
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
🌹✨💞✨🌹
Rizal dan wulan duduk berdua bersama di ruang tengah, wanita itu tak bisa bersikap santai entah kenapa dia masih merasa aneh dengan situasi sekarang.
Berbeda dengan rizal, pria itu merasa nyaman di dekat wulan, tangan nya terus menggenggam wulan, seolah jika di lepaskan wanita itu akan kabur menjauh dari nya.
Wulan menghela nafas panjang, kesal sudah di rasakan sejak tadi, namun apa yang bisa di perbuat sekarang jika pria itu sudah berkali-kali di peringatkan tidak juga menuruti.
"Mas lepaskan, aku tidak akan kemana-mana, lagian semua pintu sudah kamu kunci emang nya ada pintu lain untuk aku kabur?" kesal Wulan dengan tingkah rizal.
"Tidak, aku masih ingin seperti ini, aku merindukan mu wulan, 18 bulan tanpa mu di samping ku itu sudah begitu menyiksa ku. Aku selalu merasa mual dan ngidam aneh, seperti nya anak kita sengaja membuat ku menderita," ucap Rizal.
"Jadi semua itu kamu yang alami, pantas aku gak merasa apapun seperti kehamilan sebelum nya. Oiya kamu tau aku hamil dari siapa? Mama dan risma?" tebak Wulan karena yang mengetahui kondisi nya saat itu dari pihak keluarga rizal hanyalah dua wanita itu tak ada yang lain.
"Iya, emang nya kenapa? kamu gak suka aku tau? apa kamu sudah memiliki pria lain di sini?" tuduh Rizal menyipitkan mata penuh curiga.
Pria itu menarik tubuh wulan hingga kedua tak ada jarak lagi.
Wulan dapat mendengar hembusan nafas berirama rizal, pria itu menatap lekat seakan dia adalah mangsa nya yang siap di terkam.
"Mas, apa yang kamu lakukan jangan melakukan hal gila, menjauh lah cepat aku ingin pulang sekarang," protes Wulan, saat ini jantung nya benar-benar tak baik.
"Kenapa buru-buru? apa kamu ingin Menghindar dari pertanyaan ku?"
"Apa maksud mu? menghindar apa? aku memang benar ingin pulang jika tidak percaya terserah."
"Sayang aku tidak suka kamu dekat dengan pria lain, kamu hanya milik ku seorang, jadi jangan berani macam-macam atau aku," ancam Rizal mengantungkan ucapan nya.
"Stop mengancam ku seperti itu, aku tidak suka," tegas Wulan dengan tatapan kesal menatap Rizal
"Aku pun sama sayang tidak suka kamu dekat dengan pria lain," kata Rizal tak kalah tegas.
__ADS_1
"Aku ti-"
Umpt.
Ucapan wulan terhenti, rizal membungkam dengan bibir nya.
Rizal menekan tengkuk wulan memperdalam ciuman nya.
Wulan terus berontak memukul dada rizal, namun pukulan wanita itu tak terasa dan tak membuat rizal berhenti dalam aksi nya.
Pria itu semakin liar dan wulan yang sudah kehabisan tenaga pun hanya pasrah membiarkan.
Ciuman kedua semakin panas, rizal yang sudah di kuasai gairah besar tidak mampu menahan lagi burung nya sudah berdiri tegang.
Tanpa ingin membuang waktu lagi, Rizal mengendong wulan dan membawa ke kamar, bibir nya masih melekat dia tidak juga melepaskan dan terus menikmati.
Rizal membaringkan wulan dan pakaian nya pun segera di buka di buang-buang sembarang arah, dan juga membuka milik wulan.
Kini tubuh kedua benar-benar polos, rizal yang melihat tubuh indah wulan menelan kasar saliva dia benar-benar terpesona.
Dan wulan melihat pusaka rizal meremas seprei. Dia tak menyangka akan kembali melihat dan itu akan kembali berendam di dalam nya lagi.
"Auwh, Mas sakit," Wulan meringis kesakitan.
