
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
🌹✨💞✨🌹
Wulan mengikuti kemana langkah Rizal membawa nya.
"Masuk lah," ucap Rizal membuka pintu mobil mempersilakan wulan masuk.
"Kenapa harus masuk? ingin bicara bukan? ya, di sini saja tidak perlu masuk," tolak Wulan tidak mau masuk.
"Wulan," panggil Rizal dengan tatapan seolah mengatakan tidak masuk tidak masalah, tapi akan ada cara lain lebih menarik.
"Oke," putus Wulan tak memiliki pilihan lain lagi.
Wulan dengan berat hati masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi samping mengemudi.
"Katakan apa yang ingin kamu katakan, aku tidak memiliki banyak waktu kelas ku 30 menit lagi, aku tidak ingin telat," ucap Wulan memperingati.
"Jurusan kamu masih sama bukan seperti dulu?" tanya Rizal dan wulan mengerut kening binggung.
"Hey, masih sama bukan kenapa melamun? apa sekarang kamu baru menyadari ketampanan suami mu ini?" pede Rizal dengan senyum menggoda.
"Gak usah geer, lagian kamu bukan suami ku lagi kita sudah bercerai," tegas Wulan.
"Iya, sekarang katakan jurusan mu masih sama seperti dulu bukan?" tanya Rizal lagi sambil menatap lekat wajah wulan wanita yang membuat nya hampir gila selama 18 bulan.
"Ya, aku sudah menjawab sekarang giliran mu katakan apa yang ingin kamu katakan? aku benar tak memiliki banyak waktu sekarang."
"A, B, C, atau D?" tanya Rizal lagi bukan menjawab malah bertanya kembali.
"Kenapa? bukan sudah ku katakan yang kamu tanya kenapa bertanya lagi? apa itu penting aku berada di urutan berapa?"
"Katakan saja tidak perlu bertanya balik."
"Seharusnya aku yang berkata seperti itu bukan kamu," kesal Wulan Rizal selalu membuat nya habis kesabaran.
"Apa sulit untuk mengatakan A atau B?"
__ADS_1
"Tidak."
"Lalu kenapa tidak kamu katakan?"
"Ya, ya, ya, akan aku katakan biar cepat kelar.
B. Sekarang giliran mu cepat katakan atau aku keluar dari sini," ancam Wulan merasa di permainkan Rizal.
Pria tersebut sejak tadi bukan menjelaskan apa yang ingin di jelaskan malah bertanya hal yang tidak penting mengenai jurusan nya.
Rizal tidak mempedulikan ancaman wulan, dia mengeluarkan ponsel nya dan entah apa yang pria itu lakukan kini membuat wulan yang melihat menjadi penasaran.
"Mas, apa yang kamu lakukan? kenapa malah sibuk dengan ponsel," ucap Wulan lagi benar-benar kesal jika dia memiliki keberanian pria tersebut sudah dia tonjok.
"Mengabari dosen jika hari ini kamu izin," balas Rizal santai seraya memberikan ponsel nya pada wulan lalu mengendarai mobil meninggalkan area kampus.
"Mas apa yang kamu lakukan? aku ingin masuk kelas, cepat henti kan emangnya kemana kamu ingin membawa ku?"
"Kamu akan tau nanti, diam lah aku tidak ingin tenggorakan mu sakit," ucap Rizal.
"Bukan urusan, cepat katakan sekarang atau aku teriak," ancam Wulan semakin tekad di perlakukan seperti ini oleh Rizal semena-mena nya.
Glek....
Seketika wulan terdiam tak lagi mengoceh, Rizal melirik wanita tersebut dari ekor mata nya tersenyum kecil yang tidak bisa di sadari wulan jika dia tersenyum.
"Kamu sangat cantik jika diam seperti itu," ucap Rizal menggoda wulan.
Wulan tak membalas, wanita tersebut mengunci rapat bibir nya terserah apa yang di katakan rizal dia akan terus diam.
Rizal tak lagi bicara, dia tau saat ini wulan lagi marah pada nya soal ancaman tadi, ya memang benar ancaman itu akan dia lakukan jika wulan nekat.
