
Hari ini Abizhar sudah diperbolehkan pulang. Dokter barusaja memeriksa kondisi Abizhar dan keadaan Abizhar yang tidak berbahaya hanya tinggal pemulihan luka luar saja sudah diperbolehkan pulang.
Teman-teman Abizhar pun yang satu bus dengannya hanya beberapa yang masih harus dirawat dirumah sakit.
Andrew dan Angel belum diperbolehkan pulang karena luka jahitannya masih harus diobservasi oleh dokter. Sementara Miss Lala guru pendamping bus juga masih tetap dirawat dirumah sakit karena ada sedikit retak pada tulang di tangannya dan masih perlu penanganan dokter.
Pihak sekolah tentunya akan mengurus kasus kecelakaan ini serta akan menindak lanjuti agar bisa ditangani seadil-adilnya.
Fandi yang notabene seorang lawyer pun turut ambil peran dalam menyelesaikan persoalan ini.
Saat ketua yayasan berbicara meminta bantuan Fandi dengan sangat terbuka Fandi bersedia.
Terlebih keponakannya juga menjadi salah satu korban yang berdampak.
Andin dan Satya kini bersiap membawa pulang Abizhar.
Kedua orang tua Abizhar tetap seperti biasa.
Andin tidak mau menunjukkan oada Abizhar bahwa mereka sedang dalam persoalan rumah tangga.
Andin dengan tetap memasang senyum dan masih berinteraksi sebagaimana biasanya pada Satya didepan Abizhar.
Satya memandang Andin masih dalam perasaan bersalahnya karena jika tak ada Abizhar Andin masih enggan berbicara dengan Satya.
"Ma, Abizhar, Caca dan Dito sebelum pulang mau ke kamar rawat Andrew dan Angel dulu ya, Mau jenguk mereka. Sekalian sama menjenguk Miss Lala. Boleh Ma?" Abizhar mengkhawatirkan kondisi guru dan sahabatnya.
"Boleh. Nanti Papa akan menemani Abizhar saat menjenguk Andrew dan Angel sementara Mama mau urus obatan Abizhar ya.
Satya sesaat menoleh pada Andin.
Satya tahu Andin masih marah dan tak mau bertemu dengan Vera disana.
Satya serba salah. Ia semakin bingung. Harus bagaimana menyelesaikan masalah ini.
Satya, Abizhar dan Andin ketiganya sudah boleh pulang dan mereka bersama Dito dan Caca akan menjenguk Andrew dan Angel dikamar rawat.
"Oma Dokter, Uncle Daniel!" Abizhar menghampiri keduanya dan mencium tangan keduanya.
"Abizhar bagaimana sudah sehat? Ada yang masih dirasakan sakit tidak?" Dokter Alisha menyapa Abizhar.
"Abizhar sudah tidak apa-apa Oma Dokter. Cuma tinggal luka disini aja." Abizhar sambil menunjukkan luka dilengannya.
"Jangan lupa ya salepnya dipakai, obatnya diminum dan jangan sampai luka ini terkena kotoran dan basah. Agar saat sembuh tidak meninggalkan bekas." Pesan Dokter Alisha pada Abizhar.
"Uncle Daniel kok ada disini?" tanya Abizhar.
"Richard!"
"Pagi Madam Alisha!" sapa Richard.
Kini mereka berada dalam ruangan Andrew dan Angel.
Vera berada disana menemani kedua putra dan putrinya.
Sementara Daniel yang merupakan sahabat Richard tampak sedang mengobrol menceritakan mengenai keadaan Andrew dan Angel.
"Daddy, Mommy ini Papa dan Mama Abizhar, Tante Andin dan Om Satya." Andrew mengenalkan orang tia Abizhar kepada Daddy dan Mommynya.
Suasana tampak canggung bagi keempat orang yang terlibat sengketa itu.
"Daddy, apakah sudah kenal?" kini Angel yang menatap keempatnya tak menunjukkan salaman atau sapaan perkenalan layaknya perkenalan pada umumnya.
"Sayang, Mommy dan Daddy sudah kenal, kemarin saat kalian masuk RS kami semua kan dihubungi oleh pihak sekolah." Vera menjawab agar sang anak tak lagi banyak bertanya.
"Oh gitu." Andrew dan Angel menanggapi santai.
"Oh iya Abizhar, kok kamu bisa kenal sama Dokter Alisha Ibu Uncle Daniel?" kini Angel yang bertanya.
