
"Sayang, Andin."
Bunda Dona memanggil menantunya yang tak terlihat didalam rumah.
"Assalamualaikum." Dinda dan Fandi saat datang ke rumah Satya.
"Waalaikumsalam." Mama Shopia menjawab salam keduanya saat memasuki rumah.
"Sepi banget Ma, pada kemana?" Dinda dan Fandi mencium tangan Mama Shopia bergantian.
Dari arah taman belakang Bunda Dona masuk ke dalam, dan kini berkumpul bersama Dinda, Fandi dan Mama Shopia.
"Sayang." Sapa Bunda Dona kepada Dinda dan Fandi.
"Sepi Bun, pada kemana sih?" Dinda kembali mengulang pertanyaannya.
"Bunda juga cari Andin, eh Satya dan Abizhar juga ga keliatan.
"Mereka sedang ke taman kompleks, Andin kepingin makan bubur kacang hijau disana." Mama Shopia menjelaskan.
"Kalian sudah sarapan? Yuk sekalian sama Bunda dan Mama." ajak Bunda Dona kepada anak dan menantunya.
"Sayang, Mama kemarin bikin rendang, ayo Fandi makan juga." Mama Shopia saat membawa rendang dalam piring yang sudah dihangatkan bibi.
"Wah ada rendang nih, jadi semangat Dinda Ma." Dinda dengan sendok dan garpunya serta mata berbinar senang melihat rendang didepan matanya.
"Heran Bunda sama kamu Din, makanan apapun ga ada yang kamu ga suka, untung badan kamu langsing aja walau makan kamu itu PORTUGAL!" Bunda Dona yang heran meski sudah faham mengenai selera makan putri cantiknya.
"Mama, Bunda tuh!" Dinda merengek meminta pembelaan dari Mama Shopia.
Bunda Shopia tersenyum melihat kelakuan manja Dinda namun begitu ia menyanyangi Dinda sama seperti menyayangi Andin.
"Fandi, istri kamu ga perlu kamu kasih makan enak-enak, Dinda nasi pakai garem aja bisa sebakul makannya." Bunda Dona yang masih senang meledek putrinya yang kini sedang nikmat menyantap nasi dan rendang.
"Alhamdulillah Bunda, makanya Fandi sayang banget sama Dinda, gampang ngasih makannya." Fandi tersenyum sambil mencubit pipi istrinya yang sedang lahap menyantap sarapan.
"Ga Bunda, Ga Beib sama aja. Untung Kak Satya lagi ga ada, kalo ga, beuh tambah deh satu lagi." Dinda mendengus sebal.
"Siapa nih pagi-pagi yang udah ngabisin nasi kita Bun?" Satya dan keluarganya masuk langsung meledek Dinda.
"Ih panjang umur banget. Tahu aja kalo namanya disebut!" Dinda yang melihat kakaknya sudah datang langsung meledek dirinya.
"Assalamualaikum." Andin dan Abizhar masuk mengucap salam dan mencium tangan Bunda Dona dan Mama Shopia.
"Waalaikumsalam." jawaban semua yang ada dimeja makan.
"Bun, Ma, Din, Fan, Mbak bawa kacang hijau. Ayo dicoba selagi hangat." Andin menunjukkan kantong yang berisi bubur kacang ijo ditangannya.
"Din, gw sisain ya, nanti selesai sarapan gw makan Burkajonya." Dinda sudah nitip.
"Sayang, kamu masih makan masa udah mau makan bubur kacang ijo aja?" Fandi mengusap kepala istrinya tersenyum.
"Iya, dimulut makanan kamu aja belum habis Dinda. Udah cemas ga kebagian bubur kacang ijo." Satya geleng kepala dengan selera makan adiknya.
"Ga tahu kepingin makan aja bawaannya." Dinda yang telah menyelesaikan nasi dan rendangnya, beralih mengambil burkajo.
"Jangan-jangan Dinda hamil?" Andin dalam hati kecilnya.
Seolah tak memikirkan ledekan kakak dan bundanya Dinda melahap burkajo dengan lahap meski telah menyantap nasi dan rendang sebelumnya.
