
"Assalamualaikum. Aloha!"
Dinda mengucap salam tersenyum sumringah menyapa keluarganya yang kini tampak sibuk dengan persiapan acara 7 bulanan besok.
Dinda salim kepada Bunda Dona, Mama Shopia.dan Kakaknya Satya.
Andin bergegas menghampiri begitu mendengar suara sahabat yang sangat ia rindukan.
"Dinda!" Andin menghamburkan tubuhnya memeluk Dinda sahabat yang ia rindukan.
"Bumil pelan-pelan. Lupa sama perut." Dinda memeluk Andin bahagia sambil mengingatkan Andin karena pelukan Andin begitu erat membuat Dinda khawatir keponakannya dalam perut Andin.
"Baby kangen juga kan sama Aunty Dinda. Iya?" Andin menirukan suara anak dalam perutnya.
Dinda membungkukkan badannya mencium oerut Andin mengusap melepaskan rasa rindu kepada keponakan dalam rahim sahabatnya.
"Sayangnya Aunty udah 7 bulan ya. 2 bulan lagi kita ketemu. Aunty doain ya, kamu dan mama sehat Sayang." Dinda mengelus perut Andin menyalurkan kasih sayang untuk keponakannya.
"Adek kakak akhirnya balik juga. Ga kangen sama kakaknya nih!" Satya tersenyum melihat keceriaan Dinda kini.
Satya bukan tidak mengetahui apa yang terjadi pada Dinda beberapa waktu yang lalu.
Andin menceritakan soal Dinda pada Satya. Dari A sampai Z.
Namun Satya memilih untuk mengawasi dari jauh adik tercintanya itu yang ia tahu bahwa sang adik sedikit keras kepala dibandingkan dirinya.
"Kangen ga ya sama Bapack-Bapack ini?" Dinda sengaja meledek kakaknya.
"Bapak-Bapak Ganteng. Kurang komplit!" Satya memuji dirinya sendiri.
"Sayang, istirahat dulu, capek pasti." Mama Shopia merangkul Dinda.
"Gpp Ma, Dinda justru senang bisa pulang dan kumpul lagi sama kesayangan-kesayangan Akuh." Dinda memeluk manja Mama Shopia.
"Aduh, Aduh, Mana nih yang kemaren bilang udah dewasa sama Bunda." Bunda Dona mendekati putri tercintanya memberikan Dinda air karena Bunda Dona paham betul Dinda sering lupa minum air putih.
"Makasi Bundaku Sayang." Dinda meneguk air pemberian Bunda Dona habis tak bersisa.
"Haus Bu, Dipesawat kemarau ya? haus bener." Satya meledek Dinda yang minum tak bersisa seperti tidak minum seminggu.
"Ye, sirik aja." Dinda melet ke Satya.
Satya cuma geleng kepala melihat tingkah adiknya.
"Adik kecilku kini ditaksir 2 pria mapan dan dewasa." batin Satya saat melihat tingkah adik satu-satunya.
Sementara Andin yang tersenyum dengan tingkah sahabatnya batinnya bergumam.
"Kira-kira Dinda akan pilih mana ya, Fandi atau Gilang?" batin Andin menatap kearah Dinda.
"Dinda, Bunda tak akan memaksamu Nak menjodohkan dengan siapapun. Bunda hanya berharap pria yang akan menjadi pendampingmu bisa menyayangi dan mencintaimu dengan tulus." batin Bunda Dona saat melihat tingkah putrinya dalam hati.
Saat kebersamaan mereka Mama Shopia ijin mengangkat telpon.
Sementara yang lain asik berbincang-bincang sambil mengawasi persiapan acara besok.
Bunda Dona dan Andin serta Dinda sedang membahas pakaian seragam mereka yang besok akan mereka gunakan.
Seragam kesempatan wanita yang Satya sayangi memakai pakaian dengan warna biru muda dengan model yang berbeda-beda.
Satya yang masih paling tampan sendiri dirumah mengenakan baju dengan warna yang sama mengikuti keputusan suara terbanyak.
Mama Shopia kembali bergabung dengan ketiganya.
Memang wanita kalau sudah berkumpul ada saja bahan pembicaraannya.
Dari mulai gosip keluarga sampai gosip selebrity dibahasnya pula.
Tentu saja Bunda Dona paling banyak tahu info dunia keartisan secara teman-teman sosialitanya beberapa memang dari kalangan tersebut.
__ADS_1
Yang paling kudet justru Dinda, ia tidak nyambung saat Bunda Dona, Mama Shopia dan Andin menceritakan sinetron favorit ibu-ibu seantero jagat raya siapa lagi kalau bukan Sinetron Ikatan Centong.
Tampak antusias sekali saat Bunda Dona ditimpali Andin membahas pemeran-pemeran disinetron tersebut.
Dinda tak habis pikir Andin sahabatnya kini bisa membaur dengan obrolan Bundanya dan Mama Shopia sesama penikmat sinetron.
"Mungkin bawaan hamil kali ya." batin Dinda melihat Andin begitu hapal segala detail sinetron yang sama sekali Dinda tidak tahu.
