
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
🌹✨💞✨🌹
Wulan menanggapi pertanyaan mereka dengan santai, kali ini ia tak memasang wajah datar nya lagi, semakin ke sini ia sadar jika orang suruhan Rizal adalah orang yang baik.
"Apa saya akan terlihat jelek jika tak tersenyum?"
"Tidak seperti itu, Nona akan tambah cantik jika tersenyum."
"Uhukkk ... uhukkk ... " Batuk Rizal yang baru tiba di ruang tamu.
"Tuan." Tunduk para pria tersebut takut melihat kedatangan majikan nya mendadak.
"Bicara apa kau tadi, jangan berani berkata hal seperti itu lagi jika tidak ingin tinggal nama," ancam Rizal seraya berjalan duduk di sampai Wulan.
"Maaf Tuan kami janji tidak akan mengulang hal itu lagi."
"Hmmm, bagus jika sudah sadar." Rizal memeluk posesif Wulan seakan tidak ingin melepaskan nya.
"Sayang aku merindukan mu, maaf," bisik Rizal membuat Wulan yang mendengar bingung maaf untuk apa.
"Ada apa dengan nya? kenapa minta maaf?" batin Wulan bingung masih terdiam belum menjawab apapun.
"Sayang, apa kamu mau memaafkan ku?" bisik ulang Rizal kali ini tangan nya mengelus perut Wulan.
Dan para pria orang suruhan Rizal melihat mesra nya majikan nya ini menjadi iri memilih pergi membiarkan sepasang suami-istri tersebut berduaan.
Wulan tak bisa mencegah mereka sebab Rizal mengencangkan pelukan nya dan menyetujui bahkan berkata mereka ada syaitan pengganggu.
"Sayang sekarang hanya ada kita berdua aku ingin minta maaf sudah menuduh mu yang tidak-tidak. Aku sudah tau sekarang kamu bukanlah wanita penghibur dan semua yang kamu kata kan saat itu memang benar adanya, " ungkap Rizal mengaku.
Setelah berpikir lama di dalam mobil, Rizal akhirnya memutuskan untuk mengakui kesalahan nya.
"Apa kamu sudah tau Mas?" tanya Wulan penasaran sebab ia belum berkata apapun tapi Rizal sudah mengetahui nya.
__ADS_1
"Apa kamu lupa siapa orang yang menjaga kamu?"
"Jadi mereka mengatakan semua yang terjadi padamu tanpa sepengetahuan ku?" tanya Wulan bingung dan juga penasaran.
"Maaf aku melakukan itu karena mengkhawatirkan mu," bohong Rizal.
"Apa kamu yakin Mas hanya itu? tidak ada lagi yang lain kamu tutupi dari ku?" tanya Wulan entah kenapa ia kurang percaya dengan perkataan Rizal.
Rizal yang melihat Wulan ragu dengan perkataan nya mencari akal agar perempuan di hadapan nya ini percaya.
"Mas, aku tidak suka di bohongi jika masih ada yang yang mas tutupi dari aku katakan saja, karena jika aku mengetahui semua sendiri dari orang lain akan sangat sulit untuk aku maafkan Mas," ungkap Wulan menatap lekat Rizal.
Deg
"Apa sekarang dia sedang memberi kode padaku? lalu apa yang harus ku perbuat sekarang tidak mungkin berterus terang dia saja belum berterus terang padaku tentang identitas nya kenapa harus aku duluan," batin Rizal engan berkata jujur duluan.
"Tidak ada sayang, untuk apa aku menyembunyikan dari istri cantik ku ini," bohong Rizal mencium tengkuk Wulan.
"Baiklah aku akan percaya, sebenarnya aku ingin menunjukkan bukti padamu tapi karena kamu sudah mengetahui lebih dulu jadi aku memutuskan bukti itu tidak perlu lagi untuk mu," kata Wulan.
"Kenapa seperti itu sayang? tunjukkan saja aku ingin melihat nya."
"Apa aku tidak boleh melihat nya? aku juga penasaran sayang ingin melihat kejadian nya langsung bukan hanya mendengar dari mulut orang orang lain."