"Dulu Oma Dokter itu dokternya Oma Aku, Oma Shopia. dan Uncle Daniel itu teman Aunty Dinda." jawab Abizhar.
Para orang dewasa nampaknya agar sedikit ketar ketir takut para bicah ini semakin ingin tahu.
__ADS_1
"Andrew, Angel cepat sembuh ya. Tante dan Abizhar pamjt pulang dulu." Andin sudah ingin meninggalkan ruangan dimana Vera berada disana.
"Terima kasih Tante, Om, oh iya Abizhar bagaimana Miss Lala?" Angel bertanya.
"Aku, Dito dan Caca akan mengunjungi Miss Lala dulu sebelum pulang."
"Bagaimana keadaannya Miss Lala?" tanya dokter Alisha yang kini memeriksa kondisi tangan Miss Lala.
"Masih terasa sulit digerakkan Dokter. Apakah akan lama penyembuhannya?" Miss Lala khawatir bagaimana ia akan mengajar jika kondisinya lama seperti ini.
"Miss Lala!" Abizhar, Caca dan Dito didampingi Satya, Andin dan Oma Dito dan Orang tua Caca menjenguk Miss Lala.
"Miss Lala!"
Senyum Miss Lala mengembang saat murid-murid tercintanya menjenguknya.
"Lekas kemari. Bagaimana keadaan kalian? Apakah masih ada yang sakit Abizhar, Dito, Caca?" Miss Lala begitu mengkhawatirkan keadaan para muridnya.
"Alhamdulillah kami semua sudah sehat. Hanya tinggal luka disini." Masing-masing dari mereka menunjukkan perban di bagian lukanya.
"Aduh, Miss Lala sedih melihat kalian terluka sayang. Ingat ya, jangan disepelekan lukanya dan jaga kebersihannya. Dengarkan anjuran Dokter. Betul begitu Dokter Alisha?" Miss Lala memang guru sejati dimanapun, Kapanpun dan Dalam situasi apapun ia selalu memberikan pembelajaran kepada siswanya.
"Benar Bu Guru!" Dokter Alisha menjawab sambil tersenyum mengagumi semangat Miss Lala sebagai guru meski usianya masih terbilang muda.
"Permisi!" suara ketukan terdengar dari pintu ruang rawat Miss Lala.
"Daniel?"
"Mom. Hai Boys, Girls. Halo Syahla bagaimana keadaanmu?" Daniel menyapa semuanya termasuk Miss Lala.
Miss Lala terkejut tak menyangka akan bertemu kembali untuk ketiga kalinya dengan Daniel.
"Kalian saling kenal?" Dokter Alisha kini yang bertanya.
Kini bocah - bocah kembali aktif dan ceriwis menjawab pertanyaan dokter Alisha pada Daniel.
"Jadi waktu itu Caca ga sengaja, mau melempar Dito eh kena Om jeruk, Maksud Caca Uncle Daniel." Caca segera meralat panggilannya.
Dokter Alisha tertawa putranya dipanggil Om Jeruk.
"Andrew, Angel, Dito, Abizhar dan Caca itu sahabatan Oma Dokter." Caca menjawab tanpa malu.
"Miss Lala ini guru kalian?" kembali Dokter Alisha bertanya.
"Tentu Oma Dokter. Miss Lala ini guru kami yang paling baik, perhatian, dan tentunya paling cantik." jawab Dito memuji.
Miss Lala salah tingkah dipuji sedemikian rupa oleh siswanya didepan banyak orang.
"Oh begitu. Jadi Miss Lala guru favorit kalian ceritanya?" tanya Dokter Alisha sambil melirik Daniel putranya.
"Iya Oma Dokter betul sekali. Bukan cuma kami yang favorit dan senang dengan Miss Lala, Mr. Edo pelatih Futsal kita juga suka sama Miss Lala, Ya kan Abizhar?" kini Dito menjawab ceplas ceplos.
"Dito. Ga sopan Nak." Oma Dito mengingatkan cucunya.
"Kali ini Dito betul Oma, Bukan cuma Mr. Edo, Mr. Fajar guru seni kita juga suka foto Miss Lala, Miss Lala fahu ga kalo Mr, Fajar buat lukisan gambar Miss Lala." Caca yang layaknya waetawan infotainment selalu tahu mengenai semua yang ada disekolahnya termasuk guru-gurunya.
Miss Lala tampak terkejut dengan apa yang dikatakan Caca. Miss Lala sendiri tidak mengetahui hal tersebut.
