Menikahi Kakak Sahabatku

Menikahi Kakak Sahabatku
Bab 45 Mencari Nama


__ADS_3

Andin dan Satya kini sedang leyeh-leyeh dikamar.


Hari ini rumah mereka tampak sepi.


Bunda Dona dan Mama Shopia sedang arisan bersama dengan teman-temannya di bogor.


Dinda yang kini menekuni hobi lamanya yaitu menembak sudah berangkat sebelum Bunda Dona dan Mama Shopia pergi.


"Sayang, kamu setuju dengan ide nama yang Mas pilih untuk anak kita?" Satya dengan posisi berbaring dengan kepalanya dipaha Andin.


"Aku sih setuju aja Mas. Apalagi artinya bagus." Andin menyetujui nama pilihan Satya untuk anak mereka.


"Oh iya sayang, kamu beneran mau lahiran normal? Aku takut kamu sakit sayang. Aku ga masalah kok kamu ceasar, aku ga mau kamu kesakitan sayang." Satya memeluk pinggang Andin.


"Duh suami aku yang baik banget, ganteng, segitu khawatirnya." Andin mengunyel-unyel wajah Satya.


"Aku serius Sayang. Aku ga mau kamu kenapa-kenapa?" Satya menunjukkan wajah kekhawatirannya.


"Mas, kita sama-sama berdoa yang terbaik sama Allah. Insha Allah, Allah akan memberikan kelancaran buat aku dan anak kita saat lahir nanti. Mas janji akan temani aku kan saat lahiran?"


"Mas janji sayang, akan menemani kamu."


Andin memeluk Satya. Andin bisa merasakan kekhawatiran suaminya.


"Mas nanti kita pas aqiqah baby sekalian tasyakuran ya undang teman dan keluarga." Andin ingin berbagi kebahagiaannya atas kelahiran anak mereka bersamaan dengan aqiqah sang anak.


"Iya Sayang. Mas setuju. Sekalian saat itu kita berikan nama." Satya menyetujui saran istrinya.


"Mas aku boleh tanya sesuatu ga?"


"Mau tanya apa sayang?" Satya menatap Andin dengan tatapan cinta.


Andin kini membaringkan kepalanya di dada Satya.


"Bunda dan Ayah alasannya apa memberi nama Satya pada Mas?" Andin penasaran.


Mendengar pertanyaan Andin, ingatan Satya membawanya pada kejadian saat ia berusia 10 tahun waktu itu Satya masih SD.


Satya sedang menuntun Dinda yang kala itu masih duduk di bangku taman kanak-kanak.


Dinda yang saat kecil begitu dekat bahkan tak mau jauh dari sang kakak membuat Satya selalu bersama Dinda menemani adiknya bermain.


Satya juga acap kali mengajak Dinda saat ia bermain dengan teman-temannya karena Dinda tak mau jauh dari Satya.


Sampai pada suatu waktu Satya ada penilaian berenang di sekolahnya.


Dinda yang tahu kakaknya akan berenang memaksa Satya mengajak dirinya agar ikut berenang.


Meski dibujuk oleh Bunda Dona namun Dinda tetap mau ikut Satya berenang.


Akhirnya Satya mengajak Dinda ikut bersamanya berenang.

__ADS_1


Guru Satya mengabsen satu persatu muridnya.


Mengetes kemampuan berenang untuk penilaian kenaikan kelas.


Tibalah saat Satya yang diuji penilaian oleh Gurunya.


"Dinda, Kak Tes dulu ya. Kamu jangan kemana-mana. Jangan berenang sampai kakak selesai penilaian. Kamu belum bisa berenang. Nanti takit tenggelam." Pesan Satya pada asiknya Dinda yang saat itu berusia 5 tahun.


Dinda kecil mengangguk meski ia sepertinya tak mengindahkan pesan sang kakak yang mengkhawatirkannya.


Satya beranjak menemui gurunya.


Guru olahraga Satya bersiap melakukan penilaian pada Satya.


Satya mempraktekan setiap gerakan Gaya Renang yang Gurunya perintahkan.


Satya yang memang mahir berenang, tentu tak mengalami kesulitan dengan Tes yang dilakukan Pak Guru Olahraganya.


"Kakak, Kakak, Tolong!"


Suara teriakan Dinda memanggil nama Satya.


Satya melihat Dinda yang hampir tenggelam dengan tangan bergerak-gerak membutuhkan pertolongan.


Secepat kilat Satya segera menolong Dinda adiknya.


Tak sulit Satya segera menaeik Dinda kecil kepinggir kolam renang.


Dinda yang kala itu panik dan kaget dengan apa yang terjadi menangis memeluk kakaknya.


"Cep Cep Cep Dinda jangan nangis. Kakak ada disini." Satya kala itu menenangkan adiknya.


"Dinda takut. Dinda ga dengerin Kakak ngomong. Maafin Dinda." tangis Dinda semakin kencang.


