
H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
🌹✨💞✨🌹
Dua hari berlalu.
Setelah hari itu, Wulan semakin membenci Papa Yusuf. Rizal menyadari perubahan istri nya tidak bisa melakukan banyak hal apapun, selain menguatkan dan selalu berada disisi Wulan.
Semua yang di ungkap kan Papa Yusuf memang sudah sangat keterlaluan, Rizal saja yang mendengar itu membenci Papa nya sendiri, lalu bagaimana dengan Wulan yang jelas tidak ada hubungan darah pada Papa Yusuf pasti akan sangat membenci Papa Yusuf melebihi rasa benci, yang di rasakan sekarang.
Rizal duduk di samping Wulan, dua hari ini selama berada di sini, Wulan belum bertindak apapun. Otak nya mendadak tak konsen, hilang arah. Semua yang sudah di rencana seketika membuat nya tak semangat melakukan.
Hingga saat ini, Wulan masih tidak menyangka, semua tindakan jahat yang di lakukan Papa Yusuf pada keluarga nya, semua hanya karena harta.
"Sayang, jangan diamkan aku seperti ini, dua hari melihat kamu begini, aku merasa pria jahat yang baru melakukan kesalahan besar padamu," ujar Rizal mengatakan apa yang di rasakan, melihat sikap Wulan pada nya.
"Aku membenci Papa mu, sangat membenci nya, Mas. Dia tega melakukan itu hanya karena harta. Aku tau Papa kamu merasa tidak adil dengan pembagian harta yang di lakukan Opa pada pada Ayah ku, tapi semua itu bukan berarti salah Papa ku, mungkin saja Opa melakukan semua itu karena alasan tertentu. Seharusnya Papa mu bertanya bukan langsung menyimpulkan sesuatu dengan otak jahat nya itu," marah Wulan meluapkan unek-unek nya.
Menyimpan sendiri, Wulan rasa tidak sanggup lagi. Sekarang waktu nya di mengatakan apa yang di rasakan.
Kecewa, marah, benci, dan juga rasa ingin membunuh Paman shin seperti apa yang di lakukan pada keluarga nya, Wulan ingin melakukan itu juga.
"Kamu tidak pernah merasakan seperti apa yang ku rasakan dulu. Aku seorang diri, bertahan hidup, mencari kerjaan kiri kanan, tidak ada yang menerima ku, semua itu karena aku masih muda, saat itu aku masih SMP berada bangku kelas 1. Hidup ku serba kekurangan, tapi tidak dengan keluarga mu Mas, kalian hidup bergelimang harta tanpa kekurangan," sambung Wulan, dia merasa semua masih tidak adil.
"Sayang, aku minta maaf. Jika saja dulu aku mengetahui semua ini, aku pasti akan mengembalikan pada mu," ucap Rizal, melihat Wulan yang engan menatap nya.
"Mengembalikan? apa kamu yakin dengan perkataan mu itu Mas?" Wulan Menoleh, menatap ragu apa yang baru di katakan Rizal itu.
Mengingat masa lalu nya, bagaimana Wulan dapat percaya. Saat itu saja kedua menikah di rumah sakit secara mendadak, tanpa persiapan apapun. Dan semua sudah di rencana kan Rizal.
Dulu Rizal sangat membenci nya, bagaimana sekarang mengatakan jika tau semua dari awal akan mengembalikan, sungguh perkataan Rizal ini, ingin sekali Wulan tertawa mendengar nya.
__ADS_1
"Kenapa apa kamu tidak percaya?" Rizal menatap Wulan yang juga menatap nya.
"Iya."
"Apa semua karena masa lalu ku padamu saat itu?"
"Iya," Wulan mengangguk membenarkan perkataan Rizal tersebut.
"Maaf. Sekarang aku akan mengembalikan semua yang ku miliki padamu, karena semua itu adalah miliki mu. Aku benar-benar merasa malu, sudah menikmati semua harta mu yang di ambil Papa ku dari keluarga mu," ucap Rizal serius, lalu menunduk. Menatap Wulan rasanya dia tak lagi mempunyai keberanian.
Wulan menggenggam tangan Rizal, melihat suami nya merasa bersalah seperti ini, Wulan menjadi tidak tega. Semua ini bukanlah salah Rizal, kenapa harus Rizal yang minta maaf, meski Rizal adalah anak dari pembunuh, tetap saja yang harus minta maaf adalah Papa Yusuf bukan orang lain.
