
Bunda Dona, Mama Shopia dan Dinda begitu menyiapkan kamar baby calon cucu dan keponakan mereka.
Anak Andin dan Satya adalah tahta tertinggi menurut para netizen.
Bayangkan, Cucu pertama dari anak laki-laki pertama Bunda Dona, dan cucu pertama dari anak perempuan satu-satunya Mama Shopia, sekaligus keponakan pertama bagi Dinda.
Tentunya limpahan kasih sayang, cinta dan perhatian yang diperoleh baby begitu besar.
Andin sangat bersyukur anaknya tak akan kekurangan kasih sayang justru berlebih malah kadang sedikit membuat Andin khawatir.
Andin hanya takut anaknya akan manja. Namun Satya sering mengatakan bahwa meskipun demikian keduanya akan mendidik baby hidup mandiri dan tahu makna berjuang.
Kali ini Andin bersama Dinda dan kedua ibu tercintanya sedang menata kamar untuk baby.
Nuansa warna biru langit mendominasi kamar baby yang bersebelahan dengan kamar Satya dan Andin.
Satya sengaja mengubah kamarnya memiliki connecting door agar memudahkan keduanya saat menjaga baby.
"Kayaknya harus beli mainan sama boneka-boneka deh biar lebih rame?" Dinda sambil melihat kamar keponakannya yang belum ada mainan dan aksesoris lain.
"Ya ampun Din, baru lahir belum bisa mainan juga kali." Andin tersenyum melihat antusiasme Dinda pada keponakannya.
"Bun, Ma, kita shopping buat baby yuk. Baju-baju dll juga belum kan?" Dinda mengajak Bunda Dona dan Mama Shopia berbelanja keperluan Baby.
"Yuk kalo gitu. Andin siap-siap sayang. Kita shopping untuk cucu oma." Bunda Dona tampak bersemangat.
"Yuk jeng kita juga siap-siap." Bunda Dona mengajak Mama Shopia.
Andin menuruti perintah Bunda Dona.
Andin menelpon Satya yang kini sedang main golf bersama atasannya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Mas, aku ijin ya mau belanja perlengkapan baby sama Bunda, Mama dan Dinda."
"Iya sayang, beli apapun keperluan baby. Tapi inget jangan capek-capek ya."
Satya tahu ibu dan adiknya sering lupa diri kalau shopping.
__ADS_1
Satya makanya dari dulu enggan menemani Bunda Dona dan Dinda kalau tidak terpaksa menemani kedua belanja.
Satya bisa lelah menemani antusiasme kedua nya yang tak akan kehabisan energi meski bolak balik atas bawah mengitari plaza Indonesia seharian.
"Iya Mas. Jangan khawatir. Aku kan perginya juga ga sendiri. Ada Mama, Bunda dan Dinda."
"Justru karena ada Bunda dan Dinda, Mas jadi khawatir. Kamu tahu sendiri Bunda dan Dinda kalau sudah shopping."
Satya akhirnya memberikan ijinnya pada Andin. Tentu saja Andin lega mendapat ijin dari suaminya.
Keempatnya kini sudah berada di Plaza Indonesia.
Mama Shopia juga sekalian mampir ke butiknya.
Sudah lama sejak kepulangannya dari Amerika belum mampir melihat butik miliknya.
Tentu saja Bunda Dona dan Dinda tampak sanhat senang terlebih pertemuan mereka dan perkenalan mereka berawal dari butik tersebut hingga mereka menjadi keluarga.
Tampak Head Strore Butik menyapa Mama Shopia dan Customer VVIP mereka Bunda Dona yang disambut ramah.
Semua pegawai butik juga tahu jika kini Atasan mereka Bu Shopia berbesan dengan Bunda Dona.
Andinpun secara resmi menjadi anak dari Shopia.
Namun meski begitu Baik Mama Shopia, Bunda Dona, Dinda dan Andin bukanlah pribadi yang besar kepala.
Sikap humble dan sopan serta jauh dari label sombong meski kekayaan keduanya Bunda Dona dan Mama Shopia layak dianggap Sultan namun jiwa sederhana dan tak pernah memandang status membuat mereka ramah kepada siapa saja.
