
H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
🌹✨💞✨🌹
Keesokan hari ...
Wulan sudah siap, barang yang akan di bawah pun sudah lengkap.
Dia pergi mengecek baby Askar di kamar. Meninggalkan Rizal mengurus semua.
"Sus, bagaimana apa semua sudah beres? sini baby Askar nya biar saya gendong saja," Wulan mengambil putra kecil nya dari gendongan Suster.
"Bu, ada sesuatu yang ingin saya katakan," ucap Suster, wajah nya nampak serius saat ini.
"Apa Sus? kenapa mendadak serius seperti ini, apa sesuatu yang ingin Suster katakan penting?" tanya Wulan.
Wajah serius Suster berhasil membuat Wulan menjadi penasaran.
"Iya Bu. Saya ingin cuti untuk beberapa hari kedepan menjenguk keluarga di kampung, apa boleh?" Suster menatap Wulan meminta izin.
"Apa itu harus sekarang ya Sus?" tanya Wulan belum memberi jawaban. Dia menatap Suster yang juga menatap nya sangat ingin mendengar jawaban nya.
"Iya Bu. Saya barusan dapat kabar dari keluarga, kalau Ayah saya sakit, dan saya ingin melihat langsung," jawab Suster terus terang menjelaskan apa alasan nya.
"Baiklah, saya juga tidak bisa melarang Suster untuk tetap stay di sini, karena saya dapat merasa perasaan Suster sekarang ini. Suster tunggu sini sebentar saya akan kembali lagi," Wulan pergi meninggalkan Suster dengan baby Askar di dalam gendongan nya.
Wulan masuk ke kamar mencari suami nya, namun dia tak melihat keberadaan Rizal. Mendengar suara air dari dalam kamar mandi, kini Wulan tau Rizal berada di dalam.
Sambil menunggu Rizal keluar, Wulan bermain dengan putra kecil nya.
"Hey, anak ganteng nya Bunda, bagaimana hari ini, apa Askar tidak sabar untuk pindah? atau Askar tidak sabar ingin melihat Bunda bereaksi? oh no ganteng nya Bunda. Jangan melihat itu, itu tidak baik untuk Askar sekarang. Bunda tak mau ganteng nya Bunda sama seperti Bunda pendendam, cukup Bunda saja, ganteng kesayangan Bunda jangan. Paham itu? harus paham tentu nya kalau tidak Bunda akan marah besar," Wulan menoel pipi tembem Askar dan tertawa kecil.
Wulan merasa lucu, mengajak bicara Putra nya, di kalimat akhir berisi ancaman.
"Sayang kamu lagi ngapain, kenapa tertawa sendiri?" tanya Rizal. Dia baru keluar kamar mandi melihat Wulan tertawa dengan memandang Askar di gendongan nya sendiri.
"Eh, kamu udah keluar. Enggak tadi tuh aku ngajak baby Askar ngobrol, kamu tau apa yang aku obrolkan?"
__ADS_1
"Tidak, emang nya apa, kok bisa buat kamu tertawa gini?"
"Aku barusan ancam Baby Askar, aku bilang ganteng nya Bunda gak boleh seperti Bunda pendendam, cukup Bunda saja, kalau tidak Bunda akan marah besar," cerita Wulan mengatakan apa yang di katakan pada Putra kecil nya.
"Astaga, sayang. Kamu ini ada-ada saja. Sini biar aku gendong saja Baby Askar nya. Aku gak mau Putra kita ikutan gila kayak Bunda nya," Rizal mengambil Askar dalam gendongan Wulan.
Rizal mengendong Askar dengan talenta. Wulan melihat itu hanya tersenyum bahagia.
Menyadari sejak tadi di pandang, Rizal menoleh menatap Wulan di samping nya. Wulan yang ditatap seperti itu, menaikan alis bertanya, kenapa?
