Menikahi Kakak Sahabatku

Menikahi Kakak Sahabatku
Bab 67 Satya Cemburu


__ADS_3

Semua sudah stand by di lokasi tempat Fandi dan Dinda foto prewedding.


Dinda sedang di make up sedangkan Fandi sedang bersiap dibantu oleh orang wardrobe.


Andinpun tampak sibuk di dampingi Gina yang sejak pagi sudah berkordinasi dengan banyak pihak.


"Mbak, beneran gpp, aku takut nih. Ga enak juga sama Pak Satya." Gina yang sejak awal hingga hari ini berulang kali mengatakan pada Andin.


"Gpp Gin. Lagian kita kan profesional. Lagipula kan awalnya kita pakai Mario, tapi kan Mario kecelakaan, Mario menunjuk pengganti, ya kita percaya karena kita tahu Mario ga akan nunjuk sembarangan untuk menggantikan dia. Udah kamu kerja aja, fokus. Soal Pak Satya itu urusan Mbak." Andin memberikan pen jelasan pada Gina.


Sejujurnya sejak 2 hari lalu Mario mengabarkan bahwa ia kecelakaan dan kakinya patah, mau tak mau Andin menyetujui saran Mario soal penggantinya untuk foto prewedding Dinda.


Andin sendiri sudah melupakan kejadian tersebut.


Tak ada yang tersisa di hati Andin bagi masa lalu.


Walaupun jika hari ini keduanya bertemu, ini merupakan pertemuan pertama setelah kejadian dulu.


Tapi Andin yakin 100% ia tak lagi mempermasalahkan soal itu, hati Andin sudah dipenuhi oleh rasa cintanya pada Satya sang suami.


Namun Andin justru mencemaskan Satya.


Andin sebenarnya ingin memberitahukan terlebih dahulu mengenai hal ini, namun Andin takut Satya akan meminta membatalkan sesi pemotretan ini, tentunya akan mengganggu jadwal lain pada rangkaian persiapan pernikahan Dinda.


Dinda sendiri sudah Andin beritahu dan Dinda pun tidak mempermasalahkan akan hal itu.


Dinda yakin Andin hanya bersikap profesional toh Dinda sudah melihat sendiri selama 6 tahun pernikahan Andin dan Satya keduanya memang saling mencintai.


Satya mengajak main Abizhar yang juga ingin ikut melihat Uncle dan Auntynya berfoto.


Selain itu Bunda Dona juga memanfaatkan momen kali ini untuk membuat foto keluarga, jadi sekalian ada waktu dan kesempatan.


Suara deheman pria terdengar dibelakang Andin saat ia sedang membicarakan segala persiapan dengan Gina dan tim mereka.


Andin membalikkan badannya.


Kini lria yang sempat memporak-porandakan hati Andin berdiri di hadapannya.


Namun berkat kejadian itu pula Andin bisa menemukan pria terbaik seperti Satya dalam hidupnya yang kini menjadi suaminya.


"Hai Din. Apa kabar?" Tio tersenyum mengulurkan tangannya mengajak Andin bersalaman.


Andin bersalaman sewajarnya dengan Tio.


"Baik. Btw Mario sudah jelasinkan soal konsep hari ini?" Andin langsung to the point.


"Iya sudah." Tio pun merasa Andin memperlakukannya selayaknya mitra kerja.


"Oh iya silahkan, kalian bisa persiapan dulu, kita juga menyiapkan kopi dan sarapan. Ajak tim kamu sarapan dan ngopi dulu. Aku tinggal lihat Dinda dulu ya." Andin menawarkan kepada Tio dan Timnya ngopi dan sarapan.


Tio menatap kepergian Andin.


Dalam benak Tio " Andin banyak berubah, Andin semakin cantik." batin Tio.


Sementara disisi lain Satya yang sedang menemani Abizhar bermain menatap cemburu saat Tio bersalaman dengan Andin, terlebih tatapan Tio pada Andin saat Andin berlalu meninggalkan Tio.


Trio Oma yang sibuk mengabadikan kebersamaan mereka dan tampak sibuk live instagram bersama genk sosialitanya.

__ADS_1


Dinda dan Fandi sudah siap keduanya sudah terlihat cantik dan ganteng dalam balutan busana pertama.


"Hai Tio. Kenalin calon suami gw." Dinda yang memang kenal dengan Tio mengenalkan Fandi kepada Tio.


"Fandi."


"Tio."


Satya dan Andin juga menghampiri mereka sambil membawa Abizhar bersamanya.


"Tio, kenalin ini Satya, suamiku." Andin mengenalkan Satya pada Tio.


Keduanya bersalaman, tatapan keduanya seakan bagai sambaran petir.


Tio melepaskan salaman Satya yang ia rasa sangat kencang pada tangannya.


"Siapa anak ganteng, Om boleh kenalan?" Tio menyapa Abizhar yang berada dalam gendongan Satya.


Abizhar menerima uluran tangan Tio dan menyalaminya.


"Abizhar Om, Om siapa?" Abizhar bertanya.


"Nama Om Tio. Om yang hari ini foto Tante Dinda. Om juga teman Mama Abizhar." Tio memperkenalkan dirinya.