"Maaf, sayang gawang mu benar-benar sempit padahal aku sudah membobol nya lalu kenapa sekarang kembali semula?" binggung Rizal, pusaka nya di bawah masih bekerja keras untuk masuk karena ini bukan pertama, melakukan nya tapi sudah kesekian kali.
"Mas henti kan," ucap Wulan tidak ingin melakukan karena rasa sakit nya sama seperti awal rizal membobol.
"Kenapa? apa terasa sakit?"
"Itu memang benar, tapi aku tidak ingin melakukan ini kita bukan lagi suami istri kamu harus ingat."
"Ya sudah kita menikah saja sekarang gampang bukan?"
Bugh....
Satu pukulan telak mendarat di lengan tangan rizal, wulan mendengar itu benar-benar kesal.
__ADS_1
"Tidak."
"Kenapa Wulan? apa benar kamu sudah memilih pria lain di sini?"
"Mas kenapa kamu sama seperti Papa Yusuf yang selalu menganggap ku rendahan? apa aku memang terlihat murahan? lalu kenapa kamu masih mengharapkan aku yang memiliki banyak pria? lupakan saja aku," kecewa Wulan, lalu bangkit mencari pakaian yang di buang sembarang arah oleh rizal dan segera mengenakan kembali.
"Wulan, aku minta maaf bukan maksud ku tadi mengatakan seperti itu," cegah Rizal segera bangkit mengejar wulan.
"Sudah Mas jangan menghalangi ku lagi, jika Mas benar tidak bermaksud seperti itu pikirkan baik-baik setiap berkata, aku tidak bisa kembali dengan pria yang selalu berpikir buruk tentang ku, apa gunakan rujuk jika masih sama seperti dulu," ucap Wulan.
"Jangan pernah menemui ku jika Mas belum berubah," lanjut Wulan lalu pergi meninggalkan rizal.
Rizal melihat pergi nya wulan terjatuh duduk di lantai, menyesal itu lah yang di rasakan sekarang, kenapa mulut nya tak bisa di kendalikan, kenapa selalu berpikir buruk mengenai wulan.
"Sial! sial! sial! kenapa harus seperti ini? tidak, aku tidak boleh menyerah begitu saja, besok aku akan bukti kan pada wulan jika aku sudah berubah bukan rizal yang dulu lagi," ucap Rizal menyemangati diri nya yakin bisa melakukan itu.
Di sisi lain wulan menangis, dia sedih tidak menyangka rizal masih sama pikir nya pria itu sudah berubah tapi nyata nya tidak.
Keluar tadi wulan berlari menuju taman, ya di dekat penthouse rizal ada taman dan di situ lah dia berada sekarang.
Wulan belum ingin pulang dengan keadaan nya yang sekarang tidak sedang baik, dia akan pulang jika sudah tenang.
"Aku tidak boleh menangis, aku sudah biasa di perlakukan seperti ini, seharusnya aku mendengarkan saja hingga pria itu puas, bukan pergi dengan penuh kekecewaan mendalam di hati seperti wanita bodoh," ucap Wulan mengatai diri nya.
"Semangat, aku harus semangat lupakan kejadian ini, anggap saja tak pernah ada. Hidup pasti akan lebih indah jika tidak memikirkan nya, semangat demi baby askar," lanjut Wulan menyemangati dengan senyum terukir di wajah.
Wulan bangkit dari bangku taman dan beranjak pergi mencari taksi.
Beberapa menit kemudian taksi pun lewat dan wulan memberhentikan segera naik.
Dalam perjalanan wulan diam, pandangan nya tertuju pada luar kaca jendela mobil. Entah kenapa mendadak dia teringat pada perkataan papa yusuf beberapa bulan yang lalu.
"Luka di pergelangan tangan papa yusuf kenapa sama dengan orang itu, apa?" jeda Wulan lalu cepat menggeleng kepala." Tidak, tidak, semua ini tidak benar, mungkin ini hanya kebetulan," lanjut Wulan.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...
__ADS_1
Maaf baru bisa update sekarang, kemarin lagi sibuk, semoga ke depan nya gak telat lagi😁