Menikahi Kakak Sahabatku

Menikahi Kakak Sahabatku
Bab 30 Jogging


__ADS_3

Tema pagi ini sepertinya adalah jogging bersama keluarga Satya.


Formasi lengkap yang terdiri dari Bunda Dona, Mama Shopia, Satya, Andin dan Dinda tampak kompak dengan setelan pakaian jogging disekitar komplek.


Satya dengan sabar dan mesra menuntun Andin mengitari taman membuat ibu-ibu yang melihatnya sangat sweet membuat envy siapapun yang berjumpa dengan kedua pasangan calon Pahmud dan Mahmud itu.


Sedangkan Bunda Dona dan Mama Shopia memilih berjalan santai bercengkrama sesekali saling bertegur sapa dengan tetangga yang kebetulan sedang jogging di taman itu.


Sedangkan Dinda sang Jojoba versi Dinda walaupun Satya sering meledek adik nya sebagai Jones memilih lari mengitari seputar taman dengan tampilan yang mampu membuat mata kaum adam terpesona.


"Mau ngambil Gaji Mbak, kenceng amat larinya."


Dinda menatap malas melihat pria usil dan nyebelin siapa lagi kalau bukan Fandi sang tetangga sekaligus pengacara yang sering diplesetin Dinda sebagai pengangguran banyak acara.


Dinda tak menghiraukan keberadaan Fandi yang memiliki hobi ngeledek dan membuat kesel.


"Pantes aja jomblo, juteknya ga ketulungan!" Fandi terus mengiringi Dinda walaupun tak digubris sedikitpun oleh Dinda.


Fandi tampaknya punya segudang kegilaan untuk menjahili Dinda dan membuat Dinda kesal.


Dan kali ini kembali berhasil.


"Eh Soni, Jogging Juga!" Fandi seakan menegur Soni.


Dinda menghentikan langkahnya.


Dengan nafas tersengal entah lelah jogging atau menahan marah.


Entah apa maksud Fandi yang sering sekali menyebut-nyebut nama Soni yang tak lain mantan Dinda.


Dinda berkacak pinggang menatap Fandi dengan tatapan setajam silet ala Feni Rose presenter gosip kondang.


"Lo tuh ga ada kerjaan ya! Atau Lo naksir sama Soni!" Dinda kali ini kesal dengan tetangga ter menyebalkan.


"Dih Geer banget Lo, emang nama Soni cuma mantan Lo doang." Fandi ngeles sengaja meledek Dinda.


Dinda tak mampu lagi bermanis bahasa.


Dinda tak perduli.


"Denger ya Pak Pengacara Gabut! Kalo niat Lo cuma buat caper sorry gw ga minat. Dan satu lagi, Terserah Lo mau pake cara apapun, Please cara Lo Norak!"


Dinda selesai mengeluarkan unek-uneknya langsung meninggalkan Fandi.


Dinda mendekati Bunda dan Mama yang sedang berbincang dengan wanita yang pernah Dinda jumpai saat memberikan hampers tak lain adalah ibunda Fandi.


Meski kesal dengan anaknya Dinda tetap berlaku sopan.


"Nak Dinda, lagi jogging juga?" Sapa ibunda Fandi yang memang teman Bunda Dona.


"Iya tante." Dinda mencium tangan ibunda Fandi.


Fandi mendekati mereka bersamaan dengan itu Andin dan Satya juga ikutan nimbrung.


Berbincang diselingi senda gurau yang sebenarnya Dinda ingin sekali beranjak pergi namun tatapan Bunda Dona yang Dinda paham betul maksudnya menahan Dinda segera kabur dari situasi yang membuat Dinda tak nyaman apalagi alasannya kalau bukan ada si biang rese Fandi.


Obrolan berlanjut dengan sarapan bubur ayam di dekat taman komplek mereka.


Sialnya bagi Dinda, Fandi memilih duduk dekat Dinda.


Jika ada kursi lain Dinda memilih pindah duduk sayangnya tak hanya keluarganya yang menikmati sarapan bubur saat itu para pejogging juga memiliki keinginan yang sama dengan mereka menyantap bubur selepas jogging.


Fandi yang menurut Dinda SKSD bisa membaur dan asik ngobrol dengan keluarganya.


Begitupun dengan Satya, Fandi bisa nyambung dengan kakaknya.


Bunda Dona dan Mama Shopia jangan ditanya, Fandi begitu terampil berbincang dengan para ibu dan mengalir lancar.


Tampaknya memang dengan Dinda saja Fandi rese dan menyebalkan.


Satya menyelesaikan pembayaran bubur mereka, sebelum itu sempat ada drama Fandi ingin membayar namun dengan gaya bicara Fandi yang luwes akhirnya mengalah dan membiarkan Satya melakukannya.

__ADS_1


Semua berjalan kembali menuju kerumah.


Kali ini Fandi asik berbincang dengan Satya.


Entah apa yang dibicarakan keduanya.


Para ibu asik sendiri dengan segala obrolan mereka.


Sedangkan Dinda bergandengan dengan Andin.


Andin tampak sesekali mengelus perut yang merasakan gerakan anaknya diperut.


"Din baby gerak-gerak ya?" Dinda memegang perut Andin saat ia melihat perut Andin bergerak dan ada tonjolan.


Andin mengangguk dan mengarahkan tangan Dinda kesamping perut bagian kanan.


"Din gerak. ini tangan apa kaki ya." Antusias Dinda merasakan gerakan baby, keponakannya diperut Andin.


"Sayang Aunty pinter banget sih, tapi jangan buat Mama sakit ya, keponakan aunty yang pinter dan cantik seperti auntynya." Dinda dengan sayang mengusap perut Andin.


