
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
🌹✨💞✨🌹
Sidang sudah berlangsung selama satu jam, banyak pertanyaan yang tanya kan oleh kuasa hukum pada wulan maupun rizal.
Setiap kuasa hukum bertanya, jawaban wulan selalu sama tidak ada kecocokan, dan ingin pisah tanpa mengatakan kejadian sebenarnya.
Berbeda dengan Rizal mengatakan jawaban aneh, membuat alvaro mendengar itu menjadi marah.
"Saya memang menyetujui gugatan perceraian istri saya, tapi setelah ini kami akan kembali rujuk," ucap Rizal dengan wajah santai.
Jawaban rizal itu sontak membuka para saksi yang menghadiri sidang kaget.
Kuasa hukum yang binggung jawaban berbeda dari kedua orang tersebut merasa seperti sedang di permainkan.
Bagaimana tidak? yang satu mengatakan ingin pisah karena tidak cook, yang satu mengatakan akan kembali rujuk setelah cerai.
Bukan kah itu jawaban yang aneh yang pernah di dengar? bagaimana kuasa hukum tidak merasa di permainkan? jika ujung nya perceraian ini akan kembali membuat mereka rujuk, dan sebaiknya tidak ada perceraian, bicarakan semua baik-baik tanpa membawa pengadilan.
Pengadilan bukan lah tempat kunjungan senang-senang yang di mau.
Wulan menatap tanya pada rizal apa maksud perkataan nya, kenapa berbelit-belit dalam memberi jawaban.
Jika seperti ini kuasa akan merasa di permainkan, dan sidang ini akan lebih panjang dari perkiraan nya.
"Ada apa dengan Mas Rizal? kenapa berkata seperti itu?" batin Wulan bertanya sambil memandang rizal.
Pria tersebut yang di tatap wulan membalas dengan senyuman manis yang di punya.
Dan tentu saja semua tidak luput dari penglihatan lestari.
"Ada apa ini? jawaban apa yang di berikan Rizal, kenapa berbeda dari ekspetasi ku?" monolog Lestari mengepal kuat tangan sambil menatap penuh benci pada wulan.
Setelah dari toilet lestari terus menggunakan masker tanpa melepaskan, lestari juga menggunakan syal di leher nya.
__ADS_1
Santi melihat lestari dari kursi duduk nya, tersenyum penuh kemenangan rencana berjalan sempurna tanpa ada kendala.
Meski pelakor tersebut menggunakan masker, Santi yakin pelakor itu menatap penuh benci dan ribuan rencana jahat sudah mengelilingi otak nya.
Tidak ada rencana baik di otak lestari, karena pelakor itu sangat serakah.
"Sayang kamu lihat pria itu dia membuat hakim pusing dan aku yakin hakim merasa sedang di permainkan sekarang, jika ini terus berlangsung sidang nya tidak akan selesei," ujar Alvaro menyaksikan dari kursi nya.
"Aku pun merasa hal yang sama Mas, Aku binggung sebenarnya apa mau Rizal, kenapa dia suka membuat wulan menderita," jawab Dinda pelan.
"Kita tidak bisa diam begini, kita harus melakukan sesuatu," kata Alvaro.
"Tapi apa? aku sedang tidak punya solusi sekarang."
"Santi, apa kamu punya solusi?" tanya Dinda menatap nya.
"Solusi apa kak?" tanya Santi tidak tau maksud pertanyaan kakak sahabat nya ini.
Sejak tadi pandangan nya hanya pada lestari, bahkan pikiran nya pun semua tentang lestari. Sehingga obrolan kedua orang tersebut tidak di dengar santi.
"Kamu tidak dengar sejak tadi kita bicara apa?"
"Maaf kak, tadi aku fokus ke depan jadi gak terlalu dengar obrolan kakak," bohong Santi.
Dia jam berlalu...
Sidang pun berakhir, dan hakim belum memutus kan apapun karena merasa di permainkan dan semua itu karena jawaban Rizal.
Wulan kesal, dan lestari jauh lebih kesal melihat semua ini, ekspetasi nya benar-benar tidak terjadi semua begitu jauh dari bayangan.
"Kau kenapa pelakor, aku melihat tatapan mu seperti sangat senang, apa ada sesuatu yang membuat mu bahagia? oiya kenapa sejak kembali dari toilet kau terus menggunakan masker? apa ada sesuatu yang tutupi dari kami?" tanya Santi memojoki lestari rasa nya begitu puas bisa melakukan ini apalagi mempermalukan nya.
