
π»H 4 P P Y R 3 4 D I N Gπ»
β’
β’
πΉβ¨πβ¨πΉ
Kedua orang tersebut masih berbincang, hingga rizal menyadarkan wulan jika tugas nya harus segera di selesaikan.
"Sayang, tugas kamu belum selesaikan?"
"Belum Mas, emang nya harus hari ini ya di kumpulkan?" kata Wulan lalu berbalik tanya.
"Tidak juga besok masih bisa," jawab Rizal.
"Bagus lah kalau seperti itu," ucap Wulan lega.
"Bagus apa nya? sekarang ayo kita selesaikan tugas mu, jangan pemalas. Aku akan ajarkan kamu, cepat bangkit lah," ajak Rizal yang sudah terlebih bangun.
"Tidak, kita kerja di sini saja, di meja mu banyak buku aku tidak bisa bergerak bebas," tolak Wulan melirik meja rizal penuh dengan tumpukan buku.
"Baiklah kita kerja di sini," putus Rizal, karena yang di katakan wulan memang benar.
Setelah mendengar itu, mata rizal mengarah pada lirikan wulan.
Dan benar saja meja nya penuh dengan tumpukan tugas mahasiswa.
Padahal ini adalah hari kedua nya mengajar tapi meja nya sudah penuh, semua itu karena tugas dari dosen sebelum yang kini dia gantikan itu di berikan pada nya hingga meja bisa sepenuh sekarang.
Wulan tak menghiraukan pria itu, dia segera mengeluarkan buku dari tas nya lalu mulai mengerjakan, namun sebelum itu dia meminta beberapa pada rizal.
Rizal mendengar itu mengangguk lalu berbalik berjalan menuju meja mengambil buku yang di minta wulan.
"Ini, jika ada yang tidak kamu mengerti tanyakan saja pada ku," kata Rizal seraya menyodorkan buku pada wulan.
"Oke, Mas bisa lanjutkan kerjaan Mas."
"Iya," sahut Rizal lalu duduk di samping wulan.
Kedua sibuk dengan tugas masing-masing tak ada pembicaraan antara kedua. Rizal sesekali melirik wulan.
Meski sekarang sudah mampu menyakinkan wulan, rizal ragu semua akan terus seperti ini.
Hati nya benar-benar kacau untuk saat ini. perasaan takut semakin besar mengingat wulan sangat menginginkan balasan pada orang jahat itu.
"Secepat nya aku harus menyelesaikan ini," batin Rizal penuh yakin tidak ingin menunda lebih lama lagi.
__ADS_1
"Apapun kedepan nya yang terjadi aku akan mempertahankan mu wulan, aku tidak peduli tentang masa lalu. Kamu adalah masa depan ku," sambung Rizal dalam batin.
Sedangkan di sisi lain.
Seorang pria yang sedang duduk di kursi kebesaran nya dengan santai mendadak raut wajah nya berubah ketika panggilan telpon terputus.
Brak!
"Sial, bagaimana mereka bisa bertemu," marah pria tersebut mengebrak meja dengan sangat kuat tanpa memperdulikan sakit di tangan.
"Tidak, aku tidak boleh panik, sekarang waktu nya menjalankan rencana B, jika rencana A gagal bukan berarti tidak ada rencana berikut nya," ucap Pria tersebut kembali mencoba menenangkan diri.
"Selamat datang di neraka bersiaplah menyusul keluarga mu, setelah ini tidak akan ada kebahagiaan terukir di wajah mu," sambung nya lagi lalu tertawa terbahak-bahak.
π:"Siapkan jet pribadi, sore ini saya dan istri akan pergi," perintah nya pada orang di sebrang sana.
Setelah mengatakan apa yang di inginkan pria itu langsung mematikan sambungan telpon nya.
Wulan yang baru menyelesaikan tugas nya pun bernafas lega dan juga merentangkan kedua terasa bebas. Tugas yang di berikan dosen sama sekali tak sulit hingga dia tak harus bertanya pada pria tersebut.
Rizal melihat wanita nya merentangkan kedua tangan membuka suara.
"Sudah selesai?"
"Iya baru selesai," jawab Wulan santai.
"Bagaimana Mas tau sejak tadi aku belum makan?"
"Karena kamu adalah wanita ku, apapun yang berkaitan mengenai mu akan aku ketahui," jawab Rizal sambil mengelus rambut lembut wulan.