Selama perjalanan tidak ada pembicaraan hingga mobil rizal berhenti di sebuah gedung besar yang tak asing bagi nya.
Wulan tidak lupa gedung ini.
"Kenapa kamu mengajak ku sini?" tanya Wulan penuh selidik sedikit curiga maksud rizal membawa nya kemari.
"Turun lah aku akan mengatakan nanti saat kita masuk, kamu ingin tau bukan yang ingin ku katakan?"
"Iya, tapi kenapa harus membawa ku sini? apa tidak ada tempat lain? jangan-jangan kamu punya niat jahat padaku?"
__ADS_1
"Sudah Wulan please buang jauh pikiran buruk mu tentang ku, aku sangat mencintai mu tidak mungkin aku tega melakukan hal jahat pada wanita yang ku sayangi," kata Rizal jujur tidak pernah terlintas di benak nya menyakiti wulan sekecil apapun itu.
"Stop mengatakan itu Mas aku muak."
"Tidak, aku akan selalu mengatakan ini hingga kamu percaya jika aku benar mencintai mu, aku tidak pernah berbohong mengenai perasaan ku padamu percaya lah itu," balas Rizal menyakinkan wulan jika ini bukan kebohongan tapi kebenaran mengenai perasaan hati nya yang di rasakan untuk wulan.
"Terserah karena aku tidak akan percaya dengan semua yang keluar dari mulut mu," kata Wulan.
"Tidak masalah tapi aku akan selalu mengatakan ini hingga kamu percaya. Ayo kita keluar," anak Rizal lalu keluar.
Tapi wulan masih tidak ingin keluar, wanita itu masih saja keras kepala.
"Kamu serius tidak ingin turun?"
"Iya, kenapa kamu mau marah? silakan aku sudah biasa melihat kamu marah padaku itu bukan hal baru lagi," jawab Wulan menantang tidak takut pada pria yang menatap lekat wajah nya.
Sebenarnya saat ini wulan sudah sangat takut, dia khawatir rizal akan menyakiti seperti biasa yang sering di lakukan setiap dia membalas perkataan nya.
Tapi ini aneh pria tersebut sama sekali tidak menunjukkan reaksi kesal atau marah, wajah nya malah terlihat santai dan tersenyum menatap nya dan tatapan itu juga seperti bukan tatapan benci, entah lah wulan tidak ingin memikirkan hal yang terlalu jauh dalam menyimpulkan sesuatu yang belum tentu dapat di pastikan.
Wulan tidak ingin terlalu cepat kemakan omongan pria yang sudah terlalu banyak memberi luka padanya.
"Aku tidak akan marah, mana tega aku marah pada wanita yang ku cintai," kata Rizal.
Wulan benar-benar binggung sebenarnya apa yang terjadi dengan Rizal, kenapa pria tersebut bisa begitu sabar dengan perkataan nya.
Rizal yang sekarang seperti bukan Rizal yang dulu. Bahkan sejak tadi wulan tidak mendengar nada tinggi atau amarah rizal.
Entah kenapa perubahan rizal masih sulit untuk wulan percaya.
"Ayo keluar, atau kamu ingin ku gendong?" tanya Rizal menawarkan diri, dan sontak saja wulan segera turun.
"Tidak, aku bisa sendiri," jawab Wulan cepat yang kini sudah berdiri tegak di samping rizal.
"Kenapa aku harus bertemu dengan nya, dan sebenarnya apa mau dia membawa ku ke sini? tenang aku tidak boleh kelihatan takut atau dia akan mengambil kesempatan dari ketakutan ku ini," monolog Wulan sebisa mungkin mengontrol diri.
"Kamu dari dulu selalu pandai menyembunyikan perasaan yang kamu rasakan di balik wajah mu itu, apa ini juga yang kamu lakukan setiap aku menyakiti mu, maaf aku benar-benar menyesal, aku janji akan membuat mu bahagia dan tidak akan ku biarkan seorang pun menyakiti mu meski itu papa ku sendiri yang nanti akan menentang keras hubungan kita," monolog Rizal penuh tekad akan memperjuangkan wulan.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...
__ADS_1