"Tidak perlu, aku tidak membutuhkan semua itu lagi, sekarang yang ku butuhkan keadilan," tolak Wulan. Masalah harta bukan perihal penting bagi nya.
"Ya sudah sekarang kita keluar saja, aku takut Papa mu mencelakai Putra ku," ajak Wulan khawatir, dia benar-benar tidak tenang meninggalkan Baby Askar bersama Papa Yusuf, meski di sana ada Mama Alma, tetap saja dia cemas.
"Ayo, kita keluar."
Papa Yusuf tidak terlalu mempedulikan Baby Askar yang berada di dalam gendongan istri nya itu.
Melihat wajah bayi Wulan, hanya akan membuat nya kesal dan mengingat masa lalu.
Papa Yusuf pusing memikirkan bagaimana cara mengambil ponsel Wulan. Saat berbicara dengan Rizal, tanpa sengaja ekor mata nya menangkap Wulan yang sedang bersembunyi menguping pembicaraan mereka, dan Wulan juga merekam pembicaraan mereka.
Aneh, dan masih menjadi pertanyaan Papa Yusuf, kenapa hingga sekarang Wulan belum bergerak dengan bukti yang di dapat kan. Apa ada hal lain yang di rencana kan Wulan, jika benar seperti itu. Papa Yusuf harus segera menghentikan, sebelum semua terlambat.
"Aku harus melakukan sesuatu. Seperti nya semua memang harus berakhir di sini," batin Papa Yusuf.
Mengeluarkan ponsel, Papa Yusuf segera mengetik sesuatu di layar ponsel nya. Semua sudah di pikirkan baik-baik. Semakin lama dia menunda, akan semakin terancam nyawa nya.
Langkah Wulan terhenti, ponsel nya berdering, satu pesan masuk dari Papa Yusuf.
__ADS_1
Dia terkejut membaca pesan tersebut, dia bingung bagaimana Papa Yusuf mengetahui semua ini.
"Bagaimana bisa? apa dia memasang CCTV di setiap sudut rumah, termasuk kamar yang tiduri bersama Rizal?" tanya Wulan dalam hati.
"Sayang kenapa? pesan dari siapa itu?" Rizal melihat wajah Wulan yang seketika berubah membaca pesan tersebut menjadi penasaran apa isi pesan itu.
"Mas, apa di kamar itu Ada CCTV?" tanya Wulan, dia tak menggubris pertanyaan dari Rizal, malah memberi pertanyaan lain.
"Tidak. Emang kenapa mendadak kamu bertanya seperti itu? sebenarnya pesan dari siapa itu, dan apa isi nya?"
"Papa mu, dia mengirim ku pesan ini," Wulan menunjukkan isi pesan dari Papa Yusuf. Rizal mengambil ponsel di tangan Wulan dan mulai membaca dengan teliti isi pesan tersebut.
Rizal terkejut membaca pesan itu, dia sama dengan Wulan bertanya bagaimana Papa Yusuf mengetahui semua ini.
"Dari mana Papa ku tau semua ini? dan kenapa Papa mengajak mu bertemu?" Rizal menatap Wulan, dan Wulan menggeleng kepala, tidak tau.
"Apa saat itu..." Wulan mengantungkan perkataan nya sambil mengingat kembali.
"Saat itu apa sayang? katakan. Apa saat kamu sedang menguping Papa melihat mu?" tebak Rizal.
Saat itu Rizal merasa aneh karena mendadak Papa Yusuf mengakhiri obrolan mereka begitu saja, padahal saat itu Papa Yusuf masih belum selesai berbicara.
"Entah lah Mas, aku pun masih ragu apa itu benar. Tapi jika saja benar, berarti Papa mu sudah mengetahui aku merekam pembicaraan kalian. Dan sekarang dia ingin mengambil rekaman itu," Wulan menyimpulkan sesuatu yang mungkin saja itu benar adanya.
"Kenapa semua menjadi kacau begini. Kita harus segera bertindak, sebelum Papa melakukan sesuatu," sahut Rizal, dia cemas memikirkan semua ini. Kepala nya mendadak terasa ingin pecah.
"Lalu apa yang harus ku perbuat Mas? Apa sebaik nya aku langsung ke kantor polisi? tapi aku belum sempat memberi nya terapi," ucap Wulan.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...
__ADS_1
Detik-detik tamat. Terima kasih sudah mendukung dan setia membaca novel recehan author 🙏