Kata "Teman Mama Abizhar" mampu membuat tatapan Satya semakin tajam pada Tio.


Sementara Andin dan Dinda merasa Tio sengaja mengatakan hal itu.


"Iya Sayang, Om Tio ini teman Mama, Teman Papa juga." Satya memberikan penjelasan sebelum mulut kritis Abizhar bertanya macam-macam.


"Oke. Dinda dan Mas Fandi siap ya." Tio dan Tim mulai mengarahkan pose-pose pada Dinda dan Fandi.


Sementara Andin kini sedang dibawa Satya menjauh dari lokasi.


Oma Dona yang memang sudah tahu akan hal ini dari 2 hari lalu, memilih membawa Oma Shopia, Oma Arini dan Abizhar menikmati wahana di sekitar lokasi foto.


"Mas, maafin aku. Aku bukannya mau bohong. Tapi," kata-kata Andin terpotong oleh ucapan Satya.


"Dinda dan Bunda tahu? Mama Shopia juga tahu?" Satya menatap wajah istrinya.


Andin mengangguk.


"Kamu mau ngasih kejutan buat Mas?" Satya masih dengan nada jutek.


"Ga gitu Mas. Aku cuma takut Mas marah, terus membatalkan foto ini, masalahnya waktunya mepet dan ga gampang cari pengganti Mario." Andin menatap dengan wajah memelas pada Satya.


"Ywd." Satya asal menjawab.


"Mas, marah ya? maafin aku ya? Mas cemburu ya?" Andin mencoba menggoda Satya.


Satya tidak menjawab. Mode diam kini sedang dimainkan Satya.


"Mas, aku tuh udah ga ada perasaan apa-apa sama Tio. Sumpah Mas." Andin kini menggenggam tangan Satya.


"Tapi dia keliatan masih suka sama kamu!" Satya mendengus kesal mengingat tatapan Tio saat memandang Andin.


"Aku ga peduli, Karena dihati aku sejak aku jatuh cinta sama kamu saat itu, kini dan selamanya cuma hanya ada untuk kamu Mas." Andin membawa tangan Satya yang ada dalam genggamannya ke dadanya.

__ADS_1


Satya selalu bersedir setiap menyentuh Andin.


Meski mereka bukan lagi pengantin baru, namun Andin dan segala yang ada pada dirinya mampu membuat darah Satya bergolak dan jantung nya berdetak lebih kencang seperti genderang yang mau perang.


Satya memeluk Andin.


Mengeratkan dekapannya.


Seolah Satya menegaskan " She is Mine!"


Satya membenamkan wajah wanita yang ia cintai dalam dadanya.


"I Love You Honey, You are My Everything." Satya mengecup pucuk kepala Andin.


"I Love You Too, Darling. There's only you in my heart." Andin dengan frontal mengecup bibir Satya dengan lembut.


Tentu saja hal itu membuat Satya senang dan bahagia.


Terlebih sejak tadi ada sepasang mata yang menatap kearah mereka.


Melihat pemandangan tersebut Tio membuang wajahnya.


"Andin, maafkan atas kesalahan ku padamu. Andai aku tidak bertindak bodoh dengan mengkhianatimu waktu itu, hal ini tidak akan terjadi." batin Tio melepaskan pandangannya membuang wajahnya saat melihat Andin mencium bibir suaminya dengan penuh cinta.


Dinda yang sedang break foto tak lepas memperhatikan moment tersebut.


Dinda tersenyum bahkan ia semakin yakin bahwa Andin memang sudah benar-benar melupakan Tio dan benar-benar sangat mencintai Satya kakaknya.


"Ehem." Fandi menyadarkan Dinda yang menurutnya asik memandangi Kakak dan Kakak iparnya.


Dinda justru kaget saat Fandi ternyata sudah berada di belakang nya sangat dekat.


"Sabar Nda, Kamu juga bisa kok begitu ke aku, tapi nanti kalo sudah halal." Fandi berbisik di telinga Dinda.


Dinda segera berbalik kehadapan Fandi.


"Oh inget sama calon istri? Kirain lupa?" Dinda berbisik ditelinga Fandi menyambung soal ngambeknya kemaren.


"Kangen ya?" Fandi menaikkan kedua alisnya.


"Ge Er!" Dinda hendak berlalu.


Tangan Fandi dengan cepat menahan Dinda.


"Kamu tuh gemesin. Kalo aku deket-deket kamu terus, aku takut khilaf sayang." Fandi berbisik dengan nada yang tidak biasa.


Dinda melihat tatapan Fandi, Dinda jadi merinding.


Sementara Dinda akan melepaskan posisi mereka, Tio justru berteriak.


"Tahan sebentar, bagus, 3,,,2,,,1. Ok.Good" Tio menggacungkan jempol pada Dinda dan Fandi.


"Gitu dong Din, Mas Fandi. Relax aja. Natural. Hasilnya bagus nih!" Tio menatap layar kamera sambil mengomentari hasil jepretannya.


Fandi tersenyum melihat wajah salting Dinda, sementara Dinda jangan ditanya, jantungnya berdebar kencang, rasanya seperti naik Hysteria di Dunia Fantasi.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2