
H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
🌹✨💞✨🌹
Dua hari berlalu.
Rizal masih setia berada di sisi Wulan, menemani Wulan yang hingga sekarang engan membuka mata.
Wulan sudah melewati masa kritis, dan sekarang hanya menunggu kapan akan sadar.
"Sayang, aku mohon bangun lah, kasihan baby askar dua hari di tinggal kamu. Papa sudah mengakui kejahatan nya di masa lalu dan sudah siap di hukum. Keadilan yang kamu harapkan sudah di depan, tunggu apa lagi, buka mata mu sayang, lihat aku semua ini, aku mohon," Rizal menggenggam erat tangan Wulan, penuh harap dengan terus menggenggam Wulan dapat merasakan dan sadar.
"Dua hari selama kamu berada di sini baby askar terus rewel, hingga harus di larikan ke rumah sakit untuk mendapat penangangan khusus dari dokter. Kasihan putra kita sayang, bagun lah, buka mata mu, demi baby askar," lagi lagi Rizal memohon agar wanita yang berbaring di ranjang rumah sakit bagun.
Di sisi lain, Papa Yusuf sudah sedikit lebih, setidak nya keadaan nya tidak parah saat pertama di larikan ke rumah sakit.
Papa Yusuf pun sudah memanggil pengacara nya untuk membalikkan semua harta nya menjadi nama Wulan.
Keluarga nya tak keberatan dengan keputusan Papa Yusuf, setelah mendengar cerita masa lalu. Mereka kaget, mereka juga kecewa, tapi apa yang bisa mereka lakukan nasi sudah menjadi bubur, sesuatu yang telah terjadi tidak bisa di ubah, selain memperbaiki agar tidak terulang kembali.
"Semoga ini yang terbaik untuk kita semua Pa, Mama tidak keberatan hidup miskin, karena bagi Mama bergelimang harta yang bukan hak kita, itu tidak akan bahagia, meski bahagia itu hanya sementara, di akhirat nanti kita yang menikmati hak itu akan mendapat hukuman lebih dari apa yang nikmati sekarang," bijak Mama Alma.
"Risma setuju dengan yang di kata Mama, tidak masalah kita hidup pas-pasan asal tidak kekurangan," seru Risma.
"Benar. Tapi menurut Rian hal itu tidak penting, sekarang yang harus Papa pikirkan itu, apa keputusan Papa untuk menyerahkan diri itu sudah final? tidak bisa di pikirkan lagi?" tanya Rian serius dengan menatap Papa Yusuf.
Rian tidak yakin akan keputusan Papa Yusuf, dia cemas dengan keadaan Papa Yusuf nanti nya jika benar menyerahkan diri pada pihak berwajib.
Kehidupan di dalam sana, tidak seenak dan tidak sebebas di luar sini, pasti akan sangat berbeda tidak nyaman.
Papa Yusuf yang terbiasa dengan hidup mewah, pasti akan merasa tersiksa yang serba kekurangan.
__ADS_1
"Iya, keputusan Papa sudah final, Papa tidak akan berubah apapun lagi. Bahkan semua yang Papa lakukan ini masih kurang. Perbuatan Papa di masa lalu pada keluarga Wulan sangat kejam," ucap Papa Yusuf penuh penyesalan di wajah nya.
"Jika itu sudah menjadi keputusan Papa, Rian dan semua hanya bisa berdoa agar Papa kuat dan sabar menjalan ini. Kita akan selalu berada di sisi Papa selama nya, jadi Papa tidak akan merasa kesepian atau sendiri," sahut Rian, meski berat berkata seperti ini, dia harus kuat.
"Terima kasih, jika Papa tidak ada, jaga Mama kalian, dan kamu Risma nurut apa yang di kata suami, jadilah istri yang baik. Hari ini juga Papa akan pergi menyerahkan diri," ucap Papa Yusuf.
"Papa serius? sebaik nya jangan sekarang Pa, Mama tidak mau Papa mendadak sakit nanti, apalagi keadaan Papa belum benar pulih," sahut Mama Alma khawatir keadaan sang suami.
"Iya Pa, sebaik nya jangan dulu, tunggu sampai keadaan Papa benar sehat baru Papa putuskan. Sekarang Risma mohon tetap lah stay," Risma khawatir dengan kondisi Papa Yusuf yang belum sehat sudah ingin menyerahkan diri mengaku kesalahan nya.