"Wah, berarti Miss Lala banyak sekali fans nya. Miss Lala masih butuh fans lain kah?" kini dokter Alisha bertanya pada Miss Lala.
"Siapa Oma Dokter? kali ini Abizhar angkat bicara.
"Ya Oma dokter tidak tahu. Mungkin ada." Dokter Alisha tersenyum mendapati wajah sang putra berubah cemberut saat mendengar penuturan bocah-bocah ceriwis ini.
Miss Lala semakin salah tingkah.
Andin, Satya, dan lainnya pamit pada Miss Lala.
"Terima kasih semuanya. Kalian jangan lupa minum obat, makan yang bergizi dan istirahat. Jangan banyak aktivitas dulu agar lukanya cepat sembuh." pesan Miss Lala sebelum murid-muridnya pulang.
"Siap Miss!" jawab kompak ketiganya.
__ADS_1
Miss Lala hendak mengambil air karena ia merasa haus.
Miss Lala hanya sendiri selama dirumah sakit. Tidak ada keluarganya yang menunggu.
"Boleh aku bantu?"
Daniel mengambil gelas air yang ingin diraih Miss Lala namun karena luka ditangannya membuat Miss Lala sedikit kesulitan.
"Terima kasih." Miss Lala saat menerima gelas air pemberian Daniel.
"Bagaimana tanganmu, Masih ada yang sakit?"
"Sudah lebih baik. Terima kasih."
"Aku akan meminta Mom memberikan perawatan terbaik padamu."
Miss Lala menatap Daniel.
Daniel yang menatap Miss Lala sejak tadi kini kedua mata mereka bertemu.
"Syahla, bolehkah aku menjadi salah satu fansmu?"
Miss Lala salah tingkah namun ditutupinya dengan tawa.
"Jangan dianggap serius ucapan anak-anak tadi."
"Kalau begitu aku akan meralat permintaanku."
"Maksudnya?"
"Bolehkah aku mengenalmu lebih dalam?"
Miss Lala seketika batuk merasakan tenggorokannya tersedak sesuatu padahal tak ada apa-apa.
Daniek memberikan air minum namun Miss Lala menolak karena ia memang tidak tersedak hanya kaget oleh ucalan Daniel.
"Kecuali kalau Mr Edo dan Mr Fajar salah satu ada yang kamu sukai."
"Tidak. Mereka hanya sebatas rekan kerja." Miss Lala cepat menjawab.
"Kalau begitu tidak ada yang melarang jika aku menyukaimu?" Daniel semakin frontal tampaknya pengalaman adalah guru paling berharga, ia tidak mau membuang waktu untuk menjaga jodoh orang.
"Bagaimana Syahla, apakah kamu mau menerima tawaran bule gila satu ini?"
Kini Dokter Alisha yang masuk, tak sengaja mencari sang putra yang katanya mau mengantar nya pulang justru ditemukan sedang mengutarakan cinta pada pasiennya.
"Mom. I'm not crazy!" Daniel tak terima dikatakan bule gila.
"Kalo tidak gila apa Daniel? Syahla masih sakit, kamu malah nembak dia. Pantas saja sampe sekarang masih jomblo. Maafkan anak Tante ya Syahla. Maklum Daniel ini jomblo senior jadi ga tahu tempat dan waktu nembak cewek." Dokter Alisha tersenyum memergoki kelakuan Daniel yang menururnya ga banget unruk pria seusianya.
Miss Lala hanya tersenyum tidak tahu harus merespon apa.
"Syahla, besok kamu sudah boleh pulang. Tapi setiap minggu kamj wajib ****** kesini ya. Nanti Daniel yang akan antar kamu setiap kontrol. Gapapakan?" Doktee Alisha sama gilanya dengan sang putra yang tak kalah cepat.
"Iya Dokter terima kasih." jawab Miss Lala.
"Daniel, kamu ikut pulang atau mau disini?"
"Disini Mom, Eh maksudnya mau antar Mom pulang."
Miss Lala tak sadar tertawa melihat Daniel.
"Kami pulang dulu ya Syahla, jika butuh sesuatu panggil perawat ya." Dokter Alisha membelai rambut Miss Lala.
"Syahla, aku pulang dulu."
Dokter Alisha tiba-tiba memeluk Miss Lala.
"Sudah Mama wakilkan ya Dan, kamu belom boleh! No!" Dokter Alisha sengaja meledek putranya.
"Mom"
__ADS_1
Daniel malu telak didepan wanita yang kini mengisi relung hati Daniel.
...****************...