
Jangan bertanya bagaimana Dinda dan Fandi melewati malam pertamanya sebagai suami istri.
Mari kita skip dulu perihal belah duren keduanya.
Seminggu setelah pernikahan Dinda dan Fandi.
Keduanya masih betah menikmati moment honeymoon di Capadocia, Turki yang rencananya akan mereka habiskan selama 3 minggu.
Rumah terasa lebih sepi karena beberapa hari yang lalu Trio Oma berlibur bersama genk sosialitanya ke labuan bajo.
Andin menyiapkan sarapan untuk suami dan putranya yang kini sudah duduk manis di meja makan.
"Sayang Mama, ayo ipadnya disimpan dulu. Habiskan sarapannya nanti telat." Andin mengingatkan Abizhar yang asik memainkan games di ipadnya.
Selesai sarapan Satya, Andin dan Abizhar naik dalam mobil yang sama.
Satya dan Andin akan mengantar Abizhar terlebih dahulu kesekolah.
"Pa,Ma, Abizhar masuk dulu ya. Assalamualaikum." Pamit Abizhar sambil mencium tangan kedua orang tuanya sebelum keluar mobil menuju gerbang sekolahnya.
"Belajar yang rajin ya Nak." Andin mencium pipi putranya.
"Jangan lupa shalatnya ya Abizhar." Satya mengusap kepala sang putra dan tak bosan ia mengingatkan shalat.
"Waalaikumsalam." jawab Andin dan Satya membalas salam Abizhar.
Andin yang sejak 3 hari lalu selalu merasakan pusing setiap kali berkendaraan kini membawa freshcare sebagai bekal perjalanannya yang tak ia lupakan.
"Sayang, kamu sakit? pusing kepalanya? Aku antar ke dokter ya?" Satya tampak cemas karena beberapa hari ini Andin melakukan hal tersebut, menggosokkan freshcare pada kedua pelipisnya sepanjang perjalanan.
Andin belum sempat menjawab pertanyaan Satya, kini tiba-tiba saja Andin ingin muntah.
Melihat hal tersebur Satya meminta sopir menghentikan mobil mereka.
Andin bergegas keluar mobil, memuntahkan isi perutnya.
Andin menghirup nafas dalam-dalam.
Selepas memuntahkan isi perutnya Andin justru merasa lebih enakan.
Satya tak mau lagi mendengar alasan apapun, ia segera mengantar Andin ke rumah sakit.
"Bapak tidak perlu khawatir, Ibu Andin tidak sakit. Hanya saja hal ini biasa dialami oleh wanita yang sedang hamil." Dokter menjelasakan dan memberitahukan kepada keduanya.
"Istri Saya hamil?" Satya kembali menegaskan.
"Iya Pak, kandungan Bu Andin saat ini berusia 7 minggu.
"Sayang kamu hamil." Satya reflek memeluk Andin menghujani istrinya dengan ciuman, Satya tampak tak menyadari mereka masih berada diruang dokter.
__ADS_1
"Alhamdulillah Mas. Aku hamil lagi. Abizhar akan punya adik." Andin begitu bahagia mendengar bahwa ia hamil lagi.
"Bagaimana kondisi janinnya dok?" Satya menanyakan kondisi anak dalam perut Andin.
"Dari yang saya lihat, kondisi janin dalam keadaan normal, berkembang sesuai dengan usia kandungan bu Andin. Sejauh ini tidak ada yang perlu di khawatirkan.
"Alhamdulillah." Satya lega mendengar penjelasan dokter.
Arahan dokter pun keduanya dengarkan dengan seksama.
Andin dan Satya berjalan menuju mobil mereka.
Satya hari ini memilih ijin dan menemani sang istri dirumah untuk beristirahat.
Jika pada kehamilan Abizhar Andin tidak merasakan mual san pusing, berbeda dengan kehamilan kedua yang ia rasakan adalah pusing dan mual saat berada dimobil dan perjalanan.
"Apa tidak sebaiknya kamu bekerja dari rumaj saja sayang. Biar Gina yang handle, jika perlu pindahkan ke rumah. Biar Gina kerumah jika perlu sesuatu dengan kamu." Satya kini membuatkan Andin minuman hangat dan meminta Andin beristirahat dikamar.
"Mas, aku hamil bukan sakit. terima kasih Mas sudah mengkhawatirkan aku. Aku akan lebih mengukur diriku. Jika aku capek ya aku akan istirahat. Mas jangan terlalu khawatir." Andin memberikan pemahaman kepada Satya agar suaminya tidak cemas.
