
Andin menyiapkan segala keperluan yang akan mereka bawa selama perjalanan ke Bandung.
Satya yang sejatinya akan mengikuti seminar membawa serta Andin kali ini.
"Sayang, aku ngapain coba selama kamu seminar 2 hari?" Andin yang bingung karena Satya akan mengikuti seminar selama 2 hari dari pagi hingga sore sementara Andin bingung mau ngapain selama Satya seminar.
"Jadi kamu tega aku tidur sendirian 2 malam?" Alasan Satya membawa Andin dalam perjalanan dinasnya kali ini.
Andin menurut saja dengan permintaan Satya.
Selain suaminya akan ngambek Andinpun juga senggang pasca klien terakhirnya putri pak Kapolri.
Satya mengendarai mobil dengan senyum lebar diwajahnya.
Membayangkan Andin tetap bersamanya saat seleaai seminar dan Satya yang tak tidur sendirian di hotel.
Sementara Andin memikirkan apa yang akan dilakukannya 2 hari di Bandung selagi Satya seminar.
Seminar yang akan Satya ikuti akan berlangsung besok.
Satya dan Andin check in di hotel.
Keduanya melepas lelah membaringkan tubuh diranjang hotel berukuran king size.
Satya memeluk Andin dan memejamkan matanya.
Andin yang menginginkan ke toilet melepaskan pelukan Satya darinya.
"Mau kemana Sayang?" Satya mempererat pelukannya pada Andin.
"Kebelet pipis Mas." Satya melepaskan pelukannya setelah tahu Andin butuh ke toilet.
"Sayang, sekalian mandi bareng yuk." Teriak Satya sementara Andin masih didalam toilet.
Andin bergegas menyelesaikan keperluan dan keluar dari toilet.
"Yang ada ga cuma mandi Mas kalo bareng kamu." Andin yang mematut dirinya dicermin membenarkan riasan diwajahnya.
Satya melihat Andin beranjak dari ranjang menghampiri istrinya yang kini sedang mengoleskan lipstik pada bibirnya.
CUP
Satya secepat kilat mencium bibir ranum Andin.
Tentu saja bibir tersebut semula rapi dengan polesan lipstik kini sedikit belepotan karena ulah Satya.
Andin menatap sebentar kearah cermin mendapati bibirnya yang belepotan seketika menatap kesal pada Satya.
Satya hanya tersenyum dan kembali melancarkan aksinya.
Kali ini pagutan Satya lebih dalam dan sangat panjang.
Andin masih sulit mengimbangi Satya yang memang seakan selalu mampu membuat Andin dimabuk kepayang.
"Sayang, sepertinya dia bertambah besar?" Tatapan Satya tertuju pada 2 benda kenyal Andin yang kini asik diremasnya.
"Gimana ga tambah besar, tiap malam Mas.."
Satya tak menghiraukan jawaban Andin, malah asik menikmati kedua benda yang ia kuasai sejak tadi.
Sangat amat liar biasa bagi Andin setiap sentuhan yang Satya berikan.
Satua layak nya bayi yang kelaparan kini merajai aset berharga milik Andin.
__ADS_1
Andin begitu menikmati setiap tindakan Satya padanya.
"Mas, jangan digigit." Andin meringis karena asetnya merasakan ngilu.
"Menggemaskan Sayang." Satya terus melakukan aksinya pada kedua dataran tinggi tersebut.
Kring,,,Kring,,,
Suara HP Andin berdering.
Sebanyak 3 kali HP Andin berdering.
"Mas aku angkat dulu, takut penting." Andin meraih HP nya yang berada di nakas.
Dengan wajah lesu Satya menghentikan aksinya menunggu Andin menjawab panggilan telponnya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Kenapa Din?"
"Iya bener. Oh gitu. Ywd aku tunggu ya."
Andin menutup pembicaraannya di telpon.
"Siapa sayang?" Satya dengan wajah kepalang tanggung menanyakan siapa yang berani menganggu waktu asiknya.
"Mas, Bunda dan Dinda nyusul kesini." Andin beranjak dari kasur memunguti pakaiannya yang Satya lempar sembarang saat keduanya akan senam poco-poco.
"Kok bisa tahu kita disini?" Satya menepuk dahinya.
Andin menceritakan asal muasalnya.
"Mas mandi sudah sore."