"Semua akan baik-baik saja, jangan cemas. Yang Papa perlukan doa dari kalian agar Papa bisa melewati semua ini," ucap Papa Yusuf menyakinkan keluarga agar tidak khawatir.
"Rian, berikan ini pada Wulan saat sadar nanti, sampaikan permohonan maaf Papa pada nya," sambung Papa Yusuf dengan menoleh Rian putra pertama nya sambil menyerahkan sebuah dokumen.
"Kenapa tidak Papa berikan saja pada Rizal? Rizal suami Wulan, Rian hanya kakak ipar, dan kami juga tidak terlalu dekat?" ucap Rian penasaran dan ingin mendengar apa alasan Papa Yusuf.
"Tidak, Papa tau hingga saat ini Rizal masih sangat marah dengan Papa, keadaan Wulan seperti sekarang karena Papa, jadi ada baik nya kamu saja, jika nanti Rizal tanya baru di beritahu jika tidak, tetaplah diam tidak perlu mengatakan apapun," jelas Papa Yusuf.
...****************...
Siang tadi saat Rizal ingin menjenguk keadaan Papa Yusuf, dia melihat ruangan tersebut kosong. Rizal pun bertanya pada seorang suster yang lewat. Dan betapa kaget dia mengetahui Papa Yusuf sudah keluar.
Rizal tak berniat menghubungi keluarga nya untuk menanyai Papa Yusuf. Dia berpikir jika Papa Yusuf sudah di izinkan pulang pasti keadaan nya sudah baik, jika tidak, tidak mungkin dokter mengizinkan.
"Sayang, aku datang bersama Baby Askar, lihat putra kita, selama dua hari kamu tidur dia hanya minum susu formula, padahal sekarang dia masih membutuhkan A** mu. Jadi aku mohon bangun lah," ucap Rizal dengan menatap Wulan.
Jemari tangan Wulan perlahan bergerak, meski kecil, Rizal melihat itu sangat senang, karena Wulan sudah mau memberi reaksi nya.
Rizal langsung keluar dari ruangan, mencari dokter memberitahu kabar keadaan Wulan sekarang.
Ceklek!
__ADS_1
"Sayang, kau sudah sadar sekarang," ucap Rizal bahagia saat tiba Wulan sudah membuka mata.
"Apa yang terjadi pada ku Mas? di mana aku sekarang?" tanya Wulan, belum mengingat apapun yang terjadi padanya.
"Kamu di rumah sakit sekarang, dua hari yang lalu kamu kecelakaan," jawab Rizal.
"Kecelakaan?" ucap Wulan, dia terdiam mencoba mengingat ulang, hingga dia ingat semua.
"Aku ingat sekarang, aku menghindari mobil dari arah lain, lalu aku tidak ingat apa yang terjadi lagi."
"Sudah jangan di ingat dulu sekarang, biarkan dokter memeriksa mu," ucap Rizal, lalu mempersilakan dokter untuk melakukan tugas memeriksa keadaan Wulan.
"Baiklah saya akan periksa dulu," ucap Dokter.
Rizal menggendong Baby Askar, berdiri di samping ranjang tempat tidur, melihat dokter melakukan tugas.
"Bagaimana Dok, keadaan istri saya? dia baik-baik saja kan?" tanya Rizal serius menatap dokter yang baru menyelesaikan pemeriksaan nya pada Wulan.
"Alhamdulilah, sejauh ini Istri Bapak baik-baik saja, tidak ada yang serius, tapi harus terus di pantau untuk lebih memastikan, jadi sekarang Ibu Wulan harus banyak istirahat dulu, jangan memikirkan sesuatu yang menghambat pemulihan Ibu," jelas Dokter, mata nya beralih pada Rizal yang mengendong bayi.
"Apa ini Bayi Ibu Wulan?"
"Iya, Dok."
"Baiklah, tapi untuk sekarang saya minta Ibu jangan dulu meny***i Bayi Ibu, karena itu tidak baik untuk kesehatan Ibu yang belum benar sehat," ucap Dokter memberi saran, semua untuk kesembuhan pasien nya.
Wulan diam, menoleh pada Rizal dengan menaikan bahu bertanya pendapat.
Melihat anggukan Rizal mengiyakan perkataan Dokter. Wulan tersenyum.
"Iya Dokter."
__ADS_1
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...