santai pergi meninggalkan santi yang masih berdiri bingung.


"Lan gak tau maksudnya apa?" teriak Santi memandang kepergian wulan yang masuk ke dalam ruang ganti.


"Mas apa yang kamu tau selama ini tentang rumah tangga wulan? jangan bilang tempo hari itu wulan menangis ada sangkut paut nya dengan yang terjadi sekarang?" tebak Dinda dengan tatapan tajam menatap suaminya.


"Aku tidak tau sayang, saat itu aku masih curiga dan bertanya-tanya pada wulan, tapi dia tak mengatakan apapun," jelas Alvaro.


"Kamu serius gak bohong kan Mas? dan kenapa kemarin tidak langsung kasih tau aku?"


"Maaf sayang, kemarin aku gak mau buat kamu kepikiran aku rasa aku bisa urus semua sendiri."


"Dan sekarang gimana hasilnya Mas? berhasil bukan? apa tadi kata mu tidak ingin membuat mu kepikiran? tapi sekarang kamu malah membuat ku sangat kepikiran, jika saja aku tau ini sejak awal mungkin semua tidak akan jadi begini."


"Aku gak tau masalah ini akan melebar seperti ini."


"Tapi sekarang sudah melebar tanpa kamu pikirkan Mas."


"Maaf sayang aku janji lain kali gak lagi, aku akan mengatakan semua apapun itu besar atau sekecil sekaligus," janji Alvaro meraih tangan dinda mencium dengan lembut.


"Iya Mas, tapi lain kali jangan lagi aku berhak tau apapun itu tentang wulan, bukannya kita sudah berjanji tidak menutupi apapun meski itu besar, kecil atau sesuatu yang dapat membuat kita drop sekaligus."

__ADS_1


Wulan yang sudah tiba di depan mansion dinda segera memencet bel.


Ting ... Tong ... Ting ... Tong....


Ceklek...


"Nona," sapa bibi tunduk seraya membungkuk hormat pada adik majikan nya.


Wulan membalas dengan senyuman.


"Kak dinda dan kak Alvaro di mana?" tanya Wulan menoleh pada bibi.


"Nyonya dan Tuan ada di ruang keluarga Nona."


"Oh, terimakasih. Bibi bisa kembali."


"Assalamu'alaikum kak," salam Wulan tiba di ruang keluarga melihat kedua orang yang sedang bermesraan.


Entah kenapa melihat kedua orang tersebut Wulan menjadi iri, rasanya dia ingin di sayang suami seperti alvaro menyayangi istri nya dinda.


Tapi semua langsung di tepis karena sampai kapanpun dia tidak akan mendapatkan itu.


"Sayang jangan meminta sesuatu yang tidak akan pernah bisa terjadi," batin Wulan mengatakan pada baby nya.


"Walaikumsalam, sini duduk dek," jawab Dinda mempersilakan Wulan untuk duduk di samping nya.


"Sekarang cepat katakan apa yang terjadi dengan rumah tangga mu? kenapa sampai ingin bercerai? kenapa kakak baru tau sekarang? kamu tau mendengar rizal mengatakan pengadilan belum memutuskan kan perceraian kalian, betapa kaget nya kakak, sampai langsung menghubungi kamu," omel Dinda mengungkapkan betapa khawatir nya dia tadi memikirkan wulan.


"Maaf kak, aku gak mengatakan semua ini karena aku gak mau kakak kepikiran dengan masalah ku, lagian semua ini masih bisa aku atasi," ucap Wulan.


"Kamu bilang gak ingin kakak kepikiran? kenapa kamu sama saja dengan Mas al mengatakan tidak ingin aku kepikiran, tanpa kalian sadari tindakan kalian ini malah lebih membuat ku khawatir. Sekarang ceritakan semua apa yang terjadi hingga kamu memutuskan untuk bercerai dengan rizal? apa benar rizal menyakiti mu, hingga kamu tidak kuat?"


"Katakan saja dek, lagian semua sudah berakhir, untuk apa masih kamu tutupi dari kita?" sambung Alvaro menatap wulan yang terdiam belum juga mengatakan apapun.


"Benar yang di katakan Mas Al, Dek. Tidak perlu ada yang harus kamu tutupi lagi," ucap Dinda.


"Baiklah aku akan menceritakan semua pada kakak, tapi setelah ini aku minta jangan di bahas lagi, aku tidak ingin mendengar namanya lagi," pinta Wulan meminta satu hal sebelum menceritakan.


"Baiklah kakak janji," ucap Dinda di angguk setuju Alvaro.


...Bᴇʀsα΄€α΄Κ™α΄œΙ΄Ι’......

__ADS_1


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2