Menikah Karena Balas Dendam

Menikah Karena Balas Dendam
Bab 101: Cemburu


__ADS_3

H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


🌹✨💞✨🌹


Wulan dan Rizal berjaga menjaga baby askar yang mulai belajar merangkak.


Wulan tersenyum bahagia, putra kecil nya semangat. Rizal terus mendampingi putra kecil mereka.


"Terima kasih Ya Tuhan atas kebahagiaan ini. Ku harap ini tidak sementara, tapi selama nya. Bunda, Ayah, berbahagialah di atas sana, Wulan di sini baik dan bahagia. Wulan harap kalian melihat semua ini. Mas Rizal sudah mengetahui pembunuh kalian. Bunda, Ayah berikan Wulan petunjuk langkah apa yang harus Wulan ambil ke depannya? apa Wulan harus membalas membunuh Paman Shin? apa Wulan harus memenjarakan nya? atau Wulan harus memaafkan?"


"Wulan benar-benar pusing memikirkan ini," batin Wulan sedih.


Ting... tong... ting... tong....


"Mas, aku keluar dulu. Seperti nya Ada tamu." Wulan pamit keluar memeriksa.


"Iya, aku akan menjaga baby askar."


Ceklek.


"Panji," Wulan kaget. Melihat kedatangan Panji mendadak.


"Iya, ini aku. Apa kabar udah lama kita gak ketemu," ucap Panji.


"Aku baik Nji, ayo masuk," ajak Wulan mempersilakan Panji untuk masuk.


"Terima kasih. Oh iya Nih aku bawah cemilan. Sebelum ke sini aku singgah ke supermarket," Panji menyerahkan satu kantong plastik pada Wulan.


"Gak usah repot-repot Nji. Aku jadi jadi enak kalau kayak gini. Lain kali datang gak usah bawa apa-apa."


"Kata siapa aku repot? gak sama sekali kok. Baby askar mana? kenapa kamu gak siap ke kampus?" tanya Panji. Melihat Wulan duduk mengenakan pakaian rumah menjadi pertanyaan di otak nya.


"Baby askar di dalam. Aku cuti seminggu, mungkin senin baru kembali masuk."


"Cuti? kenapa cuti? apa ada masalah?"


"Enggak, ini per-"


"Sayang, siapa yang datang?" teriak Rizal. Dari kamar baby askar.


"Wulan itu suara siapa? apa kamu bersama seorang pria?" tanya Panji. Dia kaget mendengar suara seorang pria di apartment Wulan.


"Iya. Di sini ada Mas Rizal," jawab Wulan.


"Pak Rizal? bagaimana bisa? bukan nya dia tidak tau keberadaan kamu di sini? lalu kenapa dia bisa bersama mu?"


"Cerita nya panjang Nji, aku langsung pada intinya saja. Aku dan Mas Rizal sudah rujuk," jawab Wulan. Dia yakin Panji pasti akan kaget mendengar ini dan mungkin akan kecewa dengan keputusan nya.


Dan dugaan nya tepat sekali. Panji kaget mendengar itu. Wajah nya seketika berubah setelah dia selesai bicara.

__ADS_1


Melihat itu Wulan tak tau harus berkata apa lagi. Selain diam, menjelaskan? rasa nya tak perlu karena dia sendiri bingung harus menjelaskan apa.


"Maaf, aku baru mengatakan sekarang. Bukan maksud ku ingin menutupi ini. Aku hanya berpikir untuk mengatakan semua ini di waktu yang tepat, tapi karena sekarang kamu bertanya, aku rasa inilah waktu yang tepat mengatakan," lanjut Wulan.


"Apa kamu bahagia?" tanya Panji. Mulut nya tak bisa berkata apapun lagi, selain tiga kata itu.


"Iya," Wulan mengangguk mengiyakan.


Panji tersenyum kecil. Sakit? tak perlu di tanyakan lagi, hati Panji begitu sakit seperti terkena tembakan pistol.


Namun apa yang bisa di perbuat jika itu sudah menjadi keputusan Wulan.


Panji akan bahagia jika Wulan bahagia, karena itu lebih penting menurut nya.


"Sayang, siapa yang datang?" Rizal datang menghampiri Wulan di ruang tamu.


"Ini Panji teman kuliah ku," jawab Wulan.


Rizal memandang Panji, entah kenapa pria di depan nya tak asing seperti pernah di lihat sebelum nya.