Satya tertawa melihat wajah lucu Dinda saat menangis.


Dinda kecil berhenti menangis ikut tertawa melihat sang kakak tertawa.


Saat pulang Ayah mereka menjemput kedua putra putrinya.


Dinda langsung menceritakan peristiwa tenggelamnya pada Ayah.


Ayah mendengarkan dengan seksama cerita Dinda.


Kemudian Ayah menasehati Dinda agar menurut pada Satya, karena Satya adalah kakak Dinda dan apa yang Satya katakan benar.


Saat sampai dirumah Dinda segera masuk berlari ke dalam rumah mencari Bunda Dona.


Sementara Satya dan Ayahnya masih didalam mobil.


Saat itu Ayah mengajak bicara Satya.

__ADS_1


"Ayah tidak salah memberikanmu nama Satya, sesuai artinya kamu tumbih menjadi laki-laki pemberani. Kelak jika Ayah tidak ada didunia maka kamulah yang harus menjaga Bunda dan Dinda. Ayah percaya kamu bisa menjaga mereka jika Ayah tidak ada." Ucap Ayah Satua kala itu.


Tanpa sadar airmata Satya mengalir menceritakan moment saat masih ada Ayahnya.


Andin yang sejak kecil tahu bagaimana tidak memiliki Ayah bisa merasakan bagaimana saat orang yang kita cintai pergi selama-lamanya.


Andin membawa tubuh Satya kedalam dekapannya.


Sejenak Satya menikmati hangatnya pelukan Andin.


"Mas Sayang, tak seharusnya Mas secengeng ini." Satya tersadar, malu akan apa yang dilihat istrinya sisi melow pada dirinya.


"Tidak Mas. Menangis bukan menjadikan kamu lemah." perlahan Andin mengusap rambut Satya.


"Ayah benar Mas, kamu memang pemberani. Kamu kini menepati janjimu pada Ayah. Menjaga Bunda dan Dinda. Bahkan kamu juga menjaga aku, Mama Shopia dan anak kita." Dinda menunjuk pada perutnya.


Satya mengusap sisa airmata yang masih membasahi pipinya.


"Sayang, doakan aku agar aku bisa selalu menjaga kalian semua. Bisa panjang umur dan sehat. Agar aku bisa mendampingi putra dan putri kita sampai mereka memiliki anak kalau perlu mereka menimang cucu. Begitupun kamu Sayang, temani Mas sampai Mas menutup mata."


Andin mengangguk, berjanji akan selalu mendampingi Satya.


Meski Allah memiliki dan sudah menentapkan takdir bagi setiap hambanya, bukankah sebagai hamba kita wajib berkhusnudzon dengan Allah.


Karena Allah sebagaimana prasangka hambanya.


Andin memeluk Satya dengan erat.


Satya pun melakukan hal yang sama.


Rasulullah Saw yang diriwayatkan Ibnu Najjar, anak mempunyai tiga hak atas ayah mereka. Antara lain diberikan nama, pendidikan yang baik, dan dibantu memilihkan pasangan yang sesuai.


Maka dari itu, suami atau calon ayah perlu memikirkan baik-baik nama yang akan diberikan kepada sang buah hati.


Walau pemberian nama menjadi hak para ayah, bukan berarti ibu tak bisa ambil andil dalam prosesnya. Sebagai sosok yang menjalani kehamilan selama kurang lebih sembilan bulan, mereka dapat membantu ayah memilah nama-nama yang baik.


Di akhirat kelak, Allah Swt akan memanggil nama-nama tiap muslim yang diikuti nama ayah dengan menambahkan bin (anak laki-laki) dan binti (anak perempuan).


Oleh karena itu, nasab atau garis keturunan dalam Islam sang buah hati berasal dari sang ayah.


Kalau ayah mengikuti syariah serta bahasa Arab, sang anak akan tak akan menemukan bahaya yang merugikan.


Faktor ini pula yang membuat pemilihan nama dalam agama Islam tak boleh dipandang sebelah mata.


Jadi, sematkan nasab pada nama anak laki-laki islami supaya anak dan ayah tak berhadapan dengan risiko di Hari Akhir.


Abu Musa dalam hadis yang diriwayatkan HR. Bukhari pernah mengungkapkan bila para sahabat Rasulullah Saw langsung memberikan nama begitu anak mereka lahir.


Aturan ini sifatnya memang sunah, tetapi akan lebih baik kalau diikuti untuk mendapatkan ridha dan pahala. Pasutri pun dapat mempersiapkan daftar nama yang pantas sebelum masa persalinan tiba.


Akan tetapi, masih ada dua waktu alternatif yang dapat dipilih apabila nama untuk anak belum siap setelah persalinan terjadi.

__ADS_1


Berdasarkan anjuran, ayah dapat memberikan nama anak pada hari ketiga sampai hari ketujuh setelah kelahirannya.


...****************...


__ADS_2