Malam tiba para pekerja dari WO Mama Shopia pamit undur diri.
Semua dekorasi dan persiapan sudah rampung.
Tampak indah dan berbeda sekali nuansa yang tercipta.
Taman belakang kini terlihat membiru dengan pantulan lampu taman membuat suasana malam begitu berwarna.
Kedua ibunda Andin sepakat memilih warna biru muda sebagai tema acara esok.
Sementara para undangan diminta menggunakan dresscode warna putih.
Menikmati makan malam dengan menu yang disiapkan oleh katering karena Bunda Dona dan Mama Shopia melarang Andin masak, agar Andin banyak waktu istirahat mengingat perut Andin kian membesar tentu terasa lelah.
Dinda begitu merindukan makanan Indonesia.
Meski di Amerika banyak makanan Indonesia namun rasa dan khasnya berbeda dibanding yang ada disini.
"Nyebut Neng!" Bunda Dona mengingatkan anak gadisnya yang ia perhatikan sangat lapar.
"Di Amrik macul Neng!" Satya senang meledek Dinda.
"Ga cuma Macul Pak, Nimba, Nandur." Dinda menjawab asal ledekan Satya.
"Kalo ada Dinda beras cepet habis Bun, Ma." Satya masih banyak ide menyahuti adiknya.
"Ih, perhitungan banget!" Dinda dengan wajah cemberut tapi tetap melahap makanan dipiringnya.
Mama Shopia tersenyum pada Dinda mengusap kepala Dinda.
Mama Shopia kagum meski Dinda berasal dari keluarga kaya dan terpandang ia sama sekali tidak pernah menunjukkan hal itu.
Dinda tulus bersahabat dengan Andin.
Andinpun nyaman memiliki sahabat Dinda.
Bunda Shopia bahagia kini ia berada ditengah-tengah orang yang ia sayangi dan orang-orang yang menyayanginya.
"Sayang mau tambah ikannya dong. Takut kehabisan Dinda." Satya menyodorkan piringnya pada Andin meminta ditambahkan ikan gurame asam manis kedalam piringnya.
"Dasar bucin. Males amat. Ga kasian sama bini lagi hamil." Dinda mendengus kesal balik menyerang Satya.
"Sirik aja Dih. Makanya nikah. Biar bisa bucin." Satya dengan bangga mengakui ia bucin.
Dinda tertawa dengan pengakuan kakaknya yang bucin.
"Bucin bangga. Tapi bagus-bagus. Dinda seneng kak Satya bucin. Awas aja kalau sampe bikin nangis Andin, bakal Aku heh!" Dinda memberikan kode telunjuk mengitari leher layaknya gerakan memoton.
"Setuju Bunda!" Bunda Dona malah mendukung Dinda kali ini.
Satya merasa tak ada pembelaan dari ibu dan adiknya kini meminta bantuan Andin sang istri.
Sementara Mama Shopia tak lagi dapat menahan ketawanya melihat kelakuan Satya dan Dinda.
Andin yang sudah dapat kode dari Bunda dan Dinda tenru mendukung jawaban Bunda Dona dan Dinda.
Satya menepuk dahinya perlahan.
Satya baru sadar ia kalah suara, 4 lawan 1. Ga perlu dijawab dong!
Melihat kebersamaan Satya dan keluarga terasa begitu tentram dan damai.
__ADS_1
Kenyaman sebuah rumah bukanlah dari besar dan mewahnya rumah tapi orang yang menempati rumah itulah yang membuat suasana rumah bisa menjadi tentram dan nyaman.
Seperti kini tampak bahagia Satya dan keluarga bercengkrama bersama. Senyum terpancar dari wajah setiap penghuninya.
Harta yang paling berbarga adalah keluarga.
Teringat sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Penyanyi kondang Bunga Citra Lestari yang berjudul Harta Berharga.
...Harta yang paling berharga adalah keluarga...
...Istana yang paling indah adalah keluarga...
...Puisi yang paling bermakna adalah keluarga...
...Mutiara tiada tara adalah keluarga...
...Selamat pagi emak...
...Selamat pagi abah...
...Mentari hari ini...
...Berseri indah...
...Terima kasih emak...
...Terima kasih abah...
...Untuk tampil perkasa...
...Bagi kami putra putri yang siap berbakti...
...Puisi yang paling bermakna adalah keluarga...
...Mutiara tiada tara adalah keluarga...
...Selamat pagi emak (sayang)...
...Selamat pagi abah (abah sayang)...
...Mentari hari ini...
...Berseri indah...
...Terima kasih emak...
...Terima kasih abah...
...Untuk tampil perkasa...
...Bagi kami putra putri yang siap berbakti...
...Selamat pagi emak...
...Selamat pagi abah...
...Mentari hari ini...
...Berseri indah...
...Terima kasih emak...
...Terima kasih abah...
...Untuk tampil perkasa...
...Bagi kami putra putri yang siap berbakti...
...Di hari berseri indah...
__ADS_1
...****************...