
"Sayang, aku pergi dulu ya. Cantiknya Papa, Papa main golf dulu." Satya mencium Andin dan kedua putrinya.
Abizhar sudah berangkat lebih dulu latihan futsal bersama Andrew, Dito, Aditya dan Bagas.
"Beib, pokoknya jangan lama-lama ya. Nanti aku dan baby kangen." Dinda yang semakin manja saat kehamilannya kini memasuki 20 minggu.
"Atau aku tidak perlu ikut saja kali ini?" Fandi seperti tak rela membiarkan istrinya yang kink mode manja sepanjang waktu.
"No! pergilah. Kak jaga suamiku ya." Dinda saat melihat Satya menatapnya sambil membolakan matanya.
"Emang belanjaan dititip!" Satya menjawab asal.
"Mas," Andin mengingatkan Satya.
Selama kehamilannya Dinda memang lebih manja, lebih posesif kepada Fandi.
Terkadang sikapnya membuat Satya dan Bunda Dona kesal.
"Kami pergi dulu ya. Assalamualaikum." pamit Satya dan Fandi.
"Waalaikumsalam." jawab Andin dan Dinda bersamaan.
"Bunda sama Mama kapan balik sih Din?" Dinda mendudukan dirinya di kursi taman sementara Andin bersama baby sitter Safeea dan Safeena duduk berjemur.
"Mama Shopia sih bilang mereka menunggu selesai pembangunan sekolah. Kini sudah hampir 70%." Andin sambil memakaikan kacamata pada kedua putrinya.
Dinda hanya ber O ria mendengarkan penjelasan Andin.
"Din, shopping yuk! Bosen nih dirumah." ajak Dinda pada Andin.
Andin mengangguk menuruti keinginan Dinda.
Meski Andi akan repot membawa kedua putrinya dan 2 baby sitter bersamanya tapi tak mengapa dibandingkan Dinda akan merajuk pada Fandi suaminya membuat Andin terkadang kasihan melihat Fandi yang begitu sabar dengan segala tantrumnya Dinda selama hamil.
Kini di sebuah Mall besar di Jakarta kedua orang wanita cantik yang tak lagi single bahkan sidah menjadi ibu dan calon ibu tampak bersenang-senang mencuci mata keluar masuk store yang menyediakan baranh-barang branded.
Andin yang memang tidak begitu menyukai shopping hanya menemani Dinda yang selslu kalap jika berbelanja seakan lupa perut buncitnya kini ada kehidupan didalam sana.
Selama kehamilan bobot tubuh Dinda yang naik drastis membuatnya menjadi gemuk.
"Sebel deh! padahal dressnya cakep, tapi aku gendut!" keluh Dinda saat mencoba dress yang ia incar tetapi tak muat karena tubuhnya yang kini berisi.
"Bumil, jangan marah-marah. Siapa tahu brand lain ada yang pas. Yuk cari lagi." Andin membujuk Dinda yang sudah mulai mood swing akibat dress incarannya tak muat ditubuh hamilnya.
Dinda pun menggandeng tangan Andin sementara twin girls digendong kedua baby sitternya masing-masing.
"Hai Dinda!"
Andin dan Dinda menoleh kearah suara seorang laki-laki yang datang menuju mereka.
__ADS_1
Dinda menghentikan bibirnya yang asik menyeruput Boba tertegun melihat pria yang pernah singgah lama dalam hatinya.
"Hai Son!"
Soni Indrawan. Pria yang pernah mengisi hari-hari Dinda. Pria yang membuat Dinda sempat susah move on. Pria yang membuat Dinda menolak laki-laki yang datang mendekatinya.
Soni dengan senyumannya mengapa Dinda dan Andin.
"Sudah berapa bulan Din?" Soni menatap perut buncit Dinda.
"Jalan 5 bulan." Dinda menjawab singkat.
Ini kali pertama pertemuannya dengan Soni pasca putus.
Bahkan Dinda tak lagi mencari tahu tentang Soni sejak hatinya mantap memilih Fandi sebagai suami dan menikahinya.
Andin membaca kecanggungan Dinda dengan Soni begitupun sebaliknya.
"Mana istrinya?" Andin bertanya agar keduanya sadar akan situasi saat ini.
Tampak seorang perempuan dengan busana tertutup berjalan kearah Soni.
Perempuan itu menatap kearah Andin dan Dinda kemudian menggandeng tangan Soni suaminya.
Dinda melihat itu tampak membolakan matanya.
"Siapa Abi?" tanya wanita yang pasti istri Soni.
Dinda dan Andin menerima uluran tangan istri Soni.