"Kenapa? apa ada sesuatu?" tanya Rizal menebak. Melihat ekspresi Wulan sekarang pasti ada hal yang ingin di katakan.
"Apa wajah ku begitu nampak ingin mengatakan sesuatu? kok Mas sampai bisa tau gitu?"
"Tentu itu, kamu adalah istri ku sayang, apapun mengenai mu selalu aku ketahui tanpa kamu katakan, aku sudah lebih dulu menduga nya," sahut Rizal membanggakan diri.
"Narsis deh Mas, tapi gapapa. Sekarang aku langsung pada intinya saja. Aku datang mencari Mas ingin minta uang," ucap Wulan.
"Uang? untuk?" tanya Rizal. Dia penasaran karena Wulan tak biasa seperti ini mendadak minta uang tanpa penjelasan.
"Oh. Tak masalah sayang. Uang ku adalah uang mu. Karena apa yang ku miliki adalah milik mu, jadi kamu berhak atas semua itu," sahut Rizal.
"Terima kasih suami ku. Mana uang nya?" Wulan menyodorkan tangan dengan mata menatap lekat Rizal.
"Ambil lah di dompet ku, semua ada di sana. Kalau masih kurang tarik di ATM. Pin nya tanggal lahir kamu," jawab Rizal.
"Tanggal lahir ku? sejak kapan kamu memakai tanggal lahir ku untuk Pin Mu?"
"Sejak aku menyadari telah jatuh cinta pada mu."
"Aku benar-benar merasa terharu deh Mas, tapi btw makasih ya Mas aku tidak menyangka Mas melakukan banyak hal seperti ini."
"Sama-sama, ya sudah sana ambil dan berikan pada Suster, biar kita bisa langsung berangkat sekarang," Rizal mengingatkan Wulan agar menyudahi obrolan mereka dan menghampiri Suster.
"Iya, ini aku mau ambil," Wulan pergi mengambil dompet Rizal.
Isi dalam dompet Rizal hanya ada uang cash sebanyak 10 juta. Dan itu masih kurang. Rizal melihat Wulan terdiam, menghampiri nya.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Apa uang cash Mas hanya ini saja?"
"Iya, masih kurang?"
Wulan mengangguk mengiyakan jika uang nya masih kurang.
"Kalau gitu kamu pakai transfer saja, kenapa harus kasih cash."
"Oh iya ya, kenapa aku gak kepikiran sejak tadi. Ponsel Mas Mana?"
"Di meja, coba lihat di sana."
Wulan berjalan dan mengecek, benar ponsel Rizal berada di atas meja. Dia mengambil dan memasukan pin tanggal lahir nya.
Dan seketika ponsel Rizal terbuka. Wulan langsung membuka aplikasi dan mengirimkan sejumlah uang di No rek Suster. Wulan berharap jumlah nominal yang di kirim nya itu pas.
Wulan juga mengambil uang cash di dompet Rizal sebanyak 5 juta.
"Terima kasih Mas. I love you," Wulan menghadiahkan satu ciuman di pipi kanan Rizal. Dan pergi meninggalkan nya begitu.
"Dasar nakal. Syukur lagi gendong Baby Askar kalau tidak sudah ku kurung," ucap Rizal memandang kepergian Wulan yang berlari.
"Askar besar nanti jangan seperti Bunda, kasihan wanita yang dekat padamu semua pada takut," lanjut Rizal.
Wulan menemui Suster dan memberikan uang pada Suster.
"Ini untuk Suster, mohon di terima," Wulan menarik tangan Suster dan memberikan uang itu.
"Tidak, Bu. Uang yang tadi sudah sangat banyak dan sekarang saya tidak bisa menerima ini lagi," tolak Suster.
Tadi saat bersiap-siap. Ponsel Suster berbunyi dan itu ternyata dari sms banking. Dan betapa terkejut isi yang masuk, nama pengirim pun jelas tertera nama Rizal.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...
__ADS_1