Dengan malas Satya menuruti permintaan istri tercintanya.
"Nanti malam kamu harus bayar hutang ya ke Mas!" Satya berkata sebelum masuk kamar mandi.
Andin hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan suaminya yang selalu tak pernah cukup dalam hal itu.
Menikmati makan malam bersama.
Bunda Dona, Dinda dan Andin tampak bersenda gurau membicarakan apapun.
Sementara Satya yang cemberut menikmati makanannya dengan wajah layaknya PNS telat gajian.
"Muka kamu jangan cemberut begitu Sat. Jelek!" Bunda sengaja meledek putranya yang tahu sedang kesal karena merasa terganggu.
"Lagian Ka, kasian kan Andin. Kakak seminar terus Andin bengong gitu!" Dinda semakin membuat Satya kesal.
"Terus nyusul kesini, gangguin gitu!" Satya ngegas.
Andin menyaksikan keluarganya yang sedikit bar bar hanya bisa tersenyum.
Bunda Dona dan Dinda puas menertawakan Satya.
Namun Satya tersenyum penuh arti dan menghitung mundur dalam hati.
"Malam Tante, Dinda, Satya, Andin."
Sekejap tawa Dinda hilang berganti tatapan melotot ke arah Bunda Dona.
__ADS_1
Bunda Dona kaget bercampur senang karena kejutan inilah yang Satya maksudkan.
"Silahkan duduk Nak Fandi."
Dinda tak merespon dan wajahnya datar saja.
Fandi.
Pria yang dikenalkan Bunda Dona sebagai anak dari sahabatnya Bunda Dona.
Seminggu lalu saat menghadiri resepsi pernikahan bersama Bunda dan Kakaknya.
Menyebalkannya lagi Pria itu ternyata tetangga Satya dan Andin yang pernah bersitegang dengan Dinda soal parkir mobil.
Dan Ternyata wanita yang Dinda temui saat mengantarkan hampers adalah ibu dari pria yang bernama Fandi.
Rasanya kepala Dinda mau pecah dengan kenyataan itu.
"Din, kok diem aja sih. Fandi nanya kamu tuh." Bunda Dona menyadarkan lamunan Dinda.
"Bun, aku balik ke kamar ya." Dinda meninggalkan meja bergegas meninggalkan semuanya.
Bunda Dona yang tahu sifat Dinda paham putrinya kesal hendak menyusul.
"Tante biar saya saja." cegah Fandi.
Dinda dengan perasaan kesalnya berjalan menuju kamar hotel.
"Sengaja ya biar Saya kejar" Fandi membuat langkah Dinda terhenti.
Dinda tahu suara siapa yang menyebalkannya.
Dinda berbalik menatap tajam pada Fandi yang tersenyum.
"Gw ga tertarik sedikitpun ya sama Lo!" Dinda melotot.
"Siapa juga yang tertarik sama Lo. Seneng aja bisa bikin Lo kesel. Tambah jelek muka Lo kalo kesel." Fandi berbicara didepan wajah Dinda.
"Dasar Pengangguran Banyak Acara!" Dinda berbalik dan pergi.
"Terus aja begitu, gw semakin seneng malah. Artinya bukan gw yang menolak dan dinilai jelek nyokap Lo." Bisik Fandi di telinga Dinda.
"Maksud Lo apa?" Dinda menaikan suaranya.
Fandi melirik melihat Bunda Dona yang sedang mendekat kearah keduanya.
"Saya tahu kamu masih cinta sama mantan kamu, kalau begitu maafin Saya, karena Saya cuma mau deket sama kamu, karena Saya suka sama kamu Dinda." Fandi mampu membuat amarah Dinda memuncak.
Dinda yang baik pitam dengan kelakuan dan perkataan Fandi seketika hendak menampar Fandi namun terhenti dengan teriakan Bunda Dona.
"Dinda!"
Dinda menoleh kearah Bunda Dona, kemudian menatap Fandi tajam.
Dinda kabur dari situasi tersebut.
Sementara Satya menghampiri Bunda dan Andin mengejar Dinda.
Sementara tatapan Fandi lekat akan kepergian Dinda.
"Seharusnya aku senang, tapi mengapa begitu sedih dan perih melihat wanita itu terluka." batin Fandi.
...****************...
__ADS_1