
Satya, Andin, Fandi, Dinda dan Abizhar mengantar Trio Oma, Oma Dona, Oma Shopia dan Oma Arini ke bandara.
Oma Arini kali ini mendapatkan kesempatan sebagai undangan di perhelatan besar Paris Fashion Week yang akan berlangsung selama 10 hari di Paris, Perancis.
Tentu sama Oma Dona dan Oma Arini begitu bahagia saat Oma Shopia mengajak keduanya ikut serta dalam acara bergengsi itu.
Ketika Oma -Oma Abizhar yang berusia tak lagi muda namun tetap terlihat cantik mempesona.
Begitupun kali ini, Oma Dona begitu antusias.
"Trio Oma ku sayang, sehat dan happy ya selama disana. Buat Mama Shopia semangat, Dinda bangga sekali sama Mama, sukses ya Ma." Andin memeluk Mama Shopia dilanjutkan memeluk Oma Dona dan Oma Arini.
"Save your flight Moms. Jangan lupa bawa oleh-oleh buat aku ya Moms." Dinda memeluk ketiga ibunda tercintanya.
Satya dan Fandi bergantian mencium punggung tangan ibu dan mertua mereka serta memeluk hangat ketiganya mendoakan selamat dan lancar tak kurang satu apapun.
"Oma Dona, Oma Shopia dan Oma Arini, Abizhar doakan lancar perjalanannya dan sukses untuk acaranya di Paris." Abizhar dengan manis mendoakan keselamatan ketiga Omanya.
"Makasi sayang, Oma bakal segera pulang begitu selesai." Oma Shopia menerima cium tangan Abizhar pada dirinya yang berganti mencium tangan Oma Dona dan Oma Arini juga.
Lambaian tangan Trio Oma saat masuk ke dalam menandakan ketiganya segera take off dan melesat ke Paris menghadiri event terbesar dalam dunia fashion.
Kelima nya kini memutuskan mampir ke Mall karena kedua ratu mereka memintanya tentu saja para suami dan Abizhar mengikuti kemana langkah kaki Mama dan Auntynya melangkah bebas dalam Mall tersebut.
Dinda tampak berbincang seru dengan Andin.
Memasuki sebuah outlet idaman kaum hawa dengan ciri khas warna orange itu membuat Dinda betah berlama-lama mengajak serta Andin.
Satya dan Fandi duduk disofa sementara Abizhar tampak mulai bosan menunggu kedua wanita yang ia cintai dan hormati dikeluarganya.
"Papa masih lama ga sih, Abizhar bosan!" Abizhar mulai bete menunggu Mama dan Auntynya shopping.
Fandi mendekati Abizhar berkata " Gimana kalau kita ke Miniapolis?" ajak Fandi peka keponakan pintarnya mulai bosan.
Abizhar melirik kearah Papanya seolah mengatakan minta izin.
"Izin dulu ke Mama dan Aunty ya." Satya meminta putranya pamit dulu ke Mama dan Auntynya.
"Mama, Aunty Abizhar boleh ga ke Miniapolis dulu sama Uncle?" Abizhar mendekati Mama dan Auntynya.
"Papa ikut juga?" Andin bertanya pada Satya.
"Papa nemenin Mama sama Aunty aja. Biar Abizhar sama Uncle Fandi." Satya mendekati Andin.
Sepeninggal Fandi dan Abizhar Satya masih menunggu kedua wanita yang sangat penting dalam hidupnya setelah Oma Dona sang Bunda.
"Kak yuk kita susul Abizhar, Aku sudah selesai belanjanya. Yuk Din!" Dinda mengatakan pada Satya dan menggandeng Andin.
Saat ketiganya berjalan menuju Miniapolis menemui Abizhar dan Fandi, Satya sekilas melihat seseorang yang ia kenal.
"Seperti..." Ekor mata Satya mengikuti seseorang yang ia kenal.
Tak sadar hingga Satya dikejutkan oleh Andin saat lengan kiri Satya ditepuk sang istri.
__ADS_1
"Mas, kamu kenapa?"
Dengan tergagap Satya menjawab Andin.
"Gapapa sayang."
Dinda melirik kearah kakaknya menatap dengan tanda tanya.
Sementara Andin kini sering sekali mendapati Satya melamun dan hilang fokus.
Fandi dan Abizhar sudah selesai bermain di Miniapolis.
"Mama Abizhar mau makan." Abizhar merengek Mama nya ingin makan.
"Iya, yuk kita makan." Andin menuruti keinginan Abizhar sekaligus mereka memang belum makan.
Duduk menunggu pesanan mereka tiba Andin tampak sibuk mengurusi Abizhar yang kini ke toilet.
Kelimanya menikmati makanan mereka sesekali ada saja celoteh Abizhar yang membuat Papa, Mama, Aunty dan Unclenya tertawa.
"Hai Satya, apa kabar?" suara seorang perempuan yang menghampiri mereka.
Bagai petir mengambar ketentraman bumi, Satya saat itu tak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya.
