Menikahi Kakak Sahabatku

Menikahi Kakak Sahabatku
Bab 57 Holiday Part 2


__ADS_3

Satya dan keluarga baru saja landing setelah 19 jam lebih menempuh perjalanan via udara.


Kini waktu menunjukkan pukul 4 pagi waktu Amerika.


Sudah masuk waktu subuh, Satya dan keluarga menunaikan kewajibannya dulu sebagai hamba Allah.


Setelah itu mereka segera menuju kediaman keluarga Satya.



Perjalanan mereka akhirnya sampai juga.


Abizhar lekas berlari tak sabar untuk segera menuju rumah Opa dan Omanya.


"Wah Oma, dulu Opa dan Oma juga Papa tinggal disini?" tanya Abizhar pada Oma Dona.


"Iya sayang. Kenapa?" tanya Oma Dona.


"Papa, Mama Abizhar mau sekolah disini sajanya, tinggal disini." Abizhar mengatakan keinginannya kepada Papa dan Mamanya.


"Boleh." jawab Satya.


Sedangkan Andin mengangguk, Abizhar masih terlalu dini untuk menetapkan pilihannya. Sebentar pingin A, sebentar pingin B. Andin sebagai orang tua hanya bisa mendoakan dan mendukung apapun selama itu baik baik hidup Abizhar.


Mereka membawa masuk koper ke dalam rumah.


Andin, Satya, Abizhar dan Dinda menempati lantai atas. Sementara Oma Dona dan Oma Shopia di lantai bawah.


Masing-masing memilih merebahkan diri dikamar, beristirahat memulihkan kondisi tubuh yang lelah dan jetlag selama perjalanan.


Meski pesawat yang mereka tumpangi bukan pesawat pada umumnya.


Tetap saja rasa lelah dan kantuk membuat mereka memilih untuk beristirahat terlebih dahulu.


Azan Dzuhur dari alarm HP membangunkan semuanya.


Satya sudah siap mengimami keluarganya menunaikan shalat dzuhur berjamaah.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Satya menoleh ke kanan dan kekiri.


Para makmum pun mengikuti sang imam mengucap salam lalu menoleh ke kanan lalu ke kiri.


Abizhar mencium tangan Papanya.


Satya berjalan mendekat kearah kedua Ibundanya.


Satya mencium tangan Oma Dona dan Oma Shopia secara bergantian.


Andin mencium tangan Satya dengan takzim dibalas dengan kecuoan kening dan pucuk kepalanya oleh Satya.

__ADS_1


Dinda mencium tangan Bunda Donda, Oma Shopia dan Satya.


Abizhar mencium tangan Mamanya, Duo Oma dan Aunty Dinda.


Andin dan Dinda saling bersalaman.


Karena baru sampai mereka memutuskan makan siang diluar.


Sekalian mereka mengunjungi kantor Opa di sana.


Dulu memang pada saat anak-anaknya masih kecil dan Almarhum Opa Permana masih hidup, Baik Oma Dona dan Opa permana ingin putra putrinya melanjutkan kepemimpinan perusahaan.


Namun Satya yang sejak SMA memiliki keinginan untuk menjadi seorang Abdi Negara, akhirnya Oma Dona merelakan Dinda yang menghandle semua urusan perusahaan.


Dindapun tak pernah mempermasalahkan.


Selain itu jiwa bisnis Dinda dan watak serta kepribadian Dinda lebih banyak mirip Opa Permana.


Tak heran para pegawai perusahaan sering mengatakan bahwa Dinda adalah Opa Permana versi perempuan.


Namun sebagai anak Satya tidak serta merta lepas tangan dengan perusahaan orang tuanya.


Selain Oma Dona sudah mengatasnamakan bagian-bagian saham kepada Satya dan Dinda, Satya juga seeing memberikan saran dan tentu pandangan daei sisi aturan yang pemerintah miliki untuk para perusahaan.


Terlebih Satya yang memang berada dalam lingkungan kementerian keuangan khususnya pada Dirjen Pajak tentu ia secara tak langsung dapat melihat sehat atau tidaknya keuangan perusahaan peninggalan ayahnya.


Selain itu Satya juga sering mengingatkan Dinda mengenai hak dan kewajiban perusahaan terhadap negara.


Namun sebagai seorang Abdi Negara yang sudah disumpah, maka tak boleh bagi Satya berada dalam struk organisasi perusahaannya karena status Satya sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN).


Menikmati makan siang bersama menikmati keindahan kota, Satya dan keluarga berbincang mengenai agenda besok yang akan mereka lakukan.