"Perkenalkan Saya Anisa. Istri Soni." kini Dinda mengetahui wanita yang dipanggil Umi oleh Soni bernama Anisa yang merupakan istri mantan kekasihnya.
Dinda dan Andin bergantian menyebut nama mereka.
Dinda memandang wanita yang bernama Anisa dihadapannya dengan lekat.
"Jadi ini perempuan yang dipilih ibu Soni sebagai pendamping Soni?" batin Dinda ada rasa mencelos dalam hatinya
"Kami permisi duluan ya Dinda, Andin. Mau jemput anak kami di pengajian." Anisa istri Soni pamit.
"Dinda, Andin kami duluan ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." jawab Andin dan Dinda bersamaan.
Sepeninggal Soni dan istrinya Dinda tampak diam dan merenung.
Perubahan sikap Dinda tak luput dari perhatian Andin.
Keduanya kini menikmati santap siang yang sudah lewat dari jam makan siang.
__ADS_1
"Din, katanya laper. Kok Lo anggurin makanannya?" Andin menyadarkan lamunan Dinda.
Dinda tak menjawab hanya seutas senyum sebagai respon dan ia menggerakan sendok mengaduk makanannya.
Andin menatap wajah Dinda.
Andin merasakan kini Dinda terpikir dengan kejadian yang baru saja mereka alami.
"Din, makan jangan diaduk aja, baby diperut kamu pasti sudah lapar." Andin mengingatkan.
Dinda seakan teralihkan dengan pertemuan tadi.
Sambil mengusap perutnya Dinda terus menatap kebawah mengelus perut besarnya sambil tertunduk hingga airmata tak terasa mengalir.
Andin melihat Dinda menangis seketika pindah duduk kesisi Dinda merengkuh tubub adik ipar sekaligus sahabatnya.
"Aku tahu apa yang kamu rasakan dan pikirkan. Aku ga bisa kasih nasihat apa-apa. Hanya saja aku hanya bilang kamu bersyukur memiliki Fandi dan sebentar lagi kalian akan punya anak. Ini patut disyukuri Dinda." Andin mengingatkan.
Dinda mengangguk tanpa bersuara mengusap airmatanya.
Bukan Dinda tidak bersyukur hadirnya Fandi dan buah cinta mereka.
Hanya saja hati kecilnya teringat saat ibu Soni menolak dirinya saat Soni dan Dinda memutuskan untuk membawa hubungan mereka kejenjang yang lebih serius.
Saat itu betapa hancurnya Dinda mengetahui Soni telah dijodohkan oleh ibunya.
Ibu Soni menganggap jodoh pilihannya paling tepat bagi Soni dengan segala alasan yang membuat Dinda saat itu terpuruk dengan kata-kata ibu Soni.
Dan Soni kala itu tidak bisa berbuat apapun hanya menuruti keingin ibunya.
"Din, gw ga maksud selingkuh hati. Gw nangis bukan gw masih mencintai dia. Gw cuma inget rasa sakit yang ia dan nyokapnya beri ke gw. Seakan gw lebih buruk dari perempuan itu." Dinda menatap wajah Andin dengat mata sembabnya.
"Din. Allah lebih mengetahui yang terbaik bagi hambanya. Fandi dan Bunda Arini adalah yang terbaik yang Allah kirimkan buat Lo. Fandi begitu mencintai Lo dan Bunda Arini adalah ibu mertua yang begitu menyayangi Lo bahkan sangat mengkhawatirkan Lo. Layaknya putrinya sendiri." Andin memberikan pandangan agar Dinda tak lagi menengok kebelakang.
"Iya Din bener yang Lo bilang. Allah memberikan orang yang mencintai gw dan menerima gw dengan tulus dan apa adanya."
"Terkadang kita hanya tahu apa yang kita inginkan, tapi Allah tahu apa yang kita butuhkan dan terbaik karena kita hambanya dan Allah yang menciptakan kita. Allah lebih tahu mana yang terbaik bagi setiap hambanya."
Dinda memeluk Andin.
Andin membalas pelukan Dinda dengan erat.
Diusapnya kepala Dinda dan menenangkan Dinda dalam dekapannya.
"Terima kasih Din, Lo menyadarkan dan mengingatkan Gw. Lo memang sahabat terbaik yang gw miliki."
"Kakak Ipar rasa Sahabat." Andin mencoba mencairkan suasana.
"Oke, Oke. Siap kakak ipar!" Dinda dengan senyum yang kini kembali menghiasi wajahnya.
__ADS_1
"Dah kita makan sekarang. Nanti keponakan gw kelaperan gara-gara emaknya awas aja." Ancam Andin bercanda pada Dinda.
...****************...