Sementara berbanding terbalik dengan suaminya Fandi yang tampak tidak selera makan.
"Fan, makannya ga dihabiskan? Atau mau Bubur kacang hijau?" Bunda Dona sedikit heran melihat menantunya.
__ADS_1
"Maaf Bun. Fandi sudah kenyang. Nanti saja, belakangan kalau makan rasanya mual." Fandi memang sejak seminggu belakangan hilang selera makannya.
"Tuh kan kayaknya bener deh. Dinda hamil. Gw mesti ajak Dinda periksa." batin Andin.
Tampak Bunda Dona dan Mama Shopia saling berpandangan seolah satu dan lainnya saling menduga akan sesuatu.
"Alhamdulillah. Kenyang sudah." Dinda yang sudah memghabiskan burkajo kini sudah berpindah ke ruang TV menonton dan merebahkan tubuhnya santai.
Seluruh keluarga berkumpul di ruang TV saling berbincang dan menonton sedangkan Abizhar sudah pamit latihan futsal bersama Andrew dan Dito.
Saat kedatangan Dito dan Andrew menjemput Abizhar. Tentunya seluruh keluarga yang sedang berada diruang TV bertemu dengan sahabat karib Abizhar.
Andrew dan Dito mencium tangan semua anggota keluarga Abizhar bergantian.
Andrew dan Dito yang akan latihan futsal tentu saja datang dengan pakaian futsal lengkap.
Tiba-Tiba saja Dinda menutup hidungnya dan ia merasa perutnya ansh dan menjadi mual.
"Andrew, Dito, maafin Aunty Dinda ya, kalian bisa ganti baju ga? Aunty mual soalnya." Dinda menutup mulutnya.
Saling bertatapan dan saling bertanya melalui tatapan yang aneh melihat reaksi Dinda.
Abizhar yang sudah siap juga memakai pakaian yang sama dengan Andrew dan Dito.
Jika biasanya sang Aunty dengan sangat gemas memeluk dan mencium Abizhar meski Abizhar kini sudah beranjak menuju pra remaja dan sedikit risih dengan kelakuan Dinda tapi anehnya kini malah Dinda yang enggan saat Abizhar ingin cium tangan dan memeluk Auntynya.
"Aunty kenapa?" Abizhar melihat reaksi Dinda memipih pindah menjauh dari Abizhar.
"Sayang Aunty, bisa ganti ga bajunya, Aunty mulai lihat kalian pakai baju itu." Dinda sudah tak bisa menahan mualnya, ia berlari menuju toilet untuk mengeluarkan semua isi perutnya.
Fandi dengan sigap menghampiri Dinda mengurut leher Dinda agar semakin enak dan dengan gampang mengeluarkan mualnya.
"Sayang, kedokter aja yuk, kamu belakangan sering mual deh. Waktu itu kamu nonton aku tanding futsal kamu juga muntah-muntah. Waktu nemenin aku nonton bola di TV kamu juga muntah." Fandi sambil mengusap punggung Dinda.
Tentu saja Dinda merasa perutnya sangat tidak enak karena terus muntah membuat kepala Dinda pusing.
"Aku panggilin dokter ya."
Fandi segera menghubungi dokter Harun.
Semua tampak cemas dengan kondisi Dinda.
Dokter Jarun datang segera memeriksa Dinda.
Dengan cermat dan bertanya beberapa hal agar bisa mendiagnosa Dinda.
"Apakah ada testpack?" Dokter Harun menanyakan.
"Ada dok." Andin yang memang menyimpan alat tersebut segera mengambil dan memberikannya pada Dokter Harun.
"Silahkan Dinda testpack dulu, semoga hasilnya positif." Senyum Dokter Harun.
Dinda mengikuti saran dokter Harun.
Dinda sebenarnya tidak yakin karena belum genap 1 bulan yang lalu ia haid.
Dinda tetap saja harap-harap cemas.
Dinda takut semua orang kecewa jika hasilnya negatif.