"Gombal kamu Mas," kata Wulan.
"Tidak sayang, aku tidak tau gombal semua yang ku katakan hari ini, besok dan kedepan nya adalah benar."
"Ya, ya, ya, terserah kamu Mas, terima kasih."
"Sama-sama kamu tunggu sini, jangan kemana-mana aku akan kembali lagi," kata Rizal dan saat hendak berjalan meninggalkan Wulan, langkah nya terhenti.
"Mas," panggil Wulan.
"Iya, kenapa?" tanya Rizal lembut.
"Aku boleh pinjam ponsel kamu?" ucap Wulan ragu, tapi tetap saja memberanikan diri mengatakan itu.
"Tentu boleh, milik ku adalah milik mu, ini," kata Rizal memberikan ponsel pada Wulan.
Pria itu tak keberatan ponsel nya di otak-atik wulan, bagi nya sekarang apapun yang di inginkan wanita itu akan di berikan meski nyawa nya.
__ADS_1
"Terima kasih Mas," ucap Wulan tersenyum senang.
"Ya sudah sekarang aku tinggal dulu."
Rizal pun pergi meninggalkan wulan di ruangan dan wanita itu tak merasa kesepian, dia malah asyik bermain ponsel rizal.
Wulan membuka galeri ponsel rizal, satu persatu foto di dalam di lihat nya dengan cermat.
"Di sini tak ada foto pelakor itu, bagus lah tapi di mana Mas rizal membuang nya? aku benar-benar penasaran bagaimana kehidupan nya sekarang. Sudah lah nanti aku tanyakan saja pada Mas Rizal," ucap Wulan memutuskan.
Wulan meletakan ponsel rizal di meja, baru juga ingin merapikan buku-buku dari meja, ponsel rizal berdering.
Dan karena rasa penasaran dia melihat nama penghubung di sebrang sana.
"Mama," ucap Wulan membaca nama yang tertera di layar ponsel rizal.
"Apa sebaik nya aku angkat saja ya, siapa tau penting lagian mas rizal baru juga keluar pasti kembali nya 5 menit lagi," pikir Wulan.
Wulan menggeser layar ponsel rizal.
π:"Hallo, Assalamualaikum, Ma," sapa Wulan lembut.
Wanita di sebrang sana tidak menjawab dan wulan kembali bersuara karena tidak mendapat jawaban apapun.
π:"Hallo Ma, ini Wulan apa Mama bisa mendengar?" tanya Wulan, pikir nya orang di sebrang sana tidak bisa mendengar dan faktor itu mungkin karena masalah jaringan yang kurang baik.
π:"Wulan, apa ini benar kamu sayang? bagaimana bisa kalian bersama? kamu benar-benar mengangetkan Mama sayang. Katakan sekarang kalian di mana? Mama akan menghampiri kalian setelah tiba nanti," kata Mama Alma di sebrang sana terdengar bahagia dari suara nya.
π:"Di kampus. Mama serius ingin kemari? bukan nya Mama sekarang di indo?"
π:"Itu benar sekarang Mama di Indo, tapi Mama dan Papa sudah berada di jet, mendadak Papa ada kerjaan di sana, jadi Mama berencana mengabari rizal."
Wulan dan Mama Alma terus berbincang kedua saling melepas rindu sudah lama tidak bertemu.
Pembicaraan kedua tak berselang lama karena rizal datang dan bertanya pada wulan siapa yang menelpon.
Dan wulan pun mengatakan jika Mama Alma yang menghubungi, bukan hanya itu wulan juga mengatakan Mama Dan Papa akan kemari.
"Kenapa mendadak? aku merasa ada yang tidak beres dengan kedatangan Papa dan Mama," batin Rizal cemas.
"Mas kamu kenapa? ini ponsel mu bicara lah pada Mama, aku sudah selesai," Wulan menyerahkan ponsel pada Rizal.
"Apa tadi Papa bicara sama kamu?" tanya Rizal yang belum berniat menerima ponsel nya.
"Tidak, aku malas," ucap Wulan, entah kenapa dia tak menyukai Papa yusuf setelah kejadian itu.
...Bα΄Κsα΄α΄Κα΄Ι΄Ι’......
__ADS_1
...β¨____________ πΌπΌ_______________β¨...