"Aku lebih rela seperti dulu, biar aku saja yang ngidam, aku ga tega lihat kamu mual dan pusing setiap hari." Satya mengambil gelas kosong dari tangan Andin.
"Mas, gapapa, semua wanita rata-rata mengalami ini kok. Lagi pula dokter mengatakan aku hanya akan mengalaminya kurang lebih sampai usia kandungan 12 - 15 minggu. Pokoknya Mas jangan terlalu cemas." Andin mengusap pipi Satya yang wajahnya panik melihat Andin yang mual dan pusing.
"Sayang terima kasih. Kamu mau bersusah payah mengandung anak kita." Satya memeluk Andin.
"Pokoknya kalau kamu ngidam sesuatu atau ingin sesuatu jangan ditahan ya sayang, bilang sama Mas." pesan Satya menatap wajah istrinya.
"Mas, apakah sebaiknya kita kabari yang lain?" Andin bertanya.
"Tentu saja sayang. Abizhar, Bunda, Mama, Dinda, Fandi semua kita akan kabari. Mereka pasti senang mendengar kabar kehamilanmu." Satya dengan semangat meyakinkan Andin.
"Keinginan Abizhar akhirnya terkabul ya sayang, bakal punya adik." Andin mengingat keinginan putranya.
"Iya sayang."
"Mas berharap cewek atau cowok anak kita yang ada di kandunganku?"
"Baik laki-laki ataupun perempuan aku terima dengan senang. Doaku yang utama adalah kesehatan dan keselamatan kalian itu jauh lebih penting." Satya mengusap perut Andin sambil menutup ucapannya dengan ciuman dibibir merah istrinya.
Satya menatap Andin dengan pandangan yang Andin paham betul maknanya.
"Sayang..." Satya dengan kedua alis terangkat sebagai kode pada Andin.
"Ya ampun Mas, masih jam siang. Ih mesum!" Andin sengaja pura-pura menolak.
"Papa kan mau kenalan sama dedek Ma." Satya kini dengan rayuan membawa calon anak dalam perut Andin.
"Tapi inget pesan dokter Mas, pelan-pelan." Andin mengingatkan pesan dokter saat keduanya tadi di RS.
__ADS_1
"Aku paham sayang, Ok?" Satya kembali melancarkan hajat hidup sang "Raja Naga".
Senyuman Andin membuat Satya tak membuang waktu lama segera mempertemukan Raja Naga dengan habitatnya.
Rejeki suami sholeh sambil menyelam minum air.
Satya menepati ucapannya.
Satya bertanding dengan sangat hati-hati dan bermain cantik.
Meski begitu Andin merasakan tak berkurang performa Raja Naga justru Andin merasa sensasi yang sangat amat luar biasa.
Satya yang merasa Andin merespon Raja Naga dengan baik, semakin bersemangat meneruskan pertandingannya yang sejak tadi begitu berimbang.
Tak terasa keduanya hanyut dalam pertandingan hingga babak semi final harus segera dituntaskan seieing azan dzuhur berkumandang.
Bersamaan dengan keduanya yang telah sampai garis finish.
"Terima kasih Sayang, I love you."
"I love you too, Mas."
Keduanya membersihkan diri bersiap menunaikan shalat dzuhur berjamaah.
Pertandingan yang begitu sengit dan menguras tenaga membuat kini keduanya sangat lahap menikmati makanan.
Namun Andin memilih makanan yang tidak banyak bumbu, karena mual jika memakannya.
"Sayang kita jemput Abizhar saja sekalian kita ajak Abizhar jalan-jalan sekaligus kita beritahu Abizhar bahwa ia akan punya adik." Satya yang kini memberikan gelas air putih pada Andin.
"Ok. Aku whatsup Miss Lala dulu, Abizhar hari ini jadwalnya sampai jam berapa?" Andin memang sering berkomunikasi dengan Miss Lala selaku wali kelas dan guru Abizhar.
Andin segera menghubungi Miss Lala.
"Ok terima kasih, Miss. Assalamulaikum."
Andin mengakhiri pembicaraannya dengan Miss Lala.
"Gimana sayang?"
"Otw sekarang saja Mas. 1 jam lagi kelas Abizhar selesai."
"Ok."
Keduanya segera bersiap menuju sekolah Abizhar.
Satya dan Andin tak sabar ingin segera memberitahukan kepada Abizhar bahwa Abizhar akan segera punya adik.
...****************...
__ADS_1