Dinda menunggu beberapa saat di dalam toilet.
Sementara diluar juga tak kalah dag dig dug cemas menunggu Dinda keluar toilet.
__ADS_1
"Garis Dua." Dinda dengan tatapan nanar tak terasa bulir air matanya menetes.
Dinda keluar dengan testpack yang ia masukan kembali kedalam kemasannya.
Mata Dinda yang basah air mata tanpa ekspresi membuat semuanya bingung.
Fandi segera mendekat pada Dinda.
Fandi takut Dinda terpukul jika hasilnya negati Fandi tidak mau Dinda semakin terbebani akan kehamilan.
"Sayang, gapapa kalau belum. Kita bisa coba lagi." Fandi merangkul Dinda tal peduli disana banyak pasang mata yang melihatnya.
Fandi hanya terpikir Dinda yang sedih dan akan kembali murung dan tertekan.
"Beib," Dinda mengguncang tubuh Fandi.
Fandi melepaskan pelukannya. Melihat Dinda menyodorkan bungkusan testpack kepada dirinya.
"Aku ga mau kamu sedih. Buang saja Sayang. Tang penting kamu sehat, happy, aku sudah bahagia. Aku ga mau kamu sedih." Fandi kembali memeluk istrinya.
"Ih, liat dulu." Dinda melepas pelukannya.
"Iya aku lihat. Tapi kamu senyum ya setelah ini." Fandi menerima bungkusan ditangan Dinda dan menatap wajah isyrinya yang tanpa ekspresi hanya menyisakan bekas airmata.
Fandi membuka kemasan dan mengeluarkan testpack tersebut dan melihat hasilnya.
Wajah Fandi seolah tak melukiskan apapun, membuat semua yang ada disana semakin cemas sebenarnya apa hasilnya.
"Kamu positif Sayang!"
Fandi memeluk Dinda dengan erat.
Begitupun Dinda membalas pelukan Fandi bersamaan Fandi mencium pucuk kepala Dinda bertubi-tubi.
"Alhamdulillah." terdenhar koor kelegaan dari semua anggota keluarga akan kehamilan Dinda.
"Sebaiknya segera periksaan ke poli obgyn agar bisa diketahui berapa usia kandungannya dan bagaimana kondisi janinnya." Dokter Harun angkat bicara.
"Terima kasih banyak Dok." Fandi menyalami dokter Harun.
Semua memeluk Dinda bahagia mengetahui kehamilan Dinda.
Dinda bahagia sekali.
Memeluk Andin tentu saja Dinda terhalangi oleh perut buncit Andin.
"Sebentar lagi akan akan seperti ini." Dinda mengusap perut Andin.
"Iya. aku senang Din. Jaga baik-baik ya. Pelan-pelan jangan grasak grusuk."pesan Andin.
"Sayang, Bunda senang. Pokoknya mulai sekarang makan yang bener. Jangan asal. Inget ada cucu Bunda didalam sini." pesan Bunda Dona seraya memeluk Dinda.
"Sayang Mama, alhamdulillah. Jaga kesehatan ya, jangan terlalu capek. Kalo ingin makan sesuatu kasih tahu mama, nanti mama masakin." Mama Shopia memeluk Dinda.
"Adikku yang nyebelin, yang tukang ngabisan beras, bakal punya baby. Alhamdulillah. Semoga kamu dan keponakan kakak selalu sehat, lancar sampai waktu persalinan nanti." Satya memeluk Dinda meski diawali dengan candaan.
"Ih aku kan makan banyak bawaan keponakan kakak yang ada diperut aku. Kak Satya harus ikhlas kalo aku numpang makan, keponakan kakak loh yang minta!" Dinda dengan lancar menjadikan janinnya sebagai alibi.
"Iya deh. Kak sekarang ikhlas. Kakak ga mau kalau sampe keponakan kakak ileran kalo ga diturutin." Satya mengacak rambut Dinda adiknya.
Semua tersenyum gembira. Bahagia tentu dirasakan semua anggota keluarga Permana.
...****************...
__ADS_1