"Bukan urusan mu, urus saja urusan mu bocah," ketus Lestari tidak bisa ekstra marah bibir nya benar-benar terasa aneh dengan keadaan seperti sekarang ini.
"Pak rizal, apa bapak tidak penasaran atau curiga dengan kekasih bapak ini, kalau saya sih sangat yah, karena dari gelagat nya saja sudah gak benar pasti ada yang gak beres," ucap Santi mengompori dosen nya tersebut.
Melihat tampang pria yang di kompori tersebut seperti sedang berpikir senyum santi seketika terukir.
Gerak-gerik santi tidak lepas dari pandangan lestari sejak tadi.
__ADS_1
"Sial, seperti nya ini rencana nya, awas saja kau bocah, kau mencari lawan yang salah tidak akan aku biarkan kau lolos nanti," batin Lestari berjanji akan membalas perbuatan santi ini.
"Kamu kenapa lestari? apa benar ada sesuatu yang kamu tutupi dari kita? coba lepaskan masker mu sekarang?" titah Rizal tidak ingin di tolak.
"Sayang jangan percaya dengan omongan bocah gak jelaskan ini, mana mungkin aku menutupi sesuatu dari mu, kalau semua yang ada di dalam diri ku sudah kamu lihat semua," jawab Lestari percaya diri tidak tau malu.
Jawaban lestari tersebut sontak membuat rizal menoleh pada wulan dia tidak ingin wanita yang di cintai itu sedih, tapi seperti nya tidak, wulan tidak memberi ekspresi apapun.
Wajah wulan begitu datar.
"Jaga ucapan mu lestari," tegur Rizal agak kesal.
"Kenapa sayang bukan nya yang ku katakan ini kebenaran? aku bahkan sudah hafal setiap lekuk tubuh mu, dan kamu juga seperti ku bukan? memang kita pasangan yang cocok," balas Lestari dengan wajah santai sengaja memanas-manaskan wulan.
Tapi orang yang di ingin kan memberi respon, sama sekali tidak kepancing, bahkan ekspresi wulan begitu santai seperti tidak keberatan apapun yang dia dan Rizal lakukan.
"Nih perempuan kenapa sejak tadi diam saja? apa dia tak marah atau kesal? kenapa ekspresi nya seperti wanita mati rasa? dia benar-benar menyebalkan," monolog Lestari kesal, niatnya ingin wulan kesal malah sebalik nya.
Santi melirik wulan yang tampak santai tak kaget lagi, karena ekspresi seperti itu sudah biasa yang di perlihatkan wulan.
"Kau salah cari lawan pelakor, kau pikir wulan akan kepancing sama umpan murahan loh itu? salah pancingan lo sampai kapan pun tidak akan berhasil," monolog Santi.
"Sudah hubungan terlarang kalian tidak perlu di umbar di sini, umbar saja di dalam kamar sekarang kita lagi di tempat umum, gak malu apa di dengar orang? ups saya lupa pelakor kan gak punya malu, mungkin saja dia menutupi wajah dengan masker karena habis melakukan dosa bersama seseorang saat izin ke toilet? benar bukan, perkataan ku gak mungkin salah dong, benar kan?" Santi menaik turunkan alis semakin memojoki lestari.
Dinda dan alvaro yang sejak tadi diam menyaksikan menjadi penasaran apa sebenarnya yang terjadi.
Mereka kini ingin mengetahui apa yang di tutupi lestari di balik masker nya itu, dan kenapa mendadak memakai syal di leher, padahal saat ini cuaca sedang panas.
"Lepaskan masker mu sekarang!" tegas Rizal dengan sorotan tatapan tajam membunuh pada lestari.
"Tapi sayang ak-"
"Saya bilang lepas ya lepas jangan banyak ngebantah apa memang benar yang di katakan perempuan ini pada mu?"
"Tentu benar dong Pak, bukti nya saja sudah jelas dia tidak ingin melepaskan masker nya, jika tidak terjadi apa-apa, dia pasti akan langsung melepaskan saat bapak minta tapi ini tidak," tambah Santi sedikit menambahkan cabe.
"Kau bocah gila lihat saja pembalasan ku nanti," batin Lestari marah penuh tekad.
"Aku akan menunggu pembalasan mu pelakor serakah," batin Santi yang tau lestari pasti sedang mengumpat nya.
__ADS_1
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...