Wanita yang pernah membuat Satya kecewa dengan meninggalkan tanpa alasan tepat dihari pernikahannya, dan kini setelah sekian lama hadir dihadapannya menyapanya seolah tak terjadi apa-apa dimasa lalu.
Tentu saja Andin dan Dinda terkejut kini Vera berada dihadapan mereka.
"Mommy!" suara bocah memanggil Vera dan menghampiri Vera bersama seorang pria.
"Halo Tante, Om, Hai Abizhar. Kamu disini juga!" Andrew dan Angel yang terkejut menyapa Abizhar sahabatnya yang tidak sengana berjumpa.
"Hai Andrew, Angel kalian sedang apa?" tanya Abizhar.
"Halo Abizhar. Andrew, Angel jadi ini sahabat yang sering kamu ceritakan ke Mommy?" tanya Vera kepada kedua anak kembarnya.
"Yes Mom, ini Abizhar sahabat kita. Dan ini kelaurga Abizhar. Abizhar kenalkan ini Mommy dan ini Daddy aku!" Angel dan Andrew memperkenalkan pada Abizhar keluarganya.
Satya berjabat tangan dengan Daddy sahabat putranya sekaligus suami dari mantan pacarnya.
"Satya!"
"Richard Peterson!"
Ada ketegangan dari mata keduanya.
Andin menatap Satya tak sedikitpun raut wajah suaminya tersenyum.
"Andin apa kabar? kamu sedang hamil ya? wah sudah berapa bulan?" Vera menyapa Andin mengusap perut Andin yang mulai terlihat.
"Masuk 4 bulan mbak." Andin tersenyum berusaha menetralkan keadaan yang sebenarnya begitu canggung apalagi sikap Satya yang berubah terlihat diraut wajahnya lebih tegang.
Dinda melihat situasi ini begitu canggung dan tegang ia pun berinisiatif untuk segera melepas suasana yang tampak tidak kondusif ini.
__ADS_1
"Kak, Din, Abizhar yuk kita balik. Mama pasti butuh istirahat Sayang Kan dedek bayi diperut Mama juga capek. Kita pulang ya sekarang." Dinda mengajak Abizhar agar mau pulang.
"Ya Aunty Abizhar masih mau ngobrol sama Angel dan Andrew." Abizhar begitu senang ia berjumpa sahabatnya plus kini ia juga bisa kenal dengan Daddy dan Mommy sahabatnya.
"Abizhar, benar Aunty, kita pulang sekarang, Mama dan dede baby butuh istirahat." Satya dengan suara datarnya.
Abizhar tak membantah apalagi Abizhar melihat raut wajah Papanya dalam mode serius.
"Mbak kami pamit dulu ya. Andrew, Angel Tante pamit ya." Andin menyapa Vera, dan 2 sahabat putranya."
"Iya Andin. Hati-hati dijalan ya. Abizhar senang berjumpa kamu. Lain kali kita main bersama dengan Angel dan Andrew." Vera mengusap kepala Abizhar.
Mereka berpisah setelah berpamitan.
Sesaat akan keluar restoran Satya dan Vera tanpa sengaja kedua mata mereka bertemu.
Tatapan wajah Vera yang sendu sambil tersenyum ke arah Satya yang wajahnya tak mengeluarkan ekspresi apapun sejak awal.
Jika saat berangkat Fandi yang menyetir, kini saat pulang Satya meminta ia yang mengemudi.
Andin duduk disebelah Satya.
Sementara di belakang ada Fandi, Dinda dan Abizhar.
Dinda paham betul situasi kini dimana Satya dan Andin akan tidak baik-baik saja.
Dinda hanya berharap agar keduanya bisa melewati secara bijaksana mengingat kini keduanya susah memiliki Abizhar dan sebentar lagi akan ada adik Abizhar.
"Abizhar seneng akhirnya bisa kenalan sama Daddy dan Mommy Andrew sama Angel. Soalnya selama ini Andrew dan Angel bilang kalo Daddy dan Mommy nya sibuk kerja di luar negeri. Makanya Andrew dan Angel jarang sekali bertemu Daddy dan Mommynya." Abizhar mengatakan hal tersebut.
Satya sepintas melirik kearah anaknya mendengarkan perkataan Abizhar.
Mata Satya fokus ke depan saat mengemudi.
Raut wajah yang tidak pernah lagi Andin temukan seakan kembali ia lihat saat ini dari wajah Satya suaminya.
Andin berusaha menepis segala pikiran buruk dalam kepalanya.
Andin mencoba berpikir positif menerima keadaan ini.
Meski tak bisa dipungkiri hati Andin sedih saat melihat tatapan suaminya yang begitu intens saat memandang Vera sang mantan.
Andin membuang jauh segala asumsi dikepalanya.
Keheningan begitu terasa didalam mobil.
Dinda tentu saja mengkhawatirkan kondisi ini.
Fandi yang memang baru masuk keluarga Satya tampak tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi kali ini.
Fandi hanya menduga pasti ada hubungan antara Satya dengan wanita yang tadi memperkenalkan diri sebagai ibu dari kedua sahabat Abizhar.
...****************...
__ADS_1