"Selamat datang." Sapa seluruh staf butik Mama Shopia.
Mereke melayani dengan pelayanan terbaik.
Hal itu tidak saja dilakukan pada sang pemilik dan keluarganya namun Mama Shopia memang mengingatkan kepada seluruh staf nya agar memperlakukan pelanggan dengan terbaik.
"Jeng ini koleksi baru bulan ini, pilihlah. Dinda kamu juga pilih Nak, banyak yang cocok untuk kamu. Andin Mama ingin kamu pilih yang kamu suka. Ayo Din."
Mama Shopia memang sengaja ingin memberikan keluarganya hadiah kecil, Sebelum berangkat Mama Shopia memang sudah menghubungi staf butik untuk menyiapkan koleksi terbaru butik mereka.
"Jeng memang terbaik. Saya selalu suka dengan semua fashion butik Jeng." Bunda Dona saat fitting gaun yang ia pilih.
"Mama bagus ga?" Dinda meminta pendapat Mama Shopia.
__ADS_1
"Cantik sekali, pilih juga yang lainnya Dinda. Semua tampak bagus dikamu." Mama Shopia senang Dinda menyukainya.
Andin tampak bingung memilih mana yang cocok untuk dirinya.
Sejak hamil bobot tubuh Andin bertambah sehingga Andin merasakan kurangnya rasa percaya diri karena Andin menganggap pakaian apapun kini tidak sedap dipandang mata saat ia pakai.
"Loh Sayang, kenapa belum coba? Apa belum ada yang kamu suka? Mau lihat koleksi lain?" Mama Shopia mendekati putrinya yang belum mencoba baju apapun.
"Mama sepertinya pakaian-pakaian cantik ini tidak akan cantik jika aku memakainya. Mama lihat deh tubuh Andin sekarang." Andin merajuk melihat gaun-gaun cantik yang kini tampak tak muat dengan tubuhnya.
"Siapa bilang ga muat. Setelah lahiran kamu Mama pastikan bisa langsing lagi bahkan akan semakin cantik." Mama Shopia merangkul bahu putrinya.
"Tapi Mas Satya tidak mengijinkan Andin diet Ma, karena Andin akan menyusui Baby." Andin merasa perkataan Mama Shopia sekedar menghibur dirinya.
"Wanita akan selalu terlihat cantik apapun keadaannya, yang terpenting adalah yang ada disini." Mama Shopia menunjukk pada hati Andin.
"Tapi Ma, tetap saja mata tak akan bisa berbohong. Perempuan diluar sana akan terlihat menarik jika yang dirumah seperti ini." Andin menunjuk pada tubuhnya kini yang membesar.
"Sayang, sini lihat Mama baik-baik. Dengarkan apa yang Mama katakan."
Mama Shopia memegang kedua bahu Andin menatap wajah putrinya lekat.
"Betul yang kamu katakan jika mungkin saya diluar sana banyak perepuan yang lebih cantik. Tapi percayalah pria baik tidak hanya akan melihat kecantikan perempuan dari yang terlihat saja, namun hati dan perilaku wanita tersebut juga menjadi daya tarik utama. Mama yakin Satya pria, suami sekaligus ayah yang baik."
"Makasi Ma, sudah selalu memberikan hal positif pada Andin." Andin memeluk Mama Shopia dengan keharuan dan derai airmata.
Bunda Dona dan Dinda mendengarkan percakapan keduanya segera menghampiri.
"Sayang kamu tuh cantik luar dalem. Liat suami kamu sampe bucin begitu." Bunda Dona merangkul Andin.
"Pokoknya kamu ga usah khawatir. Kalo Satya sampe berani macem-macem Bunda sendiri yang bakal potong habis."
Bunda Dona memberi kode tentang makhluk tersembunyi kebanggaan kaum Adam.
Keempatnya tertawa bersama bahagia ceria.
"Nih oma-oma jadi ga ya shoppingin cucunya?"
Dinda mengingatkan tujuan mereka untuk membeli perlengkapan Baby, cucu mereka yang akan lahir.
Dinda menggandeng Andin diikuti Bunda Dona dan Mama Shopia.
__ADS_1
...****************...