Rizal masih mencoba mengingat. Wulan melihat Rizal engan duduk juga menyadarkan suami nya kembali.


"Mas, ayo duduk."


"Iya, Iya, aku duduk," sahut Rizal. Dia duduk di samping Wulan.


"Baby askar kamu tinggal kan Mas?" tanya Wulan.


"Iya, Mas. Kamu pernah bertemu, bahkan berkali-kali," sahut Wulan.


"Masa sih? di mana? kapan?"


"Di Indo? Panji teman kelas ku di kampus tempat Mas ngajar," Jawab Wulan.


"Pantas, wajah nya tak asing. Eee... ternyata dia dari Indo teman kelas kamu dulu," sahut Rizal.


Seketika itu Rizal baru sadar.


"Apa teman kelas dari Indo? Wulan pindah, dan dia juga pindah, apa karena," batin Rizal berhenti tidak ingin melanjutkan pikirnya.


"Tapi, jika semua itu benar gimana? tidak mungkin semua ini serba kebetulan," lanjut Rizal cemas.


"Mas kenapa?" Wulan menyadari Rizal. Melihat suami nya diam setelah berbicara. Wulan penasaran.


"Tidak, kalian lanjut kan bicara kalian, aku akan kembali ke kamar menyelesaikan kerjaan ku, nanti kalau sudah selesai langsung ke kamar saja," jawab Rizal. Lalu beranjak bangun dari duduk nya.


"Oke."


Kepergian Rizal. Wulan dan Panji kembali berbincang-bincang.

__ADS_1


30 menit sudah kedua berbincang. Tapi perbincangan mereka belum selesai. Rizal di dalam mondar-mandir tidak jelas. Penasaran dengan obrolan mereka yang begitu lama.


"Apa sih yang di obrolkan mereka? kenapa lama? dari tatapan nya tadi pria itu seperti menyukai Istri ku. Tidak, hal ini tidak bisa di biarkan. Wulan hanya milik ku, milik ku seorang," ucap Rizal.


Rizal tak bisa diam melihat dari dalam kamar, hingga akhir nya memutuskan untuk menghampiri mereka.


"Sayang belum selesai?" Rizal datang menghampiri mereka.


"Mas apaan sih, kok bicara nya kayak gitu. Nji maaf ya. Gak usah kamu dengarkan perkataan Mas Rizal," Wulan minta maaf. Dia merasa tak enak.


"Tidak apa-apa. Kita bisa ngobrol lain waktu saja. Jaga diri mu dan salam untuk baby askar," sahut Panji.


"Ya sudah aku menanti kedatangan mu lain waktu, tapi ingat tidak perlu bawah cemilan lagi oke."


"Iya. Aku pamit dulu. Pak," Panji tunduk hormat pada Rizal.


"Mas, kamu ini kenapa sih? kok kejam gitu sama Panji. Emang nya Panji ada salah sama kamu? setau ku tidak. Sekarang jelaskan ada apa sebenar yang terjadi," ujar Wulan penasaran.


"Sayang, kamu milik ku. Aku juga tau teman mu itu menaruh hati padamu. Aku tidak terima itu" sahut Rizal.


"Bagaimana kamu bisa tau itu? aku tidak pernah menceritakan itu pada orang lain," Wulan kaget mendengar perkataan Rizal.


"Jadi benar kan? katakan apa dia sudah menyentuh mu? di mana? katakan sayang?"


Deg.


Wulan menatap bingung tidak percaya, tebakan Rizal bisa tepat begitu.


Diam nya Wulan. Rizal menjadi yakin jika Panji itu sudah pernah menyentuh Wulan.


"Sayang katakan di mana? kapan? kenapa hal itu bisa terjadi?" tanya Rizal lagi tak henti.


"Mas, tenanglah jangan seperti ini. Aku akan cerita. Tapi sebelum itu tenangkan diri mu," jawab Wulan.


"Rapikan semua barang mu, besok kita akan kembali ke Indo," sahut Rizal.


"What? kenapa mendadak Mas?"


"Satu agar tidak ada pembinor, kedua mengungkapkan pembunuh keluarga mu," jawab Rizal. Lalu dia pergi masuk ke dalam kamar nya.


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


Deg... Deg... Deg...


Maaf semua author jarang up akhir ini.


Kemarin lagi ada acara nikahan keluarga.

__ADS_1


Pasti ngerti kan, gimana sibuk nya acara gituan🤧


__ADS_2