"Baiklah aku akan memperlihatkan nya, lepaskan dulu Mas aku ingin mengambil ponsel ku bagaimana jika Mas terus seperti ini." Bingung Wulan ada apa dengan Rizal kenapa semakin menempel padanya.
Wulan meninggalkan Rizal dan masuk ke dalam kamar mengambil ponsel yang di letak kan di ranjang.
Sedangkan Rizal yang melihat banyak minuman alkohol di meja menjadi kepikiran untuk mengajak Wulan minum bersama.
Mata nya sedikit sakit melihat tempat nya sudah seperti tempat pembuangan sampah.
Dan akhirnya Rizal memutuskan untuk membawa 4 botol alkohol ke dalam kamar.
Wulan yang berpapasan dengan Rizal di pintu kamar menaikkan alis.
"Di kamar saja diluar membuat kepala ku pusing melihat banyak sampah berserakan." Ajak Rizal menggandeng tangan Wulan.
Tanpa berkata apapun Wulan mengikuti kemauan Rizal.
__ADS_1
Rizal mengajak Wulan untuk duduk di atas kasur, dan Wulan menyerah kan ponsel nya pada rizal menunjukkan pertunjukan yang di buat dan sejujurnya rizal sudah melihat semua itu tapi untuk lebih menyakinkan Wulan ia sengaja ingin melihat nya lagi.
Rizal begitu kaget dan tak percaya melihat adegan 21+.
"Sayang apa ini rencana mu?" tanya Rizal tak percaya jika Wulan bisa sekejam ini.
"Iya aku ingin mereka merasakan seperti apa ku rasakan saat itu, tapi semua itu sia-sia karena mereka begitu menikmati sentuhan para pria dan semua itu terlihat jelas seperti di dalam video itu," kata Wulan.
Dan Rizal dapat melihat itu betapa semangat nya para wanita dan juga para pria di dalam, melihat adegan panas para ja*lang seketika tubuh nya merasa panas.
"Ada apa dengan ku kenapa seperti ini apa karena melihat adegan 21+?" batin Rizal bertanya bingung dengan tubuh nya yang mendadak menegang.
Setelah selesai menonton Rizal meletakkan ponsel Wulan di meja.
"Kenapa Mas?" tanya Wulan menatap Rizal yang juga menatap nya.
"Untuk merayakan semua ini bagaimana jika kita minum bersama?"
"Minum? maksud Mas minum alkohol?"
"Hmmm, bagaimana?"
"Aku tidak pernah minum alkohol Mas," jujur Wulan tidak pernah menyentuh meski pernah bekerja di tempat banyak alkohol ia tak pernah meminumnya.
Seketika senyum tipis itu muncul di ujung sudut bibir Rizal. Entah kenapa ia bahagia mendengar Wulan tak pernah meminum.
Rizal pun kembali teringat jika di malam itu hanya dia seorang yang menyentuh Wulan dan hingga sekarang tidak ada. Rizal kini jadi paham kenapa pertama kali melakukan penyatuan milik Wulan begitu sempit ternyata di saat itu tidak ada lagi yang memasukkan selain dia.
"Hanya kau yang mampu membuat adik kecil ku bereaksi dan hanya kau juga yang mampu membuat ku puas, dan sekarang setelah mengetahui hanya aku yang melakukan itu tak akan aku biarkan kau lepas dari ku. Kau hanya milik ku seorang dan tak akan aku biarkan milik ku di rebut orang lain siapapun itu." batin Rizal menatap penuh kebahagiaan di wajahnya.
"Kamu kenapa Mas? apa ada yang lucu hingga kamu tersenyum?" Bingung Wulan menaikkan alis.
"Tidak." Rizal menggeleng kepala. "Minumlah sedikit saja tidak perlu banyak," sambung Rizal tak juga menyerah malah membuka tutup botol menuangkan minum di gelas dan menyodorkan pada Wulan.
"Apa lagi rencana nya kenapa aku merasa ada yang tidak beres, aku harus berhati-hati dengan nya mulai sekarang," batin Wulan merasa kebaikan Rizal ini tidak benar.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...
__ADS_1