"Hai baby, perkenalkan ini uncle Fandi, sahabatnya aunty Dinda."


Fandi bersama Satya mendekati Andin yang bersama Dinda.


Dinda memutar bola matanya malas meladeni tingkah Fandi.


"Jeng mampir dulu, sekalian saya mau memberikan rempah-rempah yang tadi saya ceritakan." Ibunda Satya mengajak semuanya mampir kerumah mereka yang berada disebelah rumah Satya.


Tentu saja Dinda sudah ambil ancang-angcang ga ikut justru tertahan dengan panggilan Ibunda Satya.


"Nak Dinda, ikut mampir yuk."


Dinda baru saja mau membuka mulutnya menolak lagi-lagi mata Bunda Dona sudah membulat menatap Dinda memberi kode ikut.


Dinda dengan senyum dipaksakan mengikuti keluarganya mampir kerumah Fandi.


Ibunda Fandi mengajak para ibu sekaligus Andin menceritakan khasiat rempah rempah yang ia dapat kemaren saat keluar kota.


Masing-masing diberikan dengan khasiat yang berbeda beda.


"Terima kasih Tante." Andin menerima dan berterima kasih.


Sementara Bunda Dona dan Mama Shopia juga dapat herbal yang sama sesuai kebutuhan keduanya yang sebaya dengan ibu Fandi.


"Fan, oleh-oleh yang satu lagi dimana?" Ibu Fandi bertanya pada Fandi.


Fandi menghampiri ibunya saat ia sedang berbincang dengan Satya.


"Coba kamu ambilkan, itu Mama siapkan untuk Dinda. Dinda ikut Fandi ya." Ibu Fandi meminta Dinda mengikuti Fandi.


Dinda rasanya mau segera balik kembali mata Bundanya semakin membulat besar.


Dinda rasanya akan marah saat kembali pada Bunda.


Kini Dinda mengikuti Fandi keruang kerja Fandi.


Jauh keberadaan keluarga keduanya.


"Siapa sekarang yang caper?" Fandi berbalik menghadap Dinda.


Dinda ga selera meladeni Fandi.


Dinda segera berbalik meninggalkan Fandi namun lidah Fandi mampu menahan Dinda dengan perkataannya.


"Ga mau liat gambar menarik." Fandi menyodorkan sebuah foto pernikahan Soni dan Foto Fandi dengan perempuan yang menjadi istri Soni.


Dinda tersentak melihat kedua foto itu.


Bagimana bisa wanita yang sama ada di dua foto itu. batin Dinda dalam hati.


"Kenapa? penasaran? penasaran dong!" tawa Fandi meledek.

__ADS_1


Dinda menatap mata Fandi tajam.


Tatapan Dinda langsung menusuk netra Fandi tanpa senyum sedikitpun.


"Sorry, gw ga se kepo Lo. Gw ga ada waktu buat ngurusin hidup orang!"


Dinda segera kabur meninggal Fandi melewati keluarganya.


Bunda Dona, Mama Shofia dan Ibu Fandi tampak bingung melihat kepergian Dinda.


Satya menatap lekat pada Fandi yang kini kembali bersama mereka.


Satya menduga ada sesuatu antara Fandi dan Dinda.


Satya paham sekali dengan watak Dinda.


Tatapan kemarahan Dinda saat keluar tertangkap Satya.


Satya yang paham karaktek adiknya yang manja namun jangan tanya saat Dinda marah semua manja berganti raut kemarahan yang sangat terasa.


Bunda Dona pamit. Diikuti lainnya.


Tanda tanya disemua hati mereka.


Bunda Dona memilih tak menanyakan apapun pada Dinda.


Sedangkan Andin yang mengenal Dinda kini mencoba berbicara pada Dinda.


"Din, boleh masuk?" Andin mengetuk kamar Dinda.


Dinda membuka pintu kamarnya.


Andin masuk ke kamar Dinda.


Tampak Dinda baru selesai mandi sedang mengeringkan rambutnya.


Andin masih menangkap raut marah di wajah Dinda.


"Din makan siang yuk. Bunda udah nunggu." Andin mencoba mengajak Dinda keluar kamar.


Sejak balik dari rumah Fandi Dinda memang tidak keluar kamar.


Tak ada jawaban dari Dinda. Andin paham mungkin Dinda butuh waktu sendiri.


Andin memilih keluar dari kamar Dinda.


"Kenapa rasanya masih sakit ya Din?" Dinda membuka suaranya terdengar berat ditelinga Andin.


Andin kembali mendekati Dinda.


Duduk ditepi ranjang bersebelahan dengan Dinda.


Tak mulai bertanya, Andin hanya menatap Dinda.


Andin membiarkan Dinda sendiri dengan bebas bercerita.


Perlahan Dinda menceritakan kronologi kejadian dirumah Fandi.


Ada rasa lega di hati Andin, karena prasangkanya terhadap Fandi berbuat macam-macam tidak benar.


Andin pun tanda tanya.


Ada hubungan apa antara Soni, Fandi dan perempuan difoto itu yang kini menjadi istri Soni.


Andin memeluk Dinda yang terdiam dalam dekapan Andin.


Andin bisa merasakan tetasan airmata Dinda membasahi bajunya meski tak ada sama sekali terdengar isakan Dinda.


Andin mengusap punggung Dinda. Menepuk-nepuk punggung Dinda memberikan kenyamanan.


Sahabat mana yang tak sedih melihat sahabatnya bahkan kini adik iparnya bersedih.

__ADS_1


Andin memberikan bahunya membiarkan Dinda meluapkan kesedihannya.


...****************...


__ADS_2