"Andin, btw semua pakaian kita yang Mama sqmpaikan tak ada yang tertinggal kan? Mama takut lupa." Mama Shopia mengingatkan.


"Iya Ma, Sipp!" Andin mengangkat jempolnya.


"Makasi banyak loh Jeng Shopia. Aku tuh ya jatuh cinta banget sama design baju-baju butik Jeng, rasanya kok ya cantik aja bawaannya kalau pakai bqju butik ajeng Shopia." pujian tulus anti perez-perez club Bunda Dona.


"Itu karena Jeng Donanya yang memang dasarkan sudah cantik, jadi bajunya mengikuti saja." Oma Shopia mengakui bahwa memang Oma Dona masih terlihat cantik diusianya.


"Walah,,, Aku kok ingin terbang kadinya." Oma adona tertawa bahagia.


"Memang KBRI acara acara apa Bun?" Dinsa mengetahui busana yang disiapkan Bunda Dona dqn Mama Shopia untuk acara undangan dari KBRI besok.


"Mengenai silahturahmi sesama WNI di sini sekaligus mengenalkan produk UMKM yang di ekspor kesini." jelas Oma Dona.


"Memang dresscodenya harus kebaya Bun?" Donda bertanya sambil meneguk minuman dihadapannya.


"Ya begitu sih yang disampaikan." Oma Dona menjawab.

__ADS_1


Dinda yang sering bolak balik ke sini untuk urusan bisnis memang tidak sering berurusan dengan KBRI sehingga iya tak mengetahui bahwa ada acara tersebut.


Sementara Abizhar begitu riang gembira, berlari kesana kemari.


Begitu antusias dengan suasana baru yang kini dinikmatinya.


Malam datang udara terasa begitu dingin.


Satya menyalakan pemanas ruangan.


Maklum disini saat ini sedang musim dingin.


"Oma, Oma, disini kok dalam rumah pakainya penghangat ruangan ya, beda dengan di jakarta?" Abizhar yang kini penasaran mengenai suhu yang berbeda.


"Karena kalau di Indonesia kita hanya mengalami 2 musim, yaitu musim panas dan musih hujan." jelas Oma Dona pada Abizhar.


"Sedangkan disini ada 4 musim, yaitu Musim panas, Musim Semi, Musim gugur dan Musim dingin." Oma Shopia melanjutkan.


Abizhar tampak berpikir sambil mengetuk-ngetuk telunjuknya di dagu.


Dinda geleng kepala melihat tingkah ponakannya tang menggemaskan itu.


"Tapi kemaren kata Bi Jumi kalo dirumah ada Musim Banjir, Musim Panceklik sama Musim Kawin Oma. Itu apa Oma?" Abizhar peenah mendengar pembicaraan Bi Jumi dengan asisten rumah tangga lainnya dirumah.


Dinda tak mampu menahan tawanya mendengar perkataan Abizhar.


Sedangkan Oma merasa perlu menegur Bi Jumi saat pulang nanti agar tak bicara sembarangan saat ada Abizhar bersamanya.


Tak ada jawaban dari Omanya, Abizhar tak kehilangan akal, ia pindah menanyakan pada Papa dan Mamanya.


"Pa apa maksudnya musim-musim yang Abizhar bilang?" Abizhar tak penasaran.


Satya mendengus memikirkan jawaban apa yang harus diberikan kepada putranya yang kritis.


"Coba kita tanya Mama, gimana Ma jawabannya?"


Satya seenaknya melempar pada Andin.


Andin ketiban pulung harus menjawab pertanyaan anaknya yang kritis bin bawel itu.


"Sayang Bi jumi sqlah ngomong kali, Coba nanti kalau sudah pulang kita tanya Bi Jumi." Andin lebih baik menjawab seperti itu dulu karena bakal panjang urusannya.


"Ok deh kalau begitu." Abizhar menjawab.


"Gimana kalau kita mainan aja, Nih ambil titipan mainan yang ada di Aunty." Dinda mengajak Abizhar sengaja mengalihkan pembicaraan agar keponakannya ga lagi menanyakan musim aneh yang dikatakan Bi Jumi.


Abizhar menempatkan telunjuknya dibibir menyirqtkan diam.


"Maaf" Dinda berbisik.

__ADS_1


Dinda tertawa karena ia tahu Abizhar tentu tak mau sang Mama tahu iya menitipkan mainan kesemua orang kecuali Mamanya.


...****************...


__ADS_2